Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 52 Marahnya Arkan


__ADS_3

Pak Rahmat terlihat sudah berdiri bersama penjemput yang lain di terminal kedatangan, meraih koper yang dibawa Nona mudanya, berkata ikut berduka cita lagi atas kepergian kakeknya, padahal Rea tau betul pak Rahmat dan istrinya datang ke pemakaman kakeknya. Gadis itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pak Rahmat menyapa Arkan, yang hanya tersenyum simpul tak ramah seperti biasanya begitu pikir pak Rahmat.


Mobil melaju menembus jalanan yang tidak begitu padat, sekarang gantian Arkan yang terdiam didalam mobil, pak Rahmat yang duduk disebelahnya terlihat heran, melirik ke arah kaca spion diatas melihat sedang apa nonanya yang duduk sendirian dibelakang, ternyata sedang melamun bersandar pada kursi menatap keluar Jendela. Pak Rahmat mencoba mengajak ngobrol siapa tau suasana jadi lebih cair.


"Oh ya mas Arkan, Pak Andi kemarin berpesan kalau mas Arkan boleh nginep dirumah untuk beberapa hari"


Hening, Pak Rahmat hampir garuk-garuk kepala, berfikir topik apa yang bisa mencairkan suasana dimobil kecil yang hanya mentok bisa diisi 5 penumpang itu.


"Oh ya Mas, motor Mas Arkan yang dikirim sama pak Andi udah sampai" merogoh kantong bajunya kemudian memberikan kunci motor dengan gantungan miniatur tokoh super hero yang cowok itu idolakan.


Rea melihat gantungan kunci yang dia berikan sebagai hadiah ulang tahun untuk sahabatnya itu "kamu masih menyimpannya?"


Yang ditanya hanya menjawab malas "hem"


Rea terdiam karena dia tau Arkan pasti sedang marah karena perbincangan mereka didalam pesawat tadi, cowok itu sedang berusaha bersikap dingin kepadanya.


Pak Rahmat sudah bisa menebak, bahwa dua bocah yang bersamanya ini sedang bertengkar, seperti nya Mas Arkan ngambek sama non Rea pikir Pak Rahmat.

__ADS_1


Mereka sudah sampai gerbang depan rumah Rea, melihat pintu gerbang yang tertutup seperti tidak ada sama sekali orang dirumah.


"Bi Ulfa kemana pak?" bertanya kepada pak Rahmat yang sedang merogoh kunci untuk membuka gembok pagar rumah


"katanya mau ke supermarket non"


"Mba Anisa?"


"Kan ini masih jam sekolah non"


"Oh iya ya" Rea lupa karena sudah 4 Hari tidak masuk sekolah


"Kamu ga mu turun?" tanya Rea sambil membuka pintu mobil beranjak turun, pak Rahmat berlari membuka pintu rumah, lalu mendekati Rea memintanya masuk dulu nanti dia yang akan bawa koper ke kamar.


Gadis itu terlihat melirik pintu depan, Arkan masih tidak mau turun malah membuka kaca jendala dan berbicara pada pak Rahmat


"Motor dimana Pak?"

__ADS_1


"Garasi Mas"


"Tolong bukain pintu garasi ya pak"


Pak Rahmat heran, tapi Arkan sudah membuka pintu mobil berjalan menuju garasi dirumah itu, mau ga mau pak Rahmat menyusul buru-buru membuka pintu garasi, Rea hanya diam karena Arkan pergi begitu saja tanpa berbicara padanya.


Arkan memakai helm, naik ke atas motor sport berwarna hitam miliknya, memasukkan kunci mulai menyalakan motornya, geberan knalpot motor itu mau ga mau sampai ke telinga Rea yang masih berdiri didekat mobil.


"Nitip koper ya pak"


"Mas Arkan ga jadi tinggal disini dulu"


"Nanti aku ambil kalau sempat" lanjut Arkan sambil berlalu tanpa menjawab pertanyaan pak Rahmat


Arkan membawa motornya, melewati Rea yang masih berdiri belum beranjak masuk kedalam rumah, cowok itu sama sekali tidak menyapa atau sekedar berpamitan kepadanya, Rea hanya bisa menatap punggung Arkan dan motornya sampai keluar gerbang, belok kejalan pergi meninggalkan komplek perumahan itu.


Pak Rahmat sudah mendekat, bertanya pada nonanya "Mas Arkan lagi marah ya Non?"

__ADS_1


Rea yang dari tadi masih menatap gerbang kaget karena pak Rahmat sudah berdiri tepat didepannya membawa koper miliknya dan Arkan.


"Biarin aja lah pak, ntar juga balik lagi kesini kalau dia mau" jawab Rea kemudian masuk kedalam rumah


__ADS_2