Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 78 Our Second Kiss


__ADS_3

Cowok itu masih tidak bergerak, sampai Rea hampir bergeser berdiri dari atas badannya, barulah Arkan membuka mata dan langsung menarik tangan gadis itu, membuat Rea terjerembab ke pelukannya. Terkejut, gadis itu merasakan detak jantungnya sudah berdetak tak karuan.


"Sebentar lagi kamu ulang tahun kan? kamu sudah pernah berjanji akan menjawab pertanyaanku" bisik Arkan ketelinga gadis itu mengingatkan apa yang pernah dia janjian dulu


Sontak Rea menjauhkan badannya kemudian berdiri, merasakan sedikit sakit dibadannya.


Arkan masih tergeletak dilantai, mencoba bangun untuk duduk, tapi dia merasakan sakit dipergelangan kakinya kemudian mengaduh.


"Kenapa?" tanya Rea panik, berjongkok didepan Arkan yang sudah duduk sambil memegangi kakinya.


Pak Rahmat yang tadi sempat mendengar teriakan Rea keluar, melihat kemudin membantu nonanya yang sedang memapah Arkan berjalan kesakitan menuju kursi untuk duduk, begitu pun Laras yang turun dari kamarnya seketika panik melihat anaknya berjalan tertatih-tatih.


"Kamu kenapa Ar?" tanya mamanya


Arkan cuma meringis


"Jatuh dari tangga tante" jawab Rea


Pak Rahmat kemudian mengambil satu kursi lagi untuk menopang kaki Arkan, memegang kaki anak itu mencoba sedikit menekannya, Arkan terlihat meringis kesakitan.


"Kayaknya kaki Mas Arkan terkilir, bentar bapak ambilin minyak urut" ucap pak Rahmat sambil berlalu masuk ke dalam.


"Kok bisa sih ya ampun" ucap Laras sedikit panik


"Ini ntar mama bisa tinggal pulang ga kamu?" lanjutnya


Arkan masih terdiam.


"Gapapa kalau tante mau pulang, biar aku yang jaga'in Arkan" ucap Rea


Arkan sekilas terlihat tersenyum. Pak Rahmat yang kembali dari dalam mulai mengoleskan minyak urut memijat pelan pergelangan kaki anak itu.


Teman-teman Rea turun dari kamar, mendekat kemudian bertanya apa yang terjadi, Rea menceritakan kalau dirinya dan Arkan jatuh terguling-guling dari anak tangga.


"Jadi tadi kayak adegan di film gitu" ledek Lisa


"Untung kamu gapapa Re, baru keluar rumah sakit bisa-bisa udah masuk lagi " tambah Vira


Rea cuma nyengir kemudian meminta temannya untuk mandi dan sarapan.


"Apa sakit banget?" tanya Rea setelah pak Rahmat dan semua orang pergi meninggalkan mereka berdua


"Hem" jawab Arkan


"Maaf ya gara-gara aku kakimu jadi kayak gini"


Arkan melihat wajah Rea yang merasa bersalah dan terlihat kawatir.

__ADS_1


"Tanggung jawab" pinta Arkan


"Aku harus tanggung jawab gimana?"


"Jadi kakiku sampai aku sembunyi-sembunyi dan bisa jalan"


Rea hanya tertegun heran dengan permintaan sahabatnya itu.


*****


Rea menatap keluar pintu rumah dengan pandangan sedih, melihat teman-teman nya masuk ke taxi untuk pergi jalan-jalan, sementara dia tidak bisa ikut karena harus menjaga Arkan, tak selang beberapa lama Laras juga harus pergi ke Bandara untuk kembali ke kota XX, mamanya ikut mengantarkan bersama pak Rahmat.


"Gapapa ya mama tinggal pulang, si Aryan udah nangis mulu nyari'in mama" ucap Laras ke anak laki-laki nya


Arkan hanya menggangguk


"Tolong jagain Arkan ya Re" pesan Laras


"Pasti tante" jawab Rea mencoba membuat tenang Laras yang terlihat sangat cemas


Akhirnya Laras dengan berat hati pergi ke Bandara untuk pulang, meninggalkan Arkan yang masih belum bisa berjalan dengan normal.


Sekarang tinggal mereka berdua yang ada dirumah, Bi Ulfa dan Anisa barusan berpamitan pergi ke pasar untuk berbelanja.


Arkan duduk disofa sambil sesekali memegang pergelangan kakinya yang terkilir. Menatap ke arah Rea yang sibuk mengetikkan sesuatu di benda yang dia pegang, cowok itu terlihat mendengus kesal.


"Kamu pengen minum? atau mau makan Ar?"


Cowok itu terdiam, Rea mengambil HPnya kemudian berjalan menuju ruang makan, tak lama dia kembali dengan membawa satu piring berisi sarapan yang sudah bi Ulfa siapkan dan segelas air putih. Menyodorkankan ke arah Arkan, tapi cowok itu malah melipat kedua tangannya didepan dada.


Rea mengehela nafas pendek, duduk disamping Arkan, menyendok nasi goreng yang dibuat Bi Ulfa sebagai sarapan, meminta Arkan membuka mulutnya. Cowok itu hanya diam memandangi Rea yang sudah mengarahkan sendok berisi nasi ke depan mulutnya.


"Kalau kamu ga mau buka mulut, aku makan sendiri ni ntar"


Ancaman Rea sukses membuat Arkan membuka mulutnya, gadis itu tersenyum, menyuapkan nasi kedalam mulutnya juga.


"Makasih ya udah nolongin aku, kalau ga aku mungkin bisa masuk rumah sakit lagi tadi"


Cowok itu hanya terdiam, memandang gadis didepannya dengan sorot mata aneh


"Kamu masih marah ya Ar?"


Rea mengarahkan satu suapan lagi ke mulut sahabatnya itu, tapi tangannya ditepis dengan halus.


"Putusin Elang"


Wajah Rea berubah bingung

__ADS_1


"Apa sih yang kurang dari aku sampai kamu lebih memilih dia?"


"Apa'an sih Ar" Rea mencebikkan bibirnya


"Kenapa? kamu ga bisa menyebutkan kekuranganku dibanding dia, Iya kan?"


Rea menghela nafasnya "Aku menyukaimu, bahkan aku pikir lebih menyukaimu dibanding Elang, tapi aku tidak tau......emm"


Rea tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Arkan sudah mendaratkan bibirnya dibibir gadis itu, menciumnya dengan berani, Rea terdiam mematung, pupil matanya sedikit membesar menunjukan rasa keterkejutan.


Arkan melepaskan bibirnya, melihat pipi Rea bersemu merah, gadis itu meletakkan piring ditangannya ke sofa, reflek memegangi dadanya, Arkan tersenyum simpul.


"Seperti ini masih mau bilang tidak tau bagaimana perasaanmu ke aku?"


Gadis itu menatap wajah cowok didepannya yang dengan berani mencuri ciuman pertamanya, kalau di adegan film yang pernah dia tonton si wanita pasti langsung melayangkan tangannya untuk menampar wajah laki-laki yang seenaknya mencium tanpa ijin, tapi aneh dia malah menggunakan tangannya untuk memegang dadanya, seolah takut jantungnya akan moloncat keluar.


Rea berdiri tangannya menunjuk-nunjuk muka cowok didepannya yang masih bisa tersenyum seperti tidak punya dosa.


"Kamu ya, itu ciuman pertamaku dan kamu sudah mencurinya tanpa ijin, keterlaluan"


Arkan tersenyum lebar, nada suara marah gadis itu terdengar gugup menyembunyikan perasaannya.


"Ciuman pertama apa? Itu ciuman kedua kita, pertama kali aku mencium mu di bus waktu study wisata"


"Apa seperti itu bisa dikatakan ciuman?" tiba-tiba gadis itu bertanya dengan polosnya


Arkan tertawa terbahak-bahak, mengingat saat dia mencium dengan sengaja bibir Rea sekilas, saat Rea terbangun dan mencoba melihat pesan di HP miliknya"


"Wah benar-benar jago menyembunyikan perasaan ya kamu" ejek Arkan


"Lihat! aku sudah berhasil mencuri dua kali ciuman dari kamu, tapi kamu sepertinya tidak marah sama sekali" lanjut Arkan


Rea tambah memerah bukan karena marah tapi karena menahan malu, sambil berkacak pinggang gadis itu berujar


"Kalau begitu aku akan mencium Elang juga untuk memastikan perasaanku" ancamnya


Sontak raut muka Arkan berubah menjadi tidak suka.


"Dimana HP ku tadi?"


Gadis itu menoleh kesana kemari mencari benda pipih berharga bagi kebanyakan ABG seusianya, kemudian beranjak pergi untuk mencari benda itu meninggalkan Arkan yang terlihat kesal.


"Hei mau kemana, jangan coba-coba menyuruh Elang kesini sekarang dan menciumnya didepanku"


"Re... Reaaaaa"


Cowok itu kesal bahkan kakinya masih sakit hanya untuk sekedar berdiri, sementara gadis itu sudah pergi meninggalkannya duduk sendirian di sofa.

__ADS_1


__ADS_2