
Pagi itu di sekolah, Arkan sibuk mengambil barangnya dari loker miliknya , dia akan pindah seminggu lagi setelah penilaian tengah semester. Arkan membawa kotak yang berisi barang barangnya, menyerahkannya kepada sopir yang sudah menunggunya, kemudian dia kembali ke kelasnya, saat berjalan menuju kelasnya dia bertemu dengan Lisa, Arkan lalu mengajak gadis itu ke taman sekolah untuk bicara.
"Tolong jangan bilang Rea, kalau aku akan pindah," pinta Arkan tiba-tiba.
Lisa terlihat bingung dan sama sekali tidak mengerti dengan perkataan cowok yang sedang duduk disampingnya.
"Aku akan pindah sekolah keluar negeri."
Arkan berbohong karena tahu kalau dia jujur akan pindah ke sekolah yang sama dengan Rea, seperti apapun ia memohon ke Lisa untuk tidak memberi tahu Rea, ujung-ujungnya gadis itu pasti akan tetap memberi tahu temannya itu.
"Biarkan kepindahanku jadi kejutan buat Rea," bisiknya dalam hati.
Lisa hanya terdiam, ia merasa sedih karena baru saja temannya pindah dan sekarang cowok yang disukainya pun ikut pindah.
Benar dugaan Arkan, Lisa pasti akan tetap cerita ke Rea meskipun dia memintanya untuk tidak memberitahunya.
Rea menghabiskan jam istirahat nya duduk di dalam kelas, memegang HPnya mengetikkan sesuatu kemudian dihapusnya lagi, dia mengulangi mengetik berkali-kali, merasa frustasi gadis itu membanting HPnya dimeja kemudian menyandarkan kepalanya dibangku miliknya.
"Arkan bodoh, kenapa dia sama sekali tidak menghubungiku? apa aku sudah tidak dianggapnya?," gumam Rea sambil menatap benda persegi panjang miliknya.
Arkan juga sama, cowok itu berkali-kali melihat ke arah HPnya.
"Bukankah seharusnya Lisa sudah mengadu ke Rea, kenapa sampai sekarang dia tidak menanyakan hal ini ke aku? apa dia terlalu sibuk mencari kakaknya, atau sibuk dengan cowok lain di sekolah nya?" Arkan kesal sendiri, ia mendorong kursi didepannya dengan kaki sampai terjungkal.
Rea masih menyandarkan kepalanya di bangku, ketukan tangan dimejanya membuat gadis itu mau tidak mau mengangkat kepalanya, ternyata Kinanti sudah berdiri didepannya.
__ADS_1
"Ini buku yang aku bilang kemarin," Ken menyerahkan buku yang dicari adik kelasnya itu diperpustakaan tempo hari.
Rea menerima buku itu kemudian mengucapkan terima kasih kepada Ken, ia berpikir Ken akan segera pergi setelah memberikan buku itu kepadanya, tapi ia keliru, gadis itu malah menarik kursi dan duduk di samping Rea. Kebetulan pikir Rea, dia akan menggali informasi tentang Elang ke kakak kelasnya itu.
"Ken, apa kamu tau nama ibu Elang?"
"Taulah, namanya tante Maya," jawab Ken enteng.
Dada gadis itu bergetar, Rea merasa kaget dengan jawaban Kinanti, tapi dengan segera ia menutupi rasa kagetnya itu.
"Apa kamu tau My Cafe? itu kafe milik keluarga Elang, dan namanya diambil dari nama tante Maya," lanjut Ken.
"Maya.. May.. My benar pelafalannya."
Rea merasa bodoh kenapa petunjuk seperti ini tidak Ia sadari lebih cepat.
"Kamu tau apa pekerjaan papa Elang?" tanya Rea penasaran.
"Please jawab jaksa please biar semua ini cepat selesai."
Rea memohon dan berdoa didalam hatinya.
"Ayah Elang seorang PNS," jawab Ken enteng.
"PNS apa? Bukan---, maksudku apa jabatannya? apakah kepala sekolah seperti papamu atau apa?" tanya Rea penasaran.
"Hem... Aku tidak tau pasti, cuma itu yang aku tau, itupun informasi yang tidak semua orang tau, karena keluarga Elang terkenal cukup tertutup, kalau aku bukan anak kepala sekolah disini apa aku juga bakalan tau? belum tentu," ucap Ken sambil berbisik ketelinga Rea.
__ADS_1
❤❤❤❤❤
Sepanjang perjalanan pulang Rea hanya terdiam di mobil, pikirannya melayang entah kemana, tapi karena minggu depan sudah penilaian tengah semester, dia memutuskan untuk fokus belajar dulu.
Rea tiduran dikasurnya matanya terlihat belum terpejam, beberapa hari ini HPnya sepi, tidak ada yang menghubunginya sama sekali. Dia memejamkan mata agar bisa tidur, tapi tiba-tiba notifikasi pesan di ponselnya berbunyi.
"Maaf ya ini group sementara untuk kita koordinasi tugas seni musik," ~ Cindy
"Bagaimana kalau kita fokuskan Sabtu dan Minggu besok untuk latihan," ~ Vira
"Kita mau latihan dimana? kalau dirumah Rea atau Elang gimana?" ~ Rendy
"Jangan," ~ Rea
"Ga bisa," ~ Elang
Rea dan Elang hampir bersamaan membalas pesan itu.
"Bagaimana kalau di Cafe Elang aja?" ~ Rea
"Boleh, dilantai dua kafe ada ruang kosong," ~ Elang
Dua remaja itu terlihat sangat kompak, karena sebenarnya mereka hanya sama-sama tidak ingin ada yang datang kerumah mereka.
Rea menatap layar ponselnya, sementara Elang yang hampir mematikan benda pipih miliknya itu memilih melihat foto profil yang dipakai Rea di aplikasi chat itu.
"Cantik," bisiknya.
__ADS_1