Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 99 : Ibiza


__ADS_3

Elang baru mengerti kenapa Rea sangat ingin makan malam di restoran bernama Sublimotion itu, konsep restoran yang diciptakan oleh chef peraih dua bintang Michelin itu sungguh sangat menakjubkan, pantas jika perkepala dikenakan biaya hampir tiga puluh juta untuk menyantap hidangan disana dan lagi setiap malamnya restoran itu hanya menerima dua belas orang tamu saja.


Meja makan yang ada direstoran dijadikan seperti sebuah kanvas, dengan instalasi lampu yang seolah digunakan sebagai proyektor ke atas meja sehingga orang yang akan menikmati makan malam seperti diajak berjalan-jalan dan merasakan pengalaman baru karena tambahan teknologi multisensor juga disana.



Memang pantas jika Sublimotion menjadi salah satu restoran termahal didunia pengalaman fine dinning yang ditawarkan benar-benar unik dan eksklusif.


Rea terlihat duduk berhadapan dengan kakaknya, mereka mulai menyantap makanan yang dihidangkan, sayang gadis itu tidak mendapatkan satu hal yang dia inginkan disana, yaitu makan sambil mendengarkan lagu Por ti volare tapi ia masih sangat gembira karena mendapat pengalaman makan malam yang luar biasa.


Setiap kali hidangan yang disajikan berganti temperatur, tingkat kelembaban ruangan, musik dan bahkan aroma ruangan juga berganti-ganti, memberikan sensasi yang berbeda pada setiap menu yang akan dinikmati.



Seperti sekarang tiba-tiba mereka seolah dibawa ke Kutub utara dimana mereka sedang merasakan makanan dingin yang nyaris beku, benar-benar sensasi yang luar biasa pengalaman yang tidak bisa didapatkan oleh sembarangan orang.


Selesai makan malam Farhan meminta anaknya untuk beristirahat karena besok mereka sudah harus pulang ke Indonesia, melihat anak gadisnya sudah masuk kedalam kamarnya laki-laki itu mengajak Elang untuk berbicara berdua.


Didalam kamar Rea memilih mengganti dress yang dia kenakan dengan satu stel baju santai, ia duduk diujung ranjang membuka paper bag yang ayahnya berikan kepadanya sebelum masuk kedalam kamar tadi.

__ADS_1


Mata gadis itu berbinar ternyata didalamnya terdapat sebuah jam tangan merk ternama dan sebuah kartu kredit berwarna hitam, bibir gadis itu tersenyum membaca ucapan dari ayahnya.


"Meskipun terlambat selamat ulang tahun untuk anak ayah."


Bibir Rea tersenyum tangannya meraih kartu yang terbuat dari bahan titanium itu, kartu sakti dimana pemiliknya harus melakukan pembelanjaan senilai tiga miliyar terlebih dulu dengan kartu dibawahnya agar bisa memilikinya, bahkan biaya keanggotaan agar bisa memiliki kartu itu sebesar enam puluh jutaan. Gadis itu mulai berpikir apa yang harus dia beli menggunakan kartu sakti dari ayahnya itu.


Rea sudah hampir menarik selimutnya untuk tidur saat ketukan pintu membuatnya mengurungkan niat lalu menyibakkan selimut untuk membuka pintu kamarnya, Farhan berdiri didepan pintu kemudian mengajaknya keluar sebentar. Gadis itu mengikuti langkah kaki ayahnya, mereka masuk kedalam lift naik ke rooftop hotel tempat mereka menginap.


Rea terkejut selain Elang dia juga melihat mamanya ada disana, bahkan Arkan dan kedua orang tua dan adiknya juga ada disana, sekelompok pemain Orchestra mulai menyanyikan lagu yang gadis itu inginkan untuk didengar, Rea menangkup tangannya didepan mulut air mata jatuh dari kedua sudut matanya. Ia menengok ke arah Farhan yang sudah membuka lebar kedua tangannya, Rea sesenggukan memeluk laki-laki yang seumur hidup tidak pernah menganggapnya ada itu.


"Ayah," ucap Rea disela napasnya yang tersendat karena menangis "terima kasih."


Rea melepaskan pelukannya ke Farhan, mendekat ke arah Lidia yang langsung memeluknya sambil menciumi keningnya, secara bergantian Rea memeluk orang yang ada disana, yang terakhir tentu saja sang sahabat tercinta.


"Aku membawakanmu kado," bisik Arkan.


"Aku membelikanmu sesuatu kemarin tapi ada dikamar," jawab Rea sambil melepaskan pelukannya "lalu mana kadomu?"


Arkan menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya bibirnya tersenyum menggoda, terang saja Rea melebarkan bola matanya melotot kesal ke arah sahabatnya itu, secepat kilat Arkan mengalihkan jarinya untuk menunjuk mamanya, papanya dan Lidia.

__ADS_1


"Kedatangan kami adalah kado untukmu."


Jawaban Arkan membuat Rea memajukan bibirnya membuat semua orang disana tertawa, gadis itu memilih berjalan mendekat kesebuah meja saat melihat kue ulang tahun diatasnya.


Elang menyalakan lilin diatas kue, pemain Orchestra kemudian memainkan nada musik selamat ulang tahun. Senyuman tak berhenti merekah dari bibir semua orang yang ada disana.


"Meskipun terlambat ini adalah pesta ulang tahun terindah dalam hidupku."


Rea melihat ke arah orang tuanya yang sedang duduk mengobrol bersama dengan Andi dan Laras.


"Bahkan setelah bercerai mama dan ayah juga terlihat masih berhubungan baik."


Gadis itu kemudian menatap Elang dan Arkan yang sedang berdiri memegang segelas minuman, kedua cowok yang dia sayangi itu terlihat saling bercanda dan tertawa-tawa.


"Hey Andreadina Bumi Pradipta lihatlah betapa beruntungnya dirimu dikelilingi orang-orang yang sangat sayang padamu."


Rea tersenyum sambil berlari ke arah Elang dan Arkan yang berdiri dengan jarak sekitar sepuluh meter darinya, melompat diantara keduanya sambil melingkarkan tangannya ke pundak Elang dan Arkan seolah ingin memeluk mereka secara bersamaan, rengkuhan Rea membuat kedua cowok itu spontan menundukkan badan untuk mengimbangi tinggi badan Rea.


Ketiganya tertawa bahagia seolah sudah melupakan perasaan mengganjal diantara mereka.

__ADS_1


__ADS_2