Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 62 Hati ke Hati


__ADS_3

Arkan memutuskan untuk menginap dirumah Rea selama mamanya ada disana. Sekarang semua orang sedang berkumpul di ruang tengah menonton televisi, Lidia sibuk membuka akun media sosial miliknya , dia sempatkan melihat postingan salah satu akun gosip untuk mengecek apakah masih ada berita soal dirinya, tiba-tiba satu postingan akun itu membuat dia melirik ke arah anaknya, kemudian memilih meletakkan ponselnya.


Saat mereka tengah asik menonton acara televisi, Pak Rahmat dan Bi Ulfa datang memghampiri, di susul anaknya Anisa.


"Maaf non Rea, nyonya, ada yang ingin kami sampaikan" ucap Pak Rahmat


Rea heran melihat satu keluarga itu berkumpul bersama, apa yang ingin mereka sampaikan sampai harus semuanya ikut.


"Duduk pak" Arkan yang menggunakan satu panjang sofa untuk tiduran mempersilahkan keluarga pak Rahmat duduk, sementara dia memilih duduk dibawah,bersandar pada sofa dibawah Rea yang sedang duduk bersila.


Melihat keluarga pak Rahmat duduk, Rea menurunkan kakinya.


"Apa'an sih?" ucap Rea mendapati Arkan tengah bergelayut manja di kakinya, tapi pada akhirnya dia biarkan saja.


"Gimana pak?" tanya Lidia


"Kami mau minta ijin pulang kampung nyonya, karena Anisa mau lamaran"


Sontak mereka semua kaget, terutama Rea, karena mba Anisa yang dia tau selama ini tidak punya pacar.


"Laki-laki nya orang mana pak?" Laras menimpali


"Orang sini aja nyonya"


"Rencana kapan?"


"Lusa"


"Lha kenapa musti pulang kampung sih pak? kan kampung pak Rahmat jauh, kalau cuma lamaran kenapa ga disini aja?" ucap Rea


"Ga enak kami non nanti malah merepotkan"


"Ih Pak Rahmat gitu deh kayak sama siapa aja" lanjut Rea


"Bukan nya bapak pernah bilang kalau saudara-saudara bapak banyak yang tinggal di kota ini, ya kan malah lebih enak" Arkan membantu Rea memperkuat argumennya, cowok itu mendongak menatap Rea, berharap mendapat senyuman manis, tapi malah mendapatkan jitakan di kepalanya


"Iya lah pak disini aja, ngapain capek-capek pulang kampung, toh nanti pihak laki-laki nya juga kejauhan, besok kalau nikah aja pulang kampung nya" imbuh Laras


Satu keluarga itu saling pandang, belum berani memutuskan.


"Kalau keluarga pak Rahmat banyak yang disini, calonnya juga orang sini, mending disini aja pak, bilang aja ini rumah saudara bapak" ucap Lidia


"Iya lagian pak Rahmat, Bi Ulfa sama Anisa juga udah kita anggap keluarga" ulang Rea


Akhirnya setelah berfikir mereka memutuskan bersedia untuk melangsungkan lamaran di rumah Rea.


"Nah gitu donk pak, kita kan juga bisa lihat kayak apa orang lamaran itu, biar punya pandangan buat nanti " Arkan melihat ke arah Rea sambil memainkan alis matanya


"Apa'an sih" Rea memukulkan bantal sofa ke muka Arkan


"Iya ni bocah, sekolah aja masih sering ngelanggar aturan udah mikir mau ngelamar anak orang" satu bantal sofa mendarat lagi kemuka Arkan dari mama nya


*****

__ADS_1


Arkan sudah berbaring tidur satu kasur dengan mamanya, dia merasa sedikit aneh, karena sejak TK dia sudah dibiasakan tidur dikamar terpisah. Laras melirik ke arah anaknya


"Udah tidur?" tanya Laras


"Belum"


"Besok jam berapa mama harus ke sekolah?"


"Terserah mama aja"


Arkan memutar badannya tengkurap menghadap mamanya bertumpu pada bantal


"Papa marah ga?"


"Kenapa? kamu takut?"


"Ih mama"


"Papamu biasa saja, mungkin wajar buatnya, atau kalau ga dia malah bersyukur banget kamu ga langsung dikeluarin dari sekolah, ga kayak dia"


"Emang papa kayak gimana?" tanya nya penasaran


"Nakal, suka bolos, tawuran, ya gitu deh pas sekolah, bandel banget, kamu ga kayak dia aja udah bersyukur banget pasti dia"


Arkan tertawa


"Eh Ar, kamu tau ga, apa Rea percaya kalau dia bukan anak kandung om Farhan?"


"Em..dia ga pernah cerita sih ma, Arkan juga ga berani tanya, takut dia marah atau gimana, tapi Rea kan emang gitu, pinter banget nutupin apa yang sebenarnya dia rasain "


"Kamu sayang sama dia? cinta?"


Arkan menganggukkan kepalanya "aku tu pengen ngelindungin dia ma, buat aku dia tu kayak telor, luarnya aja yang keras"


"Apa perasaan Rea juga sama ke kamu?"


"Aku yakin dia juga punya perasaan ke aku, tapi aku ga tau apa yang ngebuat dia ga mau ngakuin"


"Kamu ga takut patah hati? kan banyak cewek Ar disekolah yang bisa kamu jadiin pacar"


"Kalau patah hati ya tinggal di sambung ma"


"Dasar kamu tu ya"


****


Sementara dikamar Rea, gadis itu masih terduduk dikasur entah memikirkan apa. Lidia mengetuk pintu kamar anaknya, kemudian masuk kedalam, mendekat duduk disamping Rea.


"Belum tidur"


"Belum ma"


"Mau tidur dipangkuan mama?" Lidia menepuk pahanya

__ADS_1


Rea tau dari kemarin mamanya ingin mengatakan sesuatu padanya, setelah apa yang dia lihat di televisi Rea merasa mamanya benar-benar tulus ingin memperbaiki hubungan mereka.


Gadis itu kemudian merebahkan kepala dipangkuan mamanya, Lidia membelai rambut Rea penuh kasih.


"Besok kamu berangkat sekolah kan?"


"Iya"


"Apa kamu masih sedih?"


Rea hanya menganggukkan kepalanya


"Kapan-kapan ajak temanmu main kesini lagi, kalau bisa ajaklah menginap"


"Kalau kita buat pesta barbeque ditaman belakang gimana? kamu juga bisa mengundang Elang"


"Mama tau Elang anak ayah, apa mama tidak benci?" tanya Rea polos


"Kenapa mama musti benci? anak kan ga tau apa-apa masalah orang tuanya"


"Ma..apa yang di bilang ayah benar kalau..."


Rea belum sempat meneruskan kalimatnya, Lidia sudah memotong ucapan anaknya lebih dulu


"Kamu percaya mama kan Re?"


"Mama tau mama bukan mama yang baik buat kamu, tapi untuk yang satu itu mama minta kamu bisa percaya ke mama, tidak usah memikirkan hal yang tidak masuk akal, pikirkanlah hal-hal yang bisa buat kamu bahagia"


"Hal yang membuat bahagia, contohnya?" Rea penasaran


"Pergi nonton kek sama teman-teman kamu, jalan kemana, shopping, pacaran gitu"


"Mama aneh deh masa nyuruh anaknya pacaran, kan ga boleh ma"


"Kan kamu ABG ga mungkin mama ga ngebolehin kamu buat pacaran, dari pada nanti kamu pacaran sembunyi-sembunyi malah lebih bahaya, mama ga bisa ngawasin"


"Kamu kenapa sih ga mau pacaran sama Arkan?" tanya Lidia penasaran


"Mama tau Arkan suka sama aku?"


"Ya elah Re satu negara juga tau"


"Aku ga mau ma pacaran sama arkan, aku takut"


"Takut kenapa?"


"Kalau nanti putus terus Arkan benci sama aku gimana? aku ga bisa kehilangan dia"


"Kalau Arkan bosen digantung sama kamu terus tiba-tiba punya pacar gimana?"


Rea hanya terdiam


"Aku mau tidur"

__ADS_1


Gadis itu memejamkan mata, memutar badannya ke arah mamanya, kemudian memeluk erat pinggang mamanya.


Lidia hanya tersenyum melihat anaknya bersikap seperti itu, menepuk punggung Rea penuh cinta, sampai gadis itu tertidur baru Lidia meninggalkan kamar anaknya.


__ADS_2