Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 89 : Aku Kan Bertahan


__ADS_3

Setelah lomba pengetahuan kepramukaan selesai mereka mendapat waktu istirahat, Rea terlihat berjalan ke ujung lapangan menuju pos kakak pembina yang berada didekat jalan, memberi tahu bahwa dia sudah memesan bento dari sebuah restoran Jepang untuk dibagikan ke semua orang yang ada disana, meminta tolong dan berpesan untuk menerimanya dan membantu membagikan ke semua peserta jika pesanannya sudah datang.Terang saja kakak pembina yang rata-rata masih kakak kelasnya itu terheran-heran.


"Apa kamu ulang tahun?" tanya salah satunya.


Rea hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum "sudah kemarin kok kak, makasih ya kak bantuanya." ucapnya sambil berlalu kembali ke tendanya.


Seorang pembina putra berbisik ke temannya yang lain "Dia ceweknya Elang."


Semua mendapat traktiran makan dari Rea, beberapa yang sudah mengenal gadis itu mengucapkan terima kasih kepadanya, Rea menyantap makanan didepan tenda bersama teman-teman regunya, tiba-tiba seorang cowok dari regu putra yang tidak dia kenal mendekat memberikan sebatang coklat kepadanya, terang saja gadis itu terkejut, Rea yang masih menikmati makananya terlihat mendongak menerima coklat itu dan mengucapkan terima kasih.


Cowok itu tersenyum kemudian berjalan kembali ke tenda regunya, temannya di regu mawar hanya tertawa dan sesekali menyenggol lengan gadis itu.


Tak lama setelah cowok itu pergi datang lagi cowok dari regu lain memberikan sekaleng soft drink ke Rea, ia terheran-heran terlebih teman satu regunya, setelah dua cowok itu masih ada beberapa cowok lain yang datang dari memberikan snack, makanan ringan sampai mi instant.


Rea terbengong-bengong melihat tumpukan makanan dan minuman yang Ia letakkan ditikar depan tendanya.


"Wah... mereka mungkin sedang mengucapkan selamat ulang tahun ke kamu Re," ucap Sevia sambil menyambar snack dan membukanya, sementara Rea hanya mengangkat kedua pundaknya memberikan tanda bahwa dia tidak tau maksudnya, kemudian dia menunduk untuk menikmati bentonya lagi.


"Atau kalau ga mereka mau bilang terima kasih karena traktiran kamu," Vira juga melontarkan pendapatnya.


"Tau gini ga usah bawa makanan banyak-banyak," canda temannya yang lain.


Rea hanya tersenyum sambil masih menunduk menikmati bentonya, gadis itu kemudian mendongak lagi melihat sebuah bayangan berdiri didekatnya. Arkan terlihat membawa sebuah mangkuk plastik berisi es serut dengan topping sirup warna-warni, menyodorkannya ke Rea.


"Disini tidak ada yang jual Es ABCD, tapi didepan sana ada banyak penjual yang menjual es seperti ini," ucapnya.


Rea meletakkan sumpitnya kemudian menerima es itu dengan kedua tangannya, gadis itu tersenyum "Terima Kasih," ucapnya.


Arkan hanya mengangguk kemudian berjalan kembali ke tendanya, gadis itu masih tersenyum melihat punggung Arkan yang semakin menjauh. Teman regunya yang melihat hanya saling pandang, mereka terlihat bingung karena yang mereka tau bendahara regunya itu adalah pacar Elang ketua kelas mereka, tapi sepertinya bendahara regu mereka itu juga menyukai Arkan.


❤❤❤❤❤


Malam hari mereka mengadakan pentas seni sambil menyalakan api unggun, semua anak terlihat senang, setiap regu menampilkan kesenian yang mereka pilih sendiri, ada yang membaca puisi, bermain drama, menyanyi, dance bahkan bermain sulap, Rea sesekali membelalakkan matanya kemudian tersenyum lebar melihat penampilan regu lain, membuat sahabatnya yang dari tadi menatapnya ikut tersenyum.


Sevia tiba-tiba menepuk pundak Rea dan Cindy, Sevia menanyakan Ana teman satu regunya yang harus tampil sebentar lagi, kedua gadis yang ditanya oleh Sevia terlihat bingung. Mereka sudah melakukan pembagian tugas dalam kegiatan kemah ini, tapi Ana yang harus mewakili regu mawar di pentas seni malah tidak terlihat batang hidungnya.


Vira berlari mendekat ke arah Sevia, Cindy dan Rea berkata bahwa Ana grogi dan menangis tidak ingin tampil pada pentas seni itu, terang saja mereka kaget karena sebentar lagi regu mereka harus tampil.


Mereka terlihat bingung kemudian berdiri menjauh dari kerumunan anak-anak yang sedang menonton.

__ADS_1


"Kita bujuk Ana dulu," ucap Rea yang mendapatkan persetujuan dari Sevia.


Mereka kemudian berlari kebelakang tenda dimana Ana tengah duduk sambil menangis karena grogi, terlihat teman regunya sedang membujuk dirinya.


"Aduh An, kalau kayak gini jadinya mending kamu bilang ga mau dari awal," Vira terlihat kesal.


"Udah Vir, ga usah marah sama Ana," Cindy menengahi.


Sementara Ana masih terdiam tidak mau menjawab omongan teman-temannya.


"Ya udah siapa sekarang yang bisa gantiin Ana, kita nge-dance juga ga bisa karena ga latihan sama sekali, Ana kemarin mau baca puisi, siapa yang mau gantiin baca puisi Ana?" tanya Sevia sebagai sang ketua regu.


Semua temannya yang berdiri mundur satu langkah kebelakang, meninggalkan Rea yang masih pada posisinya. Gadis itu terlihat bingung menatap ke arah teman satu regunya.


"Aku? " ucap Rea sambil menunjuk hidungnya dengan jari telunjuk tangannya.


Teman satu regunya kompak menganggukkan kepala.


Rea masih terdiam tidak mau mengiyakan permintaan regunya, tapi kemudian nama regu mereka dipanggil oleh kakak pembina yang membawakan acara pentas seni itu, Sevia kemudian meraih kertas yang ada disebelah Ana , menyerahkan kertas itu ke tangan Rea, kemudian memohon kepada gadis itu untuk menyelamatkan muka kelompok mereka, akhirnya Rea berjalan ketengah lapangan masih sambil memandang sedikit kesal ke arah teman-teman regunya, dia menghembuskan napasnya menatap beberapa mata teman-temannya yang menonton untuk meredakan grogi yang sedang ia rasakan, kemudian ia mulai membaca puisi yang dibuat Ana.


Gadis itu merasa lega mendapat tepuk tangan dari orang-orang yang ada disana, sesekali matanya berkeliling mencari keberadaan Arkan tapi tetap tidak melihat sahabatnya itu, Rea pergi dari tempatnya berdiri kemudian mendekat ke arah Sevia dan teman-temannya.


Kinanti lalu menarik tangan Elang untuk mendekat ke arah peserta perkemahan yang sedang berkumpul mengelilingi api unggun sambil menampilkan seni pilihan regu mereka.


Langkah Ken dan Elang berhenti saat cowok yang mereka kenal baik menempatkan diri ditengah lapangan, Ken memandang Elang yang raut wajahnya berubah mendengar kalimat yang keluar dari mulut cowok itu.


"Untuk kalian yang menyukai atau mencintai sahabat kalian sendiri tapi tidak pernah dianggap lagu ini aku dedikasikan untuk kalian."


Semua anak bersorak sambil bertepuk tangan, suasana riuh sementara Rea masih berdiri memunggungi api unggun sibuk berbicara kepada teman regunya tidak sadar apa yang sedang terjadi.


"Dan untuk sahabatku Rea, lagu ini untuk kamu."


Rea kaget mendengar ada yang menyebutkan namanya, gadis itu baru tahu bahwa yang tampil setelah regunya adalah regu Arkan.


Rea membalikkan badannya memandang ke arah Arkan yang ternyata juga sedang menatap ke arahnya, Arkan sudah berada ditengah lapangan sambil duduk disebuah kursi, tangannya memegang sebuah gitar kemudian Ia mulai bernyanyi. Anak-anak masih bersorak karena secara tidak langsung mereka sadar Arkan sedang menyatakan perasaannya, tentu saja beberapa siswi patah hati malam itu.


Elang masih membeku berdiri diposisinya, matanya bergantian melihat ke arah Arkan dan Rea, kemudian matanya terdiam memandang pacarnya yang terpaku menatap Arkan.


Dirimu tak pernah menyadari

__ADS_1


Semua yang telah kau miliki


Kau buang aku, tinggalkan diriku


Kau hancurkan aku seakan ku tak pernah ada


Aku kan bertahan


Meski takkan mungkin


Menerjang kisahnya


Walau perih, walau perih


Salahkah aku terlalu cinta


Berharap semua kan kembali


Kau buang aku, tinggalkan diriku


Kau hancurkan aku seakan ku tak pernah ada


Aku kan bertahan


Meski takkan mungkin


Menerjang kisahnya


Walau perih, walau perih


Judul Lagu : Perih


Artis: Vierratale


Album: My First Love


Dirilis: 2009


lirik : Google

__ADS_1


__ADS_2