
Disebuah kafe yang sedang tidak beroperasi karena hari itu adalah tanggal merah, terlihat dua meja dijadikan satu dan enam buah kursi dijajar saling berhadapan, orang-orang yang saling duduk berhadapan hanya terdiam, seperti sedang tegang salah satu diantara mereka sampai sesekali menahan napasnya agar tidak ada yang menyadari kegelisahan didalam dihatinya.
Rea menunduk menautkan jari jemarinya satu sama lain dibawah meja, seolah-olah ingin mencari kekuatan dari dalam dirinya untuk dirinya sendiri.
"Bukankah kita berkumpul untuk membahas masalah keluarga, bukan untuk menghabiskan waktu dengan saling diam seperti ini?" entah dari mana gadis itu tiba-tiba mendapat keberanian untuk membuka percakapan antara dua keluarga yang memiliki hubungan rumit itu.
Farhan terdengar menghela napasnya, menatap ke arah Banyu dan Maya.
"Langsung saja, karena aku sama sekali tidak biasa dengan basa-basi, aku tidak ingin mengambil Elang dari kalian, tapi setidaknya untuk kedepan biarkan aku membiayai semua kebutuhannya sampai dia lulus kuliah."
Meskipun sudah mendengar penjelasan dari orang tuanya dan juga Rea, Elang masih terlihat kaget mendengar ucapan laki-laki yang dia tau sebelumnya adalah ayah kekasihnya.
"Apa maksud om?" tanya Elang dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat tidak suka.
Rea yang setelah berbicara kembali menunduk seketika mengangkat kepalanya, menatap ke arah cowok yang dia sukai itu.
Maya menggenggam tangan anaknya sambil berkata "kamu harus sopan, dia ayah kandungmu."
Elang hanya tersenyum getir, memalingkan wajahnya kemudian menyandarkan punggungnya dikursi, seperti masih tidak ingin mempercayai kenyataan bahwa laki-laki didepannya adalah ayah kandungnya.
"Aku harap setalah pertemuan kita ini tidak akan ada yang berubah, kita semua sudah memiliki kehidupan dan keluarga masing-masing, aku yakin kalian sudah bahagia dengan keluarga kalian sendiri, begitu juga kami," ucap Banyu.
"Aku tidak keberatan jika kamu ingin membiayai pendidikan Elang sampai dia lulus kuliah, tapi aku minta tidak ada tuntutan apa-apa setelah itu karena bagaimanapun juga secara hukum Elang sudah menjadi anakku dan Maya," lanjut Banyu.
Lidia menoleh ke arah laki-laki disampingnya, ayah dari putrinya yang sama sekali tidak pernah mencintainya, wanita itu penasaran apa yang sedang Farhan pikirkan karena dari tadi hanya ekspresi datar yang dia tunjukkan.
"Baik." jawab Farhan singkat.
__ADS_1
"Mulai sekarang kalian adalah kakak adik, jadi jangan berbuat hal-hal yang tidak sepatutnya saudara lakukan," ucapan Farhan benar-benar seperti sebuah ancaman di telinga Elang dan Rea.
Lidia menoleh ke anaknya, dia tau anak gadisnya itu pasti sedang kebingungan sekarang.
Mungkin pertemuan singkat itu bagi orang tua mereka adalah sebuah penyelesaian dari masalah yang sudah mereka simpan dari lama, terlihat jelas raut kelegaan diwajah orang tua mereka, tapi tidak untuk dua ABG yang duduk disana, mereka sangat terpukul, bahkan pertemuan yang tidak lebih dari satu jam itu sangat menguras emosi seorang Rea.
Orang tua mereka sudah berdiri untuk pergi dari sana, tapi gadis itu masih duduk dan saling melempar pandang dengan cowok didepannya, sampai panggilan dari ayahnya membuatnya berdiri kaget hingga kakinya membentur meja.
"Rea, Ayo pulang!"
Rea berjalan dengan terus memandang Elang yang juga tidak melepaskan pandangan darinya, sementara Maya yang sudah hampir naik keatas mobil hanya bisa menghela napas melihat anaknya duduk sendirian didalam kafe sambil masih memandangi punggung Rea yang masuk kedalam mobil.
Didalam mobil Rea yang duduk disamping pak Rahmat hanya terdiam, sementara Lidia memilih meringsek duduk sampai didekat pintu mobil sambil memandang keluar jendela, Farhan hanya bisa terdiam sambil menekuk lengannya didepan dada.
"Kamu sekarang sudah tau kalau kamu dan Elang adalah saudara, jadi ayah minta jangan berbuat sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh adik dan kakaknya, secepatnya selesaikan urusan perasaan kalian sebelum terlalu dalam,ayah berkata seperti ini karena ayah pernah mengalaminya dan ayah perduli padamu," ucap Farhan saat mobil berhenti di lampu merah.
Sontak Lidia menegakkan badannya sambil menatap heran ke arah Farhan, laki-laki itu bilang peduli, sejak kapan dia peduli pada anak gadisnya pikir Lidia.
"Iya yah," jawab Rea singkat.
Sesampainya dirumah, Rea mencari keberadaan Arkan tapi sama sekali tidak menemukan cowok itu, ia masuk kekamar mengambil ponselnya seperti sudah bisa menebak pasti sahabatnya itu meninggalkan pesan untuk dirinya.
"Aku balik ke kos, maaf tidak sempat pamit padamu, tapi aku sudah pamit ke om Farhan dan tante Lidia tadi."
Gadis itu menghela napasnya, kemudian membenamkan wajahnya diatas bantal, menangis disana.
Rea membuka matanya setelah menangis dan tertidur, dia melihat jam di ponselnya, entah dari mana keyakinan itu berasal, gadis itu bergegas turun dari kamar dan menyambar tasnya, tanpa berpamitan kepada orang tuanya ia keluar rumah dan menghentikan sebuah taxi meminta untuk diantar sang sopir ke kafe Maya.
__ADS_1
Kafe terlihat gelap, hanya lampu depannya saja yang menyala, tapi Rea yakin kalau Elang pasti masih ada disana, benar saja saat dia akan melangkah masuk cowok itu keluar dan terlihat mengunci pintu Kafe.
Ia mendekat dan mulai mengumpulkan keberanian, menyapa cowok itu dengan suara serak karena menangis tadi, bahkan matanya sedikit sembab.
"Lang,"
Cowok itu menoleh kemudian mendekat ke arah gadis yang memanggilnya.
"Apa kamu baik - baik saja?" tanya Elang yang seharusnya sudah ia panggil kakak sekarang.
"Aku ingin bilang, kalau kita..," gadis itu untuk sejenak tidak bisa meneruskan kalimat yang ingin dia ucapkan, ia menarik napas kemudian mengulangi apa yang ingin dikatakannya tadi.
"Aku ingin bilang, kalau kita sebaiknya putus saja," ucapnya sambil menunduk dan lagi-lagi menangis.
"Enggak! " jawab Elang tegas membuat gadis itu terkejut dan menatap ke arah orang yang disayanginya itu.
"Aku ga mau putus sama kamu, ga segampang itu dan tidak untuk sekarang," ucapnya dengan wajah sedikit emosi.
Rea menggelengkan kepalanya tanda ia benar-benar ingin mengakhiri perasaannya saat itu juga.
"Bisa tidak mulai sekarang kamu mencintaiku sebagai adik saja? kamu tau lang hatiku juga sangat sakit.” ucapnya sambil memukul dadanya dengan tangan berkali-kali, suara sesak terdengar dari mulutnya, gadis itu seperti benar-benar tidak bisa bernapas.
Elang kemudain teringat pesan dari Arkan tadi pagi.
"Peluklah Rea saat dia menangis sambil memukul dadanya, karena kalau sampai seperti itu dia benar-benar sedang sangat sedih"
Cowok itu menarik Rea kedalam pelukannya sambil berbisik ketelinga gadis itu.
__ADS_1
"Jangan minta kita putus, tidak.. tidak untuk sekarang, aku tidak ingin kehilanganmu secepat ini," ucapnya dengan suara bergetar dan semakin mempererat pelukannya.
"Jangan menangis, jangan terluka hanya karena aku," bisik Rea dalam hati.