
Arkan sudah menyelesaikan lagunya, dan Rea masih saja terpaku menatap ke arah sahabatnya itu, tepuk tangan dan sorakan dari teman-temannya tidak membuat dia memalingkan wajahnya dari cowok itu, sampai sebuah tangan meraih dan mengaitkan jemarinya ke tangan Rea, gadis itu kaget menatap wajah cowok cool yang sangat dia kenal sudah berdiri didekatnya, Elang menarik Rea menjauh dari sana, sontak semua anak semakin berteriak, sementara Arkan berdiri mematung masih pada posisinya melihat Elang yang membawa Rea berjalan menjauh.
Para pembina yang rata-rata dulunya memang pernah satu tingkat dengan Elang hanya terdiam, beberapa malah tertawa melihat kejadian yang pastinya tidak mereka duga itu.
Elang terus menggandeng tangan Rea menjauh dari sana, ia tidak berbicara satu patah katapun, cowok itu membawa pacarnya masuk kedalam kebun kopi yang berada sangat dekat dengan bumi perkemahan, menyusuri setapak tanah dengan masih bergandengan tangan, mereka melewati sebuah anak sungai, Elang beberapa kali membantu Rea melompat diatas bebatuan, gadis itu heran kemana Elang akan membawanya tapi dia tidak berani bertanya sama sekali.
Elang berhenti dan melepaskan tangannya saat mereka sampai di sebuah tebing, mata Rea berbinar melihat pemandangan dari atas sana, apa yang sedang dia lihat hampir mirip seperti saat Elang mengajaknya ke bukit bintang beberapa waktu yang lalu.
Gadis itu menatap wajah Elang, sedikit mendongak karena kakaknya itu memang jauh lebih tinggi darinya, Elang menoleh menatap Rea yang berdiri disampingnya.
Bibir Rea sudah ingin bertanya apakah cowok itu melihat kejadian dilapangan tadi, tapi urung karena Elang mendahuluinya berbicara.
"Indah kan?"
"Hem... seperti bukit bintang yang pernah kita datangi, dari mana kamu tau tempat ini?" tanya Rea penasaran.
"Setiap tahun sekolah selalu mengadakan perkemahan disini, aku menemukan tempat ini saat jelajah alam dulu," jawab Elang sambil duduk menekuk lututnya kedepan.
Rea mengikuti apa yang dilakukan Elang, sesaat mereka hanya terdiam sambil menikmati pemandangan kerlap-kerlip didepan mata mereka.
"Re,"
Gadis itu menoleh, menatap Elang yang masih memandang jauh kedepan.
"Aku tau kamu meyukai Arkan," ucap cowok itu sambil memalingkan wajahnya menatap gadis yang dia cintai, yang selalu ingin dia ingkari sebagai adiknya.
Rea terdiam, dia sadar Elang sudah tau pasti soal itu bukankah dia pernah berkata menyukai keduanya, tapi kenapa pernyataan Elang membuat dirinya merasa seperti pencuri yang tengah tertangkap basah.
Elang tersenyum melihat Rea yang hanya terdiam tidak menjawab pertanyaannya, mengacak-acak rambut gadis itu sambil tersenyum, kemudian melepas jaketnya untuk dia pakaikan ke badan gadis itu.
"Kalau aku minta kamu membandingkan perasaanmu, sebenarnya mana yang lebih kamu sukai aku atau Arkan?"
Rea masih terdiam, entah kenapa didalam hatinya ia merasa benar-benar bersalah.
"Aku lebih menyukaimu," jawabnya.
Elang mengulas senyum tipis dibibirnya "Setelah lulus aku akan pergi ke New York," ucapnya.
Sontak Rea kaget sekaligus bingung.
"Apa karena kamu ingin menghindari aku? atau karena om Banyu atau ayah memintamu pergi?"
Elang menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak ada yang memintaku, aku memang mengincar salah satu Universitas yang ada disana," jawab Elang.
Rea memilih memalingkan mukanya, menatap ke arah langit gelap merasa sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dia rasakan di hatinya sekarang.
"Lihat Bintang jatuh!" ucapnya sambil menunjuk kearah langit "Ayo kita membuat permohonan seperti di film-film," wajah Rea terlihat antusias.
Elang tertawa melihat gadis disebelahnya yang sudah memejamkan mata, ia hanya menatap gadis itu lekat sampai membuka matanya lagi. Rea kaget memandangi cowok disebelahnya yang dia tau tidak melakukan apa yang dia minta tadi.
Gadis itu mencebikkan bibirnya yang lagi-lagi membuat Elang tertawa.
"Apa yang kamu minta?" tanyanya penasaran.
"Permohonan tidak boleh dibocorkan ke orang lain jika sampai orang lain tau, permohonanmu tidak akan terkabul," ucap Rea polos membuat Elang tertawa kembali.
"Lang apa kamu benar-benar akan pergi? Apa tidak ingin melanjutkan kuliah disini saja?"
Cowok itu menggangguk sambil meraih tangan Rea, lama mereka saling menatap mata satu sama lain, perlahan Elang mendekatkan wajahnya ke arah Rea, kemudian mencium bibir gadis itu.
"Aku memohon, agar keinginanmu bisa tercapai, tapi sepertinya kamu tidak memohon apa-apa tadi," bisik Rea dalam hati.
Tanpa Rea sadari Elang memohon dalam hatinya saat melihat bintang jatuh tadi, tapi tanpa memejamkan matanya.
"Aku mohon kabulkan keinginan gadis ini," bisiknya mengingat permohonan yang dia minta tadi, sambil melihat mata Rea yang terpejam menikmati ciuman yang dirinya berikan.
Pada waktu yang sama saat bintang jatuh, peserta perkemahan terlihat girang, mereka kemudian berlomba-lomba untuk diam dan membuat permohonan.
Arkan yang melihat kelakuan teman-temannya hanya terheran, matanya sesekali melihat kearah dimana Elang menarik tangan Rea tadi, berharap mereka segera kembali.
Beberapa saat kemudian Elang terlihat berbicara dengan temannya yang menjadi pembina di perkemahan itu, meminta maaf karena mengajak salah satu pesertanya pergi tanpa meminta ijin terlebih dulu, Elang berkata jika harus dilaporkan kepihak sekolah dan mendapat skor hukuman, ia minta dirinya saja yang menanggung.
Mereka berpisah didekat pos, pak Alif dan Kinanti sudah menunggunya dari tadi, setelah berpamitan ke Rea, Elang pergi dari bumi perkemahan itu.
Rea melirik jam mungil dipergelangan tangannya, sudah hampir pukul setengah sebelas malam, ia berjalan menuju tendanya, melihat beberapa anak duduk mengelilingi api unggun yang masih menyala. Gadis itu tidak jadi kembali ke tendanya memilih duduk didekat api unggun menghangatkan badannya yang agak kedinginan meskipun Elang tadi sudah meminjami jaket untuknya.
Rea menggosok-gosokkan telapak tangannya kemudian dia gunakan untuk menyentuh pipinya, ia tersenyum mendengar beberapa anak didekat sana membicarakan tentang bintang jatuh dan permohonan.
Tiba-tiba sebuah selimut melingkar dipundaknya, Rea mendongak melihat Arkan yang kemudian duduk disampingnya.
"Apa Elang marah?"
Rea menggelengkan kepala masih menggosokkan kedua tangannya, Arkan meraih satu tangan Rea kemudian memasukkan kedalam saku jaketnya.
"Dia tidak marah," jawab gadis itu.
__ADS_1
"Apa kamu tadi melihat bintang jatuh?"
Rea menganggukkan kepalanya.
"Apa kalian membuat permintaan bersama?"
Gadis itu menjawab pertanyaan Arkan dengan hanya menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba temannya yang ada disana berteriak sambil menunjuk ke arah langit, ternyata bintang jatuh lagi.
Arkan dan Rea tersenyum sambil mendongakkan kepala. Cowok itu tiba-tiba memejamkan matanya, Rea terdiam memandang wajah sahabatnya itu.
"Aku ingin Rea menjadi milikku selamanya," bisik Arkan didalam hati.
Masih menatap ke arah Arkan, Rea juga memejamkan matanya dan membuat permohonan lagi.
"Aku mohon kabulkan permohonan Arkan."
Rea membuka matanya terkejut mendapati Arkan yang sedang memandang wajahnya.
"Bukankah kita lebih dekat dari pada yang terlihat? maaf aku mencintaimu, aku tidak bisa menahan perasaanku untukmu Re," ucap Arkan.
Rea terdiam mendengar pernyataan cinta dari Arkan, entah kenapa dia merasa tiba-tiba ingin memeluk cowok didepannya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Terima kasih sudah mampir
__ADS_1
Jangan lupa LIKE 👍 KOMEN 💋 dan FAVORITE 💖