
Laras sudah sampai dirumah Rea, Bi Ulfa sudah menyiapkan kamar untuknya, sampai rumah Laras masuk ke kamar untuk ganti baju, sementara Lidia menunggu duduk di ruang makan, Arkan yang datang sepulang sekolah mendekati Lidia mencium punggung tangan wanita itu bertanya dimana Rea, Lidia berkata kalau anaknya sudah pergi kira-kira hampir 4 jam, Arkan mencoba menghubungi Rea dengan cara menelponnya tapi tidak diangkat, dia mengirim chat juga tidak ada balasan.
****
Rea dan Elang duduk dibawah karena baju mereka basah sehabis bermain air, terlihat Rea masih tertawa menyembunyikan perasaannya setelah mendengar apa yang Elang bisikkan ke telinganya tadi, Elang menatap lekat ke arah gadis itu.
"Aku tidak bercanda"
Rea seketika terdiam kemudian menatap ke arah Elang
"Aku tidak bercanda dengan apa yang aku katakan tadi"
Rea benar-benar tidak bisa berkata apa-apa, baru kali ini dia mendengar kalimat itu langsung dari mulut lawan jenisnya, biasanya dia hanya melihat adegan dan mendengar kalimat tadi dari drama yang sering dia tonton
"Aku tidak bisa menjawab sekarang" ucapnya
"Apa karena Arkan?"
"Hem" Rea bingung sendiri, tangannya menepuk-nepuk celananya, seolah-olah membersihkan kotoran padahal celananya hanya basah
"Sepertinya aku sudah pernah bilang, aku menyukai kalian berdua" Rea sudah berdiri, Elang yang masih duduk mendongak menatap ke arah gadis yang berdiri didepannya
"Pasti ada yang lebih kamu sukai diantara kami berdua, apa kamu tidak bisa jujur, setidaknya jika aku tau perasaanmu, aku tidak akan berharap banyak"
Rea terdiam lagi, tidak bisa menjawab pertanyaan Elang.
"Aku mau pulang, lihat baju ku basah semua kalau aku sakit, bisa-bisa senin aku bolos sekolah lagi"
Elang menyambar tangan Rea, sontak gadis itu kaget
"Aku antar,tunggu disini sebentar"
Elang berdiri kemudian masuk kedalam, saat keluar dia sudah berganti baju, membawa helm dan sebuah jaket untuk dipakai Rea.
Sepanjang jalan mereka hanya terdiam, tidak bicara sama sekali , Elang tidak mengantar Rea sampai kedalam halaman rumah, gadis itu meminta diturunkan sampai didepan gerbang
"Maaf aku tidak bisa berbasa-basi memintamu untuk mampir masuk kedalam"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, tapi bukankah kamu terlalu jujur berkata seperti itu?"
Elang tertawa diikuti Rea yang tersenyum malu
"Masuk lah aku akan pergi setelah melihatmu masuk"
Rea hanya tersenyum, kemudian masuk kedalam gerbang, menutupnya sambil menatap ke arah Elang yang masih berdiri didekat motornya, memintanya untuk hati-hati saat pulang tanpa bersuara.
Elang menganggukkan kepalanya.
*****
Sementara didalam rumah Laras turun setelah berganti baju, melihat anaknya dia langsung melayangkan tangannya ingin memukul lengan Arkan, tapi anak itu sudah berdiri berlari kearah Rea yang terlihat berjalan mendekat, bersembunyi dibalik badan Rea, memegang pundak gadis itu.
"Tolong gue tolong gue" ucapnya
Laras mendekat benar-benar terlihat kesal kepada anaknya, tapi karena Arkan bersembunyi dibelakang Rea, wanita itu takut kalau pukulannya malah mengenai Rea, jadi dia berbalik kembali kemeja makan sambil mengancam Arkan.
Arkan yang melihat Rea sedikit basah bertanya dari mana saja gadis itu, kenapa pulang dengan kondisi basah kuyup padahal diluar sedang tidak hujan.
Rea tidak menjawab pertanyaan Arkan, dia berjalan masuk menuju kamarnya.
Arkan bertanya-tanya, apa lagi melihat jaket yang dipake Rea terlihat kebesaran.
"Apa dia baru saja bertemu dengan Elang" pikirnya
****
Rea turun memakai setelan piyama model baju dan celana pendek, penampilannya mendapat cibiran dari mamanya
"Idih masa ada cowok disini pake piyama kayak gitu, ga ada cantik-cantiknya"
Rea mendekat untuk mencium Laras karena tadi dia belum sempat menyapa
"Ga ada masalah kan Ar, aku masih tetep cantik kan?"
Arkan yang sedang memakan buah sontak kaget mendengar pertanyaan Rea.
__ADS_1
"Kalau sampai bilang ga, habis loe" ucap Rea tanpa bersuara
Arkan tidak menjawab apa-apa, lebih memilih menikmati buah didepannya dari pada terlibat perdebatan antara mama dan anaknya
"Kamu dari mana aja sih dihubungin ga bisa?" tanya Arkan
"Aku pergi ke kafe bertemu tante Maya"
Mendengar nama Maya yang tidak asing untuk mereka membuat Laras yang sedang mengupas buah dan Lidia yang sedang bermain ponsel menghentikan apa yang sedang mereka lakukan.
"Tante Maya siapa?" tanya Arkan karena dia baru kali ini mendengar namanya
"Mama nya Elang" Jawab Rea enteng, dia tau pasti tante Laras dan mamanya sudah mengenal nama itu dengan baik
"Apa Elang itu temanmu kemarin yang datang kesini?" tanya Lidia sedikit ragu
"Iya, dia lah cucu kakek, yang harus aku temukan"
Lidia menyandarkan punggung nya ke kursi, Laras meletakkan pisau yang dia pegang, menatap ke arah Lidia.
"Apa dia mirip Farhan?" tanya Laras ke Lidia
"Anak itu memang punya wajah cool seperti Farhan"
"Apa kamu punya fotonya?" tanya Laras ke Rea
Gadis itu ingat pernah berfoto dengan Elang ditepi pantai saat study wisata. Membuka HPnya kemudian memperlihatkan foto itu ke Laras, membiarkan wanita itu memegang HPnya.
Arkan melongok dari kursinya, melihat Rea punya foto berdua dengan Elang dia merasa cemburu.
"Aku tadi bertemu tante Maya dan menceritakan yang sebenarnya"
"Bagaimana reaksi Maya?" tanya Laras
"Tante Maya belum berkata apa-apa karena tiba-tiba Elang datang, dan aku belum siap untuk memberi tahu Elang"
"Lalu apa rencanamu?" Lidia bertanya ke anaknya penasaran
__ADS_1
Rea menggelengkan kepalanya "entahlah, aku belum bisa berfikir apa-apa"
Jawaban Rea membuat semua orang terdiam, bahkan Lidia sampai menggigit bibir bawahnya, mencemaskan apa yang akan di lakukan Rea.