Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 39 Pelukan Elang


__ADS_3


Rea memegang piring, berjalan mengikuti arah tatanan makanan prasmanan yang terlihat sudah tinggal sedikit, karena dia terlambat turun dari bus tadi. Arkan mengikuti Rea, berdiri didepannya hanya terhalang deretan makanan prasmanan dimeja restoran itu, Rea terlihat mengambil nasi, Arkan ikut mengambil nasi, Rea mengambil udang tepung, Arkan ikut mengambil, tapi kemudian Rea memukul punggung tangan Arkan.


"Nanti kamu bisa gatal-gatal, ini udang tau" seru Rea


Arkan kaget, memang benar dia alergi udang, sekali makan udang meskipun hanya satu gigitan bisa gatal-gatal sekujur badannya.


"Udah aku ambil Re masa aku balikin? ga enak lah kalau ada yang liat"


"Ya udah ntar kasihin aku aja" jawab Rea enteng


Rea melanjutkan memilih makanan yang ingin dia makan, kemudian mencari dimana temannya duduk. Arkan mengekor seperti orang kurang kerjaan. Pak Lucky yang dari tadi memperhatikan berbisik kepada Bu Anisa yang duduk didepannya.


"Aku tidak se bucin itu kan Nis?" sambil menunjuk Arkan yang dari tadi mengekor Rea


"Iya ga kok, cuma nungguin orang selesai kuliah dari jam 8 pagi sampai jam 7 malam itu belum bisa dibilang bucin" ledek Bu Anisa


"Setelah pulang dari sini, aku ingin bertemu bapak ibukmu"


Bu Anisa tersipu malu.


Selesai makan malam mereka melanjutkan perjalanan lagi, kali ini untuk sampai ke lokasi yang mereka tuju harus menggunakan kapal penyebrangan, anak-anak sudah turun dari bus masuk kedalam kapal, ada yang duduk dikursi penumpang, ada yang memilih berdiri di deck kapal menikmati laut malam. Cindy terlihat menyandarkan kepalanya pada pundak Sevia.


"Apa kamu sakit sin?" tanya Rea


"Cuma agak pusing Re" jawab Cindy

__ADS_1


"Kenapa kamu ga pakai jaket?" Rea melepaskan Jaket menyelimuti badan Cindy dengan jaketnya.


"Nanti kalau kamu kedinginan gimana?" tanya Sevia yang gantian mencemaskan keadaan Rea


"Lihat aku kan masih pakai baju lengan Panjang" Rea tersenyum kemudian meninggalkan kedua temannya itu, berjalan keluar dari ruangan tempat duduk penumpang, bergeser ke deck kapal seperti anak-anak yang lain.


Angin laut cukup kencang, tapi kapal yang membawa mereka tetap tenang berjalan. Rea menatap sebuah pulau jauh disebrang sana, tiba-tiba seseorang mengenakan jaket di badannya, Rea kaget karena dia tau pasti itu jaket yang dia pinjamkan ke Cindy tadi.


"Aku sudah meminjamkan selimut untuk Cindy ke kru kapal, jangan berusaha mengorbankan dirimu sendiri untuk orang lain"


Rea hanya tersenyum, bagaimana mungkin meminjamkan jaket disamakan dengan mengorbankan diri. Rambutnya tersibak tertiup angin. Elang sudah berada disampingnya sekarang.


"Tadi sebelum makan malam, aku bertanya pada Arkan, apa kamu pacar dia?"


"Ternyata kamu orangnya kepo juga ya?" senyum Rea


"Gila, semua tebakanmu tidak ada satupun yang mleset" Rea masih tersenyum melihat ke arah Elang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


"Tapi aku rasa kita tidak sedekat itu, untuk aku bisa cerita ke kamu siapa Arkan" lanjut Rea


"Lalu kenapa kita tidak mulai berusaha dekat dari sekarang?, aku akan menceritakan rahasiaku" lanjut Elang


Rea sedikit bingung kenapa Elang tiba-tiba bersikap seperti ini.


"Kau tau, papa yang selama ini sudah aku anggap papa kandungku ternyata bukan papa kandungku, aku pikir karena pekerjaannya sebagai seorang jaksa yang memaksa kami sekeluarga sering berpindah-pindah, tapi ternyata alasannya hanya ingin menjauhkanku, agar ayah kandungku tidak bisa menemukanku"


Rea tercekat, tidak bisa mengucapkan satu katapun.

__ADS_1


"Aku merasa kalau dirimu juga sama sepertiku, tentang keluargamu, kamu menyembunyikan sesuatu"


Rea kaget, hanya bisa terdiam, badannya sudah gematar antara kedinginan atau kuatir tentang apa yang akan Elang katakan selanjutnya, dia merasa belum siap untuk mengatakan kalau dia adalah adik tirinya.


"Pak Rahmat bukan pamanmu ya kan?"


"Waktu ban mobilmu bocor, orang yang kau akui sebagai pamanmu itu menyebutmu nona, apa ada paman yang begitu sangat sopan kepada ponakannya sampai menyebut kata nona berkali kali"


Rea seperti mendapat sedikit oksigen, paru-parunya sudah hampir meledak karena dia tanpa sadar menahan nafas nya karena kuatir, sekarang dia agak bersyukur meskipun ketahuan bohong, yang dimaksud Elang adalah soal pak Rahmat yang diakuinya sebagai pamannya, bukan soal dia yang ternyata adalah Adik Elang.


"Apa kamu sedih mengetahui bahwa papamu bukan papa kandungmu?" tanya Rea mengalihkan Elang agar lupa dengan rasa penasarannya tentang keluarganya


"Kamu lebih beruntung dari pada aku, aku punya ayah kandung, tapi seumur hidupku dia tidak pernah memelukku" Rea mengusap air matanya yang menetes begitu saja


"Bahkan aku ga tau Lang, dia nganggep aku ada atau ga" Rea semakin terisak


Elang panik karena banyak teman-teman mereka yang juga berada di deck kapal saat itu.


"Kenapa kamu tiba-tiba menangis? sudah hapus air matamu, berhenti re" perintah Elang panik, Rea malah semakin terisak


"Aku tidak ingin bercerita tentang ini ke kamu, tapi kenapa aku malah cerita" Rea sesenggukan berusaha mengatur nafasnya, menghapus air mata yang tidak berhenti Menetes


Rea semakin terisak, gadis itu mengingat kembali kenangan bagaimana waktu kecil ayahnya pernah mendorongnya saat dia mendekat ingin memeluk.


"Aku kenapa? Kenapa tidak bisa berhenti menangis" masih menghapus air matanya, bingung sendiri kenapa tidak bisa berhenti menangis


Elang semakin bingung apa yang harus dia lakukan, tanpa berfikir Panjang tangannya menarik Rea, kemudian memeluk gadis itu erat menggunakan tangan kanannya, tangan kirinya sudah berada dibelakang rambut Rea, mengusapnya lembut.

__ADS_1


Sontak semua anak melihat kearah mereka, beberapa bahkan mengeluarkan HP dan mengambil foto mereka berdua.


__ADS_2