Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 17 Pindahkan!


__ADS_3


Rea memandangi papan nama cucian mobil milik keluarga Elang dari dalam mobilnya yang sudah selesai dicuci, pak Rahmat terlihat membayar kemudian bergegas masuk kedalam mobil.


Elang melihat Rea yang duduk didalam mobil dari kejauhan sambil berdiri menenggak air langsung dari botolnya, cowok itu mengelap mulutnya yang basah sambil terus memandangi gadis itu.


"Kamu nglakuin kesalahan apa Lang sampai dihukum papamu lagi?" tanya salah seorang karyawan cucian kepada Elang.


"Balapan," sahutnya enteng sambil berlalu mengambil HP dikantong celananya.


Elang sedang dihukum bekerja dicucian mobil karena melanggar aturan dari papanya beberapa waktu yang lalu, papanya sudah melarang dirinya untuk tidak ikut balapan tapi cowok itu tetap nekat ikut. Bukan tanpa alasan sang papa melarangnya, ia sangat kuatir karena Elang pernah mengalami kecelakaan sampai membuatnya patah kaki dan terluka parah.


"Besok kalau ke kafe atau nyuciin mobil lagi bilang dulu," Elang mengirimkan sebuah pesan.


Notifikasi HP Rea berbunyi, gadis itu kemudian cepat-cepat mengambil benda persegi panjang tipis didalam tasnya, sebuah pesan masuk membuat Rea tersenyum kemudian membalas pesan itu.


"Emang ada aturan kayak gitu, buat apa?"


"Diskon buat teman sekolahku."

__ADS_1


"Ishh...apa dia sedang mencoba menunjukkan ke aku kalau aku sudah dia anggap teman ?" batin Rea


"Oke, Terima kasih" balasnya.


Rea menatap layar ponselnya, nomor Elang sama sekali belum dia simpan, ia tersenyum tangannya mulai mengetikkan sebuah nama untuk menyimpan nomor cowok itu, "Langit" begitu nama kontak yang dia berikan untuk nomor Elang.


"Sekarang tugasku hanya tinggal mencari tahu identitas Elang yang sebenarnya, apakah dia adalah Langit Biru kakak yang aku cari," bisiknya dalam hati.


❤❤❤❤❤


Rea sedang membaca buku pelajaran dimeja belajarnya, tapi dirinya sama sekali tidak fokus karena terlihat bolak balik menatap kearah HPnya, gadis itu seperti menunggu seseorang untuk menghubunginya, merasa kesal dia menggebrakkan buku dimejanya kemudian membenamkan mukanya disana.


Diwaktu yang sama diruang kerja Andi, Arkan sedang merengek minta di pindahkan sekolah ke kota yang sama dengan Rea, dia beralasan tidak bisa belajar dengan tenang karena memikirkan keadaan Rea sepanjang waktu. Papanya hanya bisa geleng-geleng kepala mendapati anak bujangnya sudah benar-benar menjadi budak cinta seorang wanita.


Ditengah percakapan keluarga itu tiba tiba seseorang masuk ke ruangan kerja Andi tanpa mengetuk pintu dan mengucapkan kata permisi.


"Pindahkan saja anakmu, bukannya lebih baik kalau Rea ada yang menjaga."


Ternyata Farhan sudah mencuri dengar pembicaraan keluarga itu dari tadi. Andi terhenyak kaget penasaran sejak kapan laki-laki sampai ke rumahnya dan lagi sekarang sahabatnya itu sudah masuk ke ruang kerjanya tanpa permisi, tapi yang membuat Andi lebih heran adalah memikirkan sejak kapan Farhan mulai peduli dengan Rea.

__ADS_1


"Ini urusan keluarga kami, kamu tidak usah ikut campur," Jawab Andi kesal.


"Apa kamu sudah baik baik saja? untuk apa datang kesini?" Tanya Andi.


"Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu," Farhan berbicara sambil melihat ke arah Arkan dan Laras, memberi tanda bahwa dirinya hanya ingin berbicara empat mata dengan Andi.


Andi kemudian meminta istri dan anaknya keluar dari ruang kerjanya dan menunggu dibawah. Setelah melihat kedua orang yang dicintainya keluar ruangan, laki-laki itu mulai berbicara kepada Farhan.


"Apa maumu? Cepat katakan!" ucap Andi yang tengah kesal sekaligus penasaran.


Mereka terlibat pembicaraan yang sepertinya serius, tapi apa yang sedang dibicarakan kedua laki-laki itu hanya mereka berdua yang tau.


Setelah selesai dengan pembicaraan mereka, Farhan keluar dari ruangan itu kemudian turun ke lantai bawah disusul Andi, suami Laras itu mengantarkan Farhan sampai ke mobilnya. Matanya memancarkan pandangan heran, dia tidak habis pikir dengan apa yang baru saja dikatakan Farhan kepadanya.


Laras menghampiri suaminya yang masih berdiri diteras rumah, menepuk bahu Andi kemudian menyandarkan dagu dipundak laki-laki yang paling dia cintai itu, bibirnya sudah ingin menanyakan apa yang dibicarakan suaminya dan Farhan tapi dia urungkan saat melihat wajah suaminya yang gelisah.


"Kita pindahkan Arkan ke sekolah yang sama dengan Rea," ucap Andi dengan nada tegas.


Sontak Laras memandang bingung ke arah suaminya. Andi menatap mata Istrinya lekat kemudian berjalan meninggalkan Laras yang terheran-heran dengan ucapannya barusan.

__ADS_1


"Aku tidak ingin Arkan membenciku seumur hidupnya seperti Farhan membenci ayahnya," ucap Andi sambil masuk kedalam rumah.


Laras masih termenung diteras, bingung menerka apa yang sebenarnya dibicarakan suaminya dan Farhan tadi.


__ADS_2