Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 25 Kembalinya Lidia


__ADS_3


Seorang perempuan mendobrak masuk kerumah Andi sambil marah-marah, pelayan dirumah itu menenangkan sang perempuan, Andi yang mendengar keributan keluar dari ruang kerjanya, kemudian turun dari lantai atas, Laras yang dari tadi menemani Aryan dimeja makan meninggalkan anaknya kemudian menghampiri sumber keributan itu.


"Gapapa bi, lepaskan!" perintah Laras yang melihat pembantunya sedang memegang erat tangan perempuan didepannya.


"Tolong bawa Aryan ke Kamar ya bi," pinta Laras.


Pembantunya pun melepaskan tangan perempuan itu kemudian mengajak anak majikannya pergi ke kamar.


"Lidia, ayo kita bicara diatas, kenapa harus membuat keributan seperti ini?" tanpa mereka sadari Andi sudah berdiri dibelakang Laras.


Perempuan itu lalu mengikuti Andi ke ruang kerjanya.


❤❤❤❤❤


Beberapa jam yang lalu


Seorang perempuan terlihat menggunakan kaca mata hitam dan masker berjalan dari terminal kedatangan internasional sebuah Bandara langsung masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya, membawanya menuju kerumah mertua yang sekaligus tempat tinggal anak dan suaminya. Di bagian belakang mobil dia membawa banyak paper bag berlogokan beberapa brand ternama yang dia sengaja beli untuk anaknya.


Sampai dirumah yang dia tuju, beberapa pelayan terlihat menyambut.


"Di mana Rea?" tanyanya.


Para pelayan hanya bisa tertunduk sambil saling memandang satu sama lain.


"Dimana mertuaku?" tanyanya lagi.


"Tuan besar sedang ke Singapore untuk berobat nyonya," jawab pelayannya sedikit takut.


"Lalu dimana tuan muda kalian?"


"Tuan Farhan ada diatas nyonya."


Perempuan itu lalu bergegas naik ke atas, mendobrak masuk ke ruang kerja suaminya


"Kamu kirim kemana Rea?" tanya Lidia ke suaminya sambil melemparkan sebuah amplop coklat yang dia keluarkan dari dalam tasnya.


"Apa kamu peduli dengan anak itu?" jawab Farhan enteng.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa membuang Rea begitu saja, karena aku tidak akan pernah menandatangani surat cerai itu." Lidia memandang amplop coklat yang dia lemparkan tadi.


"Kenapa? karena kau berharap aku mati sebelum ayahku, jadi anak itu bisa menerima seluruh kekayaan ini?"


Lidia agak tersentak kaget dengan ucapan laki-laki yang masih berstatus suaminya itu.


"Aku dan anakku tidak butuh harta mu Farhan, aku bersumpah jika sesuatu terjadi pada Rea, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri," ancam Lidia yang sudah benar-benar marah.


Farhan hanya tersenyum sinis mendengar ancaman dari perempuan yang juga masih berstatus istrinya itu.


"Anak? kau anggap gadis yang bahkan tidak kau kenalkan pada dunia itu anak?" cibir Farhan.


Bibir Lidia kelu, memang benar, sebagai artis dan model top dia tidak pernah memperkenalkan anaknya, bahkan di depan publik dia masih terlihat dan berlagak seperti wanita single.


"Setidaknya aku memberikan kasih sayang seorang ibu kepada Rea, kalau kamu apa yang kau berikan kepada anak itu selama ini?" cecar Lidia.


Farhan hanya tersenyum "anak siapa yang kamu maksud?"


Jawaban Farhan membuat Lidia kaget, tapi secepat kilat perempuan itu menjawab ucapan suaminya dengan penuh percaya diri.


"Kamu bahkan tidak tau apa-apa Farhan, kegilaanmu selama hampir 17 tahun ini membuat matamu buta, apa yang kamu tau selain bekerja diperusahaan bahkan yang tidak kamu bangun sendiri dengan jerih payahmu?" ejek Lidia yang membuat perubahan mimik wajah Farhan.


Farhan bingung dengan perkataan Lidia, perempuan itu sudah pergi meninggalkan Farhan, tapi sampai didepan pintu dia berbalik kembali.


"Bahkan aku yakin Maya sudah bahagia dan melupakan laki-laki seperti mu," senyum Lidia sedikit mengejek suaminya itu.


Dia lalu membanting pintu dengan kasar, meninggalkan Farhan yang terdiam mengingat nama orang dari masa lalunya yang baru saja disebut.


❤❤❤❤❤


Diruang kerja Andi


Lidia terlihat sangat emosi, wajah perempuan itu terlihat merah menahan amarah.


"Kemana Farhan mengirim Rea?" tanya Lidia emosi.


Andi yang mendapat pertanyaan itu mencoba tetap tenang.


"Tenanglah Lid, kapan kamu tiba di Indonesia?"

__ADS_1


"Baru hari ini." Perempuan itu mencoba tenang seperti apa yang suami sahabatnya pinta.


"Bukan Farhan yang menyuruh Rea pergi, tapi om Heru."


Jawaban laki-laki itu membuat Lidia terkejut, karena dia tau mertuanya sangat menyayangi cucunya bagaimana mungkin ia menyuruh Rea pergi. Akhirnya Andi meneceritakan Semuanya yang terjadi kepada wanita itu, bahwa Rea dikirim untuk mencari anak Farhan dan Maya yang bernama Langit Biru.


"Hah... ternyata mertua ku lebih gila dari anak nya," sinis Lidia "Kenapa dia menyuruh anakku melakukan hal konyol seperti itu?"


Andi hanya terdiam menatap perempuan didepannya.


"Lalu apa rencana Farhan setelah menemukan anaknya? membawanya ke klan Pradipta? menjadikan anak itu pewaris? membuang anakku Rea?" tanya Lidia menyelidik.


Pertanyaan terakhir Lidia membuat Andi terkejut.


"Bagaimana dia tau?" gumam andi dalam Hati


"Aku benar kan, Farhan akan membuang Rea?" senyum Lidia miris.


Perempuan itu lalu berdiri, meninggalkan rasa penasaran dipikiran Andi, Lidia sudah memegang gagang pintu kemudian berbalik lagi.


"Katakan pada Farhan, kalau dia mau menceraikan aku, aku tidak ingin sama sekali saham miliknya, tapi setidaknya berikan villa mewah dan pulau pribadinya untukku," senyum Lidia sinis kemudian keluar dan menutup pintu.


"Memang aku penasihat perceraian kalian?" ucap Andi setengah berteriak.


"Kenapa Rea bisa persis seperti dia," batin Andi dalam hati.


Villa dan pulau yang di maksud Lidia memang tempat penuh kenangan untuk Farhan, Semua orang tau bahwa Farhan menganggap tempat itu adalah tempat paling berharga, berharga karena tempat itu menyimpan kenangan, tapi bukan kenangan yang dia lalui bersama Lidia, melainkan bersama Maya.


"Kalian benar benar," gumam Andi saat membayangkan kejadian dimana Rea yang juga pernah malakukan hal yang sama, hampir keluar dari ruang kerjanya sudah memegang gagang pintu tapi kemudian berbalik lagi untuk berbicara.


Diluar Lidia berpapasan dengan Laras yang membawa nampan berisi secangkir teh.


"Apa sudah mau pergi? " tanya Laras.


"Ayolah ras, siapa yang ingin minum teh panas disiang bolong seperti ini?" ucap Lidia melihat uap panas dari cangkir diatas nampan yang dibawa sahabatnya.


"Aku tunggu di tempat biasa," lanjut Lidia sambil berlalu meninggalkan Laras yang masih beridiri disana.


"Hei..aku kan belum ijin suamiku," jawab Laras bingung, orang yang diajak bicara sudah melenggang menuruni anak tangga.

__ADS_1


__ADS_2