Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 86 : Labil


__ADS_3

Hari ini sudah tiga hari semenjak Elang dan Rea tau kalau mereka adalah kakak dan Adik, dan seharusnya mereka sadar dan patuh ke omongan ayah mereka untuk mengakhiri hubungan spesial diantara mereka, tapi jika dipikir lagi mereka hanya remaja biasa yang masih mengedepankan rasa dari pada logika. Keduanya masih berhubungan seperti layaknya remaja biasa yang sedang dimabuk cinta.


"Ah Biarlah." bahkan Arkan juga berpikiran sama.


"Bukankah aku hanya sahabat baginya, marahpun tak ada gunanya."


Arkan melemparkan bola basket yang sedang dia pegang kedalam ring.


Cowok itu lebih memilih menunggu kegiatan pramuka yang akan diikuti anak-anak kelas X dan XI sambil bermain basket, peluhnya sudah bercucuran bahkan sebelum kegiatan pramuka dimulai.


Sementara gadis yang sudah mengisi separuh hatinya sedang berduan didepan kelas dengan pacarnya.


"Sampai kapan kita akan terus seperti ini? "


Mereka saling pandang dan melempar senyum dengan memikirkan kalimat yang sama.


"Tiga hari lagi kamu ulang tahun yang ke tujuh belas kan? Apa ada hadiah yang kamu inginkan?" tanya Elang ke gadis disebelahnya.


"Hem.. Aku ingin pergi kepasar malam denganmu dan aku akan minta hadiahku disana, jadi jangan belikan aku apapun," jawabnya sambil tersenyum.


"Pasar malam?" tanya Elang heran.


"Iya, Sevia Cindy dan Vira membicarakannya tadi, aku ingin membeli gula-gula disana." Rea tertawa sambil mencoba mengikat rambutnya kebelakang.


Elang mengambil paksa karet rambut dari tangan Rea, menghadapkan gadis itu miring membelakangi dirinya, dengan terampil tangannya mulai mengepang rambut pacarnya.


Rea melirik yang cowok itu lakukan ke rambutnya sambil bertanya "Dari mana kamu belajar mengepang rambut?" gadis itu heran bahkan dirinya sendiri tidak bisa.


"Aku sering melihat mama mengepang rambut Bumi dan kadang saat mama sibuk di pagi hari aku membantunya mengurus Bumi," cerita Elang


"Nah selesai," cowok itu tersenyum melihat hasil karyanya.


Rea memegang rambutnya ia hanya bisa melihat sedikit kepangan itu, tapi dia yakin pasti bagus.


"Terima kasih," ucapnya sambil menarik sedikit roknya kemudian membungkuk ala-ala princess di negeri dongeng, membuat Elang tertawa.


Terdengar suara peluit yang sangat nyaring dari tengah lapangan, merekapun berlari kemudian berbaris sesuai regu mereka. Rea berjalan sambil masih memegangi kepangan rambutnya, melihat Arkan yang juga berlari keluar lapangan basket menuju lapangan.

__ADS_1


Sudah tiga hari ini Arkan tidak menghubungi ataupun menyapanya, dia pun enggan untuk menyapa cowok itu duluan.


"Dia bisa berlari berarti kakinya sudah baik-baik saja," bisik Rea.


Semua anak terdiam dalam barisan sambil mendengarkan kalimat yang diucapkan oleh kakak pembina, meskipun kelas X dan XI pramuka dihari yang sama, tapi barisan mereka dibedakan, apalagi untuk kelas XI yang akan mengadakan acara perkemahan beberapa minggu lagi, pembina yang akan memandu mereka lebih banyak hari ini.


Sebagian anak terlihat malas dan sebagian terlihat senang dengan pengumuman yang diberikan pembina, kemah dua hari tiga malam ditengah rimba akan menjadi pengalaman baru bagi seorang Rea.


Setelah selesai mendengarkan pengumuman, mereka duduk diatas rumput ditengah lapangan untuk membicarakan tugas untuk acara perkemahan mereka, didalam regu Rea terdiri dari sepuluh siswi, sesekali mereka bercanda dan diam seketika saat pembina mendekat.


Nama regu mereka mawar, Sevia dan Vira didapuk menjadi ketua dan wakil regu, sementara Rea dipilih menjadi bendahara, bukan tidak ada maksud dibalik penunjukkan nya, alasannya karena gadis itu paling kaya maka teman-temannya merasa aman dan ada penyokong dana di regu mereka.


Rea bukannya tidak tau maksud teman-temannya memilih dirinya menjadi bendahara, bahkan mereka langsung mengutarakan alasan itu kepadanya, Rea malah terlihat senang karena sebenarnya ia bercita-cita untuk menjadi seorang akuntan atau manager keuangan.


Sesekali dua orang cowok menatap ke arah dirinya yang sedang duduk bersila sambil tertawa-tawa.


Ketika dia menoleh dan bertemu pandang dengan Elang, ia tersenyum manis sambil mengucapkan kata "Apa?" tanpa mengeluarkan suara dan cowok itu akan membalas dengan hanya menggelengkan kepalanya sambil melempar senyum ke arahnya, dan saat itu terjadi ada hati yang mencelos berkali-kali.


Rea duduk dimeja belajarnya setelah mandi, rumahnya kembali sepi karena sang mama sedang kembali kekotanya untuk membicarakan bisnis dengan managernya. Gadis itu sudah berniat ingin mengirim pesan atau menelpon Arkan, tapi diurungkan karena tiba-tiba ia merasa bersalah karena sepertinya dia hanya mengingat Arkan saat kesepian.


"Huh..." gadis itu menghela napas sambil meniup poninya, tiba-tiba dia mendengar suara orang yang sedang berbicara dari luar dan dia kenal betul pemilik suara itu, Rea melompat dari kursinya membuka pintu dengan tergesa-gesa benar saja dia mendapati Arkan berdiri membuka pintu kamarnya sementara bi Ulfa terlihat berjalan menuruni anak tangga.


Rea berjalan ikut masuk kedalam kamar Arkan, melihat sahabatnya itu membuka lemari dan mengambil sebuah paper bag untuk menaruh bajunya.


"Aku balik ya," ucap Arkan yang langsung ingin pergi dari sana tapi Rea sudah terlebih dulu memegang lengan tangannya.


"Maafkan aku," ucap Rea.


"Untuk apa?"


"Untuk berpura-pura tidak tau perasaanmu ke aku."


Arkan berbalik menatap ke arah Rea, bibirnya menyunggingkan senyuman getir.


"Aku ingat aku pernah berjanji untuk memberi jawaban atas pertanyaanmu saat ulang tahunku, tidak perlu menunggu aku akan menjawabnya sekarang."


"Aku menyukaimu, aku menyayangimu lebih dari seorang sahabat tapi aku takut kalau menjadikanmu lebih dari itu aku akan kehilangan dirimu."

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Arkan mengernyitkan dahinya kemudian berdiri menghadap ke arah gadis itu.


"Re, apa kamu tau sebenarnya dirimu sendiri yang membuat semuanya sulit, padahal yang aku inginkan kamu tinggal menjawab pertanyaanku dengan kata Iya atau tidak," ucap Arkan.


"Kalau aku jadi pacarmu lalu kita putus apa kamu bisa menjamin kita masih bisa bersahabat baik?" tanya Rea dengan tatapan mata tajam.


"Pasti kita akan saling membenci kemudian menjadi seperti orang asing, aku tidak mau sampai itu terjadi," lanjutnya.


"Jika kamu jadi pacarku aku tidak akan membiarkan kita putus, aku akan menjadikan kamu tunanganku kemudian istriku," ucap Arkan dengan sedikit malu.


"Apa kamu sedang jujur kalau kamu berniat menikahiku nanti?" tanya Rea polos.


"Iya, memang kenapa?" tanya Arkan dengan raut wajah memerah .


Gadis itu tertawa terbahak-bahak, membuat Arkan ikut tersenyum merasa geli sendiri dengan ucapannya tadi. Bagaimana mungkin cowok labil bisa memikirkan masa depan pikir Rea.


-


-


-


-


-


-


-


-


Thanks for reading don't forget tap πŸ‘ LIKE


πŸ’‹ COMMENTS πŸ’— LOVE and VOTE


Vote untuk kasih bintang dibawah sinopsis ya

__ADS_1


πŸ’•πŸ’•πŸ’•



__ADS_2