
Rea tersenyum melihat Elang, cowok itu meletakkan tas Rea dan tasnya sendiri di sofa. Mendekat ke arah ranjang pasien.
"Apa kamu sudah tidak apa-apa?" tanya nya sedikit ragu melihat wajah kuyu Rea
"Hem.. aku udah gapapa" ucap Rea bibirnya masih bisa tersenyum manis, tapi seketika raut wajahnya berubah kaget karena tiba-tiba Elang memeluknya .
Rea ragu, tapi berlahan menggerakkan tangannya ke punggung Elang, menepuk nya pelan
"Aku sangat cemas" ucap Elang lirih
Rea hanya terdiam
Elang masih belum melepaskan pelukannya dari gadis itu "sepertinya banyak yang tidak aku tau tentang kamu Re"
Cowok itu melepaskan pelukannya kemudian mengusap lembut tangan kanan Rea yang masih terpasang selang infus "aku ingin tau lebih banyak tentang kamu"
Rea hanya tersenyum "aku ga bisa makan strawberry, aku punya intoleransi makanan"
Wajah Elang seperti meminta cerita yang lebih dari itu, dan Rea menyadarinya
"Lang apa kamu mau pergi kencan setelah aku keluar dari sini?"
Wajah Elang berubah menjadi merah, Bagaimana mungkin gadis didepannya yang mengajak dia kencan duluan.
Rea menatap wajah Elang yang terlihat tersipu "apa kamu tidak mau?" tanya nya
"Hah... mau mau" ucap Elang malu
"Aku dengar disini masih banyak pantai yang benar-benar masih alami" tanya Rea
"Banyak, tapi bisa memakan waktu dua jam lebih untuk sampai kesana"
"Semenjak pindah kesini aku belum pernah pergi jalan-jalan, padahal banyak juga kan tempat wisata disini" keluh Rea
"Cepatlah sembuh nanti aku ajak kesana, tapi kalau kamu memang ingin ke pantai yang masih alami, kita tidak bisa pergi dengan mobil"
Rea menganggukkan kepalanya
Seseorang mengetuk pintu kamar, kemudian membukanya, ternyata mama Rea dan tante Laras yang datang, mereka masuk disusul Arkan, Elang yang dari tadi duduk diatas tempat tidur Rea kemudian bangun, memberi salam ke dua orang wanita yang baru saja datang.
Lidia tersenyum, tak begitu kaget karena dia tau anaknya memang dekat dengan Elang, Lidia menghampiri Rea mengusap kepala anaknya.
"Apa ada yang terasa sakit?"
__ADS_1
Rea menggelengkan kepala
"Tapi aku lapar ma" terdengar bunyi keroncongan dari perut Rea, gadis itu tersenyum lebar
Orang yang ada di ruangan pun sontak tertawa.
Tak berapa lama suster membawa jatah makanan untuk Rea, Lidia mengarahkan meja makan khusus untuk pasien ke arah Rea.
"Apa kamu bisa makan?" Lidia ragu melihat tangan kanan anaknya yang terpasang selang infus
Belum selesai berbicara kedua anak laki-laki diruangan itu sudah mendekat secara bersamaan dan sama-sama bersuara
"Biar aku aja tante"
Sontak mereka pun saling pandang, Lidia melirik ke arah Laras. Kemudin Laras bangun dari sofa tempatnya duduk.
"Biar aku aja yang suapin Rea" Laras sudah mengambil sendok dan membuka plastik penutup mangkuk yang ternyata berisi bubur.
"Mama mau keluar sebentar untuk ngurus administrasi dibawah" pamit Lidia ke anak gadisnya kemudian memandang Arkan dan Elang secara bergantian
Lidia menepuk pundak Laras yang sedang menyuapi Rea "nitip bentar ya Ras"
Laras mengangguk
"Kalian ga capek berdiri terus?" ucap Laras sambil menyuapkan bubur ke mulut Rea
Mereka saling pandang, kemudian duduk disofa agak berjauhan.
Rea menggelengkan kepalanya tidak mau membuka mulutnya lagi, padahal ini baru suapan yang kedua
"Kenapa?" tanya Laras
"Ga enak tante, hambar" jawab Rea
"Nanti perut kamu ga ada isinya lho, kamu harus minum obat juga, Ar coba tanya perawat apa Rea boleh makan makanan lain" perintah mamanya
"Kamu pengen makan apa?" tanya Laras ke Rea
"Sate Ayam pake lontong " senyum Rea
Laras menoleh ke arah anaknya "tanyain sekalian makan lontong sate boleh ga?"
Arkan kemudian keluar, tak berselang lama dia sudah masuk kembali "boleh tapi jangan pake sambel"
__ADS_1
"Ya udah sekarang kamu beli sana, sekalian buat kita semua" perintah mamanya yang sudah membuka dompet mengeluarkan beberapa lembar uang untuk diberikan ke anaknya
"Arkan nyari dimana ini?" gerutu nya sambil menerima uang dari mamanya "delivery aja deh ma"
"Saya aja yang nyari tante kalau Arkan ga mau" ucap Elang tiba-tiba yang membuat Arkan berubah pikiran
"Ya udahlah aku cari" Arkan memasukkan uang ke kantong seragam nya
"Kalian berdua aja sana sama-sama, heran deh kalian itu teman kan? dari tadi kesannya kayak musuh tau" Laras berpura-pura tidak tau hubungan diantara mereka, padahal dia jelas-jelas tau
Arkan dan Elang kemudian pergi meninggalkan tante Laras dan Rea, berjalan beriringan keluar mencari apa yang Rea mau.
"Ar kalau jalan agak jauh sih, apa mau boncengan pake motorku?" tanya Elang
Arkan kemudian sadar, motornya juga masih di foto copyan dekat sekolah "oh ya lupa motor gue masih disekolah, tadi kan gue ikut ambulance"
"Gapapa, aman kok disana" ucap Elang "oh ya gimana nih mau boncengan kita nyari sate?" tanya Elang lagi
"Idih najis dibonceng loe kayak apa'an kita ntar di liat orang" ucap Arkan
"Ya udah gue aja yang beli" tangannya mengadah ke arah Arkan "duit nya mana, gue lagi ga bawa duit" ucap Elang
"Ogah, ntar loe bangga karena elo yang beliin apa mau nya Rea" Arkan memegang kantong seragamnya seperti berfikir Elang akan dengan paksa merogoh mengambil uang di kantongnya secara paksa
"Terus gimana?" Elang sudah agak emosi jiwa menghadapi Arkan
"Elo bisa bawa mobil kan, bentar gue minta kunci mobil Rea aja ke mama" Arkan berbalik menuju kamar Rea
"Loe ternyata ga bisa nyetir ya?" ledek Elang sambil menengok Arkan yang berjalan menjauh
Arkan menengok kebelakang "habis ini gue pasti belajar"
Elang hanya tersenyum melihat tingkah Arkan
Arkan sudah sampai didepan pintu kamar Rea lagi, tangannya sudah hampir memegang handle pintu ketika samar dia mendengar pembicaraan mama nya ke Rea
"Re, tante tidak bermaksud ikut campur, tapi sampai kapan kamu ingin menyimpan rahasia ini dari Elang?"
Arkan terdiam, menguping pembicaraan mereka
"Sebentar lagi tante, sebelum naik kelas aku pasti sudah memberi tau kalau dia adalah anak ayah, kakakku, entah kakak kandung atau tidak" ucap Rea ragu
Arkan mematung, tapi tiba-tiba Elang sudah berdiri disampingnya
__ADS_1
"Minta kunci lama banget" ucap Elang yang membuat Arkan kaget