Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 64 Viral


__ADS_3

Jam istirahat Rea hanya duduk di kelas, dia sama sekali tidak mau keluar bahkan untuk sekedar membeli makanan dikantin, memilih menyandarkan kepalanya dimeja memejamkan mata, bahkan ajakan Sevia dan Cindy tidak membuatnya bangun sama sekali.


"Pasti mereka diluar sana juga sedang ngomongin aku" gumam Rea


Tiba-tiba seseorang meletakkan satu buah botol minuman jeruk dan roti didepan mukanya yang sedang dia rebahkan itu.


"Kenapa tidak pergi ke kantin untuk makan malah tidur-tiduran disini"


Rea kenal baik si pemilik suara


"Apa kamu juga lihat postingan akun gosip itu?"


Cowok itu terdengar menarik kursi duduk didekat Rea.


"Iya, sekarang mereka sedang menyerbu media sosial ku, membuat notifikasi sosmedku tidak berhenti berbunyi"


"Apa kamu ikut dihujat??" Rea bangun melihat Elang yang sedang memegang HPnya, kemudian menyerahkan nya ke Rea.


Rea melihat semua foto yang diunggah Elang, dia jarang selfie atau memajang fotonya, tapi sebuah foto nya yang sedang duduk menyamping mendapat banyak komentar, Rea menyapu postingan Elang dengan matanya, melihat foto siluet wanita yang terlihat hanya berwarna hitam putih dengan background pantai dia tau itu adalah dirinya.


"Kapan dia mengambil foto ini?" pikirnya


Rea melihat apakah ada caption dibawahnya, ternyata tidak ada tulisan apa-apa


Gadis itu berbalik melihat foto Elang yang dibanjiri banyak komentar


*Ganteng bener sih


Please baca Direct massage aku


Kak mau donk jadi pacar kakak


Jadi elo apanya anak mba Lidia?


Klarifikasi donk kak


Ini yang pebinor Kakak apa cowok satunya


Kakak anak sekolah mana, tinggal di kota apa?


Jual follower kak*


Peninggi pelangsingnya kakak

__ADS_1


Rea mengernyitkan dahi, Elang membuka roti yang dia bawa tadi menyuapkan ke mulut Rea. Gadis itu kaget tapi kemudian menguyah roti di mulutnya.


"Heran suka banget sama roti kayak gini" Elang menggigit roti bekas gigitan Rea tadi


Sontak Rea kaget, Elang menyodorkan roti itu lagi tapi Rea menolak.


"Makan aja aku udah ga lapar"


Elang tertawa kemudian memotong roti itu memakan bagian yang dia gigit, menyuapkan lagi bagian potongannya ke mulut Rea.


"Jujur aku pengen banget makan sandwich yang kamu bikin, kayaknya enak" ucap Rea sambil mendorong roti itu masuk ke mulutnya dengan tangan.


"Kapan-kapan aku buatin"


Arkan yang dari tadi sibuk mencari Rea melihat gadis itu sedang berdua dengan Elang dikelas, datang mendekat kemudian membuka botol minuman dimeja Rea, menenggaknya begitu saja tanpa permisi.


Melihat Rea yang seperti kesusahan menelan apa yang ada didalam mulutnya, Arkan menyodorkan botol ditangannya, Rea menerima kemudian minumnya langsung dari botol sama seperti yang Arkan lakukan, membuat Elang terkejut, bukankah itu artinya bekas bibir Arkan menempel dibibir Rea, kenapa tadi roti yang dia gigit Rea seperti langsung tidak mau.


Elang menatap penuh tanya ke arah Arkan, Rea yang sadar dengan apa yang ada dipikiran Elang kemudian berbicara


"Aku biasa minum bekas Arkan, dia juga biasa minum bekas aku, bukan karena apa-apa"


Elang menurunkan sedikit tatapannya ke Arkan.


Arkan menarik kursi mendekat ke arah Rea juga.


"Pada jahat komen nya" lanjut Arkan


"Maaf gara-gara aku kalian jadi ikut-ikutan Viral"


Arkan merasa bersalah mendengar kalimat permintaan maaf Rea.


"Makanya kamu putusin kek Re, pilih pacaran sama salah satu diantara kita"


Ucapan Arkan membuat Rea gusar, apalagi melihat Elang yang mengiyakan kalimat saingan nya itu.


"Kalau kamu mau pacaran sama Elang aku mundur"


Rea kaget mendengar ucapan Arkan


"Kalau kamu mau pacaran sama Arkan, aku yang mundur"


Rea semakin kaget, gadis itu kemudian mengucapkan sebuah kalimat yang sudah lama dia pendam.

__ADS_1


"Aku kan pernah bilang sebenarnya aku menyukai kalian berdua, tapi jika boleh memilih aku pengen kalian berdua jadi pacar aku"


"Apa??" kedua cowok itu sama-sama kaget


Kemudian mereka berdiri meninggalkan Rea dikelas sendirian lagi


"Wah... Dia terang-terangan mau ngeduain kita" ucap Arkan


"Memang dia pikir kita rela" ucap Elang


Tapi didalam Hati mereka masing-masing berkata "rela"


****


Lidia dan Laras sudah sampai di cafe milik Maya, mereka berdua sudah ada di parkiran depan tapi tidak segera masuk.


"Mau masuk ga ni?" tanya Laras yang melihat Lidia melamun memandangi kafe yang terlihat belum begitu ramai


"Masuk lah" Lidia membuka pintu mobil


Baru berjalan beberapa langkah tiba-tiba beberapa orang yang membawa mic dan kamera mendekat, sontak Lidia kaget berlari kedalam kafe, Laras tak kalah kaget menyusul masuk kedalam, pintu ditahan Lidia dari dalam agar wartawan yang mengejarnya tidak bisa masuk.


Wajah kedua wanita itu panik membuat beberapa orang yang duduk didalam kafe melihat ke arah mereka.


Seorang wanita berjalan mendekat dari arah kasir, Laras dan Lidia menatap wanita itu, dalam hati mereka bertanya-tanya apa ini Maya.


"Ada yang bisa saya bantu?" ucap wanita itu, yang benar-benar adalah Maya


Lidia masih diam memandang wajah wanita yang dicintai suaminya itu dari balik kacamata hitam yang dari tadi belum dia lepaskan.


"Bisa ga minta tolong karyawan laki-laki buat megangin pintu, atau ngusir mereka gitu" ucap Laras


Maya melirik keluar kaca kafe, ternyata banyak orang yang seperti wartawan sedang berkerumun dan beberapa mencoba membuka pintu yang ditahan dua wanita didepannya


Maya kemudian memanggil karyawan laki-laki, dan meminta pelayan perempuan pergi minta bantuan ke mas yang bekerja di cucian sebelah. Akhirnya Lidia dan Laras bisa melepas pintu setelah beberapa orang karyawan laki-laki membantu dan meminta wartawan pergi.


Lidia membuka kacamata hitam yang dia pakai sontak membuat Maya kaget.


"Anda? Lidia Haninditya kan?"


Lidia kaget berbisik pada Laras yang sangat dekat dengannya "kok dia kenal?"


"Gimana ga kenal muka loe kan belakangan nongol dimana-mana marimar"

__ADS_1


Lidia berusaha menguasai rasa terkejutnya, kemudian tersenyum kepada wanita didepannya


"Halo" ucapnya


__ADS_2