Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 81 Panti Asuhan


__ADS_3

Hari berikutnya sepulang sekolah, Elang mengajak Rea kesebuah panti asuhan dimana biasanya dia pergi mengunjungi anak-anak disana bersama Kinanti.


Ken juga datang, gadis itu langsung menghambur ke anak-anak panti yang ada disana sepertinya mereka sudah sangat akrab.


"Dari mana kamu tau panti asuhan ini dan sejak kapan kalian berdua sering berkunjung kesini?" tanya Rea.


"Tiga tahun yang lalu, sejak aku bertemu Ken," jawab cowok itu.


"Bagaimana kamu bisa kenal Ken? Apa kalian teman sekelas dulu? ceritakan padaku!" pinta Rea.


"Sebenarnya Ken adalah temanku saat SD, saat kelas 4 aku pindah sekolah karena pekerjaan papa membuat kami sekeluarga selalu ikut pindah, setelah itu aku tidak pernah bertemu Ken lagi, sampai kami menjadi teman sekelas saat duduk dikelas X aku baru tau dia teman SD ku, dan apa kamu tau? Ken sebenarnya bukan anak kandung pak Alif," jawab Elang.


Rea kaget mendengar cerita pacarnya, memandang cowok itu dengan ekspresi penuh tanya.


"Dia di adopsi dari panti asuhan ini saat berumur lima tahun karena istri pak Alif tidak bisa melahirkan seorang anak, tapi beberapa tahun setalah diadopsi istri pak Alif meninggal dunia, beliau sekarang sudah menikah lagi, dan istrinya yang sekarang membawa anak dari pernikahannya terdahulu."


"Jadi Ken sekarang punya saudara tiri?" tanya gadis itu lagi.


"Iya, seorang anak perempuan juga sekarang adik tirinya duduk di kelas IX sekolah menengah pertama, namanya Sunny."


Rea terdiam, merasa kasihan kepada gadis itu, tapi Ia merasa nasipnya juga tidak kalah mengenaskan dari Kinanti, bukankah status dirinya juga belum jelas anak siapa.


Mereka duduk disebuah ruangan yang cukup besar, ternyata Elang dan Ken sering kesana untuk membantu anak-anak belajar, Kinanti terlihat mengajari anak-anak menggambar, dan Elang bermain gitar menyanyi dikelilingi bocah-bocah yang terlihat bahagia ikut bersenandung mengikuti alunan gitar yang dipetik cowok itu.


Rea tersenyum memandangi pacarnya sampai sebuah tangan mungil menarik-narik lengan seragamnya.


"Kakak apa ini betul?" tanya anak kecil yang sedang dijarinya mengerjakan beberapa soal matematika tadi.


Rea melihat buku yang disodorkan anak itu "Wah pinter banget, kakak kasih lima soal lagi mau ga?" tanya Rea sambil tersenyum lebar.


Anak kecil itu menganggukkan kepalanya, Elang yang mencuri pandang ke arah gadis itu ikut tersenyum.


Rea diam-diam mengirim pesan ke Pak Rahmat meminta tolong dibelikan sesuatu dan diantar ke panti asuhan.


Selesai melakukan kegiatan didalam ruangan, anak-anak keluar bermain di halaman panti, Ken masih menemani mereka bermain, entah kenpa tidak terlihat gurat rasa lelah di wajah gadis itu, Rea duduk disebuah kursi kayu karena merasa sedikit capek, ia memandangi Ken yang tertawa berlarian bersama anak-anak yang Rea anggap kurang beruntung itu.


Rea menghembuskan napasnya panjang, tanpa ia sadari Elang sudah berdiri didekatnya.


"Kenapa?" tanya Elang.


Gadis itu menggeleng, kemudian meniup poni dikeningnya dengan hembusan napas dari bibirnya, Elang yang melihat merasa gemas lalu mencubit pipi gadis itu.

__ADS_1


"Imut banget sih," puji Elang yang kemudian duduk disamping pacarnya.


"Lang, aku sedang berfikir kalau mungkin aku juga anak adopsi sama seperti Ken," ucap Rea.


Elang mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti dengan ucapan gadis itu.


"Aku sudah pernah cerita kan , ayahku berkata aku bukan anak kandungnya, tapi mamaku bilang aku anaknya, dari tadi aku berpikir apa mungkin aku diadopsi sama seperti Ken, mamaku mungkin menganggap aku anaknya sementara ayahku tidak bisa menerima."


"Tidak mungkin, wajahmu sangat mirip dengan tante Lidia," jawab Elang.


"Tapi apa kamu tau? wajahku tidak mirip sama sekali dengan ayahku, tapi wajah ayahku malah lebih mirip denganmu," Rea langsung terdiam merasa keceplosan, jika bisa Ia ingin menampar mulutnya sendiri didepan Elang.


Cowok itu heran dengan perkataan gadis disampingnya, manik matanya sedikit melebar, seperti meminta penjelasan yang lebih dari ucapan Rea barusan.


"Maksudku, ganteng dan cool seperti kamu," ucap Rea cepat.


Elang tertawa mendengar ucapan gadis itu kemudian mengusap pucuk kepala Rea lembut.


Mereka sedikit heran saat anak-anak berhenti bermain dan berlarian, mata bocah-bocah itu menatap ke arah gerbang panti, Rea dan Elang ikut menengok kearah sana, terlihat mobil yang biasa mengantar Rea untuk berangkat sekolah masuk kedalam dan berhenti didekat anak-anak yang sedang bermain.


Elang menatap ke arah pacarnya dengan pandangan bertanya-tanya.


"Aku meminta pak Rahmat membawakan sesuatu kemari," ucapnya.


Rea menenteng kantong berisi donat sambil berbicara kepada anak-anak yang ada disana.


"Siapa mau donat?"


Sontak anak-anak melompat-lompat kegirangan mengikuti Rea masuk kedalam, disana mereka membagikan makanan yang diantar pak Rahmat untuk dinikmati bersama.


Rea keluar untuk mengucapkan terima kasih ke pak Rahmat, meminta laki-laki itu pulang lebih dulu karena Elang akan mengantarnya pulang nanti, tidak lupa dia menanyakan keadaan sahabatnya yang sedang ada dirumah.


"Arkan baik-baik aja kan pak?," tanya Rea.


"Iya Non, tadi terakhir bapak lihat mas Arkan udah bisa jalan normal."


"Oh ya Non..."


Pak Rahmat tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan karena beberapa anak mendekat kemudian menarik-narik lengan Rea untuk masuk kedalam.


"Iya bentar ya dek,"

__ADS_1


Gadis itu menatap ke arah laki-laki didepannya "kalau mama tanya katakan sebentar lagi aku pulang ya pak," ucap Rea.


Laki-laki itu terlihat mengganggukkan kepala kemudian pergi dari sana.


Elang, Rea dan Kinanti pulang setelah berpamitan kepada anak-anak panti dan berjanji akan berkunjung lagi di lain hari, Ken sudah memesan sebuah taxi karena ia tau tidak mungkin Elang akan mengantarnya seperti dulu. Mereka ikut menunggu sampai taxi Kinanti datang.


"Bagaimana keadaan Arkan? hari ini aku tidak menemuinya di sekolah," tanya Ken.


"Dia sudah baik-baik saja," jawab Rea.


"Apa kamu begitu menyukai Arkan?" tanya Rea saat Elang masuk kembali ke panti untuk mengambil motornya.


Ken hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan gadis itu, taxi yang dia pesan sudah datang, ia bergegas naik sambil melambaikan tangan ke arah Rea.


"Sampaikan ke Elang aku pulang duluan," gadis itu tersenyum manis.


"Buat apa juga aku bertanya pertanyaan seperti itu," bisik Rea.


Namun didalam hatinya masih penasaran tentang perasaan Ken yang sebenarnya ke sahabat laki-laki nya itu.


*****


Setelah sampai dirumahnya Rea meminta Elang untuk tidak langsung pulang, cowok itu mengiyakan permintaan pacarnya dan berkata ingin segelas air dingin karena mulutnya dari tadi masih terasa manis sehabis makan donat dan milkshake dipanti.


Mereka masuk kedalam, Rea terkejut dan menghentikan langkahnya melihat sosok laki-laki yang tidak asing baginya sedang duduk bersandar sambil menyilangkan kakinya disofa ruang tamu, sontak Elang kaget dan hampir menabrak Rea yang berhenti tiba-tiba.


Elang ingin mensejajari Rea, tapi tangan gadis itu menghalanginya dengan memegang lengannya, seolah menyuruh Elang tetap berada dibelakangnya seperti ingin melindungi kekasihnya itu, mata gadis itu masih menatap ke arah laki-laki yang sedang duduk disofa, sambil sesekali menoleh ke arah Arkan yang juga sedang duduk didekat sana dengan ekspresi wajah yang tak bisa dia baca.


"Ayah," ucapnya.


Farhan menatap ke arah Rea, kemudian melihat ke arah anak laki-laki yang berdiri dibelakang gadis itu, yang jelas terlihat seperti ingin dia sembunyikan, tapi bodohnya Rea tidak sadar kalau badan Elang lebih tinggi darinya. Cowok itu sedikit menggeser dan menundukkan kepalanya, bibirnya tersenyum kearah pria yang dipanggil pacarnya dengan sebutan Ayah tadi.


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


Bersambung..


__ADS_2