
Rea sudah dijemput pak Rahmat dari Bandara, mobil yang dibawa pak Rahmat melaju menembus jalanan yang tidak begitu padat, gadis itu membuka jendela kaca mobil, mengeluarkan sedikit tangannya, menyapu udara luar dengan jemarinya.
"Udara kota ini terasa lebih segar," bisik Rea sambil menyandarkan dagunya dijendala mobil.
Tanpa disadari mobil yang ditumpanginya disalip sebuah motor sport berwarna merah. Ditatapnya punggung orang diatas motor itu.
"Aku kira cuma anak-anak di kotaku aja yang punya," bisik Rea dalam hati, dia pun tersenyum.
"Saya pikir yang punya motor kayak gitu cuma Mas Arkan," ucap pak Rahmat
Rea tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat pernyataan pria paruh baya itu, karena apa yang dipikirkan pak Rahmat sama persis dengan apa yang sedang dia pikirkan tadi.
"Emang yang anak sultan Arkan doank pak?" ucapnya geli karena merasa seperti menjawab pertanyaannya sendiri, Pak Rahmat hanya tertawa.
Rea masih melihat motor sport berwarna merah itu, memandangnya sampai hilang di belokan pertigaan lampu merah.
Tak terasa sampailah mereka diperumahan elite ditengah kota itu. Rumah yang Akan ditempati Rea berada di Blok B10. Rea keluar dari mobil disambut Bi Ulfa, disamping wanita paruh baya itu berdiri seorang gadis cantik.
"Non Rea perkenalkan ini anak saya Anisa," ucap Bi Ulfa.
Rea menyodorkan tangan ke Anisa dan dibalas oleh Anisa dengan senyuman hangat.
"Panggil Rea aja ya mba," pinta gadis itu.
__ADS_1
"Pak Rahmat dan bi Ulfa mulai sekarang juga jangan panggil aku non, cukup panggil nama aja," ucapnya sambil tersenyum
"Tapi non..."
"Ga ada tapi-tapian bi, aku disini ga pengen membawa apapun dari masa lalu aku," gadis itu tersenyum lagi sambil menaik turunkan alis matanya.
Orang-orang tertawa melihat kelakuan anak itu. Rea kemudian masuk kedalam rumah, seperti sudah tau kalau kamarnya pasti dilantai atas, ia langsung menaiki anak tangga menuju lantai dua.
"Dia kayaknya anak yang baik ya Um," ucap Anisa.
"Iya, Non Rea memang anak yang baik, meskipun sudah sejak lahir jadi anak orang kaya, tapi anaknya gak sombong, malah kadang ga kelihatan kalau dia anak orang kaya," cerita bi Ulfa ke anaknya.
"Oh ya Nisa, kok kamu ga pergi ngajar hari ini?" tanyanya ke anak gadisnya.
"Semoga keterima ya Nak," wanita itu mendoakan sambil mengusap rambut anaknya, kemudian mereka berjalan masuk kedalam rumah.
Rea sedang sibuk menata beberapa barang dikamarnya, meskipun kamarnya tidak lebih besar dari kamar yang ada dirumah kakeknya, tapi kamarnya sekarang terhitung masih lebih besar dan terkesan mewah dibanding kamar anak gadis seumurannya.
Gadis itu berjalan menuju almari baju didalam kamarnya, membuka lemari itu yang terlihat sudah penuh terisi dengan berbagai jenis baju baru, tas dan sepatu.
Terlahir di klan Pradipta membuat dia tidak pernah hidup susah bahkan sejak lahir, hanya kasih sayang saja yang tidak dia dapat selayaknya anak-anak lain seusianya.
Ponsel gadis itu berbunyi, ia melihat sebuah panggilan video dari seseorang yang memang sedang dia tunggu dari tadi.
"Hei.... Leaaaa" terlihat wajah tampan disebrang sana sedang berusaha mengatur napasnya yang memburu.
__ADS_1
"Kamu lagi main basket Ar?"
"Udah selesai kok." terlihat Arkan duduk dipinggir lapangan, tangannya memegang botol air kemudian meminumnya.
"Ada apa Ar?"
"Aku kangen sama kamu"
"Jujur banget sih ni cowok, kayak ga punya harga diri belum juga sehari" batin Rea.
"Besok kamu udah mulai masuk sekolah?" tanya Arkan
"Iya, tapi kenapa aku nervous ya Ar? aku takut jadi cewek paling cantik disana" gadis itu kemudian tertawa terbahak-bahak karena kalimatnya sendiri.
"Kalau sampe ada cowok yang berani deketin kamu, aku bakal minta papa pindah sekolah kesekolah kamu," sahut Arkan.
Rea hanya tertawa mendengar kalimat Arkan. Mereka ngobrol kesana kemari sampai ponsel Rea mati kehabisan baterai.
Gadis itu memandangi ponselnya yang sudah mati.
"Apa aku terima saja perasaan Arkan?" ucapnya sambil merebahkan badannya dikasur.
"Aku belum yakin, bagaimana kalau nanti ditengah jalan kita pacaran terus putus? Aku tidak ingin kehilangan satu-satu nya orang yang sayang sama aku."
Rea memejamkan matanya, pikirannya sudah melayang kemana-mana.
__ADS_1