
Di dalam sebuah ruangan yang begitu mewah, ruangan sang pemilik perusahaan. Dennis yang duduk di kursi kebesarannya masih sibuk dengan semua berkas di hadapannya, matanya sesekali ke arah laptop kemudian kembali pada lembaran-lembaran kertasnya lagi. Sekretaris Ben sesekali masuk, kemudian keluar lagi, seperti itu terus.
Sementara Naina, istri cantik tuan muda ini hanya sibuk dengan ponselnya. Bermain game, berbalas pesan dengan temannya, melakukan panggilan video dengan ibu angkatnya, dan bahkan mengambil gambar suaminya diam-diam. Ia sibuk dengan dunianya sendiri yang duduk di sofa.
Hari sudah siang, ia berdiri dan mendekati suaminya. Sepertinya ia sudah bosan, bahkan beberapa cemilan sudah habis olehnya.
"Apa seperti ini pekerjaan sang direktur? sungguh sangat membosankan." Naina terdengar menyindir Dennis yang sejak tadi hanya sibuk di mejanya.
Mendengar itu, Dennis meletakkan lembaran-lembaran berkasnya.
"Sayang, besok lusa ... saya, papa dan sekretaris Ben akan berangkat ke Dubai." Tiba-tiba terdengar suara Dennis menjawab, bukan jawaban yang diharapkan Naina. Rasanya seperti menohok ke batinnya. Ia yang beberapa hari ini begitu sangat manja kepada suaminya tiba-tiba akan ditinggal pergi. Tubuhnya seketika lemas, wajahnya kemudian lesuh.
Ia tidak mengucap apapun lalu kembali ke sofa dan langsung membaringkan tubuhnya di sana. Istri tuan muda ini tidak peduli kalau ini ruangan kerja.
Dennis berdiri dari kursinya kemudian mendekat ke sofa, ia tahu kalau istrinya ini tengah merajuk. Langsung mengangkat kepala istrinya kemudian merebahkan ke pangkuannya.
"Sayang, jangan seperti ini. Saya pergi hanya tiga atau empat hari saja."
"Mengapa Mas Dennis harus ikut juga? kan papa dan sekretaris Ben sudah ada." Gadis ini benar-benar begitu berbeda, ia begitu sensitif dan mudah merajuk.
"Iya, mereka memang ada tapi mereka tidak punya wewenang mengambil keputusan. Papa sudah menyerahkan kepemimpinan tertinggi kepada saya, jadi segala sesuatunya harus dibawah keputusanku." Dennis mencoba menjelaskan sebaik mungkin agar gadis kecilnya ini berhenti merajuk. Naina hanya terdiam, tidak mengeluarkan satu katapun.
Tiba-tiba suara pintu terbuka. Tampak sekretaris Ben bersama sekretaris Via dan dua orang wanita di belakang mereka yang membawa nampang makanan, mungkin itu makan siang untuk tuan muda dan istrinya.
"Maaf, Tuan muda." Sekretaris Ben sejurus memalingkan pandangannya, ia tidak menyangka kalau akan ada adegan seperti ini di dalam ruangan. Dimana istri tuan mudanya sedang merebahkan kepala pada pangkuan tuan mudanya.
Sementara Naina, ia benar-benar sangat berbeda. Biasanya ia akan malu, tetapi kali ini tidak. Ia malah seperti tidak peduli dengan kehadiran semua orang, ia begitu nyaman dengan kepalanya yang berada di pangkuan suaminya
"Tidak apa-apa. Masuk saja!" seru Dennis.
Sekretaris Ben dan sekretaris Via memberi kode agar kedua wanita yang membawa nampang segera masuk, sementara mereka berdua lebih memilih tetap berdiri di dekat pintu saja dengan pandangan tidak sekalipun menoleh pada kemesraan di sana.
Kedua wanita ini meletakkan makanan ke meja, aroma makanan sudah tercium begitu sedap. Namun Naina, tiba-tiba kepalanya sangat pusing dan seketika perutnya seperti melilit. Dan dalam hitungan detik ia langsung mual.
"Ah, aku tidak suka baunya," ucapnya yang sejurus sudah bangun. Menutup hidung dan mulut kemudian kembali mual lagi. Ia segera berdiri kemudian berlari ke kamar yang ada di dalam ruangan itu.
"Sayang ...." Betapa Dennis sangat terkejut dengan sikap istrinya kemudian menyusulnya ke kamar. Terlebih istrinya mual, sudah pasti membuat tuan muda ini panik.
Dari arah pintu, sekretaris Ben dan sekretaris Via tidak kalah terkejutnya.
"Tuan Ben, Anda mengatakan kalau nyonya muda menyukai sup buntut jadi kami menyiapkan itu." Sekretaris perotes kepada sekretaris Ben atas kesalahan ini.
Sekretaris Ben tidak tahu harus berkata apa, ia segera menyusul ke arah kamar. Sekretaris Ben menghentikan langkahnya pada pintu yang terbuka. Terlihat Dennis sudah memapah Naina keluar dari kamar mandi. Wajah nyonya muda ini seketika terlihat pucat.
__ADS_1
"Maaf, Tuan muda. Apa kami perlu memanggilkan dokter?" tanya sekretaris Ben.
"Iya, segera bawa dokter Adrian kemari!" perintah Dennis untuk memanggilkan dokter keluarganya itu.
"Satu lagi, ganti makanan itu!" perintahnya lagi.
"Ah ... tidak, tidak. Tidak perlu." Naina yang sudah duduk menyandarkan tubuhnya di atas tempat tidur langsung menyela perintah suaminya yang menyuruh membawa makanan lain.
"Ibu Via, Anda tidak perlu repot-repot. Saya tidak ingin makan apapun," ucap Naina kepada sekretaris Via.
"Maafkan kami, Nyonya muda. Kami pikir sup buntut adalah makanan kesukaan nyonya muda jadi kami membawa itu tetapi kami tidak tahu akan terjadi seperti ini." Sekretaris Via merasa sangat bersalah.
"Tidak apa-apa, saya juga tidak tahu apa yang terjadi denganku." Naina seketika lemas kemudian menarik selimut dan merebahkan tubuhnya di sana.
Sekretaris Via mendekati sekretaris Ben.
"Tuan Ben, perintahkan kepada dokter Adrian untuk membawa dokter obgyn," bisik sekretaris Via kepada sekretaris Ben yang hendak menelfon.
"Dokter obgyn?" sekretaris Ben tidak mengerti apapun mengenai ini.
"Saya rasa nyonya muda tengah berisi," lanjut sekretaris Via lagi. Sekretaris Ben terkejut mendengarnya kemudian segera melakukan apa yang sekretaris Via katakan. Sekretaris Ben sudah paham maksud kata berisi yang diucapkan sekretaris Via.
"Sekretaris Via, tolong masuklah ke sini." Terdengar suara Dennis meminta sesuatu Via untuk masuk menemani istrinya di sana. Sekretaris wanita ini segera berjalan masuk untuk menemani istri tuan mudanya.
***
"Bagaimana, Dok?" tanya Dennis tampak sangat panik.
"Biarkan dokter obgyn memeriksanya dulu," ujar dokter Adrian.
"Dokter Melda, silahkan!" Dokter Adrian mempersilahkan kepada dokter kandungan untuk mengambil alih.
Selang beberapa waktu, hampir setengah jam pemeriksaan berlangsung dari sang dokter kandungan. Segala pertanyaan sudah ia lontarkan kepada Naina termasuk kapan terakhir Naina datang bulan, dan benar saja istri sang tuan muda ini sudah telat hampir satu bulan tapi tidak menyadarinya.
Dokter Melda mengambil hasil tes urine yang sejak beberapa menit yang lalu ia tunggu. Mendekat kembali kepada Naina dan Dennis.
Semua orang tampak was-was menunggu hasil, bahkan sekretaris Ben entah mengapa ia ikut panik, hatinya ikut berdebar menunggu.
"Tuan muda, Nyonya muda, selamat. Sebentar lagi kalian akan menjadi seorang papa dan mama, Nyonya muda positif hamil." Ucapan dokter Melda seketika membuat Dennis seperti tidak sadarkan diri, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Raut bahagia sudah tampak dari wajahnya yang sejak tadi cemas.
"Sayang ...." Tuan muda ini langsung mencium istrinya tanpa peduli ada banyak orang di dalam sana melihatnya. Ia benar-benar sangat bahagia. Naina hanya tersenyum haru, mengelus perutnya yang tidak ia sangka ada buah hatinya di dalam sana.
"Nyonya muda, kami menunggu Anda besok di rumah sakit. Kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan sekaligus memberikan vitamin untuk Nyonya muda dan juga jadwal rutin pemeriksaan selanjutnya," lanjut dokter Melda.
__ADS_1
"Iya, dok," balas Naina.
Sekretaris Via dan sekretaris Ben menghela nafas lega, pastinya mereka ikut bahagia.
"Pantas saja kita memakai warna terkutuk ini," lirih sekretaris Ben kepada sekretaris Via.
***
Hari sudah sore, Naina dan Dennis sudah kembali ke rumah. Begitu sangat protektif tuan muda ini dengan segala perhatiannya bahkan Naina berjalan saja ia sangat takut jika terjadi sesuatu, terus memapah istrinya hingga masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang, Nyonya muda. Selamat datang, baby pingky-pingky." Kompak ucapan penyambutan dari kedua asisten yang banyak omong ini. Mereka sudah mendapat info tentang kehamilan majikannya.
"Keterlaluan, kalian pikir aku dari mana," umpat Naina kepada kedua asistennya ini.
"Eh, tunggu! tadi kalian bilang apa? Baby apa?" Naina seperti mendengar kalimat yang aneh tadi.
"Pingky-pingky ...." Lirih kedua asisten ini.
"Karena nyonya muda sekarang sedang senang dengan warna pink," lanjut Mimi.
Dennis menarik nafas.
"Lalu bagaimana jika dia seorang lelaki, apa kalian akan memanggilnya seperti itu?" Dennis tidak bisa membayangkannya. Tiba-tiba saja sosok Rebecca dan Bobby terlintas di benaknya, seketika membuat Dennis merinding.
"Tidak,tidak, jangan menyebut nama itu lagi! Tunggu sampai dia lahir," tegas Dennis.
"I-Iya, Tuan muda. Maafkan kami."
Naina terkekeh melihat wajah takut kedua asistennya.
Kini Dennis dan Naina berjalan menuju kamar. Baru saja kamar di buka, betapa terkesimanya Naina dengan pemandangan kamarnya saat ini. Benar saja, suaminya mengabulkan keinginannya. Kini, kamar shabby pink sudah terpampang nyata di depan matanya. Sejurus gadis ini berhambur memeluk tempat tidurnya yang sudah berganti dengan warna pink.
"Sayang, hati-hati!" Dennis dengan segala protektifnya.
Naina tidak peduli, ia begitu menikmati keindahan kamarnya kini. Dari dinding sampai furniture, semua berwarna pink sesuai permintaannya. Kamar mewahnya kini berubah seperti kamar seorang gadis kecil yang manja. Namun, tetap berbalut kesan elegan pastinya.
_________ _______
Sekedar info untuk para pembaca setia Maemunah dan Mas Dennis. Jadi, karya ini akan kita buat menjadi dua season yah, tapi untuk part pada season 2-nya tidak akan sebanyak season 1. Tadinya mau di buat satu season saja, tapi agar feel-nya lebih dapat maka dibuatlah season dua nantinya. Nah, untuk season satu sendiri akan segera tamat yah.
udah, itu saja infonya. hehehe
Terima kasih sudah setia membaca karya ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan like, koment dan votenya. 🙏
__ADS_1
Ingat selalu jaga kesehatan di situasi pandemi ini yah😍