
Kediaman Kyai Abdullah.
Para akhwat cantik sedang sibuk di dapur membantu mbok Asih untuk mempersiapkan makan malam.Zara bersama kedua sepupunya,Nur dan Meera selalu setia membantu mbok Asih setelah mereka selesai mengajar para santriwati di kelas akhwat.
Wangi aroma masakan,mereka ciptakan dari dapur yang begitu luas dengan interior ala Turki tersebut.
Zara selain cantik,cerdas,sholeha,juga memang terlahir dari keluarga berada.Wajarlah jika dia adalah menantu idaman hingga Tuan Atmajaya dan istrinya tidak ragu memilih Zara sebagai calon menantunya,wanita yang sangat pantas untuk bersanding dengan putra semata wayangnya.
"Saya tidak menyangka,dari sekian banyaknya lamaran yang datang untuk dirimu,ternyata kamu memilih putra Tuan Atmajaya.Aku pikir kamu akan tergoda dengan seorang ustadz,ternyata selera kamu seorang direktur."Sejak tadi Nur terus menggoda Zara.
Meera yang sedang memotong tomat,memukul tangan Nur yang berdiri di sampingnya sedang meracik bumbu.
"Hei,asal antum tahu yah ... Dennis Atmajaya itu bukan direktur sembarangan.Dia itu selain kaya, tampan,dan cerdas,dia itu sangat taat dalam beribadah dan tidak mudah dekat dengan wanita,wajar kalau Abah menerima perjodohan ini," ujar Meera kepada Nur.
Zara yang sedang memotong daging hanya tersenyum mendengar kedua sepupunya ini.
"Kekayaan memang dapat membeli segalanya,tetapi tidak dapat membeli surga." Zara yang sejak tadi diam,kini mulai berbicara.
"Tampan rupa memang menyejukkan mata,tetapi apa artinya mata sejuk jika hati biru lebam karenanya," sambung Zara yang beralih memotong wortel setelah memberikan potongan daging kepada mbok Asih.
"Kami baru bertemu,biarkan kami saling mengenal dulu.Insya Allah,ana percaya pada keputusan ini."Zara setuju dengan Dennis yang lebih memilih untuk mereka saling mengenal dulu,Zara bisa merasakan ketidaksiapan Dennis dan itu juga sangat mengganjal di hatinya.
"Tapi yah,aku lihat tadi sepertinya sudah ada cinta dipandangan pertama." Nur kembali menggoda Zara.
"Astagfirullah,jadi kalian ngintip yah." Nur dan Meera tersenyum kikuk.
"Afwan,soalnya kami juga penasaran dengan putra tuan Atmajaya itu," lanjut Meera.
Zara kembali tersenyum dan melanjutkan potongan wortelnya.
"Tapi,yang dikatakan Nur itu betul kan?kalau ada cinta dipandangan pertama."Meera menyenggol lengan Zara.
Zara menghela nafasnya,menghentikan potongan wortelnya,menatap dinding dapur motif ukir di depannya.
"Cinta pada pandangan pertama hanyalah kekaguman,dan itu bukan sebenarnya cinta.Cinta tidak bisa datang tiba-tiba.Cinta butuh proses,butuh dilatih,dan butuh upaya.Sama halnya ketika kita mencintai Allah,Rasulullah dan Al-Qur'an.Tidak akan mungkin orang yang tidak pernah berdialog dengan Rabbnya melalui bacaan shalat,mengaku bahwa dirinya benar-benar mencintai Allah.Tidak akan bisa orang yang tidak pernah bershalawat,mengaku bahwa dirinya benar-benar mencintai Rasulullah dan bagaimana bisa seseorang mengatakan mencintai Al-Qur'an tanpa mencintai keduanya terlebih dahulu?.Jangan mencintai,membenci,marah,takut dan berharap,kecuali karena ridho Allah semata"
__ADS_1
Penjelasan Zara yang begitu panjang untuk memberikan pemahaman kepada kedua sepupunya itu.
"Na'am" ujar Meera setelah mendengar ulasan Zara.
"Tapi,menurut pandangan kacamata saya,dia itu lelaki yang tidak bercacat.Tampan,kaya,cerdas dan sangat dermawan,"ujar Nur dengan pandangan ke dinding ukir di depannya juga,tersenyum dengan khayalannya sendiri.
" Aztagfirullah,istighfar ukhti."Meera kembali memukul lengan Nur yang tidak sadar sedang mengkhayalkan sosok seorang ikhwan,Dennis Atmajaya.
Zara mencuci sayuran yang sudah ia potong dan memberikannya kepada Mbok Asih.
"Islam mengajarkan kepada kita untuk memilih sosok yang pantas kita cintai.Yah,kita juga memang harus melihat dari sisi itu.Akan tetapi,ukuran yang sebenarnya bukanlah karena ketampanan,keindahan fisik,popularitas,kekayaan,atau sisi-sisi materialistik lainnya.Ukuran yang sebenarnya adalah seberapa besar kedekatan dia kepada Allah SWT,seberapa besar cinta dia kepada Allah SWT,dengan melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya." Ulasan panjang Zara kembali memberi pengetahuan kepada kedua akhwat cantik sepupunya itu.
Mbok Asih tersenyum mendengar ucapan putri majikannya itu.
"Masyaa Allah,beruntung sekali lelaki yang menjadi suami Non Zara nanti," ujar mbok Asih kepada Zara.
"Semoga jodohnya Non Zara nanti,sama baiknya dengan hati Non Zara," sambung mbok Asih yang langsung diaminkan oleh Zara.
"Mbok,aku pernah dengar.Sifat jodoh itu kadang tak jauh dengan sifat kita,jodoh kita itu cerminan diri kita," ujar Meera kepada mbok Asih.
"Apa yah ayatnya,aku lupa," sambung Meera.
"Ath-thoyyibuna liith-thoyibat.Orang baik hanya untuk yang baik,"Jawab Zara melanjutkan ucapan Meera.
"Nah,itu yang aku maksud,"sambung Meera terkekeh.
"Insya Allah Mas Dennis itu jodoh Zara,dia itu orang baik sama seperti Zara," lanjut Nur lagi.
"Siapapun jodoh kita nanti,maka itulah yang terbaik dari Allah SWT.Kita cukup memperbaiki diri,tetapi bukan memperbaiki diri karena jodoh.Akan tetapi,karena ridho Allah SWT" ujar Zara.
Mbok Asih mendekati Zara.Zara yang sejak kecil ia jaga seperti anak sendiri.
"Simbok selalu mendoakan Non Zara agar diberikan jodoh yang pantas,yang terbaik untuk Non Zara nanti.Non Zara itu orang baik,Insya Allah akan dapat jodoh yang baik juga." Ucapan tulus dari seorang Asisten Rumah Tangga yang puluhan tahun lamanya mengabdi pada keluarga Kyai Abdullah.
"Aamiin,terima kasih yah Mbok," balas Zara tersenyum.
__ADS_1
***
Di dalam sebuah ruangan gedung pencakar langit,ruangan yang begitu mewah.Seorang direktur menatap jendela yang berhadapan langsung dengan jalanan ibu kota.
Pikiran jauh melayang,hati yang sudah yakin dengan satu wanita tapi seperti ada halang rintang yang akan sulit untuk ia lewati.
Seseorang masuk ke dalam ruangannya,orang yang paling leluasa keluar masuk ke dalam ruangan mewah ini.Siapa lagi jika bukan Sekretaris pribadinya.
"Maaf,Tuan muda.Saatnya kita berangka!"Suara Sekretaris ini mengagetkannya.
"Yah."Dennis berbalik dari atas kursi empuknya dengan sekali putaran dan membelakangi kaca jendela tempat ia melamun.
"Bagaimana dengan yang ku perintahkan?"Tanya sang direktur ini,entah rencana apa yang sedang mereka buat.
"Semua sudah siap,Tuan muda,"jawab sang sekretaris yang tidak pernah mengecewakan ini.
"Bagus.Ya sudah,ayo berangkat!"berdiri dari tempatnya duduk.
Mereka berjalan keluar dari ruangan mewah itu,memasuki lift khusus sang direktur.
Suara lift pertanda mereka sampai di lantai dasar.Tampak semua karyawan sudah bersiap-siap untuk pulang.Melihat sang direktur sedang berjalan melewati mereka,spontan mereka menundukkan kepala pertanda hormat.
Pintu kaca terbuka,Sang Direktur dan Sekretarisnya ini berdiri tepat di depan pintu masuk gedung.Sebuah mobil kecil yang tidak begitu mewah berhenti di hadapan mereka.
"Silahkan,Tuan muda!"Sekretaris Ben membuka pintu mobil bagian belakang.
"Apa tidak ada mobil yang lebih murah dari ini,Sekretaris Ben,"ujar Dennis.Sang sekretaris hanya tersenyum.
Supir yang mengendarai mobil tadi segera turun dan digantikan oleh sekretaris Ben.Mobil yang tidak mewah ini,yah memang tidak mewah untuk ukuran seorang Dennis Atmajaya,melaju keluar meninggalkan gedung Atamajaya Group.
Entah apa maksud mereka menggunakan mobil yang bukan kelas mereka.
_____
TETAP TINGGALKAN JEJAK YAH❤️
__ADS_1
like,koment,vote dll😍
Terima kasih🙏