MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Saling Menyuapi


__ADS_3

Beberapa menit telah berlalu,ia tidak menyadari kalau dua orang di hadapannya telah selesai dengan ibadah mereka.Dalam waktu yang bersamaan,pintu ruangan juga terbuka.Naina terkejut dan kembali dari lamunan terkesimanya akan suara lantunan ayat suci dari seorang Dennis Atmajaya.


Tampak wajah sang sekretaris dengan menenteng kresek berisi beberapa kotak makanan siap saji.


"Maaf ... jika saya lama,Tuan muda.Saya mampir ke mesjid dulu,"ucap sekretaris Ben.


"Iya,tidak apa-apa," balas Dennis seraya berjalan kembali ke kursi dekat ranjang Naina.


"Tuan muda,saya membawakan makanan untuk Anda.Sejak siang,Anda belum makan."


Sekretaris Ben meletakkan makanan itu ke atas meja yang seperti ruang tamu di dalam ruangan itu.


Naina terkejut mendengar ucapan sekretaris Ben.Ternyata tuan muda belum makan,begitu pikirnya.


"Tuan muda,Anda tahu ini sudah jam berapa?mengapa Anda belum makan?"


Suara Naina sedikit kesal namun terdengar seperti sebuah kekhawatiran atau lebih tepatnya sebuah perhatian yang membuat Dennis bahagia.


Sebuah akal licik seketika terlintas di kepala tuan muda ini.


"Anda makan saja,sekretaris Ben.Saya tidak akan makan," ucap Dennis kepada sekretarisnya itu,suaranya agak lantang untuk memperdengarkannya kepada Naina.Semua orang terkejut mendengar ucapan tuan muda ini.


Wajah sekretaris Ben sudah tidak terlihat baik.


Bagaimana saya bisa makan jika Anda belum makan,Tuan muda.Anda yang dibodohi cinta,saya juga yang harus berpuasa.


Sekretaris yang sangat setia ini sudah sejak tadi menahan lapar.Ia sengaja membeli makanan siap saji untuk ia makan bersama tuannya di ruangan ini,tapi ternyata ia salah.Entah mengapa tuan mudanya ini belum ingin makan juga,pikirnya kesal.


Naina juga terlihat kesal.


"Tuan muda ... jika Anda tidak makan,Anda bisa sakit," ucap Naina dengan mata sedikit melotot,sudah seperti seorang kekasih dengan segala kekhawatirannya.


"Memangnya siapa yang peduli?" balas Dennis.


"Bagaimana saya bisa makan jika saya belum mendengar sebuah jawaban," sambung Dennis beralasan.


Walau Dennis tahu kalau Naina sudah menerimanya meskipun tidak mengatakannya,ia tetap bersikeras ingin mendengarnya langsung dari mulut Naina.


Naina kembali dibuat grogi.Tiba-tiba rasa marah dan kekhawatirannya redup seketika,berganti dengan rasa debaran lagi.


"Mas Aben,sini makanannya!" Naina meminta makanan yang ada di atas meja tadi.Sekretaris Ben membawakan satu kotak makanan itu beserta air botol mineral dan sendok makan.


Dennis tidak mengerti,tapi makanan sudah berada di pangkuan Naina.Walau masih lemah,Naina memperbaiki sedikit posisinya hingga tidak bersandar lagi,semakin dekat pada Dennis.Naina membuka kotak makanan itu dengan tangan kanannya,sedang tangan satunya ia letakkan di atas ranjang karena terpasang selang infus di sana.

__ADS_1


Naina mengambil makanan itu dengan sendok dan spontan menyodorkan ke arah mulut Dennis.


Dennis sangat terkejut,gadis yang ia cintai ingin menyuapinya.


Tidak kalah terkejutnya dengan Neta dan Ben.Tetapi,ada senyum dari bibir sekretaris Ben.


Bagus,Nona.Tidak ada alasan bagi tuan muda untuk tidak makan,dengan begitu saya juga sudah bisa makan.


Naina menganggukkan kepala pertanda menyuruh Dennis membuka mulut.Dan tanpa sadar,Dennis menuruti saja. Sendok pertama sudah mendarat di mulut tuan muda ini.


Neta serasa ingin pingsan menyaksikan ini.


Naina tidak tahu mengapa melakukan ini,yang ia rasakan hanya sebuah kekhawatiran.Ia juga merasa bersalah,mungkin tuan muda ini tidak makan karena sibuk mengurus dirinya yang pingsan tadi pagi.Naina kembali merasakan kekhawatiran saat ini,bagaimana jika tuan muda ini juga sakit?begitu pikirnya.


Sementara lelaki yang sedang menikmati tiap suapannya,hanya mengunyah tanpa tahu apa yang ia makan.Pandangannya hanya fokus pada gadis cantik pujaan hatinya yang sedang menyuapinya,begitu tulus Naina melakukannya.Debaran di batin tuan muda ini berdegup kencang,ia tidak menyangka kalau Naina akan melakukan ini.


"Ehhmm ...."Dehaman dari sekretaris Ben.


"Nona Neta,silahkan makan juga!"sekretaris Ben menyodorkan satu kotak makanan yang ia bawa tadi untuk Neta.


"Terima kasih,Tuan."Neta mendekat ke arah sekretaris Ben.


"Makanlah,Nona Neta,"bisik sekretaris Ben.


Neta tertawa kecil mendengarnya.Neta dan sekretaris Ben mulai menyantap makanan mereka,sementara dua insan di hadapan mereka juga asyik dengan dunianya.


Tiba-tiba terdengar suara batuk dari tuan muda.


Wajah Dennis terlihat merah dengan mata seperti berkaca-kaca.Dennis segera meneguk air botolnya,tegukan yang begitu banyak.Tuan muda ini mengatur nafas setelah meminum air mineralnya kemudian mengusap air matanya.


Ada senyum dari bibir Naina,entah apa yang telah ia perbuat pada Dennis.


"Tu-Tuan muda ... Anda kenapa?" bertanya seolah tak tahu apa-apa.


Terlihat Dennis memperdengarkan suara seperti orang kepedisan.


"Apa kamu menyuapiku sambal segerobak?ahhh ...." Dennis merasakan mulutnya seperti terbakar.


Terlihat wajah Naina seperti menahan tawa,begitupun dengan Ben dan Neta.


"Sepertinya kamu sengaja melakukannya," lanjut Dennis lagi.


"Baiklah,Maemunah.Sekarang giliranmu yang makan!" Dennis mengambil makanan Naina dari atas nakas.

__ADS_1


Naina terlihat panik.


"Tuan muda,tidak perlu!" spontan suara Naina menahan Dennis.


"Kamu harus minum obat.Kalau kamu tidak makan,bagaimana kamu bisa minum obat," ujar Dennis yang sudah membuka nampan makanan yang berasal dari Rumah Sakit.


"Maksud saya,biar Neta yang ...."Naina belum selesai dengan ucapannya tapi Dennis langsung memotongnya.


"Neta sedang makan,memangnya kenapa jika saya yang melakukannya?bukankah kamu juga bisa melakukan itu padaku." Sendok pertama sudah berada di hadapan mulut Naina.Seorang Dennis Atmajaya akan menyuapi dirinya,ia terlihat semakin grogi.


"Hhhmmm." Dennis menganggukkan kepala pertanda menyuruh Naina membuka mulut.Akan tetapi,tidak ada reaksi dari Naina.Ia sangat malu.


"Kamu harus bersyukur karena makananmu ini tidak ada sambalnya,padahal saya ingin membalas dendam."


Mendengar ucapan Dennis,terlihat senyum dari bibir Naina.Begitupun dengan Dennis kemudian kembali menganggukkan kepala agar Naina membuka mulut.Dengan malu-malu, akhirnya Naina menerima suapan pertamanya.Ia mengunyah dengan memalingkan wajahnya,sangat terlihat malu.


"Mengapa kamu terlihat malu?kamu saja bisa melakukan itu padaku,"ucap Dennis menggoda Naina.


"Oiya makananku belum habis,lakukan seperti tadi!" perintah Dennis dengan meletakkan kembali kotak makanannya ke pangkuan Naina,ia masih ingin disuapi oleh Naina.


Naina terkejut mendengarnya.


"Ya sudah,sini makananku.Tuan muda juga bisa makan makanan Tuan muda sendiri," balas Naina.


"Tidak,saya sudah terlanjur nyaman disuapi seperti tadi bahkan walau harus memakan sambal."


Naina kembali tersenyum mendengarnya.


"Maafkan saya,Tuan muda," ucap Naina yang masih tersenyum.


"Ya sudah,lakukan lagi seperti tadi jika ingin ku maafkan," balas Dennis.


Naina mengalah.


Akhirnya mereka saling menyuapi.


Neta dan sekretaris Ben berpura-pura saja tidak melihat dan mendengar apapun,mereka fokus saja pada makanan mereka.Itu jauh lebih baik daripada harus ikut grogi karena dua sejoli di hadapan mereka ini.


_________


Maaf yah,kemarin tidak sempat up.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah para readers yang baik.Beri like,koment dan votenya.Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2