
Seorang lelaki dengan setelan jas,turun dari kursi kemudi.Tampak jelas wajah lelaki itu.
Sementara Naina,masih bersembunyi dari balik kaca helmnya.Wajah panik dari balik kaca helm itu tidak bisa terlihat.
Sekretaris galak itu?Oh Tuhan,Matilah aku.Kenapa harus mobil dia yang aku tabrak.
Gumamnya yang sudah melihat dengan jelas wajah Sekretaris Ben.
Sepertinya hutangku tidak akan lunas sampai tujuh tahun ke depan.
Sambungnya lagi yang mengingat hutang vas bunganya saja belum ia bayar,sekarang ditambah goresan mobil yang sangat parah dan berkasus dengan orang yang sama.Ia sudah meyakini kalau mobil ini adalah milik Tuan muda Konglomerat itu dan mungkin saja dia ada di kursi penumpang.
Terlihat Sekretaris dingin ini menggerakkan tangannya pertanda menyuruh gadis bermotor yang menabraknya untuk menepi.
Naina semakin panik,tapi tidak ada pilihan.Menurutnya,dia bersalah lagi dan harus bertanggung jawab.
Mendorong motornya yang juga rusak parah dibagian kap depannya,masih dengan kaca helm yang tertutup.
Sekarang posisi mereka sudah berdiri di tepi jalan.
"Hei,apa kamu bisa mengendarai motor?"
Sekretaris Ben mulai membuka suara dengan ciri khas tangan yang berkacak pinggang,membuat Naina seperti ingin menghilang saja.Sangat takut.
"Ma-maaf,Tuan.Sepertinya ada masalah dengan motorku,mungkin dia sedang sakit hingga tidak bisa memperhatikan jalan dengan benar," jawab Naina asal,dengan wajah yang masih tidak terlihat.Dasar Naina,masih sempatnya dia mengarang bebas.
Sekretaris Ben menarik ujung bibirnya.
"Hei,kamu pikir saya anak kecil yang bisa kamu beri penjelasan seperti itu."
Sekretaris Ben merasa sedang di permainkan.Mana ada motor yang sakit?mana ada motor yang memperhatikan jalannya sendiri?.
"Ma-maaf,Tuan."
Hanya itu yang Naina bisa ucapkan.
"Apa seperti itu kamu berbicara? menyembunyikan wajahmu?sudah bersalah,masih tidak punya etika."
Rasanya setiap ucapan sekretaris Ben menusuk sampai ke tulang rusuk Naina.
Dasar galak.
Dennis memperhatikan Sekretarisnya itu dari spion mobilnya.Ia melihat seorang wanita dengan kaca helm tertutup,rambut panjang,memakai jaket dan rok selutut,ada motor yang terlihat hancur dibagian kap depannya,ia sudah bisa menarik kesimpulan kalau wanita ini yang menabrak mobilnya.
Ah,sekretaris Ben.Kamu membuang-buang waktu.Dasar manusia tidak punya rasa kasihan.
Dennis turun dari mobil,jika ia masih di atas mobil maka masalah ini akan semakin lama saja.Ia sangat mengenal Sekretarisnya itu,tidak akan mudah melepaskan orang yang menurutnya berbuat salah.
Pelan-pelan Naina membuka kaca helmnya atas perintah Sekretaris Ben tadi.Tampaklah wajah cantik yang tertunduk takut.Wajah yang sama dengan gadis pengantar bunga itu.
"Ka-kamu?"
Sekretaris Ben terkejut melihat gadis yang ada di hadapannya.
"Gadis itu?"
Begitupun dengan Dennis yang sudah turun dari mobilnya dan masih berdiri di samping mobilnya.
__ADS_1
"Hmmm ... sudah ku duga."
Ucapan sekretaris Ben seperti punya makna lain tapi Naina tidak memahaminya.
"Tuan,Saya benar-benar minta maaf.Tadi,saya sedang melamun dan tidak bisa menjaga jarak kendaraan saya hingga menabrak mobilmu,Tuan."
Kali ini Naina berucap sangat tulus dan juga sangat jujur.Berbohong kali ini tidak ada gunanya.Ia memang bersalah.
Dennis mendekati Naina dan Sekretaris Ben.
"Tuan muda."
Sekretaris Ben tidak menyangka kalau Dennis akan turun dari mobilnya.
"Tuan muda,maafkan saya Tuan muda.Maafkan saya."
Suara Naina sangat memohon kepada Dennis.
Lagi-lagi sekretaris Ben menarik ujung bibirnya.
"Sudahlah,hentikan dramamu itu.Kami sudah tahu siapa kamu."
Sepertinya sekretaris Ben sudah tidak bisa menahan apa yang ingin dia ucapkan.
"Bahkan mengikuti kami sampai ke jalan,saya memberi jempol atas usahamu,"sambungnya.
"Sekretaris Ben," tegur Dennis pelan.
Naina terdiam,menyimak kembali ucapan Sekretaris Ben tadi.Ia benar-benar tidak mengerti.Naina berpikir,apa maksud setiap kalimat lelaki galak ini?kemana arah pembicaraannya?
Akhirnya ia berani menanyakannya.
"Oh,jadi perlu saya jelaskan lagi kepadamu,wanita Zona X."
Sungguh ucapan yang sangat menyakitkan.Sekretaris Ben bukan hanya lelaki dingin tapi jika tidak menyukai sesuatu maka ia juga akan sangat kejam,dari ucapannya saja sudah menunjukkan bagaimana kharakternya.
Deg.
Naina bergetar sejenak,perih.Tiba-tiba ada bulir bening yang membendung di sana.Ucapan itu lagi,kalimat itu lagi,kalimat yang sering ia dengar waktu ia masih sekolah dulu.Wanita Zona X,gadis Zona X,Perempuan Zona X.
"Sekretaris Ben."
Kali ini suara Dennis sedikit lantang.
"Sudahlah Tuan muda,lebih baik memberi tahunya sebelum dia menjalankan perannya terlalu jauh.Dia harus tahu kalau Anda bukan lelaki sembarangan yang mudah ia goda,dia harus tahu kalau dia sudah salah memilih Anda sebagai target barunya."
Ucapan sekretaris Ben semakin menyakitkan.
"Ben ...."
Kali ini suara Dennis semakin lantang,rasanya ingin menghajar Sekretarisnya itu agar tidak berbicara lagi.
Bulir bening itu sudah tidak tertahankan lagi,mengalir dari ujung mata membasahi pipinya bak anak sungai tapi tanpa suara,ada sakit yang tertahan dari dalam sana.
Entah kenapa Dennis merasakan sesak di dadanya.Rasa sakit yang dirasakan Naina,seperti terasa di dalam batinnya.
"Tidak usah menangis.Lagian,apa yang kamu tangisi?dirimu yang memang wanita pemuas lelaki?terlambat."
__ADS_1
Naina seperti tidak merasakan pijakan kakinya lagi,sangat perih di dalam batinnya.
"Apa masih ada yang Tuan ingin katakan lagi?jika tidak,saya mohon permisi."
Suara yang terdengar sangat dipaksakan.
"Ok,Silahkan!dan yah,satu lagi ... saya harap kamu tahu diri dan tidak muncul dihadapan saya lagi,terlebih di hadapan Tuan muda,"tegas Sekretaris Ben.
Tidak ada jawaban dari Naina dan langsung saja ia naik kembali ke atas motornya.
Dennis menatap sekretarisnya itu,ia tidak tahu harus berbuat apa.Ingin menghajar sekretarisnya itu?tapi bagaimana jika yang dikatakan Ben benar adanya,wanita ini adalah salah satu dari wanita-wanita malam itu.Akan tetapi,kenapa hatinya sangat sakit melihat bulir bening dari wanita ini,bahkan lebih sakit dari pengkhianatan mantan kekasihnya.
Motor Naina sudah meninggalkan tempat itu,walau kap depannya rusak parah tapi masih bisa untuk dikendarai.
Dennis masih terpaku dari tempatnya berpijak.
"Ayo,Tuan muda." Sekretaris Ben sudah membukakan pintu mobil untuknya.
***
Naina tiba di halaman parkir Beauty Flowers.Terlihat dari dalam kaca,semua orang sudah membubarkan diri dari breafing pagi yang rutin mereka lakukan,Selfy sebagai pemimpin breafing.
Naina berjalan pelan memasuki pintu kaca,matanya yang sembab,tubuhnya yang lunglai membuat semua orang menatapnya penuh tanya.Tidak pernah ia terlihat seperti ini walau ia terlambat sekalipun,ini bukan Maemunah.
"Naina,apa kamu sakit?"
Selfy langsung memberinya pertanyaan.
"Tidak Bu.Maaf,saya terlambat lagi,"jawabnya dengan suara yang terdengar masih serak.Terlambatnya kali ini sudah keterlaluan,bahkan ia tidak ikut breafing tapi tidak ada raut marah yang terlihat di wajah Selfy selaku penanggung jawab toko.
"Kalau kamu sakit,tidak usah bekerja dulu,"sambung Selfy yang merasa ada yang tidak beres dengan anak ini.
"Tidak Bu,aku baik-baik saja,"jawabnya lagi.
"Saya permisi ke ruangan loker,Bu,"sambungnya yang hanya mendapat anggukan dari Selfy.
Di dalam ruangan loker,ia meletakkan ranselnya.Tiba-tiba Kiran masuk menemuinya.Sebagai sahabatnya sejak SMA,Kiran tahu kalau pagi ini Naina sedang tidak baik-baik saja.
"Naina ...."Mendekati Sahabatnya itu.
Naina menatap Kiran dengan mata sendunya.
Kiran merentangkan kedua tangannya sebagai isyarat,peluklah aku dan bagilah dukamu padaku.
Bulir bening kembali jatuh di kelopak mata cantik itu.
"Kiran ...."
Berhambur memeluk Kiran dengan suara tangis yang sudah pecah.
Air mata Kiran ikut tak terbendung,walau belum tahu masalahnya tapi ia sudah bisa merasakan perih di dalam dadanya.
___
**ahhh...tunggu dulu yah readers.Authornya baper😭
Silahkan tinggalkan jejak kalian.🙏**
__ADS_1