
Pagi kembali menyapa bumi dengan begitu indah,seindah hati tuan muda yang sedang di landa cinta saat ini.Menatap dirinya di cermin,merapikan dasi dan rambutnya,tidak lupa memakai jam tangan branded sebagai pelengkap ketampanannya,senyum yang terus mengembang.
Kejadian semalam tidak begitu membekas bagi dirinya,sementara gadis di tempat jauh sana sedang merasakan luka walau itu hanya sedikit tapi tetap saja luka.Dennis berpikir kalau dia dan Zara sudah selesai,dia merasa semua baik-baik saja,dia merasa lega karena sudah menyampaikan isi hatinya yang sebenarnya,isi hati yang tidak bisa menerima perjodohan ini karena adanya wanita lain yang sudah lebih dulu di dalam hatinya.Sangat mengecewakan,tetapi Zara bisa menerima ini dengan baik.
Sementara Dennis,betapa bahagianya dia karena merasa sudah mendapatkan cinta Naina,walau Naina tidak mengatakannya langsung,tapi ia tahu dari sikap Naina kepadanya.
Keluar dari kamar dengan setelan jasnya yang sudah rapi,menuruni tangga dan menuju meja makan.Di sana sudah ada Rita dan Atmajaya.
"Hai ... Mah,Pah."
Langsung duduk di meja makan setelah menyapa kedua orang tuanya.
"Hai,Sayang," balas Rita.
"Wajahmu terlihat sangat bahagia,Pak Direktur," goda Atmajaya.Ia melihat ada yang berbeda pada putranya pagi ini.
Dennis yang baru saja hendak menyendok sarapannya,berhenti sejenak setelah mendengar ucapan papanya.Andai ada cermin,rasanya ingin menatap wajahnya.Apa rasa bahagia di dalam hatinya benar terpancar di wajahnya?.Mulai menyendok sarapannya tanpa menggubris ucapan papanya.
"Sejak semalam dia seperti itu,Pah.Dia pulang dengan wajah senyum-senyum sendiri," sambung Rita.Dennis masih diam saja.
"Papa pikir semalam kamu pulang ke apartemen.Kemana kamu semalam hingga telat pulang?" tanya Atmajaya.
"Jenguk teman di rumah sakit," jawab Dennis singkat.
Tidak ada lagi pembicaraan di meja makan itu.Tidak ada kecurigaan bagi Atmajaya maupun Rita.
Setelah beberapa saat,Rita kembali membuka pembicaraan.
"Oiya,Apa kabar dengan calon menantu Mama?" Rita mulai lagi menggoda Dennis.Penasaran dengan perkembangan hubungan putranya dengan gadis yang telah mereka jodohkan kepadanya.
"Sedang sakit."
Spontan Dennis menjawab tanpa sadar,yang ia maksud adalah Naina.Rita dan Atmajaya terkejut mendengarnya,tetapi kedua orang tua ini salah paham,mereka berpikir yang di maksud Dennis adalah Zara.
"Apa?Zara sakit?" tanya Rita dengan suara sedikit lantang membuat Dennis terkejut dan sadar akan ucapannya tadi.
"Bu-bukan,Mah.Maksud Dennis,teman Dennis yang sedang sakit.Zara ... Zara baik-baik saja,semalam kami berbicara lewat telepon."
Mendengar ucapan Dennis,ada senyum dari bibir Rita.Ia merasa senang mendengar Dennis sudah menelpon Zara.
"Wah ... wah ... sepertinya rencana kita sudah ada perkembangan yah,Pah." Lagi-lagi kedua orang tua ini salah paham.
"Pantas saja tuan muda ini terlihat bahagia.Papa juga bilang apa,mana ada lelaki yang tidak ingin dijodohkan dengan wanita seperti Zara," sambung Atmajaya.
Dennis semakin tidak nyaman.Sesekali menatap layar ponselnya menunggu pesan sekretarisnya jika sudah ada di depan menjemputnya.
"Mama sudah tidak sabar menunggu nak Zara pulang lalu segera melamarnya," lanjut Rita begitu bersemangat.
Dennis masih diam dan hanya melanjutkan sarapannya,sementara mamanya terus saja mengoceh menggodanya,sesekali papanya juga menambahkan.
Sepertinya kedua orang tuanya belum tahu kalau Dennis dan Zara tidak akan melanjutkan perjodohan ini.
***
Di rumah sakit.
Walau selang infus masih terpasang ditangannya,Naina sudah terlihat jauh lebih baik.Wajahnya tampak fresh setelah membersihkan diri dibantu Neta,duduk bersandar setelah sarapan dan meminum obat.Hanya menatap layar ponselnya dengan wallpaper foto dirinya dan Dennis,wallpaper yang sudah terpasang sebelum ia menerima ponsel mahal itu.Sesekali senyum tampak di bibir tipisnya,entah apa yang ia pikirkan.
Wajah tuan muda dengan segala perhatian dan kebaikan-kebaikannya membuatnya luluh seketika,sepertinya cinta sudah mulai merasuki jiwanya.Belum lagi tiap kali mengingat ucapan tuan muda yang menyatakan perasaannya,rasanya ia tidak percaya jika bisa dicintai setulus itu oleh seorang lelaki seperti Dennis Atmajaya.Lelaki yang nyaris tidak ada cela sedikitpun.
"Sepertinya setelah dari ruangan ini,kita akan di pindah ke keperawatan jiwa.Ada orang yang sejak tadi senyum-senyum sendiri," singgung Neta yang duduk di sofa.Walau Neta sibuk dengan ponselnya,tetapi dia juga sejak tadi memperhatikan sikap sepupunya yang aneh itu.
__ADS_1
Naina terkejut mendengarnya,wajahnya tiba-tiba merona karena malu.
Tiba-tiba pintu terbuka.
"Assalamualaikum."
Tampak wajah tampan tuan muda dengan buket bunga di tangannya beserta sekretarisnya yang ikut berjalan di belakangnya.
"Waalaikumsalam," jawab Naina dan Neta.
Dennis berjalan mendekat ke samping Naina.
"Apa sudah baikan?" tanya Dennis berbasa-basi.Sebenarnya ia sudah tahu keadaan Naina karena dokter yang menangani Naina tidak henti-hentinya memberi kabar kepadanya atas perintahnya.
"Iya,Tuan muda," jawab Naina.
"Dia sudah jauh lebih baik,Tuan muda.Tapi,yang saya takutkan dia punya gejala lain." Neta ikut berbicara membuat Dennis terkejut dan tiba-tiba terlihat khawatir.
"Gejala lain?" Dennis benar-benar terkejut.
"Sejak tadi dia senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya,entah apa yang ia tatap?jarinya juga tidak bergerak,hanya menatap saja dan terus tersenyum." Neta membuat Dennis tertawa kecil,sementara Naina terlihat semakin malu.
"Neta ...." Melirik ke arah Neta dengan tatapan seperti ingin menerkam Neta.
Dennis menatap ponsel Naina yang terletak di pangkuan Naina.
"Wallpaper itu sudah datang di hadapanmu," goda Dennis kepadanya.
Spontan Naina mematikan ponselnya dan meletakkannya ke nakas.Terlihat sangat salah tingkah,tapi itu membuat Dennis bahagia.
Dennis meletakkan buket bunga ke atas pangkuan Naina.
"Untuk wanita cantik yang sangat istimewa," ucap Dennis.
Naina menarik nafas,mencoba mengatur perasaannya.Ia tidak boleh terlihat seperti ini terus,ini bukan dirinya.
"Apa tidak ada yang lain yang bisa anda bawakan,Tuan muda.Saya ini pegawai toko bunga,tiap hari saya melihat bunga," ucap Naina mencoba menganggu Dennis,tujuan sebenarnya untuk menghilangkan rasa aneh di dalam dirinya tiap kali bersama Dennis.
Ada senyum dari Neta dan Sekretaris Ben.Lancang sekali Naina berkata seperti itu.
Dennis berkacak pinggang.
"Perhatikan baik-baik bunga itu?walau bunga itu sering kamu lihat di istana Beauty Flowers tapi bunga itu memiliki perbedaan," ucap Dennis sedikit kesal.
Naina memegang bunga itu dan memperhatikan.
"Apa kamu sudah bisa melihat perbedaannya?" tanya Dennis.
"Sepertinya sama saja," jawab Naina santai.Memang ingin membuat Dennis kesal.
Spontan Dennis mendekatkan bibirnya ke telinga Naina.
"Di sana ada cinta," bisik Dennis.
Naina yang sudah mulai merasa relax setelah mengganggu Dennis,kembali ia merasa salah tingkah lagi mendengar ucapan Dennis barusan.
Dennis menjentikkan tangannya pelan pada telinga Naina.
"Aughhh ...." Terdengar Naina meringis pelan dan memegang telinganya.
"Itu ganjaran karena menggodaku," bisik Dennis lagi kemudian mundur ke posisinya semula.
__ADS_1
Naina mencoba menstabilkan lagi perasaannya.
"Tuan muda,kapan saya bisa pulang?saya rasa,saya sudah sembuh."
Naina berbicara dengan topik lain untuk mengalihkan perasaannya.
Dennis menatap sekretarisnya.
"Siang Nanti,Nona," jawab sekretaris Ben.
"Benarkah,Mas Aben?" tanya Naina kegirangan.
"Bisa memanggil sekretaris Ben dengan sebutan seperti itu,sedang aku tidak" lirih Dennis.Ia juga berharap tidak dipanggil tuan muda lagi oleh Naina.Seperti cemburu dengan sekretaris Ben yang bisa dipanggil Mas Aben oleh Naina.
Naina terkejut mendengarnya tapi pura-pura tidak mendengarnya.
"Jadi,siang nanti saya sudah bisa pulang kan,Mas Aben?" tanya Naina lagi sengaja menekan ucapan pada kata 'mas Aben'.
"Iya,Nona.Pagi ini selang infus Nona akan dilepas dan siang nanti sudah bisa pulang," jawab sekretaris Ben.
"Tidak,dia akan pulang sore nanti." Tiba-tiba Dennis mengeluarkan asumsi sendiri.
"Hei,Tuan muda.Apa maksud Anda?Memangnya Anda ini dokter saya yang bisa mengubah jadwal pulang saya seenaknya," Naina mulai kesal.
"Lebih dari dokter Anda."
Dennis mengeluarkan ponselnya kemudian menelpon seseorang dengan nada speaker.
"Halo ... selamat pagi,Tuan muda" terdengar suara lelaki dari balik telepon.
"Dokter Adrian,pasien saya akan pulang sore nanti,bukan siang ini," ucap Dennis.
"Baik,Tuan muda.Jika itu permintaan,Tuan muda."
Begitu yang terdengar dari suara dokter itu.
"Baik,Dokter Adrian.Terima kasih!" Dennis mematikan teleponnya.
Menatap Naina kemudian mengangkat kedua alisnya.
"Keterlaluan," lirih Naina.
Segala sesuatunya memang di bawah kendalimu.
Neta hanya bisa tersenyum.
"Tuan muda,kami tidak masalah mau pulang kapan.Ruangan mewah ini jauh lebih nyaman dari kamar pengap kami." Neta seperti mendukung setiap ucapan Dennis.
"Dasar bodoh,apa kamu ingin merasakan sakit juga," balas Naina kepada sepupunya itu.
"Baiklah Nona Naina.Sore nanti,kami akan menjemputmu," ucap Dennis.
"Tuan muda,biarkan saya pulang siang ini.Kenapa harus menunggu sore?" Naina bersuara seperti merengek,itu membuatnya terlihat semakin menggemaskan di mata tuan muda ini.
"Karena siang nanti,saya sangat sibuk.Saya tidak akan membiarkanmu keluar dari sini tanpa diriku."
Ternyata itu alasan Dennis memilih sore.
"Sudah,tidak ada bantahan lagi!"
"Neta,tolong jaga dia,"
__ADS_1
Dennis kemudian pamit dan meninggalkan ruangan itu.Tanpa peduli dengan kekesalan Naina.