
Hari sudah sore,semua orang yang bekerja di perusahaan Atmajaya Group,perusahaan ternama negeri ini,bersiap-siap untuk pulang.Dennis keluar dari lift khusus diikuti sekretaris Ben di belakangnya.Mereka berjalan keluar menuju lobby,semua pegawai menundukkan kepala pertanda hormat.
Mobil sudah siap di depan lobby kantor,bukan mobil-mobil mewah yang biasa ia pakai.Ia sudah tahu ingin kemana sore ini,makanya memakai mobil sederhana.Seorang supir turun dari mobil dan memberikan kunci kepada sekretaris Ben.Sekretaris Ben membukakan pintu belakang untuk tuannya,ia kemudian ke depan menuju kursi kemudi.
***
Di rumah sakit.Naina sudah gelisah sejak tadi,selang infus sudah terlepas dari tangannya sejak pagi.Harusnya ia sudah bisa pulang siang ini tetapi karena perintah tuan muda yang tidak bisa di bantah akhirnya ia terkatung-katung di dalam ruangan ini.Walau ruangannya mewah,tetap saja ini rumah sakit.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
"Assalamualaikum."
Suara yang tidak asing di telinga Naina,suara yang selalu membuat Naina semangat menjalani hidup.
"Waalaikumsalam," jawab Naina dan Neta seraya menoleh.
"Arka ...." Naina sangat bahagia melihat siapa yang datang,ia tidak menyangka jika akan bertemu dengan adik satu-satunya yang ia miliki ini.
Arka segera memeluk kakaknya.
"Kenapa Kak Naina tidak memberitahuku kalau Kak Naina sakit?"
Naina belum sempat menjawab pertanyaan Arka,menyusul dari luar pintu dua orang lelaki dengan setelan jas rapinya.
Naina melepas pelukan adiknya.
"Tuan muda," sapa Naina.
Arka tersenyum pada Dennis.
"Kak Dennis yang menjemputku di pesantren,Kak Dennis yang memintakan izin agar aku bisa menemui Kakak."
Ucapan Arka sedikit terdengar aneh di telinga Naina dan Neta.
"Kak Dennis?" Naina sedikit malu mendengar Arka lancang memanggil tuan konglomerat negeri ini dengan sebutan kakak.
"Kamu tahu dia itu siapa?panggil dia Tuan muda!bukan Kakak," ucap Naina penuh penekanan pada Arka.
"Maaf,Tuan muda.Adik saya sedikit tidak sopan memanggil Anda dengan sebutan seperti tadi."
Naina terlihat sangat malu.
Dennis tersenyum dan mendekat dengan ciri khasnya yang senang berkacak pinggang jika berbicara pada Naina,seperti sedang menakuti.
"Tidak sopan?" Dennis tersenyum kecut.
"Arka memanggilku Kakak,lalu dimana letak tidak sopannya?" Dennis semakin mendekat.
"Lebih tidak sopan mana dengan seorang kekasih yang memanggil kekasihnya dengan sebutan Tuan muda?" lirih Dennis menyinggung Naina.Selalu saja membuat Naina terkejut dan berdebar setiap kali ia berbicara.
Dennis mundur dan mendekati Arka.Merangkul bahu Arka dari belakang.
"Kami sudah lama kenal bahkan jauh sebelum sangat mengenalmu Nona Naina," ucap Dennis dan melirik Arka.Kedua lelaki ini tersenyum.
"Apa?kalian sudah lama saling mengenal?" Naina terkejut mendengar fakta ini.
"Iya.Saya sangat berterima kasih pada Arka karena dialah yang membantu saya untuk memantapkan hatiku memilih wanita itu,jika bukan karena Arka mungkin saya belum percaya dengan keyakinan hatiku," ujar Dennis.
__ADS_1
Naina menatap Arka sedikit tajam.
"Jangan menakutinya seperti itu.Jika terjadi sesuatu pada Arka maka saya yang akan turun tangan,dia sudah lama menjadi adikku.Bukan begitu Arka?" Dennis dan Arka lagi-lagi kompak dan tersenyum.
Naina membalikkan badan,tidak peduli dengan dua lelaki yang terlihat sudah menjadi satu kubu ini.
"Sejak kapan adikku menjadi adik orang kaya," ucapnya sangat lirih seraya meraih tas pakaiannya.
"Neta,ayo pesan taxi online!kita pulang," perintah Naina.
"Kak Naina,aku pulangnya pisah saja yah!" pinta Neta sedikit merengek.
"Kenapa seperti itu?" tanya Naina.
"Pacarku menjemputku," bisik Neta.
Naina meletakkan tas pakaiannya kembali dengan mendenguskan nafasnya.
"Lalu,aku harus bilang apa pada paman?kamu tahu kan kalau paman tidak menyukai lelaki itu."
Sejak dulu Harun memang tidak merestui Neta berpacaran dengan lelaki tidak jelas seperti itu tapi Neta sudah sangat mencintai kekasihnya itu.
Neta sedikit malu karena suara Naina didengar semua orang.
"Pelan-pelan saja ngomongnya," bisik Neta lagi.
"Ayolah,Kak.Aku janji,aku langsung pulang ke rumah.Tidak akan kemana-mana," sambung Neta lirih.
"Ya sudah ... tapi ingat,langsung pulang ke rumah!" tegas Naina yang hanya dibalas anggukan oleh Neta.
Naina kembali meraih tas pakaiannya.
"Tuan muda,Mas Aben,terima kasih sudah memberiku perawatan di rumah sakit ini.Saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan kalian,terutama Anda Tuan muda," ucap Naina.
Dennis tersenyum lagi.
"Kamu berterima kasih?kamu benar-benar tidak menganggapku," Dennis terlihat sedikit kesal.Ia merasa Naina tidak bersikap seperti seorang kekasih pada umumnya.
"Sekretaris Ben,bawa tas itu!" perintah Dennis.
Sekretaris Ben segera mengambil tas pakaian yang dibawa Naina.
Dennis hendak keluar dari ruangan.
"Mas Aben,kembalikan tasku!kami akan pulang dengan taxi online saja," ucap Naina.
Mendengar ucapan Naina pada Ben,Dennis mulai kesal lagi.
"Taxi online?kamu pikir tujuan kami kemari untuk apa?benar-benar keterlaluan," lirih Dennis pada kalimat terakhirnya.
"Tuan muda,Anda salah paham." Naina mencoba membujuk Dennis.
"Bukankah mobil Anda terlalu kecil,kita tidak akan muat di mobil Anda itu Tuan muda.Itulah kalian orang-orang kaya,membeli mobil mewah tapi hanya bisa memuat beberapa orang saja." Entah kenapa malah Naina yang terdengar kesal bahkan menyalahkan mobil yang tidak tahu apa-apa.
"Dasar sok tahu." Dennis menyerangnya balik.
"Sebelum kami menjemput Arka,kami sudah memikirkannya.Kami bukan membawa mobil kecil Nona Naina," sambung Dennis.
__ADS_1
"Astaga ... kenapa kalian berdebat.Mau mobil kecil atau besar,sama saja.Kalian akan tetap muat,saya kan sudah bilang kalau saya tidak akan ikut dengan kalian,saya ada jemputan sendiri." Neta akhirnya berbicara untuk menengahkan perdebatan Dennis dan Naina.
Arka spontan meraih tas yang dipegang sekretaris Ben.
"Biar saya yang membawanya,Kak," ucap Arka pada sekretaris Ben kemudian melangkah lebih dulu keluar dari pintu.Menurut Arka,jika tetap di ruangan ini maka mereka hanya akan terus berbicara tanpa penyelesaian.
Neta segera menyusul Arka,begitupun dengan sekretaris Ben.Tinggallah Naina dan Dennis.
"Silahkan,Tuan muda!" ucap Naina mempersilahkan Dennis terlebih dahulu untuk keluar.
"Kamu itu wanita,harusnya kamu yang berjalan di depan.Kamu juga baru sembuh,jika kamu pingsan di belakang lalu siapa yang akan menolongmu." Lagi-lagi hanya akan berdebat.
Naina memilih mengalah walau terlihat menggerutu.Ada senyum dari bibir Dennis kemudian menyusul berjalan di belakang Naina.
***
Dalam perjalanan pulang.
Arka duduk di depan,tepat di samping sekretaris Ben yang memegang kemudi.Dennis dan Naina duduk di kursi belakang.
"Arka,Apa kakakmu ini memang sangat keras kepala?" Dennis membuka pembicaraan dengan mengganggu Naina.
Naina mengernyitkan alis mendengarnya.Sementara Arka terlihat tersenyum.
"Sepertinya,Kak.Sebenarnya saya prihatin dengan Kak Dennis," jawab Arka pada Dennis,juga terdengar menggoda Naina.
"Tidak apa-apa.Aku sangat menyukai orang dengan sikap keras kepala seperti ini."
"Sangat menggemaskan," lanjut Dennis sangat pelan tetapi didengar Naina.
Naina hanya memilih diam.
"Teman-temannya bilang,dia itu sangat humoris tapi menurut saya,dia itu wanita yang galak." Lagi-lagi Arka berucap dengan kalimat yang terus menggoda Naina.
"Hei ...." Naina mulai protes.
"Memangnya Kakak galak apa kepadamu?" tanya Naina.
"Buktinya aku mondok di pesantren," jawab Arka tersenyum pada Dennis.Kedua lelaki ini terus saja menggoda Naina.
"Arka,walau dia galak dan keras kepala tapi aku sudah terlanjur mencintainya," ucap Dennis yang membuat Naina terkejut.Dennis sangat pandai membuat wanita yang dicintainya ini terlihat salah tingkah.
"Arka,apa kamu merestuiku jika mencintai Kakak galakmu ini?"
Arka tersenyum mendengarnya.
"Kak Dennis lelaki terbaik yang pernah aku kenal,aku sangat berterima kasih jika Kak Dennis mencintai Kakakku." Jawaban Arka membuat Dennis sangat bahagia.Dennis menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursinya dengan perasaan yang sangat lega.
"Terima kasih Arka.Percayalah,saya akan membahagiakannya," lanjut Dennis yang di balas senyum oleh Arka dari spion mobil.
Dennis merentangkan satu tangannya pada kursi,tepat di belakang Naina.
"Maemunah,kamu dengar sendiri,bukan?semua keluargamu sudah merestuiku," bisik Dennis.
"jadi,tidak ada alasan untuk menolakku," sambungnya.
Naina hanya diam dalam sikap salah tingkahnya.Debaran di dadanya sudah seperti membuncah,baru kali ini ia merasakan debaran dadanya seperti ini.Aura dan sikap tuan muda ini memang begitu berbeda dengan lelaki lain pada umumnya.
__ADS_1