MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Kue Pemikat Hati


__ADS_3

Matahari sudah terbenam seiring warna gelap mulai menyelimuti bumi. Naina masih duduk di atas sajadahnya, semua doa dan rasa syukur telah selesai ia lambungkan ke langit, kepada yang maha Agung. Sudah beberapa menit ia duduk di sana seraya menanti kepulangan orang tercinta. Ia memandang jauh keluar jendela yang ghordennya belum tertutup, banyak hal baik yang sedang ia khayalkan.


Tiba-tiba dari luar pintu kamarnya terdengar suara ketukan pintu membuyarkan segala lamunannya. Bergegas ia berdiri tanpa membuka setelan mukenanya. Pintu telah ia buka, di lihatnya sosok lelaki yang sejak tadi ia nantikan.


"Mas ...." Tidak membuang waktu. Sebuah pelukan penuh rindu ia hamburkan kepada sang pemilik tubuh di depannya. Tawa kecil simbol bahagianya terdengar bercampur dengan isakan haru.


"Sayang, aku sangat merindukanmu," ucap lelaki yang masih dengan setelan jasnya.


"Mas Dennis, tahu? aku punya kabar bahagia untukmu, Mas." Tidak sabar gadis ini ingin menceritakan segala yang terjadi hari ini.


Belum selesai rasa melepas rindu sepasang suami istri ini, tiba-tiba terdengar tapakan kaki mendekati mereka. Bergegas Naina melepas pelukannya melihat siapa yang muncul di belakang suaminya.


"Maaf jika saya mengganggu, Nyonya muda. Saya ingin berpamitan kepada Tuan muda," ujar sekretaris Ben dengan posisi siap dan tubuh membungkuk sedikit pertanda hormat.


Dennis membalikkan tubuhnya.


"Tidak usah terburu-buru, Sekretaris Ben. Makan malam bersama bukankah lebih baik?" Dennis meminta sekretarisnya untuk tetap tinggal dan makan malam bersama dengan mereka.


"Terima kasih, Tuan muda. Tapi, saya rasa ...." Ucapan sekretaris Ben menggantung di udara karena disela Naina.


"Ayolah, Mas Aben. Saya sudah memasak banyak hari ini, jangan membuatku kecewa," ujar Naina.


Sekretaris ini tidak ada pilihan, mana berani ia mengecewakan wanita kesayangan tuan mudanya.


***


Di meja makan, makanan lezat sudah terhidang dengan aroma khasnya. Lidah tak bisa berbohong jika hidangan ini memang sangat menggugah selera.


"Sayang, kamu yang masak semua ini?" tanya Dennis sedikit takjub.


Naina hanya membalasnya tersenyum.


Sementara dua wanita yang sibuk menyiapkan alat makan, tampak seketika terlihat panik mendengar pertanyaan tuan muda mereka. Mata sekretaris Ben juga sudah menatap tajam ke arah mereka.


"Saya tidak sendiri memasaknya, Sayang. Mimi dan Lilis membantuku. Mas Dennis tahu, mereka melarangku menginjakkan kaki ke dapur tapi saya tetap bersikeras karena saya ingin menyambut Mas Dennis dengan masakanku. Sampai saya harus mengancam mereka," kesal Naina di kalimat terakhirnya.


Sebenarnya Naina sudah tahu arti tatapan sekretaris Ben kepada Mimi dan Lilis, makanya ia segera memberikan pembelaan dan berpura-pura kesal agar aktingnya lebih sempurna.


Mimi dan Lilis terlihat menghela nafas lega, sementara sekretaris Ben sudah memalingkan pandangan tajamnya kepada dua wanita yang sedang cemas tadi. Sekretaris Ben sudah seperti akan memberikan hukuman kepada dua asisten ini karena membiarkan Naina masuk ke dapur, tetapi jawaban Naina membuat dirinya mengurungkan niat.


Dennis hanya tersenyum mendengar celoteh istri cantiknya.


"Oiya, sebelum makan ... apa aku bisa mencoba kue yang sudah merebut hati Tuan Atmajaya?"


Seketika Naina terbelalak mendengar pertanyaan suaminya, ia merasa belum memberi tahu suaminya tentang kabar bahagia ini tapi sekarang suaminya bahkan tahu tentang kue gosong itu.


"M-Mas Dennis sudah tahu semuanya?" Naina bertanya gelagapan.

__ADS_1


Dennis hanya tersenyum.


"Ayo, mana kuenya?" pintanya lagi. "Aku tidak sabar ingin mencobanya."


"Sebelum Mas Dennis mencobanya, beri tahu aku dari mana Mas Dennis tahu semuanya?" Naina masih sangat penasaran.


Dua orang asisten mendekat dengan langkah terbata-bata.


"Nyonya muda, maafkan kami. Kami yang memberi tahu Tuan muda, kami merekam semua yang terjadi kemudian mengirimkannya kepada tuan muda." Mimi yang selalu menjadi perwakilan dalam bicara, menjelaskan semuanya kepada Naina.


"Merekam?" Naina masih tidak mengerti.


Mimi menunjuk ponsel pada saku kanan atas seragamnya, siapa sangka ternyata sejak tadi ponsel itu merekam kedatangan Atmajaya hingga Atmajaya berpamitan.


"Hah ... keterlaluan kalian!" umpat Naina.


Kedua asisten ini menundukkan kepala karena takut.


Dennis berdiri dari duduknya, mendekati wanita yang terlihat sedang kesal. Sayang sekali, wanita ini semakin kesal maka semakin menggemaskan saja.


"Sayang, sudahlah! saya mempekerjakan mereka di sini memang untuk itu. Selain menjagamu, mereka juga harus selalu memberikan laporan tentang apa yang terjadi di rumah ini."


"Apa? sedetail itu? Mas pikir saya ini tawanan yang harus selalu Mas pantau, begitu?" Bukannya mereda, Naina malah semakin kesal. Kedua tangannya sudah melipat ke perut, wajahnya sudah berpaling merajuk ke arah lain, bibir yang tampak manyun semakin menggemaskan. Andai berdua saja, mungkin Dennis sudah menggigit bibir imut menggemaskan itu.


"Saya hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, Sayang. Jadi, semua harus saya ketahui." Dengan lembut Dennis membujuk istrinya.


Gadis ini perlahan menurunkan tangannya kemudian menoleh, sepertinya ia gadis yang cepat sekali luluh. Tidak berkata apapun, ia berjalan ke arah dapur kemudian mengambil kue yang diminta suaminya tadi. Sebenarnya ia malu memperlihatkan ini, tetapi suaminya sudah terlanjur tahu. Ia rahasiakan pun tak ada gunanya lagi.


Sementara Dennis, tampak senyum yang hampir seperti tawa kecil dari bibirnya. Sepertinya ia geli melihat kue yang ada di hadapannya.


"Sudahlah, Mas. Aku sangat malu." Naina menarik kembali kue itu. Baru melihatnya saja, ekspresi suaminya sudah seperti itu. bagaiman jika mencobanya, pikirnya.


"Sayang ... sayang ... Baiklah, aku tidak akan tertawa lagi. Biarkan aku mencobanya." Dennis bersikeras ingin mencoba kue itu. Bagaimana tidak, kue ini sudah memikat hati Tuan Atmajaya. Tuan konglomerat ternama itu begitu menikmati kue buatan menantunya ini.


Dennis memotong kue itu dan meletakkan satu potongan ke piring kecil yang sudah disiapkan Mimi dan Lilis. Kemudian memotong lagi untuk piring yang satu. Kini ada dua potong kue pada dua piring kecil.


"Ayo, sekretaris Ben. Cobalah!" Dennis memberikan satu piring kue itu kepada sekretaris Ben. Sungguh ini membuat sekretaris Ben sangat terkejut, ia tidak menyangka kalau ia juga akan mencoba kue yang dari tampilannya saja sudah pasti akan sulit melintasi tenggorokan. Senikmat-nikmatnya makanan, jika itu gosong maka sudah pasti beda cerita lagi.


"Tapi, Tuan muda." Sekretaris ini seperti sedang berada di ujung jurang.


Mimi dan Lilis menyembunyikan senyum. Mereka seperti sedang menang lotre melihat kepanikan sekretaris Ben.


Sementara Dennis, tidak berhenti sampai di sana.Ia yang sejak tadi memotong kue dan membagikannya ke piring. Kini menatap Mimi dan Lilis.


"Kalian berdua, duduklah juga! dan coba kue ini." Ternyata dua dayang-dayang ini juga dapat bagian. Keduanya menelan ludah dalam-dalam, saling menatap dalam bimbang. Ternyata mereka juga terpilih sebagai juri dari kue yang begitu spesial ini. Tidak ada pilihan, mereka berdua terpaksa ikut bergabung dan duduk di kursi.


Dennis menatap sekretaris Ben, kemudian Mimi dan Lilis.

__ADS_1


"Silahkan!" Mempersilahkan ketiga orang ini mencoba kue yang ada di hadapan mereka.


Satu sendok keterpaksaan sudah masuk ke mulut tiga orang yang ikut menjadi tim pencicip kue bersama Dennis.


Sementara Naina, wajahnya tampak pucat. Bukan ia yang mencobanya tetapi ia bisa merasakan anehnya kue gosong buatannya.


"Sungguh sangat enak." Spontan kalimat pujian keluar dari mulut Dennis.


Sementara tiga orang di hadapannya begitu sulit mengunyah kue yang rasanya seperti membawa mereka berpetualang ke hutan pemangsa.


"Bagaimana, Sekretaris Ben?" tiba-tiba Dennis memberikan pertanyaan bodohnya.


"Iya, Tuan muda. Sungguh sangat enak." Jawaban yang lebih bodoh keluar dari mulut sekretaris Ben.


"Yah, kue buatan Nyonya muda benar-benar sangat enak." Mimi juga dengan spontan memberikan pujian. "Iya." Disambung oleh Lilis dengan senyum terbaik.


Naina tiba-tiba mengembangkan senyum merona, ia tidak menyangka kalau kuenya yang walau terjadi kesalahan teknis tetapi tetap terasa enak.


"Benarkah, Mas?" Naina memegang tangan suaminya begitu kegirangan. Inilah yang memang diharapkan Dennis hingga menghipnotis semua bawahannya.


"Iya, Sayang. Sungguh sangat enak, pantas saja tuan Atmajaya memberikan pujiannya," jawab Dennis yang terus menyendok kue itu dengan terpaksa bahkan sudah sampai pada sendok terakhir. Kue di piringnya kini sudah bersih.


Sekretaris Ben serasa ingin mengumpat kasar pada dirinya sendiri, merutuki dirinya yang sudah berapa kali terjebak hal bodoh. Sejak mengenal Naina bahkan jauh sebelum Naina menjadi Nyonya mudanya. Sekarang ia memakan habis kue yang rasa gosongnya tidak terampunkan.


"Kalau begitu, biarkan aku mencobanya juga, Mas!" pinta Naina yang membuat semua orang saling menatap terkejut. Apa akting terbaik mereka akan gugur seketika?


"Tidak, Sayang. Kan kamu yang membuatnya, jadi sebaiknya kamu tidak perlu mencobanya." Dennis tidak tahu alasan apa yang harus ia berikan.


"Tapi, Mas. Aku juga penasaran." Naina bersikeras ingin mencoba kue yang menurut semua orang sangat enak.


"Nyonya muda, apa Nyonya muda tahu Blaise Pascal?" Sekretaris Ben menyela pembicaraan. Semua orang menatapnya termasuk Naina.


"Tidak, siapa dia?" tanya Naina tidak mengerti.


"Dia merupakan chef terbaik dengan segala aneka cake-nya yang sangat enak. Dan asal Nyonya muda tahu, dia pantang mencicipi buatannya sendiri." Ternyata ini arah pembicaraan sekretaris Ben.


Dennis begitu terkejut mendengar ucapan sekretaris Ben, tuan muda ini tahu siapa Blaise Pascal itu.


"Iya, Sayang. Benar kata sekretaris Ben, dan kue buatanmu bahkan mengalahkan buatan Blaise Pascal. Jadi, tidak mencobanya pun tidak akan menjadi masalah?" Dennis melanjutkan kalimat dari sekretarisnya yang sangat cepat dalam berpikir.


Naina yang sudah sangat tersipu malu akan pujian-pujian untuknya, memegang kedua pipinya yang sudah begitu merona.


"Ah, kalian keterlaluan. Bahkan menyamakanku dengan chef Blaise Pascal." Gadis ini benar-benar percaya tentang chef Blaise Pascal. Sungguh istri cantik tuan muda ini begitu polos.


"Ya sudah, kalau begitu mari kita makan malam." Naina berdiri terlebih dahulu untuk meletakkan kembali sisa kue ke dapur dan disusul oleh kedua asistennya dengan membawa piring bekas makan kue mereka.


"Saya berharap chef Blaise Pascal yang Anda maksud benar-benar ada, sekretaris Ben. Bukan Blaise Pascal sang penemu mesin hitung?" bisik Dennis pada sekretarisnya.

__ADS_1


Sekretaris ini terkekeh kecil.


"Saya juga berharap demikian, Tuan muda."


__ADS_2