MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Sepatu dan Got


__ADS_3

Mobil kecil yang tidak mewah ini,yah mengulangnya lagi kalau ini memang tidak mewah,melaju membelah jalan di tengah derasnya hujan.


Naina sangat kedingingan,mau tidak mau ia mendekap erat jas mahal itu untuk menutupi tubuhnya.


Dennis dan Ben juga tidak kalah basah dari dirinya,tapi kedua lelaki ini masih bertahan untuk tetap terlihat cool walau sedang dalam kedinginan.Mana mungkin mereka ikut menggigil seperti Naina,terlalu memalukan sepertinya.


Mobil terus melaju,hujan juga sudah mulai tampak reda.Gema suara mesjid mulai terdengar dimana-mana,hari sudah mulai Maghrib.


Di dalam mobil ini,belum terdengar seorangpun berbicara.


Beberapa menit berlalu,hujan benar sudah reda.Mengapa hanya turun di waktu yang begitu pas seperti tadi.Akan tetapi,bagi Naina itu bukan waktu yang pas.


Masih tidak ada suara di dalam mobil itu.Naina hanya menatap tetesan sisa air hujan dari kaca pintu mobil,sama sekali tidak pernah berbalik  menampakkan wajahnya.Terdiam mengamati sisa buliran bening yang berbentuk bulatan-bulatan kecil di kaca pintu,di sampingnya.Ia tidak tahu mengapa harus terjebak di dalam mobil para Tuan-Tuan berkuasa ini yang bahkan sudah tidak ingin melihat wajahnya tapi tiba-tiba datang dengan ucapan maaf dan langsung membawanya.


Orang kaya memang semaunya saja,seperti dunia ini memang dalam genggaman mereka.


"Apa kamu kedinginan?" Dennis mulai bersuara.


Naina bergerak mengubah posisinya,ia baru sadar kalau sedang memakai sebuah jas mahal.Ia menurunkan jas itu yang menutupi ransel,pundak hingga ke depan dadanya. Hendak memberikannya kembali pada pemiliknya tapi spontan Dennis menahannya.


"Jangan,jangan melepas jas itu," ucap Dennis dan segera memalingkan pandangannya.


"Bajumu menerawang," sambung Dennis dengan tatapan ke arah depan.


Naina terkejut,menatap tubuhnya.


Oh Tuhan,bra yang berwarna ungu.Warna yang seperti melambangkan nama bunga yang sedang viral dikalangan emak-emak.


Naina sangat malu,terpaksa memakai kembali jas itu.Ia masih tidak berucap apapun.


"Katakan kalau kamu sudah memaafkan kami," ujar Dennis lagi.


Naina masih terdiam.


Dasar orang kaya,seenaknya menghina dan seenaknya ingin dimaafkan,tapi apa daya dengan orang sepertiku.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan,Tuan muda." Hanya itu yang Naina bisa ucapkan.


"Saya yang paling bersalah dalam hal ini,Saya meminta maaf atas setiap ucapan saya," sambung dekretaris Ben dari balik kemudinya


Naina mendenguskan nafasnya.


"Sebelum kalian meminta maaf,saya sudah memaafkannya,"balasnya.


Entah apa yang membuat para Tuan-Tuan kaya ini meminta maaf.


Pikirnya.


"Mengenai hutangku,tolong berikan saya keringanan dengan cara menyicilnya.Percayalah,saya tidak akan kabur dan saya akan tetap melunasinya." Naina kembali membahas hutangnya,bagaimanapun juga hutang ini terus menghantuinya.


"Apa tidak ada cara lain untuk membayarnya,Nona." Dennis mulai ingin mengganggunya.


Naina tidak mengerti arah pembicaraan Dennis.


"Maaf,Tuan muda.Saya tidak mengerti."


Dennis memperbaiki poisisi duduknya.


"Aku tidak ingin dibayar dengan uang," ucapan Dennis membuat Naina terkejut.


Naina mengernyitkan alisnya.


Ternyata seperti ini Dennis Atmajaya yang terkenal baik itu,tidak lebih dari lelaki hidung belang.


Gumamnya dengan pikiran travelling.


"Apa maksud Anda,Tuan muda?maaf,walau saya tinggal di Zona X tapi bukan berarti...." Naina belum selesai dengan ucapannya tapi Dennis langsung memotongnya.


"Hei,jadi kamu berpikir kalau aku minta bayaran...." Dennis menggantung ucapannya.Dia ingin mengatakan 'bayaran tubuhmu' tapi jangankan untuk mengucapkannya,bahkan ia tidak bisa membayangkannya.Prilaku menjijikkan.


"Kamu pikir aku lelaki apaan?" sambung Dennis.


Naina sedikit lega mendengarnya.


"Lalu,bagaimana saya membayarnya jika bukan dengan uang?"sambung Naina bertanya.

__ADS_1


"Temani aku makan,setiap kali aku meminta kamu menemaniku maka kamu harus siap.Entah itu pagi,siang,malam...."Dennis belum selesai dengan ucapan konyolnya,kali ini Naina yang memotong pembicaraannya.


"Hei,Tuan muda.Saya tidak pernah mendengar ada orang yang membayar hutang dengan cara seperti itu," ketus Naina.


"Ok,sekarang kamu sudah mendengarnya bukan?"sambung Dennis tersenyum picik.


"Ta-tapi...."


"Tidak ada tapi-tapian,Nona.Atau kami membawa masalah ini ke rana hukum," sambung sekretaris Ben dari kursi kemudinya.


Naina sangat terkejut.


"Hah ... rana hukum?apa kesalahan saya?" pekik Naina.


"Anda tidak bisa membayar hutang," tegas sekretaris Ben.


Dennis hanya diam,ini semua juga bagian dari rencananya.


Naina berpikir sejenak.


Ah,kalau sampai mereka benar membawa kasus ini ke rana hukum lalu aku dipenjara,bagaimana nasib paman dan Arka?baiklah,mengalah saja.Toh,hanya sebatas makan bersama saja.


"Baik,aku setuju," jawab Naina yang membuat Dennis dan sekretaris Ben tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi,bagaimana aku bisa tahu kalau hutangku sudah lunas?maksud aku,berapa kali pertemuan lalu hutangku dianggap lunas?"Naina benar-benar tidak mengerti dengan syarat konyol ini.


"Sampai aku mengatakan lunas," jawab Dennis seenaknya.


Naina sangat kesal mendengarnya.


Bagaimana mungkin aku bisa terjebak pada manusia-manusia penguasa jagad ini.


Dennis menyodorkan ponsel kepadanya.


"Masukkan nomormu ke sini" perintah Dennis.Naina hanya pasrah dan mengikuti saja.


Tidak terasa mobil kecil ini sudah berbelok ke jalan dimana sepanjang jalan itu hanya terlihat lampu kerlap-kerlip ciri khas Zona X.Belum ada aktifitas apapun karena hari belum gelap,masih terlihat lengang.


"Dimana kami menurunkanmu?" tanya Sekretaris Ben.


"Di bawah pohon itu!" Naina menunjuk pohon,sekitar 20 meter di depannya.Mobil berhenti,Naina langsung membuka pintu,ia sudah tidak sabar ingin menjauh dari dua lelaki kaya tapi sangat aneh ini,menurutnya.


"Hei,Maemunah." Dennis memanggilnya dari kaca pintu yang terbuka.Sepertinya panggilan itu sudah nyaman di mulut Dennis.


Naina berbalik.Ia baru sadar kalau ia membawa jas milik Tuan Dennis.


"Oiya jasnya.Aku pinjam dulu yah,Tuan muda," ucapnya seraya berjalan mundur.


"Bukan itu ... emmm ...." Dennis bingung sendiri dengan maksud dia memanggil Naina lagi.


"Ah sudahlah,lupakan saja," sambung Dennis"


Dasar orang kaya menyebalkan.


Gumam Naina yang hanya menampakkan senyum terpaksa seraya masih melangkah mundur agar cepat menjauh dari Tuan muda dan sekretaris yang sama-sama menyebalkannya.


Dan....


Brug.


"Aughhh ...."Naina teriak meringis kesakitan.


Karena melangkah mundur,ia tidak melihat dan lupa kalau ada aliran got di belakangnya.Aliran got ini tidak lebar,hanya sekitar dua jengkal tangan orang dewasa tapi tetap saja menenggalamkan satu kakinya hingga sebatas lutut,walau ini got yang hanya berisi aliran air hujan berlumpur,tetap saja jatuh di sini sangat memalukan.


Dennis ingin turun dari mobil untuk membantunya.


"Tuan muda,tetaplah di mobil!jangan sampai ada yang mengenali kita di tempat seperti ini,"ujar Ben dengan cepat.


Susah payah kita menggunakan mobil seperti ini agar tidak ada yang mengenali kita,mana mungkin Anda akan turun dari mobil,Tuan muda.


Dennis mundur lagi dan mengamati Naina dari kaca mobilnya yang terbuka.


Naina segera berdiri mengangkat satu kakinya yang penuh dengan lumpur dari air hujan yang bercampur tanah,bukan got yang bau dan berwarna hitam tapi tetap saja terlihat kotor.


Pada saat ia mengangkat kakinya,ia tidak melihat satu sepatunya melekat di kakinya.

__ADS_1


"Sepatuku" teriaknya menunjuk satu sepatunya yang hanyut terbawa aliran air hujan di got tersebut.


Dengan sigap ia mengejar sepatunya,sungguh sangat merepotkan.Berlari mengikuti aliran got dengan satu kaki telanjang dan satu kaki memakai sepatu,jas dan ransel di pundak.Sungguh,orang-orangan sawah pun jauh lebih indah tampilannya.


"Hei,dia mau kemana?" Teriak Dennis dari dalam mobil yang melihat Naina berlari dengan model yang sangat kacau.


"Ben,dia mau kemana?"teriak Dennis lagi.


Aghhh ... wanita itu.


Gerutu Ben membatin.Segera ia menancap gas dan mengikuti Naina ke depan.


Naina berhenti.


"Nah,itu dia."Gadis ini menunggu sepatunya setelah berlari kencang mendahului sepatunya.Sepatunya sudah tiba,segera ia berjongkok dan membungkuk kemudian meraih sepatunya.


"Ah,Syukurlah," ucapnya setelah mendapatkan sepatunya kembali.


Masalah belum selesai,tanpa ia sadari waktu meraih sepatunya tadi,ternyata separuh jas Tuan muda yang mahal itu ikut terendam ke dalam campuran air hujan di got tersebut,sangat berlumpur.


Dennis dan sekretaris Ben sudah berdiri di belakangnya dengan memakai masker agar tidak ada yang mengenali mereka.


"Hei,Apa yang kamu lakukan?" tanya Dennis.


Naina terkejut,segera ia berbalik dengan sepatu berlumpur di tangannya.


"Sepatuku,Tuan muda," ucapnya tersenyum kikuk.


Dennis dan Ben saling menatap,rasanya ingin tertawa tapi menahannya.


Mata Ben berfokus pada jas Tuannya yang juga ikut berlumpur.


"Hei,apa yang kamu lakukan dengan jas itu?"Ben menunjuk jas yang sudah sangat berlumpur.


Naina menatap tubuhnya.


Ia terkejut dan langsung menangis histeris tanpa air mata,salah satu ciri khasnya.Bagaimana tidak?ia membuat jas mahal nan branded itu penuh dengan lumpur.Apa hutangnya akan bertambah lagi?pikirnya.


"Tuan muda,jas anda,"ucapnya sangat menyedihkan dan langsung melepas jas itu yang hanya ia gantung menutupi tubuhnya.


Dennis dan Ben sangat terkejut melihat pemandangan di depannya,walau sudah hampir gelap,tetap saja warna ungu dari balik baju wanita ini nampak jelas terlihat.


Kedua lelaki ini segera mengalihkan pandangannya.


"Aku katakan jangan lepas jas itu,bajumu menerawang," tegas Dennis tanpa melihat Naina.


Naina kembali menyadari dan menggantung kembali jas itu menutupi ransel dan tubuhnya.


"Masuklah!" perintah Dennis.


Sejurus Naina berlari dengan kedua kaki telanjang karena lebih memilih menenteng sepasang sepatunya.


Ia tidak bisa lagi menahan malunya.


"Hai,Naina.Kamu kenapa?" teriak seorang wanita berbaju sexi dari depan club.


Naina hanya mengangkat satu tangan yang menenteng sepatu,membalas teriakan wanita yang menyapanya dan terus berlari masuk ke dalam gang hingga ia tidak terlihat lagi.


Dennis tertawa dari balik maskernya,ia menepuk keningnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.Dia tidak habis pikir,kenapa ada wanita selucu itu di dunia ini.


Ben juga tidak bisa menahan tawanya walau terdengar pelan.


Inikah wanita yang kamu sukai,Tuan muda.


Gumam Ben yang masih tertawa geli.


"Mari Tuan muda,kita pulang!"


"Yah"


Kedua lelaki ini sungguh tidak akan melupakan moment lucu ini.


_______


**Aduhhh..koplak emang nih si Maemunah.

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejaknya yah❤️


like,koment,vote dll.Terima kasih🙏**


__ADS_2