
"Arumi ...." Dennis berdiri memukul keras meja di hadapannya.Rasanya ingin menampar Arumi tetapi menahan diri karena Arumi yang seorang perempuan,tidak mungkin ia akan melakukan hal seperti itu kepada seorang perempuan.Wajahnya memerah dengan amarah yang sudah memuncak.
"Kenapa?kamu lebih membela wanita rendahan seperti ini,wanita dari kelas bawah," bentak Arumi kepada Dennis.Setiap kata yang ia keluarkan hanya hinaan untuk Naina.
"Jaga ucapanmu!kamu bukan siapa-siapa yang berhak mencampuri urusanku,dan jangan menghina Naina karena dia jauh lebih baik dari kamu" balas Dennis membentaknya.
Arumi menampakkan senyuman picik.
"Dia lebih baik dari aku?" teriak Arumi dengan senyuman sinisnya.
"Buka mata kamu,Dennis ... buka mata kamu!apa saya harus mengatakan kalau saya kecewa?" sambungnya merendahkan suaranya tapi tetap terdengar sinis.
"Ya,sepertinya saya harus mengatakan kalau saya memang kecewa.Seorang Dennis Atmajaya lebih memilih barang rongsokan daripada wanita berkelas.Saya kecewa ... bagaimana mungkin kamu tertarik dengan wanita seperti ini?apa kurangnya aku dari wanita ini?aku tidak menyangka jika seleramu seburuk ini,Dennis." Arumi kembali menaikkan oktaf suaranya kepada Dennis dengan terus memberikan penghinaan kepada Naina.
"Dan kamu ...."Arumi menunjuk Naina.
"Saya tahu persis wanita seperti kamu.Kalian wanita yang berpura-pura lugu untuk mendapatkan pria kaya,wanita murahan yang berkedok dari balik wajah polos ...." Arumi belum selesai dengan ucapannya tiba-tiba ....
Tamparan keras melayang ke pipi mulusnya.
Naina tidak bisa lagi menahan penghinaan ini.Untuk pertama kalinya tangannya ternoda dengan menampar seseorang.
"Saya memang berasal dari kelas bawah,Nona.Tapi saya bukan wanita murahan.Saya wanita yang menjunjung tinggi kehormatan dan harga diri,jangan menilai buruk seseorang hanya karena dia miskin." Tegas Naina dengan menunjuk Arumi.Ia berani melawan Arumi demi harga dirinya yang terhina.
Arumi tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari orang yang kelasnya jauh di bawah dirinya.
"Beraninya kau menamparku ...." Arumi tidak terima dengan Naina yang menamparnya.Ia hendak melayangkan tamparan lagi ke wajah Naina tetapi dengan sigap Naina menahan tangannya hingga Arumi tidak mampu bergerak.
"Kau ...." Arumi merasa kesakitan dengan genggaman erat tangan Naina.
"Walau saya bukan dari kalangan Anda,bukan berarti saya ingin diperlakukan hina seperti ini." Naina melepaskan tangan Arumi dengan mendorong keras hingga Arumi terjatuh ke belakang dan langsung ditangkap oleh kedua teman wanitanya.
Naina mengambil ransel dan tas kainnya kemudian keluar dari ruangan itu.
"Naina ...." Teriak Dennis tetapi tidak dihiraukan oleh Naina.
Dennis bergegas hendak mengejar Naina tetapi ia menghentikan sejenak langkahnya dihadapan Arumi.Menatap tajam Arumi penuh amarah.
"Jangan pernah mengganggu hidupku lagi!" tegas Dennis dengan menunjuknya.
"Jika ada wanita paling murahan yang pernah aku kenal,maka itu adalah kamu," sambung Dennis dengan kalimat yang sangat menyakitkan.
__ADS_1
Arumi tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan perih Dennis.
Sementara Dennis,ia segera mengejar Naina.
Sampai di depan restoran,hujan turun begitu derasnya.Pandangannya fokus mencari Naina.Ia melihat Naina sudah berada di tepi jalan seperti menunggu taxi di bawah guyuran hujan.Segera ia menyusul Naina ke sana.Ia juga basah kuyup sekarang.
"Naina ...." Ia sampai di samping Naina.
Naina menoleh.Air mata yang bercampur dengan derasnya gugusan air hujan membasahi pipinya.Sesekali terdengar isak tangis.Dennis tidak mampu melihat ini.
"Maafkan aku ... saya berjanji,untuk yang terakhir kalinya kamu tersakiti karenaku.Tolong maafkan aku ...," ucap Dennis begitu tulus.
Naina tidak peduli,ia melangkah hendak menghindari Dennis.
"Aku berjanji,tidak akan ada lagi yang berani menyakitimu." Dennis terus memohon kepadanya.
Naina tetap tidak peduli,ia terus melanjutkan langkahnya meninggalkan Dennis.
"Naina ...," teriak Dennis tetapi tidak dihiraukan oleh Naina.
"Naina Anandita ... aku mencintaimu ...," lanjut Dennis lagi dengan suara lantang di bawah derasnya guyuran hujan.
Suara langkah kaki mendekatinya.
Tiba-tiba pergelangan tangannya digenggam seseorang.
"Naina ...." Dennis sudah berdiri tepat di hadapannya dengan satu tangan menggenggam pergelangan tangannya
"Aku mencintaimu," ucap Dennis lirih.
"Aku,Dennis Atmajaya ... mencintaimu," Tegas Dennis lagi dengan mengulang ucapannya.
Naina tidak bisa berkata-kata,ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.Semua perasaannya bercampur aduk saat ini.Detak jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.Debaran itu lagi,sangat aneh.
Ia ingin percaya,tetapi di sisi hatinya yang lain ia juga merasa seperti sedang dipermainkan.
Senyum kecut tampak dari bibir tipis Naina.Melepaskan dengan keras genggaman tangannya.
"Taxi ...."Naina menghentikan taxi yang lewat di sampingnya.Ia segera melangkah menuju taxi yang sudah berhenti tanpa mempedulikan lelaki yang baru saja menyatakan perasaan kepadanya.
"Naina ...." Dennis menahannya dengan menggenggam tangan Naina.
__ADS_1
"Lepaskan,Tuan muda!"pinta Naina seraya menarik keras tangannya dan masuk ke dalam taxi.
Taxi melaju dengan kencang,Dennis tidak bisa berbuat apa-apa.Tinggallah dirinya seorang diri di bawah guyuran hujan.
***
Naina tiba di rumahnya.Mengeringkan sedikit pakaiannya sebelum masuk ke dalam rumah.Jaket tuan muda masih melekat di tubuhnya,tiba-tiba ucapan tuan muda yang menyatakan perasaannya terngiang-ngiang di telinganya.Perasaannya bercampur aduk,dari sekian banyaknya lelaki yang pernah menyatakan cinta kepadanya entah kenapa kali ini sangat berbeda.Mengapa ia tidak marah atau tidak langsung menolak seperti biasanya.
Naina menarik nafas,mengatur detakan jantung yang berdebar di sana.Mencoba melawan perasaan anehnya saat ini.
***
Kediaman Atmajaya.
Dennis masuk ke dalam rumah dengan pakaian yang masih sangat lembab bahkan masih lumayan basah.
Betapa terkejutnya Rita melihat putranya yang pulang dalam keadaan seperti ini.Untuk yang kedua kalinya.
"Dennis ...." Rita menghentikan langkah putranya.Memegang tubuh putranya yang tidak memakai jaket dan baju yang masih basah.
"Kamu ....?" Rita tidak tahu harus berkata apa.
"Dennis mau ganti baju,Mah.Dennis capek,mau istirahat." Hanya itu yang Dennis ucapkan kepada Mamanya kemudian melanjutkan langkahnya hendak ke atas tangga.
"Dennis,tunggu!" Rita khawatir,ia harus mengintrogasi putranya ini.
"Bukankah kamu pergi menggunakan mobil?lalu kenapa kamu bisa basah seperti ini?ini sudah yang kedua kalinya kamu seperti ini.Kamu tidak bisa membohongi Mama,perasaan seorang Mama itu tidak akan pernah salah.Katakan yang sebenarnya!" Rita bersikeras meminta penjelasan dari Dennis.
"Dennis tidak apa-apa,Mah.Mama saja yang terlalu berlebihan," balasnya kepada mamanya kemudian melanjutkan langkahnya menuju lantai dua kamarnya.
Atmajaya muncul dari lantai dua dan berpapasan Dennis di tangga.
"Pah ...."Hanya itu yang Dennis katakan dan berlalu dengan pakaian basahnya.
Atmajaya melanjutkan langkahnya ke bawah.Ia tidak sempat bertanya karena Dennis dengan sigap berlalu ke atas.
"Lihat,Pah ... lihat putramu itu!" Rita langsung membordir ucapannya kepada suaminya.
"Dia sangat aneh.Kenap Papa masih diam saja dan tidak mengirim orang untuk memata-matainya," sambung Rita kesal.
"Sangat tidak lucu jika saya memata-matai anak lelaki,dia bukan Azea.Mama saja yang terlalu berlebihan" Atmajaya tetap percaya kalau tidak terjadi sesuatu pada putranya.
__ADS_1