
Dengan menempuh waktu yang tidak begitu lama,akhirnya mereka sampai di sebuah apartemen mewah.Apartemen yang hanya memiliki 10 lantai,Apartemen milik Atmajaya Group.Setiap lantai Apartemen ini hanya dihuni dua orang saja yang artinya setiap lantainya hanya memiliki dua kamar yang masing-masing luasnya setara dengan rumah mewah,pemiliknya pun hanya dari kalangan atas.Tapi berbeda dengan lantai paling atas,di sanalah tempat tinggal putra pemilik apartemen ini.Lantai pribadi milik Dennis Atmajaya,satu lantai yang khusus di desain untuk satu pemilik saja,tidak seperti lantai-lantai di bawahnya.Jika dilihat dari tampakan luarnya,apartemen ini menyerupai hotel bintang lima.Begitu sangat mewah.
Seorang staf apartemen segera mendekat untuk mengambil alih mobil sport yang baru saja parkir.
"Selamat malam,Tuan muda ... Nyonya muda,"sapanya dengan hormat seraya menundukkan kepala.
Naina sontak kaget mendengarnya,apa lelaki berseragam hitam ini sudah tahu siapa dirinya.Begitu yang ia pikirkan tetapi lebih memilih diam.
Dennis memberikan kunci mobil kemudian ia berjalan dengan tangan yang tidak bisa jika tidak menggenggam tangan istrinya.Pasangan ini memasuki pintu kaca yang terbuka dengan sendirinya,dari balik pintu itu berdiri dua orang security.
"Selamat malam,Tuan muda ... Nyonya muda."Sapaan yang sama kembali terdengar di telinga Naina.Gadis ini hanya memilih diam kemudian melangkah mengikuti langkah kaki suaminya melewati lobby apartemen dan memasuki lift.
Dari dalam lift yang mulai bergerak ke atas,Naina menundukkan kepala.Kembali menatap tangannya yang terus saja dalam genggaman.Ia tersenyum,tetapi tidak tampak.Rasanya senyuman hanya itu terpancar di rulung hatinya,ia bahagia.
"Mas,mengapa semua orang di apartemen ini menyapaku seperti itu?"Naina memberanikan diri untuk bertanya.Bertanya mengenai panggilan gelar Nyonya muda yang sudah ia sandang.
"Apa kamu masih berpikir bahwa kamu adalah istri yang ku sembunyikan?menikahimu dengan cara seperti ini bukan berarti harus ku rahasiakan kepada semua orang.Semua staf dan beberapa penghuni apartemen ini sudah tahu siapa dirimu,jadi jika mereka memanggilmu dengan sebutan seperti tadi,jangan pernah merasa canggung karena kamu memang pantas dipanggil seperti itu.Kamu adalah Nyonya Dennis Atmajaya.Mulai sekarang kamu harus terbiasa,Nyonya muda."
Pintu lift sudah terbuka.Lelaki yang berbicara dengan sangat tenang ini langsung memajukan satu kakinya untuk memulai langkah.Naina tersentak,tanpa ia sadari kalau lift ini sudah mengantarnya sampai ke lantai paling atas apartemen ini.Gadis ini hanya fokus pada jawaban yang ia dengar barusan,begitu terkesan dengan setiap kata yang keluar dari mulut suaminya.
Ia kemudian berjalan mengikuti langkah kaki suaminya dengan menatap tangannya yang terus berada dalam genggaman.Kali ini senyuman rulung hati itu sudah terpancar di bibir manisnya.
Ya Allah,lelaki seperti apa yang engkau kirimkan menjadi suamiku ini.Aku belum sepenuhnya bisa menebak dirinya,tapi tidak bisa ku pungkiri kalau dia begitu baik.Terima kasih.
Dennis menekan sandi pada pintu apartemennya.Pintu terbuka,tangannya sudah melepas tangan istrinya.
"Ke kamarlah!bersihkan diri,ganti baju kemudian kita makan.Kamu pasti lapar bukan?saya tunggu di meja makan."
"Hhhmm."Gadis ini hanya mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya seorang diri hendak menuju kamar.Akan tetapi,tiba-tiba saja ia berhenti kemudian berbalik.Ia menatap suaminya yang di balas tatapan juga,kemudian ia menatap gaunnya.
__ADS_1
"Segala perlengkapanmu sudah ada di ruang ganti."
Naina belum berucap tetapi Dennis sudah mendahuluinya,tuan muda ini paham maksud istrinya.Naina terkejut mendengarnya.
"Apa Mas Dennis memerintahkan orang untuk mengambil barang-barangku?"tanyanya.
"Tidak."Jawaban yang sangat ringkas kemudian berjalan mendekati istrinya.
"Mulai saat ini,semua yang kamu kenakan adalah sesuatu yang memang pantas kamu kenakan sebagai Nyonya Dennis Atmajaya,"sambungnya.Dennis tidak mungkin akan membiarkan istrinya memakai pakaian atau segala apapun yang melekat pada diri istrinya jika bukan dari sesuatu yang harganya sesuai dengan kelas dirinya.
***
Naina sudah selesai membersihkan diri,hanya menggunakan handuk melilit hingga ke atas dadanya,rambut yang tertutup gulungan handuk setelah keramas.Gadis ini pelan-pelan keluar dari kamar mandi,berharap tidak terlihat oleh suaminya.Rasanya belum siap menampakkan diri seperti ini.
Ia masuk ke pintu kaca yang digeser ke kanan,pintu kaca yang tidak transparan.
"Keterlaluan!Mas Dennis tidak menyiapkan jubah mandi untukku,hanya handuk seperti ini."Ia mengomel tidak jelas,sedikit kesal pada Dennis dan siapapun yang menyiapkan ini semua.
Ia mendekat ke salah satu deretan tas itu,ia tidak menyentuhnya.Melihat merk tas itu dari balik kaca.Seketika ia terkejut,ia yang seorang mahasiswi jurusan fashion tahu betul berapa harga tas itu.
"Astaga,tas ini bisa membeli satu rumah mewah."Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Ia kemudian berjalan,kali ini fokus pada sendal sepatu yang juga berada di dalam lemari kaca,tersusun begitu indah dan rapi layaknya benar-benar seperti sebuah toko.Dan sama saja,sendal sepatu ini juga dari merk-merk ternama.
Naina berpikir sejenak.Siapa pemilik semua barang-barang ini?
"Apa barang-barang ini milik Mbak Azea?"
Yang ia tahu hanya Azea dan sekelas wanita-wanita konglomerat atau artis dunia yang mampu memiliki barang-barang branded seperti ini.
__ADS_1
"Bukan,itu bukan milik Azea."Tiba-tiba terdengar suara yang menjawab pertanyaannya.
Naina membalikkan badan.Betapa ia sangat terkejut,entah sudah berapa lama suaminya itu berdiri di sana.
Naina menatap tubuhnya.
"Akhhhh ...."Ia baru menyadari kalau hanya memakai handuk.Spontan ia membuka lemari pakaian di dekatnya dan sejurus masuk ke dalam di antara tumpukan pakaian yang menggantung itu.
"Hei,apa yang kamu lakukan di sana?"Dennis tidak kalah terkejutnya.
"Saya yang harusnya bertanya,apa yang Mas Dennis lakukan di situ?"balasnya lebih lantang.
Dennis menghela nafas panjang mendengarnya.Bailah,keluar dari sana.Segera pakai baju,aku menunggumu di meja makan."Suara langkah kaki sudah terdengar bergerak.Naina sedikit lega,sepertinya suaminya sudah meninggalkan ruangan itu.Gadis ini segera keluar dengan satu tangan memegang handuknya yang hampir terlepas.
"Keterlaluan kamu,Mas,"ucapnya yang sudah keluar dari balik pakaian yang menggantung di lemari,mengatur nafas sejenak.Rasanya tadi begitu sesak berada di dalam sana.
"Apa yang keterlaluan?"
Betapa Naina sangat terkejut.Ia membalikkan badan,sosok tuan muda ini dengan sangat santai menyandarkan tubuhnya ke lemari dengan arah menyamping dan melipat kedua tangan.Ternyata dia masih berada di ruangan ini.
Sejurus Naina ingin masuk kembali ke dalam lemari tetapi dengan cepat Dennis menariknya.Gadis ini tidak bisa berbuat apa-apa,tangan satu memegang handuk yang hampir terlepas,sedang tangan satunya lagi ditarik oleh suaminya.
"Apa yang salah jika aku melihatnya?"Dennis menarik keras tangan istrinya.Tubuh yang hanya tertutup handuk itu sudah berhadapan dengan dirinya hingga desahan nafas pun sudah bisa saling dirasakan.
Seketika wajah Naina merona karena sangat malu.Dennis tidak berhenti sampai di situ,ia memainkan jarinya ke wajah istrinya dan turun hingga ke leher.
"Jangan pernah merasa malu kepadaku,antara kamu dan aku tidak ada lagi batas dosa yang akan menghalangi,"lirih Dennis seraya terus memainkan jarinya hingga sudah sampai ke bagian dada,tepat di atas garis handuk.Begitu putih dan mulus membuat Dennis terus memainkan jarinya di sana.Jarinya bisa merasakan debaran kencang.
Sementara Naina,bulu kuduk gadis ini merinding.Perasaan aneh sudah menyelimuti dirinya,perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
"Baiklah,Nyonya muda.Silahkan memakai baju!kemudian keluarlah karena aku sudah sangat lapar."Dennis segera melepaskan istrinya yang hampir saja tidak berdaya.Sontak Naina mengatur nafasnya yang sudah memburu.
"Aku tunggu di luar,jangan lama."Mengedipkan satu matanya kemudian berjalan keluar meninggalkan ruangan yang sudah dipenuhi debaran aneh itu.