
Naina kembali dari dapur menuju kamar dengan perasaan tidak puas,entah apa yang terjadi dengan dapurnya.
Di dalam kamar.Hela nafas berhembus darinya begitu lemas.
"Mas ...."Memanggil suaminya yang tidak terlihat di ruang utama kamar.Ia berjalan memeriksa semua ruangan di dalam kamar namun juga tidak menemukan sosok yang ia cari.Ia kemudian keluar dari kamar,menatap ruangan apartamen yang begitu luas ini.Dimana dia akan mencari suaminya di hunian yang luasnya sudah seperti rumah mewah?pikirnya.
"Mas Dennis ...."Memanggil suaminya namun Lagi-lagi tidak ada jawaban.
Astaga,apa aku harus menyusuri apartemen ini?pikirnya mulai kesal.
Dengan langkah kaki berat akhirnya ia berjalan dan membuka ruangan satu persatu.Ada dua kamar tidur yang sepertinya diperuntukkan untuk tamu,satu ruangan lagi yang hanya ada meja kerja dan rak buku di sana.Ketiga ruangan yang ia masuki tidak memperlihatkan sosok yang ia cari.
"Mas Dennis ...."Suaranya tidak lagi lembut memanggil.
Jangan bilang kalau dia meninggalkanku sendiri di sini.
Mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Mas Dennis ...."Semakin lantang dengan bumbu nada kekesalan.
"Sayang,aku di sini."Terdengar sahutan dari sudut ruangan yang pintunya seperti pintu kaca yang digeser,pintu kaca yang tidak tembus pandang.Ia segera ke sana dan membuka pintu itu.Benar saja,suaminya berada di dalam sana.
Tadinya ingin mengomel karena mulai kesal mencari,namun mulutnya terkunci menyaksikan tubuh yang yang hanya memakai celana kain panjang berwarna abu dan tidak memakai baju,tampak keringat bercucuran menambah pesona sang tuan muda.Tubuh yang benar-benar sangat atletis,terbentuk begitu proposional.Dennis berlari di atas treadmill dengan pemandangan jendela kaca yang langsung memperlihatkan indahnya kota di pagi hari.Ruangan yang dipenuhi alat gym lengkap.
Dennis berhenti dari aktifitasnya
karena merasakan kehadiran istrinya di belakangnya.Ia turun dari treadmill kemudian berjalan mendekat kepada wanita yang diam terpaku seraya mengelap keringat pada tubuhnya menggunakan handuk kecil.
"Ada apa,Sayang?"Seketika sudah tiba di hadapan wanita yang hampir tidak berkedip.
"Kamu tahu,suaramu memanggil rasanya terdengar ke seluruh penjuru kota."Mencolek hidung istrinya hingga gadis ini akhirnya tersadar dari lamunannya yang memandang tubuh idaman di hadapannya.
"I-iya,Mas.Aku ingin bilang kalau di dapur tidak ada bahan untuk di masak,"jawabnya gelagapan.
Dennis terkekeh mendengarnya.
"Astaga,aku pikir apa yang membuatmu berteriak memanggil seperti tadi."Dennis masih saja terkekeh.
"Mana ada bahan makanan di apartemen yang tidak berpenghuni.Kamu tidak usah khawatir,sebentar lagi sarapan kita akan datang."
Mendengar itu,Naina spontan memukul dada bidang di hadapannya.
__ADS_1
"Lalu kenapa tidak mengatakannya sejak tadi,tahu begitu aku tidak perlu mengutak-atik seluruh lemari dapur,"balasnya kesal kemudian berbalik hendak pergi dari ruangan itu,namun spontan Dennis menggendongnya.Gerakan yang begitu cepat hingga Naina tidak mampu mengelak.Dalam seketika kedua tangan suaminya sudah berada di bawah punggung dan kedua lututnya.
"Eh,Mas apa-apaan kamu ... turunkan aku!"
"Berpegang atau kamu terjatuh?"ancam Dennis.Dengan cepat Naina berpegang pada leher suaminya,ia tidak tahu maksud suaminya menggendongnya seperti ini.Tapi,jika tidak berpegang maka ia juga khawatir jika ia akan terjatuh.
"Ayo kita ke kamar,"ucap Dennis seraya mengedipkan mata.
"Ke kamar?"
"Iya,kamu begitu menggoda ketika terlihat kesal apalagi mengomel."
Naina membelalakkan mata mendengar ajakan suaminya.Apa yang akan dilakukan kepadanya?pikirnya.
Dengan langkah jenjang,Dennis akhirnya tiba di dalam kamar.Benar-benar membawa gadisnya ke ruangan yang akan selalu menjadi saksi bisu ketika debaran aneh sedang membuncah.
Dennis kemudian menurunkan pelan-pelan tubuh dalam gendongannya itu ke tempat tidur.Naina tidak habis pikir dengan sikap suaminya ini.
"Mas,Apa yang akan kamu lakukan?"tanyanya dengan memegang kedua lengan yang sedang menguncinya di kiri dan kanan.Tidak ada jawaban dari pertanyaan gadis yang sedang berada di bawah tatapan sendu mata indah di atasnya.
"Eh ...."Tiba-tiba tubuh bertelanjang dada di atasnya sudah tidak ada jarak dengannya,benar-benar rapat menindihnya.
"Aku ingin melanjutkan yang tadi,sungguh kamu menggodaku."Kalimat bernada bisikan itu terdengar di telinga Naina dengan sentuhan nafas yang membuatnya merinding.
Tidak menunggu lama untuk menunda,Dennis sudah memulai aksinya hingga membuat tubuh di bawahnya tidak punya kesempatan untuk menolak.Rasa yang begitu indah,membawa alam sadar tak berdaya.Dalam sekejap Naina benar-benar hanyut dalam lautan asmara.Heningnya kamar dan sejuknya pagi seperti beriringan mengantar dua pasangan halal ini menuju penyatuan cinta.
Suara lirih tanpa kata terdengar di telinga Dennis,diikuti helaan nafas yang mulai memburu.Bibir indah sang tuan muda sudah tiba pada bibir tipis nan merah bening di hadapannya.Tidak membuang waktu,kini ia melanjutkan aksinya pada bibir menggoda itu.
Tiba-tiba Naina menolehkan kepalanya hingga ciuman itu tidak berlanjut.
"Aku tidak tahu melakukannya,Mas,"ucapnya lirih seraya mengatur nafasnya.
"Kita mempelajarinya bersama sayang,"sambung Dennis.Mata tuan muda ini terlihat semakin sendu.Tanpa menunggu jawaban,ia melanjutkan kembali rasa yang sudah membuncah di dalam dirinya.
Dennis melakukannya begitu lembut.Yang awalnya tak terbalas,hingga pelan-pelan Naina yang sudah larut dalam suasana kini ikut melawan apa yang dilakukan suaminya kepadanya.Walau pertama kali bagi mereka tapi rasa yang sudah membawa mereka keluar dari alam sadar itu membuat kedua sejoli ini bak pemain profesional.Dalam suasana yang sudah mulai memanas ini tiba-tiba dering ponsel berbunyi begitu keras hingga membuyarkan suasana dalam seketika.
Naina melepaskan bibirnya dan menarik nafas panjang,terdengar helaan nafas begitu sesak dan memburu.
"Angkatlah,Mas!"serunya dalam suara yang tidak teratur.
Sementara Dennis,ia membuang wajahnya ke bahu istrinya yang tertutupi dress.Helaan nafas yang juga memburu terasa hingga ke kulit Naina.
__ADS_1
Dennis bangun meraih ponsel yang terus berdering di atas nakas,rasanya ingin menghancurkan benda yang telah mengganggunya ini.Dilihatnya nama sang pemanggil pada layar gadget mahal itu.
"Sekretaris Ben,"titahnya sedikit kesal.Mengapa sekretarisnya ini tak berpengertian sedikit.
"Yah ...."Itulah kata yang keluar dari mulut tuan muda ini setelah menggeser tombol hijau.Sungguh ucapan yang begitu berbeda.
Lawan bicara dari balik telefon sana merasa sangat tidak enak.Sekretaris Ben paham,sepertinya ia menelfon di waktu yang tidak tepat.
Naina segera bangun kemudian merapikan rambutnya dengan menggulung ke atas.Ia memperhatikan suaminya yang hanya terdiam seperti fokus mendengarkan lawan bicaranya berbicara.
"Hhmmm ...."Hanya itu yang Dennis ucapkan kemudian mematikan telefon.
"Siapa,Mas?"
"Sekretaris Ben.Di luar ada kurir yang mengantarkan makanan,"jawabnya kemudian segera keluar dari kamar.
Sesampainya di luar,Dennis melihat layar di dekat pintu.Dua orang lelaki,satunya security dan satunya kurir dengan jaket khasnya.Tuan muda ini membuka pintu.
"Selamat pagi,Tuan muda,"sapa security.Security yang sudah tahu dengan status tuan muda ini,rasanya sedikit canggung.Terutama melihat sosok di hadapannya yang tidak memakai baju dan rambut yang sedikit tidak rapi namun tetap terlihat tampan.Security yang sudah berkeluarga ini sepertinya sudah paham apa yang telah terjadi atau mungkin baru akan terjadi.
"Maaf,Tuan muda jika kami mengganggu."
"Tidak,saya yang meminta maaf sudah membuat pak Ilham menunggu lama,"balasnya sangat bijak dan menyebut nama sang security.
"Saya sedang berada di ruangan gym,tidak mendengar suara bel,"lanjutnya berbohong.
Security mengambil makanan dari kurir yang berdiri di belakangnya.Makanan yang sudah diyakini aman karena perintah sekretaris Ben langsung.
Setelah Dennis mengambil makanannya,pintu kembali tertutup.Tuan muda ini berjalan membawa makanan itu ke meja makan untuk ia letakkan,dan ternyata istri tercintanya sudah berada di sana sedang menarik ghorden berwarna milo yang begitu panjang mengikuti tingginya ukuran jendela yang langsung memperlihatkan taman kota di depan bangunan apartemen itu.Garis cahaya pagi mulai masuk menembus kaca jendela.
Dennis menarik nafas panjang.Sepertinya tertunda lagi rasa yang membuat dirinya terhantu-hantui dalam waktu seketika ini.
"Sayang ...."Mendekat kepada istrinya setelah meletakkan semua makanan itu ke meja.Dalam waktu cepat memeluk pinggang langsing itu dari belakang dan menempelkan dagunya di atas bahu yang terbentuk sempurna.
"Mengapa keluar dari kamar?"tanyanya lirih.
Entah kenapa Naina tersenyum malu mendengarnya.Ia membalikkan badan mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya,tidak ada rasa canggung bagi Naina melakukan itu setelah aksi yang diberikan suaminya tadi.
"Ini sudah sangat pagi,Mas.Mas sebaiknya mandi,kemudian kita sarapan atau Mas telat ke kantor.Kata orang,Tuan muda ini adalah bos yang begitu disiplin waktu.Akan tidak lucu jika hari ini kamu telat hanya karena ...."Naina menggantung ucapannya,ia malu melanjutkannya.
"Karena apa?"Dennis balik menggodanya.
__ADS_1
"Sudahlah,Mas.Ayo cepat mandi,aku akan siapkan sarapan."Melepas pelukan Dennis kemudian ia berjalan ke dapur untuk mengambil alat makan dengan wajah yang begitu merona.