
Bukannya langsung kembali,Dennis malah melepas helm dan memakai kacamata hitamnya.Ia memakai kacamata agar tidak terlalu dikenali,bukan malu karena mengantar Naina tetapi ia belum siap jika ini sampai kepada keluarganya.
Kiran dan Rebecca berlari menghampiri Naina.Dari lantai dua tadi,mereka melihat Naina diantar oleh seorang lelaki.Bagaimana mereka tidak terkejut,untuk pertama kalinya sahabatnya itu diantar oleh seorang lelaki bahkan sampai ke depan kelas.
"Hannyku,sweetyku,sayangku ...." Rebecca langsung berdiri di samping Naina,berteriak begitu manja.
"Kenalkan kepada kami,siapa pangeran ini?"sambungnya menggoda Naina.
Sementara Kiran masih diam terperangah.
Astaga,Tuan muda.
"Hai ...." Dennis menyapa Rebecca.
"Hai ... Kiran,"lanjutnya menyapa Kiran,tuan muda ini sangat terlihat sok akrab.
"Ha-hai,Tuan muda" Kiran masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.Seorang Dennis Atmajaya mengantar Naina sampai ke sini dan menggunakan motor,keren sekali.
Rebecca menggeser tubuh Naina dan mendekati Dennis yang masih duduk di atas motornya.
"Hai,ganteng ... Kenalkan,Rebecca.Gadis paling cantik di kampus ini." Mengulurkan tangannya dengan lentik kepada Dennis.
Ada senyum yang terpancar dari wajah Dennis,tepatnya senyum geli.Ternyata Naina punya teman,wanita jadi-jadian seperti ini.
"Dennis."Menjabat tangan Rebecca.
"Ahhh ... nama yang sangat cool ... seperti orangnya." Terus memegang tangan Dennis,seperti tak ingin melepaskannya.
Naina langsung memukul tangan Rebecca.Ia melihat wajah Tuan muda ini sudah seperti sangat gelisah karena tangannya tidak ingin di lepas dari makhluk gemulai di depannya ini.
Gadis-gadis di kampus itu terlihat fokus menatap lelaki tampan yang masih berada di atas motornya.Aura sang Tuan muda ini begitu memikat siapapun yang melihatnya.
Dari arah lain.Tiba-tiba sebuah mobil sport mendekat dan parkir di samping motor Dennis.Dari jauh,pengemudi mobil sport ini melihat pemandangan yang tidak baik.Naina yang sedang memegang helm,sepertinya sedang diantar oleh seorang lelaki.
Turun seorang lelaki berkacamata dari mobil sport itu yang diikuti tiga orang rekannya dengan ransel di pundak mereka.
Pras,lelaki dari jurusan Manajemen yang merupakan idola kampus,tetapi dia hanya mengejar satu wanita sedari dulu.Naina,wanita yang terus ia perjuangkan,semua cara ia lakukan untuk mendapatkan Naina tetapi tidak pernah dihiraukan oleh Naina hingga hari ini.Ia selalu memberi barang-barang mahal kepada Naina tetapi Naina tidak sekalipun menerima pemberiannya dan sampai detik ini cintanya masih bertepuk sebelah tangan.
"Hai,sayang ... Siapa yang mengantarmu?"sapa Pras kepada Naina.Sejak dulu ia memang memanggil Naina dengan sebutan seperti itu.
Mendengar itu,rasanya ada sesuatu yang mendidih di batin Tuan muda yang masih duduk di atas motornya.Dennis turun dari motornya dengan wajah yang tidak baik,entah kenapa Naina merasa takut.
"Hai,Bung ... kenalkan,Dennis.Kekasih Naina"Menunjuk Naina kemudian mengulurkan tangannya kepada Pras untuk bersalaman.
Tidak ada keraguan di hati tuan muda ini untuk mengatakan itu,ia dipenuhi rasa cemburu dan kekesalan mendengar ada orang yang memanggil Naina dengan sebutan 'sayang'.Setahunya,Naina tidak punya kekasih.Dan Naina hanya miliknya.
Naina dan kedua sahabatnya sangat terkejut mendengarnya.Kiran hanya bisa menarik nafas dan menutup mulutnya,ia semakin terperangah mendengar ucapan tuan muda barusan.
__ADS_1
Pras hanya tersenyum picik.Tidak membalas uluran tangan Dennis.Ia juga tidak terima kalau Naina punya kekasih.
"Mentang-mentang kamu mengantarnya,lalu kamu sudah menjadi kekasihnya?"Lagi-lagi senyuman picik terpancar dari bibir Pras.
Dennis maju selangkah,berdiri tepat di samping Naina.
"Jika tidak percaya,tanyakan saja kepadanya!"ujar Dennis dengan spontan menggenggam pergelangan tangan Naina,tepat pada jam tangan Naina.
Naina seperti sedang dalam tekanan.Walau tuan muda ini tampak senyum-senyum saja,tetapi itu pertanda tidak baik bagi Naina.Belum lagi tangannya yang digenggam,ini bukan genggaman biasa.Naina seperti ingin marah,seperti ingin memaki tuan muda ini,tetapi dia tiada daya.Pilihannya sekarang hanya satu,sesuai apa yang diucapkan tuan muda tadi.
Sementara di hadapannya,Pras menatapnya tajam.Lelaki ini seperti benar menunggu jawaban.
Naina mengatur nafasnya sejenak.
"I-iya,dia kekasihku," ucap Naina terpaksa yang diiringi senyum terpaksa juga.Akan tetapi,sebenarnya ada baiknya juga mengaku seperti itu kepada Pras agar lelaki kaya,idola kampus ini tidak lagi mengejarnya.Baginya,Pras bukan tipenya dan kekayaan bukan sesuatu yang bisa memikat seorang Naina.
Disisi lain,ia masih tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan.Sejak kapan saya menjadi kekasih tuan penguasa ini?pikirnya.Ada rasa sesal di dalam dirinya setelah mengucapkan kalimatnya tadi.
Kiran dan Rebecca semakin terkejut dengan sebuah pengakuan yang baru saja mereka dengar dari mulut Naina.
Dennis melepaskan genggamannya dan tersenyum sangat puas.
"Apa Anda masih butuh pembuktian lain?" Dennis semakin menampakkan wajah kemenangannya di depan Pras.
Terlihat amarah yang sangat membuncah di wajah lelaki yang seperti sedang kalah telak ini.Rasanya ingin menghajar lelaki di hadapannya.
"Ayo kita pergi! jangan membuat dirimu semakin malu,"bisik salah satu sahabatnya itu.
"Ayo Bro."Rekannya yang lain menariknya dari sana.Pras seperti belum ikhlas dengan ini.Ia terpaksa pergi meninggalkan tempat itu atas ucapan sahabat-sahabatnya.Pras menuju mobilnya,naik ke kursi penumpang bagian depan dengan hati yang begitu kecewa,marah,kesal,semua bercampur aduk.Sementara satu rekannya yang lain mengambil alih kemudi mobilnya.Mobil sport ini pergi meninggalkan kampus.
"Ayo kita masuk!" ujar Naina kepada dua sahabatnya.
"Hei,tunggu dulu!" Dennis menahannya.
"Oiya,pulangnya jam berapa?" tanya Dennis.
Tidak ada jawaban dari Naina.
"Kami pulang jam 5 sore,Mas Dennis," jawab Rebecca.
"Baik,saya akan menjemput kamu sore nanti," lanjut Dennis kepada Naina.
Batin Naina benar,pasti itu alasan tuan muda ini menanyakan jam pulangnya.
"Saya bisa pulang bersama Kiran," ujar Naina.
"Tidak ... tidak ... saya pulangnya bersama Rebecca.Bukan begitu,Rebecca?" Kiran memberi kode kepada sahabat gemulainya ini.Spontan ia menolak untuk bersama Naina.Mana mungkin ia akan mengecewakan tuan muda.
__ADS_1
"Ya,hhmmm.Kami akan pulang bersama," sambung Rebecca,kompak.
Naina sangat kesal kepada dua sahabatnya ini.Ia tahu kalau kedua sahabatnya ini sedang berbohong.
"Dengar sendiri kan," ucap Dennis.
"Kamu tidak perlu khawatir,sayang.Saya akan menjemputmu," sambungnya.
Ha' ... sayang?
Naina seperti sudah sangat muak dengan semua ini.Ia masih saja tidak mengerti dengan setiap ucapan dan sikap tulus tuan muda kepadanya.
Naina tidak bisa mengelak lagi dengan kekompakan kedua sahabatnya.
"Kelas kami akan segera dimulai.Kami masuk dulu," ucap Naina yang ingin segera pergi dari sana.
"Hhhmm," balas Dennis.
"Ingat,saya akan menjemputmu," tegas Dennis tetapi tersenyum manis.
Naina dan sahabat-sahabatnya meninggalkan Dennis.
"Bye,Mas Dennis," ucap Rebecca manja seraya memberikan ciuman udaranya.
Hanya dibalas senyuman oleh Dennis.
***
Kediaman Atmajaya.
Dennis masuk ke dalam rumah dengan bersiul-siul.Perasaan bahagia sedang menyelimuti tuan muda ini.Ia segera melangkah naik ke lantai dua.
Sang Mama yang sedang duduk di ruang keluarga bersama dua orang wanita yang sedang membersihkan kukunya,terkejut melihat putranya sudah pulang.
"Sayang ...."Suara Rita menghentikan langkah Dennis yang baru saja menaiki tangga.Cepat sekali anak ini pulang,begitu pikirnya.
Dennis menoleh dan berpikir sejenak.
"Reuninya sore,Mah,"ujarnya spontan.Sebelum ditanya,ia sudah memberi jawaban.
Mendengar ucapan putranya,ada tawa yang terdengar dari Mama paruh baya ini.
"Ya ampun Pak Direktur,kamu benar-benar bikin malu," ujar Rita seraya terus tertawa.
Dennis ikut tertawa.Ia geli sendiri dengan kebohongannya.Tidak apa-apa,setidaknya mamanya terhibur dengan itu.
"Ya sudah,ganti baju sana! lebih baik kamu menyusul papamu ke lapangan golf saja." Rita terus saja terkekeh.
__ADS_1