MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Perhatian Lebih


__ADS_3

Naina sudah tiba di luar,tepat di depan Club-Club Zona X.Ia memandang ke arah jalan.Tidak ada tanda-tanda mobil tuan muda itu,tidak ada tubuh tinggi sekretaris yang selalu menunggunya di luar mobil.


Sementara di seberang jalan,sosok lelaki di atas motor sedang memperhatikannya.Lelaki yang wajahnya tidak terlihat karena pengaman kepala bermerk Arai Corsair V menutupi kepala dan wajahnya,helm dengan rangka belasan carbon fiber berkualitas tinggi.Harga helm ini?tidak usah ditanya,bisa membeli 2 motor matic.Bukan putra konglomerat jika hanya memakai sesuatu yang biasa saja,apalagi ini pengaman untuk keselamatannya di jalan.


Naina melihat lelaki bermotor yang hanya diam di atas motornya itu tetapi tidak terlintas di benaknya jika itu Tuan muda yang ia cari.


Sepertinya mereka menunggu di ujung jalan,begitu pikirnya.


Naina mencoba melangkah lagi,tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekatnya.


Naina menoleh,ia berpikir kalau mungkin ini adalah mobil sang tuan muda.


Turun seorang lelaki dari kursi kemudi.Lelaki ini berjalan membukakan pintu bagian depan.Turun seorang wanita sexi,Naina sangat mengenal wanita ini.


Audry


"Terima kasih sayang," ujar Audry manja kemudian mengalungkan tangannya ke leher lelaki tersebut dan mencium bibir lelaki itu.


Membuat Naina merasa jijik dan langsung mengalihkan pandangannya.Pemandangan seperti itu sudah tidak asing baginya tapi tetap saja membuatnya jijik.


Melihat bukan mobil sang tuan muda,akhirnya ia memutuskan kembali untuk melangkah.


"Naina ...."Sapa Audry.


"Mau ke kampus?"tanya Audry.


"Hhhmmm," jawab Naina singkat.


Audry sudah berjalan menuju tempat tinggalnya di lantai dua Club.Naina pun kembali melanjutkan langkahnya.


"Hei,cantik."Lelaki hidung belang yang mengantar Audry tadi menyapanya.


Naina tidak peduli dan terus berjalan.Sementara dari sebrang jalan,sosok lelaki lain memperhatikannya.


"Kenapa sendiri saja,cantik.Bagaimana kalau saya antar?" Lelaki itu menawarkan diri tetapi terlihat seperti menggoda Naina.


Naina tetap tidak peduli dan terus melangkah.Lelaki ini masih ikut melangkah di samping Naina.


"Kenapa harus jual mahal," ujar lelaki hidung belang ini.Baru saja ia mengantar Audry pulang tetapi masih juga haus dengan wanita.


"Jangan mengikutiku," ucap Naina lantang.


Tiba-tiba sebuah motor sport berhenti di dekat Naina.Sosok lelaki tinggi bertubuh atletis turun dari motor tersebut.Mendekati Naina kemudian membuka kaca helmnya,hanya matanya yang terliha.Mata yang tidak asing bagi Naina.Rasa cemburu dan kesal bercampur aduk di hati Tuan muda ini.Wanitanya digoda seorang lelaki.


"Ada apa sayang?apa dia mengganggumu?" Begitu yang terdengar dari sosok lelaki berhelm ini.


Mendengar suara itu,Naina sudah tahu siapa sosok di balik helm itu.


Naina sedikit terkejut.Ia mengulang kembali dalam otaknya apa yang baru saja ia dengar.


Sayang?


Sementara,lelaki yang menggoda Naina tadi sontak terlihat takut.


"Maaf,saya hanya bermaksud mengantarnya.Saya tidak tahu jika dia ada jemputan," ucap lelaki tersebut kemudian dengan cepat kembali ke mobilnya.


Dennis menarik nafas panjang.Seperti sedang menahan amarah,rasanya ingin menghajar lelaki tadi.


"Tuan muda,apa itu anda?" Tanya Naina untuk meyakinkan dirinya.


"Hhmmm.Ayo!" Dennis langsung menuju motornya.

__ADS_1


"Tuan muda naik motor?" Naina seperti tidak percaya.


"Hhmmm,naik!"Terus saja mengeluarkan kata yang singkat.


"Tapi ... Saya tidak punya helm,Tuan muda.Tuan muda tunggu sebentar,saya ambil helm dulu" Naina hendak berbalik untuk mengambil helm di dalam rumahnya.Dennis langsung menggenggam tangannya.Naina terkejut,sontak ia menarik tangannya dari genggaman Dennis.


"Maaf," ucap Dennis yang tidak sadar memegang tangan Naina.


"Tidak usah mengambil helm,kita akan beli di jalan.Kamu mau digoda lagi" Dennis berbalik,di belakang mereka ada lagi beberapa lelaki yang mengantar wanitanya pulang.Ini Minggu pagi,artinya semalam adalah malam minggu.Wajar saja jika banyak wanita sexi yang baru pulang setelah bekerja full.


"Naik!"Perintahnya kepada Naina.


Dengan pasrah Naina akhirnya menuruti ucapan tuan muda ini.Akan tetapi,ia masih berdiri.Ia belum naik juga ke motor itu.


"Tuan muda,bagaimana cara naiknya?Ini terlalu tinggi"Naina menunjuk tempat yang akan dia duduki.


Ada senyum dari bibir sang Tuan muda dari balik helmnya.


"Pegang di sini!" Dennis menunjuk bahunya.


Naina terlihat ragu-ragu.


"Atau saya menggendongmu naik ke motor."Sambung Dennis yang melihat Naina masih tidak ada pergerakan.


Mendengar ucapan Tuan muda,dengan sangat terpaksa Naina mengikutinya.Daripada ia harus digendong,pikirnya.Padahal itu hanya ucapan asal saja dari Dennis.Walau dia gadis yang suka mengerjai orang,tetapi di hadapan Tuan muda ia seperti mati kutu.


Ia sudah duduk di atas motor,tas kainnnya ia letakkan di tengah.


"Pegangan!" ujar Dennis.


"Pegangan?" Naina berpikir sejenak.Ia sangat ragu-ragu.


Dengan sangat terpaksa,kedua tangannya memegang pinggang Tuan muda ini.Benar-benar sangat menyebalkan bagi Naina.


***


Motor sport ini sudah membelah jalan sekitar lima menit.Tiba-tiba menepi.


"Kenapa kita berhenti,Tuan muda?" tanya Naina.


"Bukankah kita akan membeli helm," jawab Dennis.


Naina menoleh,ternyata ia berhenti di depan sebuah toko yang menjual helm.


Mereka berjalan masuk ke dalam toko.


Sang pelayan toko menyambut mereka dengan baik.


"Saya ingin helm untuk seorang wanita.Helm dengan kualitas paling baik," ujar Dennis.


"Baik,mas.Tunggu sebentar,kami ambilkan"


Naina mendekati Dennis.


"Tuan muda,cari helm paling murah saja" bisiknya kepada Dennis.Dennis tidak mempedulikan bisikan yang baru saja ia dengar,hanya seperti bisikan ghaib yang sekedar lewat.


Pelayan toko keluar membawa helm yang diminta Dennis.


"Ini,Mas" memberikan helm itu kepada Dennis.Helm dengan warna pink.


Dennis menyukainya.Tanpa bertanya harga,ia langsung mengeluarkan kartunya.

__ADS_1


"Maaf,Mas.Toko kami hanya melayani pembayaran tunai," ujar pelayan toko tersebut.


Dennis berpikir sejenak.


"Berapa harga helmnya?" Tanya Dennis.


"Satu juta,Mas"


"Satu juta?" Dennis terkejut.Terkejut karena tidak menyangka harganya hanya satu juta,ia berpikir barang yang dimintanya akan sangat fantastis harganya.


Jika hanya satu juta,ia punya tunai di dompetnya.


Tidak perlu berpikir lama karena ingin membeli yang lebih mahal pun tidak ada gunanya,toko ini hanya menerima uang tunai.


Segera ia mengeluarkan uang tunai dari dompetnya.


Sementara Naina,ia tidak kalah terkejutnya.Akan tetapi,terkejutnya beda.Ia merasa satu juta hanya untuk sebuah helm itu sangat mahal.


"Tuan muda,cari yang harga seratusan saja.Atau lima puluh ribu pun tidak apa-apa" bisiknya lagi kepada Dennis.Dennis tetap tidak peduli dengan bisikan itu,lagi-lagi hanya terasa seperti bisikan ghaib.


Dennis sudah membayar helm itu.Ia keluar dengan helm di tangannya.Naina hanya mengikutinya hingga mereka tiba di dekat motornya.


Spontan Dennis langsung memakaikan helm itu kepada Naina.


"Kenapa kamu terlalu banyak protes?"ujar Dennis seraya memasang pengaman helm itu di bawah dagu Naina.


"Karena ini terlalu mahal,Tuan muda," ucap Naina.


"Jika kamu sering protes,aku akan membelikanmu bersama dengan tokonya," ujar Dennis.


Mendengar ucapan Dennis,rasanya memang tidak bisa untuk dibantah.


"Ba-baik,Tuan muda.Saya tidak akan protes," ucapnya mengalah.


***


Tidak sampai setengah jam,akhirnya mereka sampai di sebuah kampus swasta tempat Naina menuntut ilmu untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang desainer.Tinggal satu semester lagi ia mendapat sebuah gelar.


"Di mana kelasmu?" tanya Dennis yang sudah memasuki gerbang kampus.


"Tuan muda,parkirannya ada di sana" Naina menunjuk arah parkiran.


"Atau ... saya turun di sini saja,Tuan muda." Sambungnya.


"Yang saya tanyakan,di mana kelasmu?" Dennis mengulang ucapannya.


"Di-di sana." Dengan terpaksa lagi Naina harus mengalah.Tanpa rasa malu sedikitpun,Dennis langsung masuk ke halaman kampus tersebut dan parkir di depan sebuah kelas yang di tunjuk Naina.Rasanya Naina sangat malu,semua orang menatapnya.


Dari balik dinding kaca lantai dua.Seorang lelaki gemulai berteriak histeris.


"Kiran ... Sini cepat,lihatlah si Maemunah" Teriaknya.


Kiran mendekat,betapa terkejutnya ia.


"Ayo ke bawah"Kiran menarik Rebecca,sebenarnya namanya Rion.Akan tetapi,karena sikapnya yang seperti wanita sehingga ia diberi nama Rebecca oleh teman-teman kelas Tata Busananya.


Sementara di bawah,Naina sudah sangat malu.Ia menjadi satu titik fokus pandangan orang.Tuan muda ini benar-benar berlebihan,menurutnya.


______


Jangan bosan-bosan tinggalkan jejaknya yah para readers.Like,koment,vote dll.Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2