
Sebentar lagi masuk Maghrib.Setelah pernikahan yang begitu mengharukan ini berlangsung,semua orang telah kembali.Termasuk Arka,ia langsung diantar kembali ke pesantren oleh sekretaris Ben.Tinggallah pasangan pengantin baru ini di dalam apartemen mewahnya.Naina menatap dirinya di cermin,hendak menghapus make up-nya.
"Jangan menghapusnya!"spontan Dennis tiba-tiba berada di belakangnya dan menahannya.
"Kenapa,Mas?"tanya Naina bingung.
"Tidak usah menghapus atau melepas kebayanya.Kita akan pergi ke suatu tempat."
Naina tidak mengerti dengan ucapan Dennis.
"Memangnya kita akan kemana?"Naina bertanya begitu pelan,ia penasaran akan dibawa kemana dirinya menggunakan kebaya seperti ini.
"Kita akan menemui Papa dan Mama,"tegas Dennis kemudian masuk ke dalam kamar mandi tanpa mendengarkan Naina yang hendak berbicara.
"Mas ...."Naina tidak melanjutkan ucapannya karena Dennis sudah menutup pintu kamar mandi.
Naina duduk ke ujung ranjang king size di dekatnya.Ia hanya mendengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi.Tiba-tiba hatinya kembali gelisah.Entah gelisah atau takut,rasanya semua bercampur aduk.Memikirkan ucapan Dennis tadi,rasanya ia belum siap untuk bertemu dengan Atmajaya dan istrinya,tepatnya mertuanya.
Ia bahkan belum pernah bertemu dengan Atmajaya dan Rita secara langsung kemudian ia akan datang sebagai seorang menantu yang sah,Naina benar-benar tidak ingin membayangkan reaksi kedua orang tua suaminya itu.Belum lagi yang ia ketahui,kalau dirinya tidak mendapatkan restu.Seketika ia lemas dan rasanya ingin menghilang saja.
Tidak berapa lama,Dennis keluar dari kamar mandi.Mendengar pintu kamar mandi terbuka,Naina tersadar dari lamunannya.Ia harus memperjelas kembali tentang ucapan Dennis tadi.
"Mas ...."Ia menoleh ke arah Dennis.
"Aghhh ...."Spontan ia berteriak melihat pemandangan di depannya.
Dennis yang hanya menggunakan handuk melilit ke pinggang dan sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di depan kamar mandi.Naina sangat malu melihat pemandangan ini,melihat sebagian tubuh atletis Dennis.Naina segera menoleh membelakangi Dennis.
"Hei,ada apa?mengapa kamu berteriak?"tanya Dennis tidak mengerti.
Keterlaluan,dia bahkan tidak menyadari perbuatannya.
Gumam Naina kesal.
Naina sepertinya lupa kalau dada bidang yang ia lihat itu sudah sah dan halal untuk ia pandang.
"Mengapa Mas Dennis keluar tanpa memakai baju?"tanyanya sangat polos.
Dennis menghentikan aktivitasnya mengeringkan rambutnya.Ia terkejut mendengar ucapan Naina.Senyum tersungging dari bibir tuan muda ini.
__ADS_1
"Untuk apa saya menyiapkan ruang ganti di kamar ini jika harus memakai baju di dalam kamar mandi,"balas Dennis pura-pura polos.
Iya juga yah ....
"Tapi,Mas.Aku kan ada di kamar ini,apa Mas Dennis tidak malu memperlihatkan ...."
Naina belum sempat menyelesaikan ucapannya tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Dennis yang seketika sudah berdiri di hadapannya.Spontan Naina menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Apa yang Mas Dennis lakukan?"tanyanya yang terdengar sangat menggemaskan.
Dennis tidak berucap satu katapun,ia hanya terus tersenyum melihat tingkah polos istrinya.Begitu sangat lucu baginya.
Dennis memegang tangan Naina dan menurunkan tangan yang menutup wajah istrinya itu.Walau demikian,Naina tetap bertahan menutup matanya dengan rapat.Dennis menatap wajah cantik di depannya,benar-benar sangat menggemaskan.
Sejurus Dennis meletakkan tangan Naina ke dada bidangnya.Betapa terkejutnya gadis polos ini,tidak henti-henti suaminya mengerjainya.
"Apa yang kamu lakukan,Mas?"ucapnya seraya berusaha melepas tangannya dari sana tapi sayang sekali,tangan Dennis terlalu kuat menggenggamnya.
"Buka matamu!atau tanganmu akan tetap berada di sini,"ancam Dennis.
Dengan terpaksa Naina membuka matanya secara perlahan,dada bidang telanjang itu hanya berjarak berapa centi saja di depannya.Ia menoleh ke arah lain.
"Apa kamu lupa statusku dan statusmu sekarang apa?atau kamu sedang tidur waktu aku melakukan ijab qabul tadi?"
Naina terdiam,menatap tubuhnya yang masih menggunakan kebaya.Melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.Sepertinya ia sudah menyadari dengan sikapnya tadi.Ia sudah menyadari bahwa dirinya adalah istri dari seorang Dennis Atmajaya,ia tidak sepantasnya bersikap seperti itu.
Naina mendekat ke arah pintu kaca dimana Dennis berada di dalam sana.Rasanya ia ingin meminta maaf akan sikapnya.Belum sempat ia masuk ke sana,ia melihat Dennis sedang melakukan shalat Maghrib di dalam ruangan itu,ruangan baju yang juga dilengkapi dengan mushollah kecil.Naina menghentikan langkahnya dan memilih menunggu di luar saja.
Beberapa menit kemudian,Dennis keluar dari pintu kaca.Terlihat begitu rapi dengan setelan blazer hitam yang menyerupai jas dan hanya menggunakan kaos hitam polos di dalamnya.
"Mas ...."Naina mencoba berbicara tetapi terdengar malu.
"Ma-maafkan sikapku tadi,saya belum terbiasa,"ucapnya gugup.
Dennis tersenyum dan mendekatinya.
"Tidak apa-apa.Saya bisa mengerti,"balasnya dengan memegang pipi istrinya.
"Ayo kita berangkat!"ucapan Dennis membuat Naina kembali merasa takut,apa ia benar-benar akan pergi menemui mertuanya sekarang?pikirnya.
__ADS_1
Ia tidak beranjak dari tempatnya.
"Kenapa?"tanya Dennis.
"Apa kita benar akan pergi ke rumah orang tuamu,Mas?"tanyanya untuk meyakinkan ucapan Dennis.
"Jangan berkata seperti itu.Mereka orang tuamu juga,tidak usah khawatir.Setidaknya mereka harus tahu kalau kita sudah menikah."
"Mengapa kamu berani melakukan ini?Bertindak sejauh ini tanpa memberi tahu mereka."Naina masih ragu dengan apa yang telah terjadi.
"Karena aku mencintaimu dan aku ingin mengakhiri perjuanganku,aku sudah sangat lelah."
Dennis memegang kedua lengan Naina.
"Kamu tahu,jika aku tidak melakukan ini maka dalam waktu dekat aku akan menikah dengan orang lain dan aku tidak mau itu terjadi.Aku sudah katakan kalau aku hanya mencintaimu dan tidak ada yang bisa menentang itu."
Mendengar ucapan Dennis,entah kenapa ada rasa cemburu di dalam hatinya.Rasa cemburu yang disertai rasa takut.
"Itu artinya sudah ada calon yang disiapkan untukmu dan kamu menolak itu?"tanya Naina lagi.
"Bukankah dulu sudah ku katakan kepadamu kalau aku menolak sebuah perjodohan hanya karena dirimu."
Seketika air mata Naina terjatuh.
"Itu artinya tidak ada ruang bagiku di hati orang tuamu,Mas.Dan wanita yang sudah dipilihkan untukmu pasti bukan wanita sembarangan,"lirihnya.Rasanya begitu sesak di dadanya.Ia semakin berkecil hati untuk datang membawa dirinya sebagai menantu.
"Hei ...."Dennis mengusap bulir bening itu.
"Kemarilah!"Membawa Naina ke dalam dekapannya.
"Kamu tidak usah memikirkan hal yang hanya akan membuatmu sakit hati,yang terpenting sekarang kamu sudah menjadi istriku,dan Allah sudah menakdirkan kita berjodoh.Siapa yang bisa melawan takdir itu?"Dennis terus meyakinkan Naina kalau dirinyalah yang terbaik dari wanita manapun,dari segalanya.
"Sudah,ayo kita temui mertuamu dan meminta restu mereka."Dennis berucap penuh keyakinan untuk menenangkan Naina.
"Bagaimana jika mereka tidak mengharapkan kehadiranku?"Naina terus saja memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada dirinya.
"Apapun yang akan terjadi,aku akan selalu bersamamu.Aku akan selalu melindungimu.Jika Mama dan Papa tidak mengharapkan kehadiranmu,itu artinya mereka juga tidak mengharapkanku,"tegas Dennis.
_____________ _____
__ADS_1
Hari ini uthor kasih tiga BAB yah,hehe.Sampai jumpa besok lagi.
Terima kasih atas antusiasnya selalu menunggu kisah Naina.Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah.