MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
You Are Mine


__ADS_3

Malam sudah menunjukkan pukul sebelas. Sekretaris Ben pun sudah kembali setelah tertahan akan sebuah makan malam yang begitu menggelitik, namun tetap dinaungi cinta. Apapun yang terjadi, apapun kondisinya, jika itu kebersamaan tuan muda dan nyonya mudanya maka bunga-bunga cinta akan terus bertebaran dengan indahnya.


Sudah waktunya istirahat bagi seluruh penduduk bumi setelah beraktivitas seharian, begitupun dengan kedua asisten yang sudah kembali ke kamar mereka.


Suasana hening mulai terasa di kamar utama apartemen mewah ini. Jika membuka jendela, sebenarnya pemandangan kota masih sangat ramai. Namun, di sini ... di kamar ini sudah dirancang sedemikian heningnya oleh keadaan.


Dennis keluar dari kamar mandi, menatap ke sekeliling kamar yang masih sama pada saat sebelum ia masuk ke kamar mandi. Sudah begitu lama istrinya di ruang ganti, pikirnya.


"Sayang ...." Berjalan ke arah pintu kaca kemudian menggeser pelan pintu itu. Masuk ke dalam dan berhenti di depan pintu kaca lagi, tampak sosok wanita dengan lingerie yang begitu sexi sedang memandang tubuhnya di depan cermin. Dennis tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, seakan takjub dengan mahakarya begitu indah yang tidak jauh dari pandangannya kini. Walau hanya dari arah belakang, punggung dan paha putih mulus itu begitu menggodanya, lingerie berbahan satin yang menerawang sungguh tidak bisa membuatnya tertahan.


"Mengapa lama sekali?" Pertanyaannya membuat Naina sangat terkejut, ia tidak menyadari kehadiran suaminya yang tidak tertangkap oleh cermin di depannya.


Seketika gadis ini menyilangkan kedua tangan untuk menutupi garis dadanya, lingerie terkutuk ini sungguh begitu sangat sexi.


Tidak membuang waktu untuk sebuah pelukan yang sudah mendarat dari arah belakang. Pelukan itu menurunkan tangan yang menutupi tubuhnya. Terpampang dengan indahnya tubuh yang begitu sexi dari arah pantulan cermin.


"Apa sudah siap?" Bisikan yang membuat bulu kuduk Naina merinding karena begitu tepat menyentuh telinganya.


"Siap? siap apa, Mas?" Naina sungguh begitu sangat malu.


"Lalu, mengapa memakainya jika belum siap?" Lagi-lagi bisikan yang begitu membuatnya sangat merinding.


Sejurus, tubuh langsingnya sudah terangkat dan berada dalam gendongan, dengan cepat Naina berpegang pada leher yang menggendongnya karena takut terjatuh.


Hanya berapa langkah, tanpa ia sadari tubuhnya sudah berada di atas tempat tidur.


Wajah gadis ini seketika pucat pasih. Berada tepat di bawah kungkungan suaminya kini, membuatnya tersingkap malu-malu.


Hembusan pendingin ruangan seakan mengantar keduanya pada keadaan yang semakin memompa darah lebih cepat. Naina menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Please, jangan!" tahan Dennis.


"Aku sungguh malu, Mas," lirih Naina dengan ludah yang sangat sulit untuk tertelan.

__ADS_1


Senyum merekah tampak dari bibir Dennis, entah mengapa suara istrinya begitu terdengar eksotis.


"Aku tidak mampu lagi untuk menundanya, kita akan melakukannya malam ini, Sayang!" Suara Dennis yang juga begitu terdengar berbeda di telinga Naina, sepertinya perasaan aneh sudah memenuhi keduanya.


"Tapi, aku tidak tahu--"


Dennis langsung membungkam bibir merah muda itu menggunakan bibirnya. Semakin berbicara, Naina semakin menggodanya.


"Kita akan belajar bersama, Sayang." Menjawab apa yang membuat Naina ragu.


Sebuah ciuman kembali mendarat lagi ke bibir Naina. Berbeda dengan sebelumnya, kini Naina menyambut kedatangan bibir itu. Membalas pagutan itu dengan senang hati. Membuka ruang lebih dalam, mendesahkan suara eksotisnya di dalam rongga bibir suaminya.


Membuat keduanya pada puncak keinginan untuk saling memiliki.


Desahan nafas itu masih terdengar memburu ketika Dennis melepas pagutannya dan mendaratkan satu kecupan ke leher istrinya.


Menyingkap lingerie berbahan satin itu dengan pelan, tatapannya terarah lurus pada kulit mulus istrinya. Langsung menghujani kulit mulus itu dengan kecupan-kecupan mesranya. Naina semakin malu ketika Dennis menurunkan tali yang menutup aset berharganya tepat pada bagian atas. Namun, ingin menghentikannya juga tidak mampu. Rasa meminta untuk melanjutkannya lebih menguasainya kini.


Saat ini, puncak itu terlihat nyata di hadapan Dennis. Matanya menatap semakin sendu, belum ia nikmati tetapi bak buah anggur yang begitu manis, sangat sulit menelan ludahnya. Sungguh hidangan pembuka yang tak bisa ditolak.


Ruangan mewah itu, kini dipenuhi erangan yang tidak dapat tertahan dari keduanya. Tidak ada lagi rasa malu, tidak ada lagi rasa sungkan, yang ada hanyalah rasa ingin memiliki satu sama lain.


Dennis berhenti sejenak, dengan gerakan cepat melepas kemudian melempar helai kain yang menutupi mereka berdua, kini keduanya sudah tidak ada penutup lagi walau segaris benang pun. Dennis kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Sang tuan muda siap mengambil apa yang menjadi haknya.


Dennis kini kembali pada posisinya, Naina menyambutnya dengan dekapan pada punggung suaminya. Sungguh, hanya sentuhan seperti itu saja membuat Dennis merasakan sensasi yang luar biasa.


Dennis turun ke bawah, menghujani perut rata istrinya dengan kecupan terbaiknya.


Kembali menatap bola mata istrinya yang kini juga sudah terlihat sendu.


"Sayang, aku akan melakukannya. Ini akan sedikit sakit di awal tapi akan baik setelahnya, nikmatilah!"


Naina membalasnya dengan anggukan kecil pertanda lintasan sudah ia buka dengan rela hati, dengan sepenuhnya bersama cinta yang ia miliki untuk suaminya.

__ADS_1


Dennis segera memposisikan senjatanya, dan kini tepat sudah berada di sana. Sungguh sangat pelan ia melakukannya, senjata itu tidak tega jika sasarannya begitu akan teramat sakit menerimanya, dengan bibir kembali bermain pada buah anggurnya agar bisa menyelaraskan sensasi dalam diri istrinya. Untuk pertama kali bagi tuan muda ini tetapi di usianya yang sudah sangat matang sungguh pandai dalam memberikan yang terbaik untuk tidak menyakiti istrinya.


Pelan-pelan berhasil menerobos pertahanan istrinya dengan sekali hentakan, selaput kesucian ia bisa rasakan telah ia lewati. Berhenti sejenak kemudian mendaratkan wajahnya ke telinga istrinya. Ada rasa bangga dan haru pada diri tuan muda ini, pilihannya tidak salah. Ia sudah yakin kalau istrinya bukan salah satu dari wanita-wanita murahan itu. Dia adalah orang pertama yang mendapatkannya, menjamah dan mengambil kesucian itu. Satu kecupan penghargaan ia berikan ke pipi istrinya dengan segala kebanggaannya.


Sementara, gadis ini tertegun seketika. Merasakan sesuatu sudah menembus pada aset paling berharganya. Dennis merasakan sedikit bulir bening pada ujung manik mata istrinya.


"Maafkan aku, apa itu sakit?" tanya Dennis sedikit khawatir.


"Kamu melakukannya sangat baik, Sayang. Terima kasih." Jawaban Naina seketika mengembalikan rasa panas kembali membuncah.


Dennis tersenyum kemudian kembali menggerakkan senjatanya perlahan, bermanuver begitu indahnya. Gerakan pelan demi pelan ia berikan membuat keduanya seperti berangkat ke angkasa nirwana dalam seketika. Rasa yang tidak ingin terhenti, terus mendominasi di bawah sana.


Nafas keduanya mulai terengah seiring pergerakan yang begitu semakin nikmat saja. Buah anggur itu tidak akan di diamkan begitu saja, kembali ke sana. Kini ada dua fokus yang membawa mereka ke ambang batas sadar.


"Sayang ...." Dennis semakin merasa gila dengan setiap sensasi yang menerpa dirinya.


Di sela desahan dan erangan yang begitu semakin membuncah bagi keduanya, Dennis kembali memagut kasih pada bibir istrinya dengan sepenuhnya cinta yang begitu dalam mengiringinya.


Melepas pagutannya, kemudian menenggelamkan wajahnya pada telinga istrinya. Ia merasa sudah hampir sampai.


"Sayang, rasanya sudah di ujung," lirihnya di telinga istrinya.


"Lakukan, Sayang!" balas Naina dengan desahan yang begitu semakin kuat. Membuat Dennis tidak bisa menahannya lagi hingga melepas semuanya ke dalam sana. Erangan yang begitu kuat terdengar di telinga Naina.


Tubuh Naina ikut menegang seketika tepat saat Dennis mengeluarkan yang tertahan sejak tadi, ia kemudian melepaskannya juga dengan segala kenikmatannya. Kini dua kehangatan sedang menyatu di dalam sana penuh cinta. Deru nafas saling memburu diantara keduanya setelah pelepasan yang begitu indah.


"Terima kasih sudah menjaganya untukku," lirih Dennis sangat bersyukur dengan berlian yang ia dapatkan.


"You are mine, Honey!" sambungnya kemudian mengecup mesra kening istrinya.


Naina hanya mengangguk seraya tersenyum, bulir bening haru kembali menjatuhi ujung matanya kemudian memeluk suaminya. Sungguh malam yang begitu sangat indah dengan segala kenikmatannya.


________ _____ ________________

__ADS_1


Satu BAB ketegangan, author persembahkan untuk para reader kesayangan. Berikan vote, like, dan komentar terbaik kalian yah. Hehehe.


Kecup sayang untuk kalian semua dari Naina dan Dennis. Muah😘


__ADS_2