MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Pelukan


__ADS_3

Malam sudah menunjukkan pukul 09.00 waktu setempat.Naina masih berada di ruang pemeriksaan.Sementara di tempat lain,di sebuah ruangan yang juga berada di gedung penegak hukum itu,seorang lelaki tampan dengan setelan jas yang masih melekat pada tubuhnya,terus saja mondar-mandir bak setrikaan dengan segala kecemasannya.


"Tuan Muda,minumlah dulu!" Sekretaris Ben mendekat dengan air mineral di tangannya.Sekretaris ini tahu kalau Tuan mudanya sedang dalam keadaan yang tidak baik.


Dennis mengambil air mineral itu kemudian duduk di sofa dan meneguknya,terlihat hanya dua tegukan saja kemudian meletakkan air tersebut ke atas meja di hadapannya.


"Sekretaris Ben,mengapa dia sangat lama?" tanyanya pada sekretarisnya.


Dia sangat khawatir pada Naina tetapi keadaan tidak memperbolehkannya masuk ke ruangan tempat Naina berada.Itu sudah menjadi prosedur hukum.


"Sabarlah,Tuan muda!biarkan polisi bekerja," ujar sekretaris ini menenangkan tuan mudanya.


Tidak berselang lama,pintu ruangan tempat kedua lelaki berjas ini menunggu, terbuka.Terlihat seorang Ajun Komisaris Polisi dari balik pintu.


"Rangga." Dennis berdiri dari duduknya setelah melihat adik iparnya ini datang.


Rangga masuk ke dalam ruangannya,tempat Dennis dan sekretaris Ben menunggu sejak tadi.Disusul seorang wanita dengan kepala tertunduk dari belakang punggung Rangga.Naina terlihat masih dalam keadaan takut,sepertinya ia sedikit trauma dengan apa yang sedang menimpanya.Hampir saja ia kehilangan kesuciannya oleh lelaki hidung belang,jika itu terjadi mungkin ia akan lebih memilih mati saja.


"Naina." Dennis beranjak dari tempatnya berdiri.


Akhirnya yang ia tunggu-tunggu datang juga.Tuan muda ini tampak sangat panik melihat keadaan Naina yang dengan wajah yang pucat pasih.


Mendengar namanya disebut,Naina mengangkat kepalanya melihat ke arah sumber suara.Matanya terlihat sendu menatap ke arah Dennis,sejurus ia berhambur memeluk pemilik suara yang memanggilnya tadi.


"Mas ...." Naina seperti tidak sadar dengan apa yang ia lakukan.Ia menangis dengan mendekap erat tubuh lelaki yang menyebut namanya tadi.Naina tidak peduli apapun,mendekap Dennis seperti ini membuatnya seperti berada dalam perlindungan yang baik,Dennis sudah seperti malaikat tak bersayap baginya.


Rangga dan sekretaris Ben terkejut melihat pemandangan ini,tidak kalah terkejutnya Dennis,ia tidak percaya kalau Naina akan berhambur memeluknya seperti ini.Gadis yang walau tinggal di lingkungan Zona X tetapi selalu menjaga jarak dirinya dengan seorang lelaki,saat ini sedang memeluk erat kaum yang pantang baginya untuk ia sentuh.


Apa setakut itu dirinya saat ini hingga langsung memeluk seperti ini,pikir Dennis.


Pelan-pelan Dennis memegang kedua bahu Naina yang masih terisak dengan wajah yang rapat ke dalam jasnya.


"Tenanglah!sekarang kamu sudah aman.Tidak akan ada yang berani melakukan ini lagi kepadamu," ucap Dennis menenangkan gadisnya yang sejak tadi membuatnya khawatir.

__ADS_1


Naina melepas pelukannya.


"Terima kasih,Mas.Saya tidak tahu jika Mas Dennis tidak segera mendatangkan polisi untukku." Naina terus saja terisak jika mengingat kejadian buruk yang baru saja menimpanya.


Dennis menarik nafas dalam.


"Rangga,katakan!siapa orang dibalik semua ini?" Dennis bertanya penuh penekanan,rasanya ingin menghabisi orang-orang yang sudah menjebak Naina seperti ini.


"Para penyidik sudah mengantongi nama,Kak Dennis tidak perlu khawatir!biarkan para polisi bekerja," jawab Rangga.


"Pastikan mereka membusuk di penjara!"tegas Dennis penuh amarah.


Sementara Naina hanya terdiam.Ia sedikit iba jika Lora benar akan mendekam di balik jeruji,tetapi ia tidak bisa berbuat banyak untuk itu dan rasanya ini memang ganjaran yang harus Lora terima.


***


Naina sudah berada di dalam mobil menuju pulang ke rumah sakit.Hati gadis ini sudah jauh lebih baik dari yang tadi.Ia duduk di kursi belakang bersama lelaki yang baginya pangeran dengan segala perlindungan kepada dirinya yang malang.


"Mengapa tidak memberi tahuku jika akan pergi ke tempat itu?" Dennis mulai berbicara,ia sedikit kecewa dengan sikap Naina yang mengambil keputusan sendiri,keputusan yang bodoh.


"Apa lelaki brengsek itu menyentuhmu?" tanya Dennis lirih namun terdengar tegas,rahangnya mengunci,isyarat amarah seperti ingin menghabisi siapapun yang memperlakukan gadisnya seperti ini.


"Tidak,Mas.Aku beralasan masuk ke dalam toilet.Sebisa mungkin mengulur waktu sampai ada pertolongan yang datang padaku dan syukurlah Mas Dennis dengan cepat mengirim polisi ke sana," jawab Naina.


"Tadinya saya sedikit khawatir karena polisi ingin membawaku,ku pikir mereka akan memenjarakanku juga," lanjutnya lagi.


Dennis menarik bibir sekali,entah itu senyum atau apa.


"Mana mungkin mereka memenjarakanmu," ucap Dennis.


"Tapi kalaupun mereka memenjarakanku,aku lebih rela daripada aku harus disentuh dan kehilangan ...." Naina belum selesai.


"Stop,tidak usah melanjutkannya." Dennis memotong ucapan Naina.Ia tidak ingin mendengar sesuatu yang buruk itu.Bahkan membayangkannya saja ia tidak akan mampu.

__ADS_1


Mobil akhirnya tiba di rumah sakit,parkir tepat di depan pintu masuk rumah sakit.


"Maaf,malam ini saya tidak bisa menemanimu karena besok pagi ada meeting penting yang saya dan sekretaris Ben harus hadiri.Kamu tidak usah khawatir,di depan pintu sudah ada dua pengawal yang berjaga untukmu dan paman Harun," ucap Dennis sebelum Naina turun dari mobil.


"Itu saja sudah lebih dari cukup,Mas." Naina merasa sudah sangat merepotkan bahkan harus menggunakan pengawalan segala.Rasanya ia sudah lebih dari seorang ratu.


"Ya sudah,Mas.Aku masuk,terima kasih banyak.Mas Dennis hati-hati!" balasnya dan hendak turun dari mobil.


Dennis menahan pergelangan tangan Naina.Gadis ini menoleh ke arah tangannya,segera Dennis melepaskan genggaman itu.Rasanya ia tidak ingin berpisah dari Naina.


"Jangan pernah melakukan sesuatu yang akan membahayakanmu!ingat,ada orang yang selalu mengkhawatirkanmu," ucap Dennis begitu tulus,menembus sampai ke lubuk terdalam bagi Naina.


Naina hanya tersenyum.


"Iya,Mas.Terima kasih atas segalanya," balasnya dan segera turun.


Sekretaris Ben menutup pintu mobil.


"Selamat malam,Nona," ucapnya pada Naina.


"Selamat malam,Mas Aben.Terima kasih."


Sekretaris Ben hanya tersenyum dan berjalan ke arah pintu kemudinya.


Naina berjalan masuk ke rumah sakit,naik ke lantai atas dimana pamannya dirawat.Ia keluar dari lift dan menyusuri lorong,dari jauh ia sudah melihat dua orang berdiri di depan pintu kamar pamannya dengan setelan jas yang rapi.


Seperti ini pengawalan untuknya,pikirnya.


Ia tidak menyangka akan mendapatkan pengawalan seperti ini,layaknya seorang putri pejabat nomor satu negeri ini.


Naina tiba di sana.Memberikan senyum terbaiknya kepada dua orang pengawal tersebut.


"Silahkan,Nona." Salah satu pengawal membukakan pintu ruangan untuknya.

__ADS_1


Naina benar-benar terkesan.


__ADS_2