MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Mas Dennis


__ADS_3

Hampir satu jam setelah Rita pingsan akhirnya ia kembali sadarkan diri.Pelan-pelan membuka mata,tampak Azea dan dokter Adrian di dekatnya.Sementara Dennis,Rangga dan Atmajaya berdiri di ujung tempat tidur yang berada di kamar tamu.


"Syukurlah,akhirnya Nyonya Rita sudah sadar,"ujar dokter keluarga Atmajaya ini.


Rita mencoba untuk bangun,matanya terlihat menyipit seperti menahan sakit.Menggerakkan tubuhnya ingin duduk bersandar tapi rasanya masih sangat berat,kepalanya sangat sakit.


"Maaf,Nyonya.Sebaiknya Nyonya Rita istirahat saja,jangan banyak gerak dulu."


Dokter Adrian memberikan Rita nasehat,sebagai seorang dokter ia tahu kalau Rita belum pulih betul.


Azea mendekat menahan mamanya yang hendak bangun.


"Mah,jangan banyak gerak dulu.Mama baru sadar,tadi mama pingsan.


Dengan kepala yang terasa sangat berat,Rita membaringkan kembali tubuhnya mengikuti ucapan Azea dan dokter Adrian.Rita masih terdiam,matanya tertuju pada Dennis yang berdiri tepat di ujung kakinya bersama Rangga dan Atmajaya.


Kembali terlihat raut wajah yang tidak baik dari Rita,hatinya kembali sakit.Ia tidak akan pernah terima jika putra satu-satunya itu memilih istri dari tempat seperti Zona X.Buliran bening terjatuh dari manik matanya,tidak ingin membayangkan putranya akan bersanding dengan wanita dari tempat nista itu.Apa kata keluarga besarnya nanti?bagaimana pandangan orang-orang di negeri ini yang sudah mengenal keluarganya sebagai keluarga terhormat tetapi memiliki menantu dari Zona X,wanita yang tidak jelas asal-usulnya.Rasanya kepala Rita ingin pecah dengan semua yang ia pikirkan.


Suara tapakan sepatu pada lantai marmer mendekatinya.


Dennis duduk di atas tempat tidur di samping mamanya.Langsung saja Rita memalingkan kepalanya,tidak ingin menatap Dennis.


"Mah,maafkan saya.Saya tidak ada niat sedikitpun menyakiti hati Mama.Tolong jangan seperti ini,Mah."


Sekalipun Dennis memohon seperti apa,Rita tetap pada pendiriannya.Tidak akan pernah luluh untuk merestui Dennis dengan wanita dari Zona X itu.


"Tinggalkan Mama!Mama tidak ingin mendengar apapun darimu," balas Rita yang sama sekali tidak menoleh.


"Mah ...." Belum selesai Dennis berbicara,tiba-tiba Rita bersuara lantang dengan nada seperti ia paksa.


"Cukup!Mama tidak ingin mendengar apapun,Dennis." Rita kembali seperti menahan sakit di kepalanya.


"Kak,sebaiknya Kakak keluar saja." Azea mendekat dan berbisik pada Dennis.


"Maaf,Tuan muda.Sebaiknya Tuan muda mengalah saja demi kesehatan Nyonya Rita," ucap dokter Adrian dengan suara pelan.


"Dennis." Suara pelan Atmajaya seraya menganggukkan kepala pada putranya itu pertanda menyuruh Dennis untuk keluar dari kamar ini demi kesehatan istrinya.


Dennis berdiri dari duduknya.


"Tolong jaga Mama," ucapnya pada Azea dan meninggalkan kamar tamu itu.


Ia langsung menuju kamarnya di lantai dua dengan segala kegundahan hatinya.


***

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.Dennis masih duduk di balkon kamarnya menatap lampu-lampu kota yang beratapkan bintang-bintang,ia tidak bisa memejamkan mata,duduk di balkon kamar ini dengan sofa kecil panjang membuatnya jauh lebih baik.Ponsel di tangannya masih ia putar-putar sejak tadi,rasanya ingin menelfon tapi juga ragu.Akan tetapi,ia harus bicara untuk kembali meyakini hatinya jika Naina memang sudah tepat untuknya.


Menempelkan ponsel ke telinganya,sambungan telefon sudah terhubung tetapi belum ada jawaban.


Ah,bodoh ... pasti dia sudah tidur.


Gumamnya mengatai dirinya sendiri.Baru saja ia ingin mematikan panggilannya tiba-tiba ada suara dari balik telefon itu.


"Assalamualaikum,Tuan muda." Naina mengangkat telefon,suaranya tidak terdengar layaknya orang yang sudah tertidur.


"Waalaikumsalam.Ma-maaf,sepertinya aku sudah mengganggumu," ucap Dennis yang menyesal sudah menelpon Naina,ia tahu kalau ia sudah salah menelpon di jam seperti ini,ini sudah jam tidur.


"Santai saja,Tuan muda.Saya belum tidur soalnya baru selesai beres-beres rumah,baru sehari saya sakit tapi rumah sudah seperti di tinggal setahun," ucap Naina santai dengan sedikit nada cerianya.


"Beres-beres rumah?apa kamu tahu kalau kamu tidak boleh terlalu capek?apa kamu lupa ucapan dokter Adrian?" Suara Dennis seperti kesal,ia khawatir dengan keadaan Naina yang baru sembuh tapi malah kembali beraktivitas bahkan selarut ini.


"Astaga,Tuan muda.Saya hanya beres-beres rumah,bukan ikut lari maraton." Naina berbicara santai saja,ia merasa beres-beres rumah itu hanyalah pekerjaan kecil.


"Memangnya di rumahmu itu hanya ada kamu?kan ada Neta,ada Arka juga,tante kamu.Mengapa harus kamu yang mengerjakannya?kamu itu harus istirahat."


"Kalau saya harus istirahat,lalu kenapa Anda menelponku?" Naina menyerang Dennis balik.


"Karena aku ...." Dennis gelagapan,tidak tahu harus menjawab apa.


"Karena apa,Tuan muda?" suara Naina terdengar seperti menggoda dengan sedikit tawa ejekan.


"Kenapa Anda diam,Nona.Apa aku salah jika merindukan suara kekasihku." Kali ini suara Dennis yang terdengar menggoda dengan sedikit tawa kecil yang ia perdengarkan.Naina masih tidak bisa berbicara.


Sekian detik telah berlalu,tidak ada suara sedikitpun dari Naina maupun Dennis.


"Naina ...." Dennis mulai berbicara seperti ingin mengatakan sesuatu yang sangat serius.


"I-iya,Tuan muda."


"Kamu sudah menjadi kekasihku tapi aku belum pernah mendengar ucapan jika kamu mencintaiku."


"Apa kalimat itu penting,Tuan muda?" Naina merasa sangat malu jika harus membalas kalimat cinta Dennis dengan kalimat cinta juga.Ia tahu siapa dirinya,ia merasa tidak pantas mengatakan itu.Bahkan dicintai oleh seorang Dennis Atmajaya saja terkadang masih ia pikirkan,ia benar-benar tidak menyangka.


"Saya hanya ingin mendengarnya."


Tolong bantu semangati diriku untuk memperjuangkan hubungan kita,Naina.


"Sa-saya tidak bisa mengatakannya,Tuan muda." Terdengar suara seperti malu dari balik telepon sana,itu yang Dennis tangkap.


"Mengapa tidak bisa mengatakannya?Atau mungkin cintaku bertepuk sebelah tangan?Apa kamu menerimaku menjadi kekasih karena terpaksa?"Dennis menyerang pertanyaan kepada Naina.Ia tahu bukan itu alasan Naina,ia hanya ingin menggoda Naina agar mengatakan apa yang ia ingin dengar.

__ADS_1


"Tuan muda,bukan seperti itu.Ta-tapi aku sangat malu," ujar Naina sangat pelan.


Ada senyum dari bibir tuan muda ini.


"Tuan muda,tolong jangan memaksaku mengatakannya!Tuan muda bisa menyuruhku mengatakan kalimat yang lain,tapi jangan yang itu" Naina mulai merengek membuat Dennis semakin tersenyum.


"Baiklah,jika kekasihku ini tidak bisa mengatakan kalau dia mencintaiku maka suruh dia berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan muda.Kekasih macam apa yang memanggil kekasihnya dengan sebutan seperti itu," tegas Dennis.


"Hah ...?" Naina sangat terkejut mendengarnya.


"Tapi,bukankah semua orang memanggil Anda dengan sebutan seperti itu," sambung Naina.


"Lihatlah,bahkan kamu menyamakan dirimu dengan semua orang.Apa semua orang juga kekasihku?" balas Dennis kesal.


Ada senyum dari bibir Naina.


"Lalu,aku harus memanggil Anda dengan sebutan apa?"Naina mencoba menenangkan Dennis dari kekesalannya.


"Terserah,asal jangan Tuan muda," balas Dennis.


"Pak Dennis?" Naina kembali membuat Dennis naik pitam.Sepertinya Naina senang mengerjai Dennis.


"Pak?sekalian saja memanggilku bos atau juragan," balas Dennis.


Terdengar suara Naina tidak bisa menahan tawa dan tiba-tiba ia menutup mulut karena Neta yang sudah di sampingnya tertidur tiba-tiba terbangun.


"Ah,Kak Naina telefonan dengan siapa?berisik," rengek Neta kemudian melanjutkan tidurnya.


"Makanya jangan menertawaiku.Lihatlah,Neta memarahimu," ucap Dennis.


"Ya sudah,aku matikan telefonnya.Assalamualaikum." Langsung saja Naina mematikan telefon sepihak.


"Eh ...." Dennis masih ingin berbicara tapi panggilannya sudah terputus.


"Dasar Maemunah.Waalaikumsalam." Menatap ponselnya dengan tersenyum.


Tidak lama kemudian tiba-tiba sebuah chat masuk ke aplikasi pesannya.


^^^Maaf,saya mematikan teleponnya sepihak.Istirahatlah!besok kita harus bekerja.Selamat malam,Mas Dennis.^^^


Begitu isi pesan dari Naina.Dennis tidak henti-hentinya mengulang dua kata terakhir dari isi pesan itu.'Mas Dennis' dua kata itu membuat Dennis sangat bahagia.


Dennis membalasnya dengan satu caption berbentuk hati yang berwarna merah.Gambar hati yang menandakan cinta itu sudah mewakili semua perasaannya malam ini.


________________

__ADS_1


Maaf sempat terhenti up selama beberapa hari,kesibukan author semakin padat merayap🙏hehe.


Insya Allah mulai hari ini kita akan up-up lagi.Berikan dukungan terbaik kalian yah para readers kesayangan.Terima kasih🙏🥰


__ADS_2