MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Tamu Yang Tak Disangka


__ADS_3

Kesibukan masih terus berlanjut di dapur mewah ini, brownies cake yang begitu menggugah selera dengan topping almond,buah strawberry dan buah kiwi menambah keindahan kue yang begitu istimewa ini. Sedikit saus fla berbentuk garis lengkungan akan menjadi sentuhan terakhirnya nanti. Kue ini kembali di masukkan ke dalam oven untuk beberapa detik saja.


"Nyonya muda, kami pikir kue ini sudah selesai?" tanya Mimi yang melihat Naina memasukkan kembali kue itu ke dalam oven.


"Sebentar saja, tidak sampai satu menit agar toppingnya lebih gurih," jawab Naina terdengar seperti seorang koki handal.


"Nyonya muda hebat sekali, kue ini sudah seperti di toko-toko mahal itu," puji Lilis yang kagum akan kehebatan Nyonya mudanya.


"Aku kan sudah bilang, aku pernah kerja di toko kue. Walau hanya pengantar kue tapi aku sering masuk sampai ke dapur mereka jika belum ada antaran." Naina terus memperhatikan kuenya dari luar kaca oven.


Tiba-tiba bel berbunyi, sepertinya di luar ada tamu. Para wanita ini saling menatap.


"Apa itu Mas Dennis?" lirih Naina kemudian melihat jam dinding yang berada di dekat dapur setnya. Jam empat sore, bukankah suaminya akan tiba di rumah setelah Maghrib nanti, pikirnya. Tidak peduli, ia segera berlari kecil keluar. Tidak sabar bertemu dengan lelaki yang sudah berhasil merebut hatinya.


Dengan gerakan lari kecil penuh bahagia, ia sampai ke pintu. Ditatapnya layar dekat pintu, jantungnya seketika ingin berhenti. Betapa terkejutnya ia melihat siapa yang berada di luar sana sedang menunggu untuk dibukakan pintu. Papa suaminya, lebih tepatnya adalah mertuanya, tuan Atmajaya.


Tidak kalah terkejutnya kedua asisten yang mengikutinya.


"Nyonya muda, tu-tuan besar," ucap Mimi gelagapan.


Naina menatap kedua asistennya, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Bel kini kembali berbunyi, wajah sang tuan konglomerat sudah tampak tidak nyaman karena terlalu lama menunggu.


Naina mengatur nafas terlebih dahulu kemudian pelan-pelan memegang gagang pintu dengan deru detakan jantung yang memburu.


Pintu terbuka, tampak wajah paruh baya yang begitu penuh wibawa. Di belakangnya berdiri dua orang bodyguard berseragam hitam. Hanya ada tiga orang di hadapannya, artinya istri Atmajaya atau mama mertuanya tidak ikut ke sini.


"Assalamualaikum," sapa Atmajaya dengan suara pelan namun tetap terdengar mendebarkan bagi seorang Naina.


"Wa-waalaikumsalam, Tuan," jawab Naina yang tidak berani menatap mata tajam di hadapannya.


"Apa saya boleh masuk?" tanya Atmajaya.


"Te-tentu saja, Tuan. Ini rumah Anda," jawab Naina dengan cepat kemudian memberi ruang untuk Atmajaya berjalan masuk.


"Silahkan, Tuan," sambungnya merentangkan tangannya dengan sopan.

__ADS_1


Tapakan sepatu mengkilap Atmajaya terdengar berjalan masuk. Naina mengikuti dari belakang, walau sebenarnya dialah pemilik rumah, namun berat baginya jika mendahului sang tuan konglomerat di hadapannya.


"Selamat sore, Tuan besar," sapa Mimi dan Lilis dengan kompak. Kedua asisten ini sudah sangat mengenali Atmajaya dan keluarganya.


"Selamat sore, apa kalian juga tinggal di sini?" tanya Atmajaya.


"Iya, Tuan besar. Kami diperintahkan oleh tuan Ben dan tuan muda untuk manjadi asisten rumah tangga Nyonya muda," jawab Mimi.


Atmajaya kembali berjalan dengan pandangan menyusuri ruangan tamu di hadapannya. Ia merasa apartemen putranya ini tampak lebih hidup, ia merasakan aura baik di sini. Langsung saja ia duduk di sofa. Sementara Naina, ia masih berdiri kikuk di hadapan mertuanya.


"Kenapa hanya berdiri di sana, duduklah!" seru Atmajaya.


Debaran di dada Naina semakin tidak terkontrol, apa maksud kedatangan papa mertuanya ini? apa ia akan disidang atau kena marah? semua pikiran tidak baik sedang memenuhi otaknya saat ini.


"Apa tidak sebaiknya saya buatkan minuman untuk tuan dulu?" dengan gugup Naina mencoba berbicara untuk mengalihkan perasaan takutnya.


"Itu bukan pekerjaanmu, biarkan mereka berdua yang melakukannya," ujar Atmajaya dengan menatap Mimi dan Lilis. Kedua asisten ini yang bermaksud ingin tetap di sana untuk menguping dan memberikan laporannya kepada Dennis, akhirnya dengan cepat berbalik dan menuju dapur. Tuan Atmajaya sedang menyinggungnya untuk membuat minuman.


"Duduklah!" seru Atmajaya lagi kepada Naina.


"I-Iya, Tuan." Dengan rasa gugup yang terus menyerang dirinya, akhirnya ia duduk di sofa tepat di hadapan lelaki yang begitu di segani di negeri ini.


"Kemungkinan malam ini, Tuan," jawab Naina yang sama sekali tidak berani menatap lelaki yang sudah menjadi papa mertuanya ini.


Mimi sudah keluar dengan membawa dua gelas minuman berwarna oranye. Diletakkan minuman itu ke meja dengan sopan.


"Silahkan, Tuan besar, Nyonya muda."


"Hhmmm" Naina hanya mengangguk.


"Terima kasih," ujar Atmajaya kepada Mimi.


Mimi sudah meninggalkan ruang tamu yang penuh ketegangan itu, ia bisa merasakan perasaan nyonya mudanya saat ini.


Kedua asisten ini bukannya ke dapur malah berdiri dari balik dinding yang bersebrangan langsung dengan ruang tamu. Mereka harus tahu pembicaraan di ruang tamu itu untuk laporan mereka nanti.

__ADS_1


Sementara di ruang tamu.


"Apa benar orang tuamu sudah tiada? maaf jika pertanyaanku melukaimu," Atmajaya kembali bertanya, benar saja dugaan Naina kalau kedatangan papa mertuanya ini untuk menyidang dirinya. Namun, ia tidak menyangka kalau Atmajaya akan menjaga perasaannya dengan meminta maaf terlebih dahulu. Apa ini pertanda baik baginya? pikirnya.


"Tidak masalah, Tuan. Tidak perlu meminta maaf seperti itu." Naina merasa sikap mertuanya dengan meminta maaf terlebih dahulu membuatnya merasa tidak nyaman.


"Iya, Tuan. Orang tuaku sudah meninggal sejak usiaku 10 tahun dan adikku masih 1 tahun. Kecelakaan mobil merenggut nyawa mereka hingga akhirnya kami diasuh oleh paman," jawab Naina. Walau ia terlihat tegar menjawab, namun jika mengingat sepeninggalan orang tuanya tetap saja membuatnya sakit tapi ia tetap harus terlihat baik di depan papa mertuanya.


"Di Zona X?" lanjut Atmajaya bertanya.


Naina hanya mengangguk pelan.


"Mengapa takdir harus membawamu ke sana." Terdengar ucapan Atmajaya sangat lirih namun didengar Naina dengan baik. Atmajaya kemudian meraih gelas berisi minuman di hadapannya.


Kalimat Atmajaya tadi seperti kalimat yang begitu peduli, seperti ada rasa kasihan dari nada suara lelaki penuh kharisma wibawa ini.


Andai bisa aku perotes, aku juga ingin mengutuk tempat itu. Andai bisa ku putar waktu, aku juga tidak ingin mengenal tempat itu.


Batin Naina begitu sedih.


"Apa pekerjaan orang tuamu dulu sebelum terjadinya musibah itu?" Atmajaya kembali bertanya setelah meneguk minumannya sekali.


"Ayah seorang pegawai negeri sipil, sedang ibu hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Dulunya kami tinggal di rumah milik negara, rumah dinas," jawab Naina yang membuat Atmajaya menarik nafas. Lelaki ini tiba-tiba menatap wanita di hadapannya dengan mata sendu. Atmajaya tidak menyangka kalau ternyata Naina berasal dari keluarga baik-baik. Walau ia sudah mengetahui sebagian besar tentang kehidupan Naina dari orang-orang suruhannya namun ia tidak tahu tentang pekerjaan pasti kedua orang tua Naina dulu. Yang ia ketahui, walau Naina tinggal di Zona namun gadis ini begitu menjaga kehormatan dirinya.


"Apa kamu mencintai putraku?" Setelah diamnya, Atmajaya kembali mengeluarkan pertanyaan lagi. Dan pertanyaan kali ini membuat Naina terkejut.


"Aku tahu diri, Tuan. Aku tidak pantas untuk mencintainya ataupun mendapatkan cintanya."


"Apa kamu mencintai putaraku?" Atmajaya kembali mengulang pertanyaannya. Jawaban Naina tadi bukan jawaban dari pertanyaannya.


Naina seperti sedang berada di persimpangan. Ia mencintai suaminya, namun tidak berani untuk mengatakannya.


"Jawablah!" seru Atmajaya dengan mata yang begitu serius menunggu jawaban Naina.


"Sebelum menjadi istrinya, saya tidak berani untuk mengatakan kalau saya mencintai mas Dennis. Namun, dengan semua pembuktian mas Dennis, dengan segala kebaikan dan ketulusan yang ia berikan, tidak ada alasan untuk tidak mencintai putra Anda, Tuan. Maafkan saya jika sudah lancang mencintainya."

__ADS_1


Tampak senyum dari Atmajaya.


"Tidak usah sungkan. Putraku sudah memilihmu, artinya kamu yang terbaik di matanya." Atmajaya kembali meminum minumannya dengan santai.


__ADS_2