
P**art terakhir, bagian part ini agak panjang yah jadi siapkan mata dan juga hati untuk membacanya**.
Dennis sedang bersimpuh di atas sebuah makam. Bunga-bunga segar yang menutupi gundukan tanah itu pertanda makam itu adalah makam yang baru.
Dennis terus menangis di sana, di atas nisan yang bertuliskan nama Naina Anandita, istri yang begitu dicintainya.
Tidak terlintas di benaknya jika ini akan terjadi, tidak pernah terpikir olehnya kalau wanita yang begitu dicintainya kini sudah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menangis melampiaskan kesedihannya, ini sebuah takdir yang tidak bisa ia lawan.
Semalam, di sebuah hotel di negara dengan kemegahan gedung-gedungnnya, Dennis merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Akhirnya ia bisa beristirahat juga setelah seharian pertemuan pentingnya dengan para rekan bisnisnya dari negeri gurun ini. Seharian ini ia tak mendengar suara istrinya, ponselnya memang sengaja ia matikan. Bukan tidak menyayangi istrinya dengan tidak membiarkan menghubunginya, namun dia memang lelaki yang begitu profesional dalam bekerja.
Malam ini, inilah saat yang tepat untuk menghubungi istri tercinta. Ia meraih ponselnya kemudian menghidupkannya. Tidak lama kemudian tampak foto sang istri bersama dengan dirinya sebagai wallpaper utama, baru melihat itu saja sudah sangat membuatnya bahagia. Segera ia menghubungi nomor wanita yang saat ini begitu sangat manja kepadanya. Sayang sekali, nomor istrinya tidak bisa di hubungi. Ia kembali mencoba dan mencoba lagi namun tetap sama, nomor itu tidak aktif.
Siapa yang terlintas di benaknya kini, kedua asisten istrinya. Segera ia menghubungi salah satunya, nomor Mimi menjadi pilihannya. Tidak berapa lama ia menunggu ....
"Tuan muda ... Tuan muda ..." Suara histeris dan panik terdengar dari balik telefon sana.
"Mimi ...." Dennis bangun dari tidurnya dengan perasaan mulai tidak baik.
"Tuan muda ... nyonya muda tidak ada di apartemen, kami sudah mencarinya kemana-mana bahkan menanyakan pada security tetapi tidak ada yang melihat nyonya muda." Ucapan Mimi membuat Dennis seketika terkejut. Ia marah, cemas, rasanya semua bercampur aduk.
"Apa maksud kamu? Memangnya kalian dari mana, mengapa ini bisa terjadi?" Dennis terdengar begitu murka.
"Tuan muda ...." Suara Mimi terus menangis di sana.
"Maafkan kami ...."
Tiba-tiba terdengar suara bel dari dalam kamar Dennis. Suara sekretaris Ben terdengar memanggil dari luar, suara yang terdengar tidak seperti biasanya. Kali ini suara sekretaris Ben terdengar begitu panik.
Dennis segera menuju pintu dan membukanya. Tampak wajah sekretaris Ben terlihat sangat tidak baik. Entah dia sedih atau panik, Dennis sulit menebaknya.
"Tuan muda, apa Anda sudah memeriksa pesan yang masuk di ponsel Anda?" Hanya itu yang sekretaris ini katakan.
Sementara Dennis yang masih dalam panggilan dengan Mimi, segera mematikan telefon kemudian memeriksa kotak pesannya. Ternyata ada begitu banyak pesan yang masuk ke ponselnya. Dari Azea, Arka yang merupakan adik iparnya, bu Annisa bahkan Kiran. Semua pesan dari orang-orang terdekat Naina.
Dennis membuka pesan paling atas, pesan dari Azea. Beberapa detik setelah membaca, Dennis seperti disambar petir, dunia seakan kiamat baginya. Tapi ia masih mencoba berdiri kokoh, kemudian membuka pesan dari Arka. Ternyata isinya juga sama, kepergian istri yang begitu dicintainya. Kepergian untuk selamanya karena kecelakaan mobil bersama dengan pak Anton dan bu Annisa. Dennis membuka beberapa foto, terlihat tubuh istrinya berlumuran darah, sementara pak Anton sedang di rawat di ICU, Bu Annisa masih dalam keadaan baik. Yang paling membuat dirinya tidak berdaya karena wanita yang begitu dicintainya tidak dapat tertolong. Itu pesan yang ia baca.
"Apa mereka sedang mengerjaiku?" Dennis masih mencoba berpikir positif.
"Tuan muda, sebaiknya kita berangkat sekarang. Tuan besar sudah meng-*handle* semuanya di sini." Mendengar ucapan serius sekretaris Ben, seketika Dennis semakin tidak berdaya. Ponsel di tangannya terjatuh ke lantai.
\*\*\*
Setelah melalui hampir delapan jam perjalanan, Jet pribadi milik Atmajaya Group sudah mendarat mulus, kini Dennis dan sekretaris Ben tiba kembali di negeri ini. Pagi ini tepat pukul enam. Dari luar bandara, Azea dan Rangga, juga Bobby dan Diana sudah menunggu di sana. Tidak lama kemudian, orang yang mereka tunggu sudah muncul. Dua sosok lelaki yang menampakkan wajah penuh kesedihan namun mencoba tetap terlihat tegar.
"Kakak ...." Azea berhambur memeluk Dennis. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kakaknya kini.
"Katakan jika kalian sedang bercanda." Dennis masih berharap jika kabar yang ia terima tidak benar adanya.
"Tidak, Kak." Azea menggeleng kepala di bahu kakaknya dengan air mata sudah terjatuh pada jas yang sedang ia peluk.
"Mbak Naina sudah tiada, bahkan mereka sudah memakamkannya." Azea berbicara dengan nada sesegukan.
Mendengar itu, Dennis langsung melepas pelukan Azea. Kedua tangannya menggenggam erat lengan Azea dalam keadaan tidak sadar.
"Apa yang kamu katakan? Makam? Siapa yang dimakamkan? Siapa yang berani melakukan itu?" Dennis berteriak dengan perasaan bercampur aduk.
"Kak Dennis ...." Melihat istrinya digenggam keras, Rangga maju dan dengan pelan melepas tangan kakak iparnya yang sepertinya sudah menyakiti istrinya.
"Kenyataan ini memang sangat berat, namun inilah faktanya. Istri Kak Dennis memang sudah tiada dan sudah dimakamkan oleh keluarganya bahkan tanpa sepengetahuan kami. Mari, ikutlah dengan kami." Rangga mencoba meyakinkan kakak iparnya tentang kenyataan pahit ini.
\*\*\*
Mobil sudah melaju membelah jalan. Rangga yang mengemudikannya, Dennis duduk di kursi depan dengan wajah datar, tatapan kosong, sudah seperti boneka yang menurut saja kemana ia akan di bawa. Azea duduk bersama Diana di kursi belakang. Sementara sekretaris Ben berada di mobil lain bersama Bobby dan sopir.
"Menurut polisi yang bertugas di wilayah kejadian, arah mobil menuju luar kota. Kecelakaan ini adalah kecelakaan tunggal. Entah sebabnya apa, belum di ketahui. Dugaan sementara, rem mobilnya blong hingga pak Anton menabrak marga jalan. Belum lagi jalan tol yang sedikit lengang hingga kecepatan tidak terkendali. Setelah polisi tiba, para korban sudah di bawa ke rumah sakit." Rangga yang sudah mendapat info dari bawahannya, memberitahukan Dennis yang masih duduk terdiam di sampingnya. Walau tidak merespon, Rangga tahu kalau Dennis masih bisa menyimak apa yang ia katakan.
Waktu tempuh perjalanan selama tiga jam telah berlalu, perjalanan yang cukup jauh bahkan keluar dari kota. Di sinilah mobil mereka berhenti, di sebuah pemakaman umum. Semua orang sudah turun dari mobil, namun Dennis masih diam mematung di atas tempat duduknya.
"Kak, kita sudah sampai. Di sini adalah makam orang tua mbak Naina, dan juga ...." Ucapan Azea seketika menggantung.
"Cukup!" sela Dennis yang tidak ingin mendengar apapun lagi, terlebih harus mendengar tentang kematian istrinya.
Dennis dengan sendirinya turun dari mobil. Lelaki yang terlihat memaksakan diri untuk terlihat tegar.
__ADS_1
Azea dengan hati yang juga sangat remuk, menuntun kakaknya berjalan menuju pemakaman.
Mereka sampai di sebuah makam yang masih terlihat sangat baru. Di sana sudah ada Arka yang berlutut di atas tanah, ada bu Annisa, dan juga sahabat-sahabat Naina. Mata Kiran tampak begitu sangat sembab, entah berapa lama ia sudah menangis.
Bu Annisa berdiri menghampiri Dennis yang tidak menampakkan reaksi apapun. Hanya mata yang terlihat begitu sendu.
"Nak Dennis, maafkan kami. Kami tidak menunggu nak Dennis karena kami sudah banyak melewatkan waktu, kami terus menghubungi nak Dennis tetapi nomor Nak Dennis ...." Ucapan Annisa juga menggantung karena Dennis segera berlalu, seperti tidak ingin mendengar apapun.
Tuan muda ini sudah menjatuhkan tubuhnya di samping gundukan tanah itu, lututnya sebagai tumpuan. Melihat jelas nama yang tertulis di sana, seakan ia juga sudah tak memiliki nyawa.
"Sayang, apa yang terjadi?" Terdengar suaranya begitu lirih.
"Naina ...." Kali ini ia berteriak sekencang mungkin.
"Kakak ...." Arka memeluk kakak iparnya itu.
\*\*\*
Sehari telah berlalu, ternyata sehebat-hebatnya seorang Dennis Atmajaya akhirnya tumbang juga. Setelah begitu lama ia terduduk di pusara istrinya, akhirnya ia terjatuh tak mampu menopang tubuhnya lagi. Kini ia sedang terbaring di sebuah rumah sakit, ia terlihat begitu lemas. Tidak sesuap makanan pun yang masuk ke dalam mulutnya sejak kemarin, ia bukan ingin makan, ia hanya ingin istri beserta calon buah hatinya kembali. Sampai detik ini, ia belum ikhlas atas kenyataan menyakitkan ini.
Sekretaris Ben datang menemuinya. Sekretaris ini membawa sebuah tas kecil yang entah isinya apa. Sesuai permintaan Dennis, sekretaris ini datang membawa laporannya. Laporan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya.
"Tuan muda, kecelakaan ini memang benar kecelakaan tunggal dan nyonya muda ...." Sekretaris Ben sulit melanjutkan ucapannya.
"Lanjutkan!" perintah Dennis yang tampak mencoba tegar.
"Nyonya muda meninggal di tempat, dan ia tidak di bawa ke rumah sakit, melainkan ke rumah bu Annisa. Arka yang meminta itu."
Tak ada kata lagi yang bisa Dennis ucapkan, bulir bening perlahan terjatuh dari ujung matanya. Siapa yang melihatnya akan merasakan sakit yang dirasa tuan muda ini.
"Namun, ada fakta lain yang Tuan muda harus ketahui. Sebelum kepergian Nyonya muda bersama bu Annisa ... nyonya besar sempat menemui nyonya muda di apartemen." Sekretaris Ben memperlihatkan bukti kamera pengawas yang ada di dalam apartemen Dennis. Perlahan Dennis melihat apa yang sedang terjadi. Beberapa menit telah berlalu, walau tidak ada suara yang terdengar dari video itu, namun sudah dipastikan dari gerakan Rita bahwa ia sedang bermohon kepada Naina, entah apa yang membuatnya bermohon.
Tidak lama kemudian setelah kepergian Rita, Naina juga tampak keluar dari apartemen dengan menggunakan kacamata besar yang hampir menutupi semua wajahnya, dan juga masker. Naina keluar dari sana tanpa sepengatahuan siapapun, tidak ada yang mengenali dirinya dari balik masker dan kacamatanya. Setelah itu tidak terlihat lagi kemana sang nyonya muda ini pergi.
"Menurut pengakuan bu Annisa, nyonya muda pergi bersama dirinya karena permintaan nyonya muda. Nyonya muda menelfon bu Annisa untuk menjemputnya hingga akhirnya kecelakaan ini terjadi," lanjut sekretaris Ben.
"Panggilkan mama sekarang juga!" perintahnya. Perasaan tuan muda ini sangat tidak nyaman.
Seiring waktu berlalu, hari sudah malam. Di dalam kamar paling terbaik rumah sakit ini, Dennis masih terbaring di sana dengan perasaan seperti tiada tujuan hidup lagi. Cinta yang datang untuknya begitu sangat indah, begitu sangat dalam hingga nyawanya saja sudah tiada arti. Rasanya seperti mimpi dan ingin cepat bangun dari sana, ia masih tidak percaya dengan apa yang benar sedang terjadi.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, tampak Atmajaya dari balik pintu. Disusul Rita dan juga Azea bersama Rangga. Tampak juga sosok sekretarisnya di sana. Mata Dennis hanya tertuju pada wanita paruh baya yang ia amat sayangi juga, namun kali ini ada perasaan ganjal di hatinya.
"Dennis ...." Rita langsung berhambur ke sana memberikan pelukannya. Sudah sangat lama ia merindukan putranya, namun sifat egoisnya pula yang tak ingin melihat wajah Dennis ketika masih bersama Naina. Saat ini, tangis Rita benar-benar pecah di sana.
"Maafkan, Mama ... maafkan, Mama. Mama tidak bermaksud melakukan ini." Dennis belum memberinya pertanyaan namun Rita sudah terdengar seperti orang yang paling bersalah.
Pelan-pelan, Dennis mendorong tubuh yang memeluknya.
"Mengapa Mama melakukan ini?" tanya Dennis yang ia sendiri tidak mengerti tentang pertanyaannya, seperti hanya memancing Rita untuk berbicara.
"Mama memang menyuruhnya pergi, tetapi mama juga tidak berharap jika ia harus meninggalkan dunia ini." Mendengar pengakuan mamanya, seketika darah Dennis seperti mendidih. Dalam waktu cepat ia menarik jarum infus di tangannya.
Memegang erat kedua lengan mamanya. Terlihat garis urat di sekitaran pipi dan dagunya pertanda kemarahan besar di sana.
"Apa maksud Mama?" Dennis sudah tampak kehilangan kendali.
"Apa Mama sadar dengan apa yang Mama lakukan? Apa Mama tahu sedang mengusir siapa? Dia istriku, Mah. Dia wanita yang begitu ku cintai." Suara Dennis semakin lantang seperti ingin menerkam wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Kak Dennis ... Istighfar, Kak. Kakak menyakiti Mama." Azea mencoba melepas genggaman erat tangan Dennis pada lengan mamanya.
"Dennis ...." Atmajaya juga maju mengingatkan putranya akan sikapnya yang sudah kehilangan kendali.
"Maafkan, Mama ... maafkan Mama." Hanya itu yang Rita bisa katakan.
"Maaf ...." Dennis melepaskan tangannya. Tampak tangan itu keluar darah, sepertinya karena Dennis mengeluarkan paksa jarum infusnya tadi.
"Apa Mama tahu, Mama tidak hanya menghilangkan istriku, tapi Mama juga memisahkanku dengan buah hatiku. Istriku yang Mama usir itu sedang hamil, Mah." Kali ini nada Dennis sudah menurun seiring tangisnya yang pecah.
Betapa semua orang terkejut mendengarnya.
"Mama ... jika harus ku katakan, aku juga kecewa dengan sikap Mama. Azea benar-benar tidak menyangka Mama bisa melakukan hal seperti ini." Kali ini Azea angkat bicara membela Dennis.
__ADS_1
"Rita, kamu benar-benar sudah sangat keterlaluan." Disambung suara Atmajaya yang juga begitu kecewa dengan sikap istrinya.
"Yah, kalian semua menyalahkanku, apa kalian tahu mengapa aku melakukan ini? Lihat di luar sana, orang-orang sudah memandang rendah keluarga kita. Mana ada keluarga baik-baik yang menikah dengan wanita yang berasal dari tempat kotor." Rita kembali kehilangan kendali.
"Cukup, Mah. Naina bukan wanita seperti itu!" bentak Dennis lagi.
"Tuan muda ...." Sekretaris Ben memegangi tubuh Dennis yang semakin terlihat lemas.
"Iya, dia memang bukan wanita seperti itu. Tapi, tetap saja dia berasal dari Zona X. Kamu pikir negeri ini akan menerima dia sebagai wanita baik-baik? Tidak, Dennis ... dia akan tetap dipandang rendah dan begitupun dengan keluarga kita ketika kamu masih bersamanya." Rita juga berteriak tetap pada pembelaannya.
Seketika itu Rita memegangi jantungnya yang berdegup dengan kencang, sepertinya penyakitnya sedang kambuh.
"Mama ...." Rangga segera menahan mama mertuanya yang sudah hampir terjatuh.
"Mama ...." Azea ikut memegangi mamanya.
"Cepat, panggil dokter!" teriak Atmajaya.
Sekretaris Ben segera berlari untuk mencari dokter.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Satu tahun telah berlalu. Dennis masih menetap di apartemennya. Apartemen penuh kenangan baginya, tidak ada yang berubah dari apartemen ini. Nuansa shabby pink masih melekat di sana menghiasi kamar ini. Dennis sengaja tidak mengubah kamarnya, ia merasa istrinya masih ada di sekitarnya, hidup bersama dirinya.
Begitupun dengan Mimi dan Lilis, kedua asisten ini kembali bekerja di sana atas permintaan Dennis. Walau tidak menetap di sana, namun kedua wanita ini tetap menjadi orang yang berperang penting mengurus apartemen ini. Sekretaris Ben sudah memecat dengan tidak hormat kedua wanita ini, namun Dennis memintanya kembali. Melihat kedua wanita ini, rasanya Dennis masih bersama dengan istrinya. Dennis seperti tidak ingin melepas kenangan yang berhubungan dengan istrinya. Begitupun dengan Arka, walau Arka sudah jauh menempuh pendidikan ke negara piramida, namun Dennis sesekali menghubungi adik iparnya itu.
Hari ini, media tengah sibuk dengan berita utama mereka. Yaitu seorang Dennis Atmajaya yang akan menikah dengan seorang putri kiyai. Dennis duduk di balkon kamarnya, memandang dengan tatapan kosong ramainya jalanan kota. Setelah kembali dari kantor, ia memang senang duduk di sini dalam lamunan hampa.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya terbuka. Langkah kaki perlahan mendekati dirinya di balkon.
"Sayang ...." Suara Rita dari arah belakang.
"Lihat desain undangannya, apa kamu suka?" tanya Rita memperlihatkan undangan dengan nama Dennis dan Zara di sana. Wanita ini begitu sangat bahagia, inilah yang ia harapkan selama ini.
Dennis menepis lembar undangan itu.
"Terserah Mama saja, lakukan yang membuat Mama bahagia," ujarnya pias. Ia seperti tidak peduli lagi dengan hidupnya, bahkan ia akan menikah pun tetapi seperti tidak ia sadari. Ia menjalani hidup bak mengikuti arus. Saat ini, sikap dan pribadi tuan muda ini berubah drastis. Tidak pernah terlihat lagi keceriaan di wajahnya, hidupnya ia biarkan mengalir begitu saja.
"Allah memang sudah menakdirkan kalian berjodoh, betapa baiknya gadis itu yang masih ingin menerima lamaran ini."
"Oiya, ini undangan Ben dan Diana. Setelah pernikahanmu maka akan berlangsung juga pernikahan mereka," lanjut Rita lagi.
Kali ini Dennis menatap undangan sekretarisnya itu. Hanya menatap sejenak kemudian mengalihkan lagi pandangannya.
\*\*\*
Malam pun tiba, Dennis melajukan mobilnya menuju Zona X. Dalam satu Minggu, setidaknya tiga kali ia berkunjung ke sini setiap malamnya. Ia datang bukan haus akan wanita-wanita Zona X, namun ia hanya ingin melihat gang kecil yang sering di lalui Naina dulu. Hanya menatap dari atas mobilnya, walau hanya lima menit namun rasanya sudah terobati, rasa rindu yang terus mendera dirinya. Ia seperti melihat Maemunahnya berlari-lari kecil di sana.
*Mengapa mencintaimu sesakit ini*.
Dennis Atmajaya.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_ **Season 1, tamat** \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
**Hai, para reader kesayangan. Please jangan kecewa dulu. Ini memang menyakitkan, bahkan author sendiri sampai tidak bisa menahan sesaknya di dada**.
**Seperti yang author sudah katakan sebelumnya, cerita ini akan berlanjut ke season 2. Namun, season 2 tidak sebanyak season 1. Hanya ada beberapa part saja**.
**Kira-kira, Maemunah kita benar sudah tiada atau tidak? Nantikan ceritanya di season 2. Tetap semangat yah menantikan kelanjutan ceritanya. Bagaiman ending dari cerita Zona X ini**.
**Oiya, untuk mengetahui update dari cerita ini ataupun karya author yang lain, yuuukk follow akun author, sekalian kita bersilaturahmi di sana**.
**FB : Hapsah Daeng Mene**
**IG : hapsahdaeng**
**Author tunggu yah, nanti author follback**.
**See you di season 2**.
**Assalamualaikum, mariki' tabe' 😍🙏**
__ADS_1