
Naina tersenyum kikuk kepada dua orang lelaki di hadapannya.
"Maafkan saya, Tuan-Tuan. Saya sungguh tidak sengaja menjatuhkannya." Naina mulai berbicara dengan wajah cemas berharap iba.
Dennis menatap sekretaris Ben seolah menyerahkan urusan ini kepada sekretarisnya itu.
Sekretaris Ben mendekati Naina dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Maafkan saya, Tuan Sekretaris."
Walau baru bertemu dengan sekretaris Ben, Naina bisa merasakan kalau lelaki di hadapannya ini adalah lelaki yang sangat galak dan mungkin sedikit kejam, bahkan walau hanya dari cara dia menghela nafasnya saja maka orang sudah bisa merasakan sifat yang melekat dalam diri lelaki ini. Sangat dingin dan tidak pernah bermain-main dalam urusan apapun, hidup yang sangat serius.
Andai waktu bisa dihentikan sejenak maka hal penting yang harus dilakukan Naina saat ini adalah kabur dan menghilang dari ruangan ini.
"Ku pikir tidak perlu memberitahu berapa harga vas bunga yang kamu jatuhkan ini, sebagai seorang pegawai dari Beauty Flowers tentunya kamu sudah paham akan itu." Sekretaris Ben berbicara dengan nada yang penuh penekanan, membuat Naina semakin cemas.
Yah, Tuan galak. Bahkan walau aku tidak bekerja di toko bunga pun, aku tahu kalau semua benda yang berada di ruangan ini sangat mahal.
Naina, berpikirlah cepat.
gumamnya sedang memikirkan kata-kata mutiara untuk menyelamatkan dirinya. Kepandaiannya dalam berucap dan merangkai kata sudah tidak diragukan lagi.
"Tuan Sekretaris, saya adalah orang baik. Percayalah, saya pasti akan menggantinya tapi mungkin tidak secara langsung karena saya hanya seorang pegawai kecil dan belum lagi, saya seorang tulang punggung keluarga," Ucapan yang sangat tertata rapi dengan berharap belas kasih, yang terpenting saat ini adalah dia harus segera keluar dari ruangan ini.
"Lalu bagaimana kamu menggantinya?" tanya sekretaris Ben.
"Mungkin saya bisa menyicilnya, Tuan" jawaban Naina membuat sekretaris Ben terkekeh, tawa kecil yang tidak terlihat baik.
"Kamu pikir ini tempat kredit yang bisa kamu tempati menyicil? dan aku harus menunggu bertahun-tahun agar hutangmu lunas? begitu?" Sekretaris Ben membuat Naina seperti tersudutkan.
"Jangan menakutinya, Sekretaris Ben." Dennis mulai angkat bicara, entah kenapa ia sangat kasihan melihat wajah Naina.
Sekretaris Ben mundur beberapa langkah mendengar ucapan T
tuan mudanya.
Naina mengarahkan pandangannya kepada Dennis.
"Tuan muda, Maafkan saya. Percayalah, saya akan bertanggung jawab. Saya tidak akan kabur, Tuan muda," ujar Naina seraya menundukkan kepala.
"Duduklah dulu!" Dennis mempersilahkan Naina duduk kembali tapi Naina merasa kalau itu hanya akan membuang waktu, bagaimanapun juga ia mengingat Rudy yang sudah menunggunya sejak tadi di lobby. Ia hanya ingin negosiasinya tadi diterima oleh Dennis dan segera keluar dari ruangan ini.
"Maaf, Tuan muda. Bukan saya menolak untuk duduk tapi saya terburu-buru, masih banyak bunga yang harus kami antar," ujar Naina.
"Saya mohon, Tuan muda. Biarkan saya menyicilnya. Saya tidak punya cukup uang jika harus langsung melunasinya," ucap Naina yang masih menundukkan kepala penuh harap agar Dennis menyetujuinya.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel di dalam tas kecil di dadanya berdering pertanda ada panggilan masuk. Naina tidak menghiraukan dering ponselnya.
"Ponselmu berbunyi, angkatlah dulu!" ujar Dennis.
Pelan-pelan Naina mengambil ponselnya dan melihat nama Rudy di sana.
Menatap Dennis dan Sekretaris Ben.
"Ini temanku yang menunggu di lobby," ucap Naina.
"Speaker! aku belum mempercayaimu," ujar sekretaris Ben.
Sedetail itu kah cara kalian menghakimi seseorang bahkan ingin mendengar lawan bicara orang dari balik telefon.
Naina sangat kesal kepada sekretaris galak ini.
Naina mengangkat telefon dengan volume speaker atas perintah sekretaris Ben.
"Halo ... Rud," jawab Naina.
"Hei, Maemunah. Apa kamu sadar kalau kamu sudah hampir dua jam di atas sana, kamu tahu kan kalau kita masih punya banyak antaran bunga," suara Rudy yang sudah sangat lelah menunggu sejak tadi.
"I-iya Rud. Aku segera turun," jawab Naina dan langsung menutup telefon.
gerutunya yang malu karena sekretaris Ben dan Dennis mendengar dirinya dipanggil dengan nama Maemunah.
"Kalian sudah percaya, kan? saya benar-benar terburu-buru," ujar Naina memberi penjelasan sekaligus alasan agar dia bisa cepat keluar dari sini.
"Bagaimana, Tuan muda? apa Tuan muda setuju jika saya menyicilnya saja?" sambungnya bertanya kembali kepada Dennis.
Aku mohon setuju saja, Tuan muda. Tolong jangan mempersulit diriku.
batinnya lagi.
"Begini saja, karena kamu terburu-buru jadi kita bahas ini besok di jam makan siang, orangku akan menjemputmu di Beauty Flowers." Ucapan Dennis membuat Naina dan Sekretaris Ben terkejut.
"Tuan muda ...." Sekretaris Ben hendak berbicara tetapi dengan sigap Dennis menaikkan tangan pertanda melarang sekretarisnya itu untuk mengucap apapun.
Dennis menatap Naina menunggu jawaban.
"I-iya Tuan muda, terserah Tuan muda saja" hanya itu yang bisa Naina katakan.
"Kalau begitu, saya permisi Tuan muda," Naina membungkuk sedikit.
"Hhhmmm"
__ADS_1
Naina berjalan mendekati pintu hendak keluar.
"Maemunah ...." tiba-tiba terdengar suara Dennis yang memanggilnya.
Tuan muda memanggilku, Maemunah.
Gumamnya dan segera berbalik.
"Ingat, besok di jam makan siang," sambung Dennis.
Naina hanya mengangguk dan membungkuk sedikit lagi kemudian sejurus ia segera keluar dari ruangan itu.
Naina sudah keluar dari ruangan itu.
Sekretaris Ben mendekati Tuan mudanya, beribu pertanyaan memenuhi otaknya.
"Maaf,Tuan muda. Tapi, kenapa Tuan muda dengan sengaja menjatuhkan vas bunga tadi?"
Tanya sekretaris Ben yang tahu kalau sebenarnya bukan Naina pelakunya tapi tuan mudanya sendiri. Sayangnya Naina tidak mengetahui itu dan mengira dirinya yang menjatuhkan vas bunga itu.
"Karena aku ingin berurusan dengannya." jawaban Dennis membuat sekretaris Ben sedikit sudah paham.
"Dia wanita yang sangat lucu, mengapa sejak tadi kamu memarahinya. Apa kamu tidak menyukainya, Sekretaris Ben?" sambungnya yang membuat sekretaris Ben sedikit tertawa.
"Maaf, Tuan muda. Apa Tuan muda menyukainya?" Sekretaris Ben mengembalikan pertanyaan Dennis, sebenarnya dia sudah paham akan pertanyaan tuan mudanya. Sudah lama dia menjadi sekretaris Dennis Atmajaya, dia tahu persis watak tuannya itu bahkan persoalan hati tuannya pun dia sudah bisa paham.
"Ok, jika kamu tidak menyukainya maka biar aku yang menyukainya." Kalimat yang penuh penekanan itu membuat sekretaris Ben tidak dapat berkata apa-apa lagi.
Setelah hampir dua tahun Tuan mudanya tidak mengenal cinta karena kekecawaan dari sang tunangan, sepertinya hari ini seorang Dennis Atmajaya akan mulai membuka hati.
Tapi kenapa dengan wanita seperti itu?yang kelasnya sudah jelas sangat jauh dari dirinya.
"Aku ingin informasi tentang wanita itu!" perintah Dennis kepada sekretarisnya.
"Baik, Tuan muda."
Pekerjaanku akan bertambah tapi aku sedikit bahagia karena dirimu sudah mulai membuka hati lagi, Tuan muda. Semoga wanita itu sesuai tipe keluarga Atmajaya dan yang paling penting, semoga dia tidak menyusahkanku.
Sejak tadi, dia hanya berdebat denganku dan berucap semaunya. Sangat lancang. Akan tetapi, kamu sudah terlanjur menyukianya di pertemuan pertama ini, wanita yang sangat beruntung.
TETAP TINGGALKAN JEJAK YAH❤️
like,koment,vote dll😍
Terima kasih🙏
__ADS_1