
"Naina ... Aku mencintaimu ...."
"Naina ... Aku mencintaimu ...."
"Naina ... Aku mencintaimu ...."
"Jangan menyentuhku ....!"
"Jangan menyentuhku ....!"
Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari.Naina sangat gelisah di dalam tidurnya,keringat bercucuran di tubuhnya.Suara Dennis dan pamannya terngiang-ngiang mengganggu malamnya.
Neta terbangun karena merasakan kegelisahan Naina di sampingnya.
"Kak Naina ...." Neta sangat terkejut melihat wajah sepupunya penuh dengan keringat dalam keadaan mata terpejam.
Memegang wajah Naina.
"Astaga." Neta semakin panik karena merasakan suhu tubuh Naina sangat panas.Tidak menunggu lama,bergegas ia ke dapur menyiapkan air dan alat kompres kemudian mengompres kakak sepupunya itu.
Beberapa menit telah berlalu,penuh kasih sayang ia merawat Naina hingga Naina jauh lebih tenang dan panasnya mulai menurun.Ia tetap menempelkan alat kompresnya pada kening Naina kemudian ikut tertidur dan memeluk Naina.Neta ikut sedih dengan apa yang terjadi pada sepupunya itu.
Waktu terus bergerak,pukul 05.00.
Naina terbangun dari tidurnya,merasakan tubuhnya sangat berat karena ada tangan yang memeluknya.Ia melihat Neta yang masih tertidur dengan satu tangan memeluk dirinya.Ia kemudian merasakan ada sesuatu pada keningnya,ia mengambil handuk kecil itu.
Apa yang terjadi padaku?
gumamnya menatap handuk kecil dalam genggamannya yang menempel pada keningnya tadi.
Ia mencoba bangun memindahkan dengan pelan tangan Neta yang memeluknya.Kepalanya sangat berat.
***
Naina sudah melakukan shalat subuh,masih duduk di atas sejadahnya dengan pandangan ke arah tembok dalam lamunan yang kosong.
"Kak,apa Kakak sudah lebih baik?" Suara Neta mengejutkannya.Naina menoleh melihat adik sepupunya itu yang sudah duduk bersandar di tempat tidur.
"Terima kasih yah,Net," ucap Naina.Ia tahu kalau semalam Neta merawatnya dengan baik.
"Syukurlah kalau Kak Naina sudah agak baikan.Sepertinya semalam Kak Naina mimpi buruk."
Naina hanya mendenguskan nafasnya kemudian berdiri melepas mukenanya tetapi masih terlihat sempoyongan.
"Kak ...." Dengan cepat Neta melompat dari tempat tidur dan memegangi Naina.
"Sepertinya Kakak masih belum pulih.Istirhatlah dulu!" Neta membawa Naina ke tempat tidur.
"Saya harus memasak,Neta.Kalau saya tidak masak,lalu kita akan makan apa?memangnya kamu bisa masak?" Naina bersikeras ingin ke dapur.
"Tapi,Kak.Kakak itu sakit.Kakak istirahat saja,aku akan delivery makanan," balas Neta
Naina menatapnya.
"Kakak tidak usah memikirkan uang untuk makanannya,aku ada uang," lanjut Neta lagi.
"Uang dari mana?" tanya Naina.
"Pacar aku yang kasih,tapi Kakak jangan kasih tahu bapak dan mama yah," bisik Neta.
"Ah,sudahlah ... simpan saja uangmu itu.Kakak mau masak" Naina bergerak menuju dapur walau ia masih lemah.
"Dasar keras kepala ...," gerutu Neta kesal.Terpaksa ia ikut ke dapur membantu Naina.Ia sangat jarang membantu Naina di dapur tetapi melihat keadaan Naina yang tidak memungkinkan maka dengan langkah kaki terpaksa akhirnya ia ikut ke dapur.
***
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi.
Pagi yang sangat buruk bagi seorang Naina,untuk pertama kalinya ia akan memulai hari tanpa pamit kepada pamannya.
Biasanya Naina masuk ke dalam kamar pamannya membawakan sarapan kemudian berpamitan untuk berangkat kerja tetapi kali ini tidak,pintu kamar pamannya masih tertutup dan terkunci.
"Neta,urus paman dengan baik.Aku berangkat dulu,yah"
"Dia itu bapakku,aku pasti mengurusnya.Yang perlu dikhawatirkan itu Kakak,bagaimana mungkin Kakak berangkat kerja dalam keadaan sakit seperti ini?"
Naina tidak peduli dengan ucapan Neta,ia berjalan menuju rak sepatu dengan menenteng beberapa paper bag yang pernah diberikan oleh Dennis.
"Saya tidak akan bekerja hari ini," ucap Naina seraya memakai sepatunya.
"Lalu?" Neta mendekat kepadanya.
"Saya akan ke kantor Dennis Atmajaya." Naina berdiri penuh keyakinan dengan apa yang akan dia lakukan hari ini.Ia sudah memikirkannnya sejak semalam.Ia sudah muak dengan segala perlakuan Dennis Atmajaya kepadanya,itu hanya membuat hidupnya sangat sulit.Dari hinaan orang-orang disekeliling Dennis bahkan sekarang ia dibenci oleh pamannya yang sangat ia sayangi,semua itu karena ia mengenal Dennis Atmajaya.Keputusannya sudah bulat,walau ia harus dipenjara sekalipun karena hutangnya,itu jauh lebih baik daripada mengenal Dennis Atmajaya.
Dia mencintaiku ... omong kosong!
Batinnya kesal.Ia belum menyadari ketulusan Dennis kepadanya.Ia hanya berpikir kalau orang kaya memang seperti itu,dengan mudah mempermainkan sesuatu bahkan cinta sekalipun.
Naina membuka pintu dan keluar meninggalkan rumah.
"Kak Naina ...." Suara Neta yang khawatir jika terjadi sesuatu pada sepupunya itu.
Naina menghentikan langkahnya sebentar.
"Tidak usah khawatir,Kakak pergi dulu.Kunci pintunya!"
"Tapi ...." Suara Neta yang tidak dihiraukan lagi oleh Naina karena sudah keluar meninggalkan rumah.
***
Pukul 08.00.
Masih sangat pagi.Hanya ada aktivitas para pegawai yang baru tiba dan memasuki pintu kaca.Dari pakaian para pegawai ini,sudah pasti gaji mereka tidak main-main.Perusahaan Atmajaya Group memang perusahaan terbesar negeri ini,para pegawainya pun di terima dengan melalui seleksi begitu ketat,wajar saja jika orang-orang yang bekerja di sini adalah orang-orang hebat,memiliki kinerja luar biasa,dengan gaji luar biasa,orang-orang yang sangat beruntung.
Naina menatap semua orang,tidak ada tanda-tanda tuan muda itu ataupun sekretarisnya.Ia memilih masuk dan menemui security.Jalannya masih lemah,bahkan wajahnya juga masih pucat.Ia tidak peduli dengan keadaannya.
"Permisi ...,"ucapnya kepada security.
"Maaf,apa tuan Dennis Atmajaya sudah tiba?" tanyanya kepada security.
Kedua security menatapnya.Rasanya wajah ini tidak asing.
"Bukankah Anda yang pernah mengantar bunga ke sini?" tanya security.
"Iya,Pak.Saya ingin bertemu dengan tuan Dennis.Apa tuan Dennis ada?"tanya Naina lagi.
"Apa anda sudah membuat janji?" security malah bertanya balik kepadanya.Memang tidak mudah menemui Dennis Atmajaya.
"Janji ...?eemm ... saya tidak pernah membuat janji tapi saya ke sini hanya untuk mengembalikan barangnya." Naina mengangkat kedua tangannya yang menenteng paper bag.
"Barang tuan muda?" Security berpikir sejenak.
"Kami periksa dulu!" Security mengambil semua paper bag itu dan memeriksanya,takut jika isinya sesuatu yang bisa membahayakan atasannya.
Security memeriksa setiap isi paper bag itu.Kedua security ini saling menatap.
Barang-barang apa ini?pikir mereka.
Ada sepatu wanita,ponsel,kunci motor beserta surat-suratnya,jaket lelaki yang masih lembab dan sebuah jas mahal.Dari jas itu,kedua security seperti mengenali jas itu.
Kedua security mengembalikan semua paper bag itu kepada Naina.Isinya aman saja tetapi membingungkan.
__ADS_1
"Maaf,Nona.Bukannya kami tidak mengizinkanmu menemui tuan muda tetapi tuan muda sedang berada di luar bersama kedua sekretarisnya.Mereka ada pertemuan penting hari ini bahkan mereka belum ke kantor.Dari rumah,mereka langsung ke tempat pertemuan itu" jelas security.
"Kira-kira,kapan tuan muda akan tiba?" tanya Naina lagi.
"Kami tidak bisa memastikannya,tetapi biasanya sebelum siang karena tuan muda lebih suka makan siang di ruangannya."
"Baiklah,kalau begitu ku tunggu saja." Naina berjalan menuju lobby dan duduk bersandar ke sofa.Ia memperhatikan setiap orang yang memasuki pintu kaca,berharap tuan muda itu segera datang.
Dennis Atmajaya sangat profesional jika mengenai pekerjaannya,semalam ia sudah merencanakan untuk menjemput Naina pagi ini sekaligus meminta maaf atas sikap Arumi semalam tetapi ia mendapat telefon dari sekretaris Via kalau pagi ini mereka akan melakukan pertemuan penting di hotel Atmajaya Group,pekerjaan ini tidak bisa ditunda,akhirnya ia memutuskan untuk menemui Naina sore saja.Dan ia tidak tahu kalau gadis itu sudah berada di kantornya menunggu dirinya.
***
Waktu terus bergerak.Sudah hampir siang.Seorang direktur tampan memasuki pintu kaca bersama seorang wanita dan seorang lelaki yang merupakan sekretarisnya yang ikut berjalan di belakangnya.
Tuan muda dan kedua sekretarisnya ini tampak sangat sibuk,mereka berjalan dengan cepat tanpa memperhatikan sekitarnya termasuk Naina yang sedang duduk di sofa di sudut lobby.
Ketiga orang ini hendak masuk ke lift khusus,tiba-tiba seorang security menghampiri mereka.
"Maaf,Tuan muda.Apa wanita di luar tidak menemui Tuan muda?" tanya Security kepada Dennis.
Dennis menatap kedua sekretarisnya.
"Siapa,Pak?" tanya sekretaris Ben.
"Wanita yang pernah mengantarkan bunga ke sini,Tuan.Sudah sejak pagi dia menunggu di lobby," ujar security.
Dennis terkejut mendengarnya.
Naina.
"Sudah sejak pagi?" suara Dennis agak lantang.
"Kenapa tidak membawanya ke ruanganku." Dennis terlihat marah kepada security itu.Ia tidak menyadari dengan apa yang telah ia ucapkan barusan.
"Tapi,Tuan muda.Dia hanya orang asing,bagaimana mungkin kami membiarkannya ke ruangan Tuan muda." Security itu tampak ketakutan.
"Dia orang spesial,bukan orang asing," ujar Dennis dan segera keluar menuju lobby.Kedua sekretarisnya mengikutinya.
Security masih bingung dengan apa yang ia dengar barusan.
Orang spesial?
***
Dennis tiba di lobby,melihat Naina yang duduk dengan mata terpejam.Sepertinya Naina ketiduran,pikirnya.
"Sekretaris Via,tolong bangunkan dia!" perintah Dennis kepada Via.
Sekretaris Via melangkah mendekati Naina.
"Nona ... Nona ... bangunlah ...." Sekretaris Via menggoyangkan pelan lengan Naina tetapi tidak ada pergerakan dari Naina sedikitpun.
Sekretaris Via memegang kening Naina
"Astaga." Betapa terkejutnya ia dengan suhu badan Naina yang sangat panas.
"Tuan muda,sepertinya gadis ini pingsan.Tubuhnya sangat panas."
Dennis dan Ben sangat terkejut.Sejurus Dennis langsung mendekati Naina,menempelkan tangannya pada kening Naina.
"Sekretaris Ben,siapkan mobil!" perintah Dennis kemudian dengan sigap ia menggengdong Naina.
Seorang Dennis Atmajaya menjadi pusat perhatian,ia menggendong seorang wanita keluar dari kantornya dengan wajah yang sangat panik.
Sementara Sekretaris Via membawa semua paper bag Naina yang tidak ia ketahui isinya dan menyusul Dennis menuju mobil.
__ADS_1