
Naina tiba di depan rumahnya,ia terus saja tersenyum.Ia tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini semenjak mendiang orang tuanya,rasanya ada semangat baru di dalam dirinya menjalani kehidupan ini.
"Assalamualaikum," ucapnya seraya membuka pintu.
Ia berharap melihat pamannya dari balik pintu,tetapi ternyata salah.Tidak ada pamannya di sana,bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah ini.
Ucapan salamnya pun tidak terjawab.Pelan Naina berjalan masuk ke dalam rumah,pandangannya menyisir rumah sederhana itu.
"Assalamualaikum,Paman ... Neta." Lagi-lagi ia mengucap salam tapi tak ada jawaban.
Naina menuju dapur,tidak menemukan siapapun di sana.
"Paman ...."
Hatinya mulai gelisah,tidak pernah ia merasakan rumah ini seperti benar-benar tidak ada tanda-tanda orang di sana.Ia kemudian berjalan menuju kamar pamannya.Setelah membuka pintu,sama saja.Di kamar pamannya juga tidak ada orang.
Ia mulai panik.
"Paman ... Neta ...." Suaranya mulai meninggi dan mempercepat langkah memeriksa semuanya hingga kamar mandi.
"Neta ...." Langsung saja ia menuju kamarnya yang juga merupakan kamar Neta.Setelah ia membuka pintu,betapa terkejutnya ia hingga seluruh tubuhnya seperti lemas seketika.
"Paman ...," teriaknya histeris.Harun tergeletak di lantai tidak sadarkan diri di dalam kamar itu.
"Paman ... Paman ...." Air matanya sudah tak terbendung,kemudian membawa kepala pamannya ke dalam pangkuannya,memeriksa keadaan pamannya.Ia masih merasakan nafas pamannya.
"Paman ... paman ...." Naina terus mencoba menyadarkan Harun dari pingsannya tetapi tidak ada pergerakan sedikitpun dari Harun.Naina semakin panik,tidak tahu apa yang harus ia lakukan.Neta juga tidak ada di sana.
"Tante Lora." Itu yang terlintas di benak Naina.Segera ia menurunkan kembali pamannya dari pangkuannya kemudian bergerak secepat mungkin keluar rumah untuk mencari Lora.Naina tiba di depan club.Sedikit ada keraguan di dalam hatinya untuk masuk ke club ini,ia tahu kalau ini adalah club yang sering tantenya tempati.
Ia benar-benar berat untuk melangkah masuk ke dalam,ia bahkan lupa kapan terakhir menginjakkan kaki di dalam club ini,mungkin waktu ia masih kecil dan itupun ia masuk di siang hari.
"Naina." Seorang bodyguard menegurnya.
"Pak,saya ingin menemui tante Lora," ucapnya.
"Silahkan,masuklah!" ucap bodyguard yang memang mengenal dirinya.Tanpa berpikir lagi,Naina segera masuk dengan sedikit berlari kecil,melewati pintu kaca.Ia tiba di dalam club,suasana yang membuatnya ingin muntah.Bau alkohol yang begitu menyengat,suara degup musik yang berdebar-debar,beberapa wanita yang duduk bersama para lelaki hidung belang di beberapa sofa,beberapa wanita lain sedang menari-nari mengikuti irama musik.
__ADS_1
Sangat sulit menemukan tantenya,matanya terus fokus mencari Lora.Beberapa lelaki memperhatikan dirinya tapi Naina tidak peduli,ia hanya fokus mencari tantenya.
Di salah satu sofa di sudut sana terlihat wanita yang ia cari.Lora duduk bersama para wanita muda dengan rokok di tangannya.
"Tante Lora," teriaknya.Sayang sekali,suara teriakannya tidak akan terdengar oleh Lora dengan suara degupan musik yang begitu kencang.
Naina segera berlari ke arah Lora melewati beberapa orang yang sedang berlenggak-lenggok dengan tarian mereka menikmati musik.
"Tante Lora." Akhirnya Naina sampai di hadapan tantenya.
Lora sangat terkejut dengan pemandangan ini.Wanita penanggung jawab beberapa wanita Zona X ini berdiri dari tempatnya duduk.Senyum picik terpancar dari bibirnya.
"Akhirnya kamu menyerahkan diri juga," ucap Lora yang mengira Naina datang untuk bergabung dengannya.
"Tante ... paman pingsan,Tante.Paman pingsan," ucap Naina dengan lantang,wajah yang terlihat sangat panik.
Lora mengisap rokoknya sekali dan meniupkan asap rokok itu ke wajah Naina.
"Lalu,apa urusannya denganku?"
"Tante,paman suami tante." Air mata Naina semakin tidak terbendung.
"Saya tidak peduli dengan lelaki penyakitan itu,kamu dan pamanmu itu hanya membawa beban dalam hidupku." Sangat pedas ucapan Lora.
Seketika Naina semakin lemas.Mendengar ucapan Lora,ia tidak ingin lagi membuang waktu dengan tetap berdiri di sana.Segera ia berbalik dan meninggalkan Lora.Ia harus berjuang sendiri untuk membawa pamannya ke rumah sakit.
Sementara ia berlari di tengah ramainya penghuni club itu,tiba-tiba seseorang menarik tangannya.
Naina berbalik.Ia masih mengingat wajah itu,lelaki hidung belang yang pernah bersama Sisca.
"Hai,sayang.Akhirnya aku melihatmu lagi," ucap Bram menggodanya.
"Lepaskan tanganku!" bentak Naina dan langsung menarik tangannya.
"Jangan coba-coba menyentuhku!" Naina menaikkan telunjuknya ke wajah Bram dengan tatapan kesal.
Naina segera pergi dari dalam Club itu.Sementara Bram,ia terlihat kesal dengan perlakuan Naina kepadanya.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga berlari,ia akhirnya tiba lagi di dalam kamarnya dan langsung duduk di lantai kemudian menaikkan kembali kepala pamannya ke pangkuannya.Ia terus terisak dalam tangisnya.
Bergegas mencari ponselnya di dalam ranselnya.Siapa yang akan dia telefon,ia masih bingung.Kiran?Rudy?itu yang terlintas di benaknya,tetapi ia merasa tidak enak hati untuk meminta tolong di malam hari seperti ini.Kedua sahabatnya itu juga pasti sangat lelah setelah lembur tadi.
Tiba-tiba saja sebuah nama terlintas di benaknya.
"Mas Dennis ... yah,mas Dennis." Entah kenapa ia merasa tidak ada keraguan untuk meminta tolong pada Dennis.
Menempelkan ponselnya ke telinga.Tidak lama kemudian terdengar suara dari balik telefon sana.
"Hallo,saya belum sampai ke rumah tapi kamu sudah merindukanku," ucap Dennis.
"Mas Dennis ...." Terdengar suara Naina dengan isak tangisnya.Dennis sangat terkejut dan langsung menepikan mobilnya.
"Naina,kamu kenapa?" Dennis terdengar jauh lebih panik.
"Mas ... paman pingsan,Mas.Tolong saya,Mas.Saya tidak tahu harus meminta tolong pada siapa."
"Tunggulah." Dennis langsung mematikan ponselnya dan segera memutar balik mobilnya.
Tidak lupa untuk menghubungi sekretaris peribadinya.Ia tahu,mobil sportnya hanya diperuntukkan dua orang saja.
Sementara di kamar Naina.Gadis ini terus terisak dan sesekali berusaha menyadarkan pamannya.Entah sudah berapa lama pamannya pingsan,ia tidak menyangka akan mendapatkan pemandangan seperti ini di rumahnya.
"Neta ...." Naina mengingat adik sepupunya itu yang tidak terlihat batang hidungnya sejak ia pulang tadi.
Segera menghubungi Neta,tapi sayang sekali karena nomor Neta tidak aktif.
Tiba-tiba Naina melihat selembar kertas didekat tangan Harun.Segera ia mengambil kertas itu.Pelan-pelan Naina membaca tulisan yang ada di sana.Betapa ia sangat shock membaca isi kertas itu.Tulisan yang ada di dalam kertas itu dari Neta,ternyata Neta pergi bersama kekasihnya,benar-benar pergi meninggalkan keluarganya demi lelaki yang ia cintai.Neta pergi karena lelah dengan ucapan Harun yang selalu saja memarahinya karena tidak memberikan restu kepadanya.Naina melihat ke sekeliling kamarnya,tertuju pada lemari yang terbuka.Semua pakaian Neta sudah tidak ada di sana.Ternyata ini yang membuat pamannya jatuh pingsan.
"Neta ...." Naina terus menangis dengan menyebut nama sepupunya itu.Ia tidak menyangka kalau Neta akan mengambil keputusan sebodoh ini.
___________
Tetap berikan dukungan terbaik kalian yah para readers.Terima kasih.
Like,koment dan Vote.
__ADS_1