MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Masih Ting-Ting


__ADS_3

Hari sudah sore. Di dalam dapur yang bernuansa casual, seorang wanita cantik dengan dress selutut sedang sibuk dengan segala persiapan menu makan malamnya untuk menyambut kepulangan suami tercinta. Semua menu sudah siap, tinggal menyajikannya ke meja. Gadis yang hanya menggulung rambutnya ke atas ini terlihat menarik nafas lega setelah mencoba seluruh masakannya, senyum indah terpancar di wajahnya begitu puas.


"Baiklah, sekarang kita akan membuat kue. Mana bahan kue yang kalian beli tadi?" pinta Naina kepada kedua asistennya yang ia suruh untuk berbelanja bahan.


Mimi mengambil dua kanton berisi penuh bahan kue dari toko retail ternama di salah satu mall.


"Ini, Nyonya muda. Sesuai pesanan Nyonya muda," ucap Lilis.


"Bagus, sekarang ambil mixer dan bantu aku mengocok telurnya!" perintah Naina.


Kedua asisten ini segera bergerak sesuai arahan Naina seperti waktu memasak lauk pauk tadi.


"Nyonya muda, berjanjilah untuk mengatakan kalau kami sudah melarang Nyonya muda ke dapur tetapi Nyonya muda bersikeras ingin memasak." Mimi khawatir kena marah dari sekretaris Ben karena Naina berada di dapur.


Naina tertawa terbahak-bahak.


"Kalian ini lucu sekali. Lupakan itu dan cepat mixer telurnya!" ujar Naina. Wanita ini santai saja dengan dirinya yang terjun ke dapur, sementara dua asistennya sudah seperti berada di ujung tanduk.


Kedua asistennya sudah mengeluarkan semua bahan, mengambil beberapa telur sesuai petunjuk Naina kemudian menuangkannya ke dalam wadah mixer.


"Oiya, Nyonya muda. Nyonya muda jago sekali memasak, bahkan membuat kue. Kami tidak percaya wanita sekelas Nyonya muda bisa terjun ke dapur seperti ini." Mimi mulai membuka pembicaraan. Ia berpikir bagaimana mungkin wanita cantik dan kaya raya seperti Naina bisa sehebat ini di dapur.


Naina yang tadinya sibuk menyiapkan bahan lain, kini ia berhenti sejenak dari aktifitasnya kemudian menoleh kepada Mimi.


"Kalian pikir aku wanita seperti apa?" tanya Naina yang sepertinya kedua asistennya ini belum tahu yang sebenarnya.


"Yah, Nyonya muda wanita berkelas dan pastinya bukan dari kalangan kami," jawab Mimi seraya tersenyum.


Naina ikut tersenyum mendengarnya. Senyum yang mengasihani dirinya sendiri.


"Tapi, kalian tahu kan kalau saya tidak mendapat restu dari orang tua mas Dennis?" tanya Naina untuk meyakinkan pemikirannya.


Kedua asisten ini hanya mengangguk. Mereka memang tahu hal itu, makanya mereka ditugaskan ke sini untuk menemani Naina dan selalu menghibur istri tuan muda ini. Tetapi mereka tidak tahu apa alasan Tuan dan Nyonya besar tidak memberikan restunya.


"Kalian tahu alasannya?" Naina kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya lagi kalau kedua asistennya ini memang tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Naina, kompak kedua asisten ini menggelengkan kepala pertanda tidak tahu.


Naina tertawa kemudian melanjutkan menyiapkan bahan untuk kuenya lagi.


Sementara Mimi sudah menyalakan mixer. Suara khas mixer sudah terdengar.


"Karena saya wanita yang berasal dari Zona X" ujar Naina yang membuat Mimi dan Lilis seketika menoleh. Mimi menghentikan suara mixernya, ia ingin memastikan kembali apa yang ia dengar barusan.


"Zo-Zona X?" tanya Lilis kemudian menutup mulutnya.


Naina hanya mengangguk seraya memberikan senyum indahnya. Sementara kedua asisten ini saling menatap dalam keterkejutan.


"Iya, Zona X. Sekarang, apa yang kalian pikirkan tentang diriku?" tanya Naina yang tahu tentang apa yang ada di benak kedua asistennya kini.


Naina berbalik menyandarkan tubuhnya pada dapur set di belakangnya, kedua tangan melipat ke perut.


"Apa yang sedang kalian pikirkan tentang diriku maka itu juga yang orang tua mas Dennis pikirkan saat pertama kali mengetahui putranya mencintai wanita yang berasal dari Zona X. Dan, walau ia sudah tahu kebenaran tentang diriku yang bukan bagian dari para wanita malam itu tapi tetap saja nama Zona X sudah berada di dalam diriku. Dan, orang tua mana yang menginginkan putranya mencintai wanita yang berasal dari sana bahkan menikahinya. Terlebih dia berasal dari keluarga terhormat yang begitu terkenal di negeri ini. Jadi, wajar saja jika orang tua mas Dennis tidak memberikan restunya." Naina bercerita dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


Melihat Naina tampak sedih, Mimi dan Lilis jadi merasa bersalah.


Naina menarik nafas panjang.


"Tidak apa-apa, santai saja," ucapnya tersenyum kemudian berbalik dan kembali mengambil bahan kue. Terlihat beberapa sendok gula pasir ia tuang ke campuran telur. Setelah menuangkan gula, ia kembali menarik nafas.


"Waktu usiaku 10 tahun, orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan hingga akhirnya aku dan Arka, adikku satu-satunya di asuh oleh paman Harun, satu-satunya keluarga yang kami punya dan mau tidak mau akhirnya kami tinggal di Zona X karena paman dan istrinya memang tinggal di sana. Namun, walau paman seorang bartender salah satu club Zona X tetapi dia menjagaku sangat baik dan tidak membiarkanku keluar dari rumah ketika malam hari, kami tumbuh di wilayah nista itu tetapi mata kami buta untuk melihat setiap dosa yang dilakukan ditempat itu. Hingga akhirnya aku tumbuh dewasa, paman Harun sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Sejak saat itu aku mulai bekerja, tetapi tidak di Zona X. Kadang menjadi pengantar kue, bahkan juru parkir. Semua pekerjaan ku lakukan asal bisa mendapatkan uang dengan cara yang halal hingga akhirnya aku mendapat pekerjaan yang sangat layak. Bekerja di salah satu toko bunga ternama kota ini dan kemudian bisa melanjutkan kuliah."


Naina terus bercerita. Menceritakan segalanya kepada kedua asistennya yang sangat serius mendengarkan.


"Dari toko bunga itulah aku bisa bertemu dengan mas Dennis, aku tidak menyangka seorang Dennis Atmajaya jatuh cinta kepada gadis seperti deiriku, awalnya aku selalu kesal dibuatnya hingga akhirnya setiap kebaikan dan ketulusannya membuatku luluh." Tampak senyum malu dari Naina. Begitupun dengan kedua asisten ini, mereka juga tampak mengembangkan senyum mendengar cerita majikannya. Terdengar begitu sangat manis dan romantis.


"Kami percaya, bahkan walau Nyonya muda tidak menceritakannya sedetail itu, kami tahu Nyonya muda bukan bagian dari wanita malam di sana," ucap Mimi.


"Nyonya muda selain cantik, juga sangat baik dan tulus. Wajar saja jika tuan muda bisa jatuh cinta," sambung Mimi lagi seraya tersenyum.


"Nyonya muda benar-benar hebat, bisa menjaga diri di lingkungan seperti itu. Nyonya muda bak berlian yang tersembunyi," lanjut Lilis.

__ADS_1


Naina terkekeh mendengar pujian kedua asistennya.


"Iya loh, Nyonya muda. Benar kata Lilis, sangat sulit menjaga ting-ting di lingkungan seperti itu," sambung Mimi lagi.


"Hah ... ting-ting? apa itu?" Naina tidak mengerti kata yang dimaksud Mimi. Dirinya benar-benar terlihat begitu polos, membuat Mimi dan Lilis saling menatap.


Lilis tersenyum kikuk.


"Emmm ... maksud Mimi, itu ... Nyonya muda ... emmm ... ting-ting itu." Lilis terlihat gelagapan, sementara Naina menatap dengan serius menunggu penjelasan.


"Sudahlah, Nyonya muda. Lupakan saja ucapan si Mimi. Dia memang suka aneh," lanjut Lilis.


"Tidak ... tidak, beri tahu aku apa itu tingting?" desak Naina.


Mimi terlihat canggung.


"Perawan," jawabnya dengan suara berbisik.


"Keterlaluan kalian," umpat Naina membuat kedua asistennya jadi takut.


"Maafkan kami, Nyonya muda. Kamu sih, Mi." Lilis memukul lengan Mimi yang lebih dulu mengeluarkan kata itu.


"Asal kalian tahu, bahkan Mas Dennis saja belum mendapatkannya," lanjut Naina dengan nada kesal. Kedua asistennya saling menatap dengan terkejut mendengar pernyataan Nyonya muda mereka.


Naina yang begitu polos, akhirnya menyadari ucapannya barusan. Ia tidak sadar membeberkan sesuatu yang harusnya menjadi sebuah rahasia. Wajah Nyonya muda ini tiba-tiba terlihat merona karena malu.


"Nyonya muda sudah melalui dua malam tetapi masih ting-ting?" tanya Mimi lirih.


"Husstt ...." Lilis kembali memukul Mimi.


"Ah ... sudah ... sudah. Berhenti membahas itu, kalian membuatku sangat malu," gerutu Naina membuat Mimi dan Lilis menyembunyikan senyum.


"Maafkan kami, Nyonya muda," ujar Mimi.


"Ayo cepat! mixer kuenya," perintah Naina untuk mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2