
"Naina,jangan seperti ini.Itu hanya akan membuat kondisi paman Harun semakin memburuk." Dennis mencoba membujuk Naina agar keluar dari kesedihannya.
Naina diam seketika,menyeka air mata yang terus mengalir di pipinya.Sepertinya ucapan Dennis benar adanya,dengan ia bersedih seperti ini maka bisa saja itu hanya akan membuat Harun merasa sakit di alam bawah sadarnya.
"Duduklah di sana!" Dennis menunjuk sofa yang berada di belakangnya.
"Mari!" Dennis membawa Naina ke sofa tersebut.Untung saja gadis ini masih bisa diajak kompromi,Naina segera berdiri dan menuju sofa bersama Dennis.Sementara sekretaris Ben lagi-lagi sudah tidak ada di sana,sepertinya sekretaris ini pergi untuk sesuatu yang penting.
Setelah beberapa waktu,sekretaris Ben kembali masuk ke ruangan dengan dua kantong berisi kotak makanan di tangannya.Sekretaris ini mendekat ke sofa dimana Dennis dan Naina sedang duduk.
"Tuan muda,Nona,saya membawakan makanan untuk kalian.Sepertinya,Tuan muda dan Nona Naina belum makan."
Sungguh sekretaris yang sangat luar biasa,bahkan tahu kalau bos beserta kekasihnya ini belum juga makan sejak tadi.
Dennis tidak tahu lagi harus berterima kasih bagaimana kepada sekretarisnya ini,sungguh sekretaris yang luar biasa bahkan memperhatikan dengan detail hal sekecil apapun.
Sejak tadi ia memang sangat lapar tapi keadaan tidak memungkinkannya untuk bisa makan.
"Terima kasih,Sekretaris Ben!" Dennis meraih plastik yang dibawa oleh sekretaris Ben.
"Oiya Sekretaris Ben,ini sudah sangat malam.Sebaikanya Anda pulang saja,istirahatlah!besok ada banyak pekerjaan di kantor," ujar Dennis setelah melihat jam tangannya yang menunjukkan hampir pukul 12 malam.
"Tapi,Tuan muda.Bagaimana dengan Anda?"
"Saya masih akan di sini,siapkan saja keperluanku untuk besok pagi dan jemput saya di sini!" perintah Dennis yang sepertinya akan tetap tinggal untuk menemani Naina.
Naina terkejut mendengarnya.Walau masih dengan hati yang sangat sedih melihat keadaan pamannya,ia masih bisa fokus mendengar percakapan antara tuan dan sekretarisnya ini.
"Tidak,Mas Dennis pulang saja!tidak perlu menemaniku.Mas Dennis juga pasti sangat lelah.Pulanglah,Mas!aku bisa menjaga paman seorang diri," ujar Naina yang merasa sudah sangat merepotkan,belum lagi melihat keadaan Dennis yang memang sudah sangat lelah sejak tadi.
"Aku akan tetap tinggal di sini." Dengan tegas,tuan muda ini mengatakannya kalau dia akan tetap tinggal.Bagaimana mungkin ia tega melihat Naina seorang diri menjaga Harun.
"Sekretaris Ben." Dennis berucap pada sekretarisnya seraya menganggukkan kepala.Sekretaris Ben sudah tahu maksud dari tuan mudanya ini.
"Selamat malam,Tuan muda,Nona," ucap sekretaris Ben dengan membungkukkan sedikit tubuhnya dan segera berlalu meninggalkan ruangan ini.Ia sudah paham arti tatapan mata Dennis tadi,pertanda jika tuan muda ini tidak ingin dibantah dan segera sekretaris Ben pamit dari sana.
Tinggallah Dennis dan Naina di ruang perawatan ini menjaga Harun.
__ADS_1
"Mas,mengapa Mas Dennis tidak pulang saja!" Naina masih merengek merasa tidak enak jika Dennis harus menemaninya di ruangan ini menjaga Harun.
"Kenapa?kamu tidak suka jika saya di sini?" balas Dennis kepadanya.
"Bukan begitu,Mas.Tapi,aku ... aku merasa tidak enak karena sudah sangat merepotkanmu," lanjut Naina.
Mendengar itu,Dennis tersenyum masam.
"Tidak enak?kamu tidak enak dengan diriku.Astaga,gadis ini ...." Dennis tidak peduli dengan apapun yang dikatakan Naina.Ia segera meraih kotak makanan yang ada di atas meja.
"Makanlah!sejak tadi kamu pasti belum makan." Dennis memberikan satu kotak makanan itu kepada Naina.Naina hanya menatap dan tidak menunjukkan pergerakan sedikitpun.
"Kenapa?jangan bilang kalau kamu tidak lapar.Baiklah,aku akan menyuapimu." Dennis terus berbicara karena Naina hanya diam saja.
Mendengar Dennis ingin menyuapinya,gadis ini segera beranjak mengambil kotak makanan itu.
"Aku bisa makan sendiri." Dengan sigap ia mengatakan itu.Betapa malunya ia jika harus disuapi.
Dennis hanya tersenyum seraya mengambil kotak makanan miliknya juga.Tadinya ia hanya bercanda ingin menyuapi Naina agar gadisnya ini segera ingin makan dan betul saja,caranya itu berhasil.Walau sebenarnya andai Naina juga ingin disuapi olehnya pastilah ia sangat lebih senang lagi.
Mereka berdua sudah menikmati makanannya.
"Neta pergi,Mas," jawab Naina singkat.
"Pergi?maksudnya?" Dennis menghentikan makannya sejenak.
"Neta pergi meninggalkan kita semua.Dia lebih memilih kekasihnya daripada keluarganya,di capek terus mendapatkan marah dari paman karena paman tidak merestuinya jika berpacaran dengan kekasihnya itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi bersama kekasihnya.Begitu isi surat yang ia tulis."Dengan perasaan hati yang sedikit kesal,Naina menceritakan kepada Dennis semuanya.Ia sangat kesal pada sepupunya itu yang mengambil jalan bodoh seperti ini hingga menyebabkan Harun harus jatuh pingsan dan dirawat.
Dennis akhirnya paham mengapa Harun bisa seperti ini.
"Kamu tidak usah khawatir,akan ku kerahkan orang-orangku untuk mencarinya," tegas Dennis walau terdengar lirih.
Naina hanya diam dan kembali melanjutkan makannya walau terlihat sangat tidak berselera.
***
Naina duduk di kursi dekat tempat tidur pamannya dengan terus memegangi tangan pamannya.Matanya sudah terlihat sangat mengantuk,sesekali terpejam kemudian tersadar lagi.
__ADS_1
Dennis yang membaringkan tubuhnya di sofa,berdiri dan mendekatinya.
"Tidurlah di sofa,biar aku yang duduk di situ menjaga paman," ucapnya pada Naina.
"Tidak mas,Mas Dennis saja yang tidur di sofa.Aku pikir kamu sudah tidur,Mas." suara Naina serak karena terdengar sudah sangat mengantuk kemudian menjatuhkan kepalanya ke atas tempat tidur pamannya.Sepertinya ia akan tidur dengan gaya duduk sepertu ini.
"Baiklah,aku akan menggendongmu ke sofa," ucap Dennis yang membuat Naina tersentak kaget dan matanya membelalak seketika.Ia tidak bisa membayangkannya jika Dennis benar akan menggendongnya.
"Lagian,dulu juga aku pernah menggendongmu.Yah,sedikit berat sih tapi aku masih kuat jika harus menggendong wanita yang ku cintai," goda Dennis kepadanya.
Naina kembali terkejut.Ia fokus pada ucapan Dennis yang mengatakan pernah menggendongnya.Ia merasa tidak pernah digendong oleh seorang lelaki bahkan seorang Dennis Atmajaya yang menggendongnya,tidak mungkin.Pikirnya.
"Kapan Mas Dennis menggendongku?" tanyanya penasaran.
Dennis menghela nafas dengan tangan berkacak pinggang.
"Waktu kamu pingsan di kantorku,Nona," jawab Dennis.
Naina tidak bisa berkata-kata lagi.Ia memang tidak tahu siapa yang menggendongnya ataupun membawanya ke rumah sakit waktu ia pingsan.Setelah ia sadar,ia sudah berada di dalam ruang perawatan.
Wajah gadis ini sedikit malu.Ia baru tahu kalau Dennis yang menggendongnya.
"Masih tidak ingin pindah ke sofa?baiklah,aku akan menggendongmu," lanjut Dennis lagi.
"Iya,iya ... aku pindah ke sofa." Naina segera berdiri dari duduknya.
"Tidak perlu menggendongku,aku bisa sendiri," sambungnya dan segera berlalu menuju sofa.
Ada senyum dari bibir tuan muda ini.Sangat mudah membuat gadisnya mengalah.
"Tidurlah!jika kamu tidak tidur,aku akan ke situ dan berdongeng untukmu," ucap Dennis lagi-lagi menggoda Naina.
Mendongengkanku,memangnya dia pikir aku ini anak kecil.
Naina segera merebahkan tubuhnya ke sofa.
"Jika ada pergerakan dari paman,tolong bangunkan aku,Mas," ucap Naina sebelum memejamkan mata.
__ADS_1
"Hhhmmm ... tidurlah!" balas Dennis.