MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Pilihan Hidup


__ADS_3

Senja sudah tampak menyelimuti bumi dengan pelan mengirim gelapnya. Beauty Flowers sudah tidak melayani pelanggan lagi, pintu besi panjang sudah menutupi pintu kaca toko itu.


"Maaf yah, hari ini kalian semua pulang telat," ujar Selfy.


Dia dan seluruh pegawainya baru saja selesai menyusun bunga yang akan dikirim ke toko cabang, kebetulan toko tempat mereka ini merupakan toko utama dari semua toko Beauty Flowers yang ada.


Beberapa pegawai bersiap untuk pulang, mengambil barang mereka di dalam loker. Beberapa orang termasuk Naina masih tinggal karena untuk menunaikan shalat maghrib di Mushollah yang terletak dibagian belakang toko. Jika mereka pulang sekarang, sudah pasti akan melewatkan maghrib dengan jalanan kota yang selalu macet.


Setelah beberapa saat, mereka keluar dari Mushollah dan bersiap untuk pulang.


"Naina, ini tip kamu dari Nona Arumi." Selfy memberikan sebuah amplop yang berisi uang sejumlah satu bulan gajinya karena berhasil menjalankan tugasnya sebagai kurir bunga untuk orang yang sangat sulit ditemui.


"Terima kasih, Bu," balasnya dengan lesuh. Harusnya dia sudah melompat-lompat kegirangan tapi apa daya, vas bunga mahal itu menjadi masalah besar dalam hidupnya saat ini.


"Kamu harus semangat, saya yakin tuan muda akan memberimu keringanan atau mungkin akan melupakan masalah ini. Semua orang tahu kalau dia adalah lelaki yang sangat baik walau memang terlihat sangat cuek." Mengelus lengan Naina. Selfy dan semua orang sudah tahu dengan kejadian yang menimpa Naina hari ini.


Kiran mendekati Naina.


"Hei Maemunah, harusnya kamu bersyukur karena kamu bisa berurusan dengannya, apalagi dia mengajakmu makan siang. Ingat, dia itu Dennis Atmajaya. Kamu wanita beruntung karena akan makan bersama dengannya."


Sejak mendengar cerita Naina, Kiran juga berfikir sama dengan apa yang dipikirkan Rudy.


"Ah, sudahlah. Kamu dan Rudy sama saja. Sejak tadi hanya mengejekku."


Menuju loker mengambil ranselnya. Kiran dan Selfy hanya tertawa. Entah kenapa semua orang merasa kalau ini bukan masalah yang besar, bahkan semua orang berpikir kalau Naina sedang dalam keberuntungan. Bagaimana tidak? makan bersama Dennis Atmajaya itu sungguh sebuah kehormatan besar. Namun, bagi Naina ini musiba. Yang ia pikirkan hanyalah hutangnya.


***


Tepat pukul 8 malam, Naina sudah sampai di sebuah lingkungan dimana para wanita sexi sudah tampak berlalu lalang keluar masuk ke dalam club yang berderet disepanjang Zona X ini.


Setelah memarkir motornya, ia berjalan dengan ransel di pundak dan helm di tangannya. Ia berjalan dengan menundukkan kepala, tidak ingin melihat aktifitas malam di tempat nista ini.


"Naina ...."


Terdengar seorang wanita memanggilnya. Naina menoleh ke arah suara tersebut, terlihat seorang wanita yang berdiri di luar club, wanita sexi dengan dress merah yang begitu ketat dan high heels berwarna senada dengan dress-nya.


"Kak Sisca," jawab Naina. Ditempat ini, hampir semua wanita memang mengenal Naina.Naina juga sangat ramah kepada mereka.


"Tumben kamu pulang malam?"


"Iya kak, hari ini saya lembur dan jalan sangat macet," jawabnya.


"Kamu itu yah, Nai. Betah sekali bekerja ditempatmu itu padahal andai kamu mau, kamu bisa mendapatkan dalam semalam hasil sebulan kamu bekerja di toko itu. Kamu itu sangat cantik, Beib ... kamu bisa menjadi primadona Zona X."


Lagi-lagi Sisca mempengaruhi Naina.


"Semua orang punya pilihan hidup, Kak. Dan setiap pilihan akan ada pertanggung jawabannya, dan aku tetap bertahan dengan pilihanku sekarang."


Walau ia tinggal dan hidup di tempat seperti ini, tapi Naina tetap tidak terpengaruh dengan lingkungannya. Andai bukan pamannya, sudah lama dia meninggalkan tempat terkutuk ini.


"Ah, terserah kamu lah,Nai. Memang susah mengajakmu berbicara," ujar Sisca yang setiap kali berbicara dengan Naina, hanya ada ceramah yang ia dengar.


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Naina dan dan Sisca menoleh ke sana, terlihat seorang lelaki paruh baya yang turun dari mobil tersebut.


"Om Bram," ujar Sisca setelah melihat lelaki paruh baya yang sejak tadi ia tunggu.


"Hai sayang ...." Lelaki itu memeluk Sisca.

__ADS_1


Naina hanya mendenguskan nafasnya melihat Sisca dan lelaki hidung belang itu. Pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi di mata Naina.


"Teman kamu?" sambung lelaki itu bertanya seraya menunjuk Naina.


"Oh, dia Naina. Ponakannya tante Lora"


"Oh ya, saya baru tahu kalau Lora punya ponakan cantik." Memandang Naina dari ujung kepala hingga ke bawah dengan mata buayanya.


Naina tampak tidak nyaman dibuatnya, pandangan yang membuatnya merasa jijik.


"Aku masuk dulu yah, Kak," ucap Naina kepada Sisca.


"Oh iya, kami juga sudah mau pergi," balas Sisca.


"Ayo, Om. Berangkat sekarang!" ujar Sisca manja seraya merangkul lengan lelaki yang sudah menjadi langganannya itu. Mata lelaki itu tetap saja memandang Naina yang sudah berjalan meninggalkan mereka.


"Om bram, ayo!" Sisca mengagetkannya.


"Oh iya, ayo."


Naina berjalan memasuki gang yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki, gang yang dihimpit antara dua club di kiri-kanannya. Samar-samar suara musik terdengar dari dalam club.


Naina sampai disebuah rumah, tepat di belakang club yang masih satu dinding dengan rumah tempat tinggalnya.


"Assalamualaikum," ucapnya setelah membuka pintu.


"Waalaikumsalam. Sudah pulang, Nak," jawab lelaki paruh baya yang duduk di atas kursi roda karena kedua kakinya yang lumpuh. Sejak tadi pamannya ini menunggunya dari balik pintu. Langsung saja Naina mencium tangan pamannya.


Tiap hari ketika ia pulang bekerja,hanya ada pamannya yang selalu setia menunggunya. Tantenya tidak usah dicari, wanita paruh baya itu jika matahari sudah terbenam maka waktunya ia bekerja di club, walau bukan menjadi wanita pemuas nafsu lelaki hidung belang tapi pekerjaannya tetap sama saja karena ia sebagai penanggung jawab beberapa wanita-wanita untuk ia kenalkan pada setiap lelaki yang datang.


"Hari ini pekerjaanku sangat banyak, Paman. Belum lagi jalanan yang semakin hari semakin macet saja."


"Sejak tadi bapak sangat gelisah menunggumu pulang, kak," Terdengar suara seorang gadis dari dalam dapur. Gadis yang berumur 20 Tahun, sepupu satu-satunya yang dia miliki, anak pak Harun.


Naina hanya tersenyum mendengar ucapan Neta, gadis yang kadang keras kepala dan kerjanya hanya sibuk berpacaran dan menghabiskan uang tapi walau begitu, Neta dan Naina saling menyayangi satu sama lain.


"Ya sudah, ganti baju dulu lalu makan. Jangan sampai Neta menghabiskan semua makanan di dapur," ujar Pak Harun.


"Memangnya Bapak pikir aku kucing garong," timpal Neta yang mendengar ucapan bapaknya.


Naina hanya tertawa dan segera duduk di sofa dekat kursi roda pamannya.


"Kelihatannya kamu sangat lelah, Nak"


"Tidak paman, aku baik-baik saja," balasnya. Ia bukan lelah, hanya saja stres memikirkan vas bunga itu. Ia membuka ranselnya, mengeluarkan amplop dari dalam tasnya.


"Paman, ini ada uang untuk beli obat. Tadi di toko ada pembagian bonus sebesar satu bulan gaji."


Memberikan amplop tip-nya kepada pamannya. Naina tidak berterus terang kalau itu adalah sebuah tip dari hasil ia menjadi kurir, ia tidak mau kalau pamannya berpikir jika dirinya bekerja keras.


"Kamu simpan saja uangnya, kamu juga punya banyak keperluan, lagian paman masih ada uang yang kamu berikan kemarin dan obat paman juga masih ada."


Menyerahkan kembali amplop itu kepada Naina.


"Ya sudah, kalau begitu Paman pakai saja uang ini untuk check-up minggu depan."


Kembali menyodorkan amplop itu kepada pamannya.

__ADS_1


"Paman rasa sudah agak baikan, Paman tidak perlu check-up lagi," ujarnya berbohong karena kasihan pada Naina.


"Paman jangan membohongiku, tiap malam aku dengar paman batuk. Apa itu pertanda kalau paman sudah sehat? pokoknya paman harus check-up!"


Neta keluar dengan piring makan di tangannya, ia berjalan dengan mulut yang masih mengunyah. Langsung saja ia bergabung di ruang tamu.


"Dasar jorok, sana kembali ke dapur!" mengusir adik sepupunya tapi Neta tidak peduli dengan ucapan Naina.


"Kalau bapak tidak mau menerima uangnya, ya sudah ... kasih ke aku saja, Kak," ucapnya seraya terus mengunyah dan kedua kaki yang duduk bersila di atas sofa. Sejak tadi ia mendengar percakapan Naina dan bapaknya.


"Bukannya baru kemarin aku kasih kamu uang jajan," tegas Naina.


"Tugas kampusku sangat banyak, Kak. Belum lagi aku dari Mall. Yah habis lah," jawabnya sangat santai.


Naina melemparinya bantal sofa.


"Mama juga kalau kasih uang selalu saja sedikit, pelit," sambung Neta lagi.


"Mau sampai kapan kamu seperti itu. Kenapa kamu tidak bisa mencontoh kakakmu, Naina."


Pak Harun selalu membandingkan anak kandungnya sendiri dengan Naina yang menurutnya sangat jauh berbeda.


"Tuh kan, selalu saja aku yang disudutkan," balas Neta dengan bibir manyunnya.


"Sudah ... sudah. Kakak akan memberimu uang tapi minggu depan kamu bawa paman untuk check-up." Mendengar ucapan Naina, Neta langsung bersemangat.


"Siap, Bos." Menaikkan satu tangannya hormat.


"Kalau cuma antar bapak check-up, itu soal gampang," sambungnya.


"Ya sudah, aku ganti baju dulu." Naina berdiri dari tempatnya duduknya.


"Naina ke kamar dulu yah, paman," sambungnya.


"Nak ...." Pak Harun mendorong sedikit kursi rodanya mendekati Naina.


Mengeluarkan setengah dari uang yang berada dalam amplop itu.


"Uang ini terlalu banyak, ini kamu ambil saja, bukannya kamu mau mengunjungi Arka di pesantren." Memberikan separuh uang itu kepada Naina.


"Paman tidak perlu memikirkan Arka, aku sudah punya simpanan untuk dia." Naina bersikeras tidak ingin menerima uang yang sudah ia berikan kepada pamannya.


"Ya sudah, kalau kamu tidak ingin menerima uang itu maka Paman tidak akan pergi check-up," balas pak Harun dan segera mendorong kursi rodanya menuju kamar.


"Iya, Paman. Baiklah, aku mengambil uangnya" ujar Naina mengalah.


"Ah, paman dan ponakan sama saja. Andai itu aku maka langsung saja aku mengambil uangnya, tidak perlu pakai drama seperti ini," suara Neta kecil, berbicara pada dirinya sendiri tapi Naina mendengarnya.


Melempari Neta dengan bantal sofa sekali lagi dan langsung menuju kamarnya.


"Dasar Maemunah!" ujarnya kesal karena bantal itu mengenai sendoknya yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


TETAP TINGGALKAN JEJAK YAH❤️


like,koment,vote dll😍


Terima kasih🙏

__ADS_1


__ADS_2