MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Akan Berbulan Madu


__ADS_3

Garis cahaya sudah masuk menembus kaca jendela, menelusup sedikit pada sela ghorden. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sepasang suami istri yang baru saja memadu kasih semalam, masih terbaring di atas tempat tidur. Mereka melanjutkan beristirahat lagi setelah membersihkan diri subuh tadi.


Naina menggeliat dalam dekapan suaminya. Membuka mata, merasakan garis cahaya itu mengenai kakinya. Menatap jam dinding yang sudah menunjukkan keterlambatan suaminya untuk berangkat ke kantor. Setelah shalat subuh tadi, ia memang tidak berniat untuk tidur lagi walau tubuhnya terasa lelah karena pertarungan semalam namun, Dennis memaksanya untuk kembali tidur.


"Mas, sudah jam delapan. Mas Dennis telat ke kantor." Mengguncang tubuh suaminya yang masih menikmati tidurnya. Naina segera bangun dan duduk menghadap ke arah Dennis.


"Mas ... bangun ...." Kali ini mengguncang lebih keras hingga mau tidak mau Dennis harus terbangun.


"Keterlaluan, apa seperti ini cara membangunkan suami? apa tidak bisa melakukannya dengan lembut?" keluh Dennis dengan suara khas serak baru bangun.


"Aku sudah membangunkamu dengan lembut, tapi Mas Dennis masih tertidur juga," bantah Naina.


"Ayo Mas, ini sudah jam delapan," lanjutnya masih kasar.


Sejurus Dennis menarik tangan istrinya dan menjatuhkannya lagi ke dalam dekapannya.


"Hari ini aku tidak bekerja sampai satu Minggu ke depan," tegas Dennis.


"Hah ...." Naina menarik nafas panjang karena terkejut.


"Apa maksud Mas Dennis?" Naina tidak mengerti dengan ucapan suaminya barusan. Atau karena suaminya baru bangun hingga masih berbicara ngawur seperti ini? pikirnya.


"Aku ingin menghabiskan hari bersama istriku." Jawaban yang begitu terdengar tegas.


Naina terdengar terkekeh. Sepertinya suaminya belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.


"Jangan bercanda! cepat bangun dan berangkat ke kantor." Naina masih bersikeras.


"Apa aku harus menelfon sekretaris Ben untuk menjelaskannya kepadamu, Nyonya muda?" Mendengar itu, kali ini Naina terdiam. Jika sudah mendengar nama sekretaris Ben maka pasti suaminya ini tidak sedang bercanda.


"Kemarilah!" Dennis menarik pelan tubuh istrinya hingga semakin rapat dalam pelukannya.


"Bagaimana dengan dirimu? apa masih sakit?" Dennis sudah mengalihkan pembicaraan dan menanyakan aset berharga yang sudah ia terobos semalam. Seketika Naina begitu sangat malu. Ia dengan cepat menggelengkan kepala pertanda ia baik-baik saja.


Terdengar suara tawa kecil Dennis di atas kepalanya.


"Sungguh gadis yang kuat," lirih tuan muda ini.


"Sedikit nyeri," jawab Naina dengan cepat. Ia juga tidak ingin dicap sehebat itu oleh suaminya. Percuma ia menyembunyikan rasa nyerinya, toh suaminya juga tahu kalau akan ada rasa yang masih melekat di sana.

__ADS_1


"Oiya, Mas. Siang nanti dan besok pagi aku ada jadwal ke kampus." Kini Naina yang mengalihkan pembicaraan sekaligus memberitahu terlebih dahulu kepada suaminya agar ia mendapatkan izin.


"Aku tahu, aku yang akan mengantarmu." Dennis seperti tidak ingin melepaskan istri cantiknya keluar begitu saja, rasa protektif tiba-tiba menguasai dirinya terlebih setelah apa yang ia dapatkan semalam.


Naina memilih diam, membantah pun tidak akan mungkin.


Dennis meraih ponselnya di atas nakas.


"Bawa sarapannya ke kamar!" Terdengar suaranya kemudian yang berbicara lewat telefon. Naina seketika bangkit, ia begitu terkejut mendengarnya. Apa suaminya sedang memerintahkan Mimi dan Lilis masuk ke kamarnya sekarang?


Naina melihat di atas tempat tidurnya masih berserakan pakaian sebelum ia dan Dennis bertempur semalam. Baru ingin bergegas membereskannya tiba-tiba gagang pintu sudah terdengar akan terbuka. Sejurus gadis ini masuk ke dalam selimut menyembunyikan dirinya. Suaminya benar-benar tidak waras menyuruh kedua asistennya untuk masuk ke kamarnya sekarang.


Suara tapakan sepatu kedua asistennya sudah terdengar memasuki kamar. Kedua asisten ini berpura-pura tidak melihat, mana berani ia memandang kemesraan di hadapan mereka. Nyonya mudanya yang walau berada di dalam selimut tapi satu tangan tuan mudanya merangkul erat dari luar selimut dan satu tangan sibuk pada ponselnya.


"Permisi, Tuan muda," pamit kedua asisten ini setelah meletakkan sarapan ke meja sofa.


"Iya, terima kasih."


Dari luar pintu yang sudah tertutup.


"Lis, apa kamu melihat semua pakaian yang berserakan?" Mimi mulai bergosip ria.


"Artinya Nyonya muda sudah ting-tong," sambung Mimi. Kedua asisten ini begitu sangat bahagia, bukan mereka yang melakukannya tetapi mereka yang kegirangan.


***


Hari sudah siang, di dalam sebuah mobil sport yang sedang melaju membelah jalan.


"Mas, nanti turunkan aku di depan gerbang saja!" pinta Naina.


"Tidak," tolak Dennis dengan spontan.


"Bagaimana mungkin aku membiarkan istriku berjalan masuk."


"Sekalian saja Mas Dennis mengantarku sampai ke kursiku," kesal Naina.


"Apa Mas tahu, semenjak Mas Dennis mengantarku waktu itu menggunakan motor, gadis-gadis di kampusku terus meneror diriku untuk bisa mengenalkannya pada Mas Dennis. Mereka begitu mengidolakanmu, Tuan muda." Nada semakin kesal keluar begitu saja dari Naina. Namun, Dennis menangkapnya kalau itu adalah sebuah kecemburuan. Satu tarikan senyum merekah terlihat dari bibir Dennis.


Mobil akhirnya sampai ke depan gerbang, di sana terlihat Kiran dan Rebecca sudah menunggu. Sepertinya Naina sudah mempersiapkan kedua sahabatnya ini menunggu di luar agar Dennis tidak mengantarnya masuk hingga ke halaman kampus.

__ADS_1


"Stop di sini, Mas. Kiran dan Rebecca sudah menungguku di luar!" perintah Naina dengan senyum kemenangan. Langsung meraih tangan suaminya kemudian mencium tangan itu dan segera turun dari mobil.


Kedua sahabatnya tertegun sejenak melihat tampilan Naina dari ujung rambut sampai kaki. Semua barang-barang mewah nan branded melekat menambah kecantikan Maemunah mereka.


"Hai, Kiran ... Rebecca." Dennis lebih dulu menyapa kedua sahabat istrinya ini. Naina sungguh tidak menyangka kalau suaminya akan ikut turun, ia berpikir segera meraih tangan suaminya tadi agar tidak turun lagi dari mobil.


"Hai, Tuan muda," balas kedua sahabat istrinya.


"Ah ... Maemunah, eh ... maksudku Nyonya muda, Anda sungguh semakin sangat cantik," goda Rebecca dengan manja. Naina hanya membalas dengan senyum mengkerut.


"Kami pikir kamu tidak akan ke kampus, biasanya kan pengantin baru itu akan pergi berbulan madu. Bukan begitu Tuan Muda?" kini Kiran yang mengeluarkan godaannya.


"Iya, Senin lusa kami akan berangkat," jawab Dennis tersenyum. Pastinya membuat Naina sontak terkejut, ia bahkan baru mengetahuinya itu sekarang. Apa ini maksud ucapan suaminya tadi pagi yang tidak akan masuk ke kantor selama satu Minggu, pikirnya sudah bisa menebak.


"Ah ... benarkah?" Rebecca begitu kegirangan.


"Tuan Muda, apa kami boleh ikut? jadi koper pun tidak masalah," goda Rebecca lagi.


Dennis tertawa mendengarnya.


"Kalau kalian ikut, bukan bulan madu lagi namanya," ujar Dennis.


"Suatu hari nanti, kalian pasti akan ikut," sambung Dennis lagi yang membuat Rebecca dan Kiran bahagianya tidak ketulungan.


"Sudah ... sudah ... ayo kita masuk! kelas akan segera di mulai." Naina mengalihkan pembicaraan agar tidak membuang waktu disini dan pembicaraan makin melebar kemana-mana.


"Mas, kami masuk yah. Mas hati-hati!"


Dennis hanya membalasnya tersenyum.


"Bye-bye, Tuan muda." Rebecca memberikan ciuman udaranya.


"Katakan, kemana kalian akan ber-honeymoon?" Sembari berjalan, Rebecca masih penasaran.


"Ke luar angkasa," jawab Naina.


"Ah ... kami makin bersemangat untuk ikut, diikat di ujung roket pun kami siap," balas Rebecca kemudian disusul tawa mereka bertiga.


Dennis yang masih berdiri menatap istrinya hingga hilang dari pandangan, mendengar sayup-sayup kebahagiaan itu.

__ADS_1


__ADS_2