
Pintu lift terbuka, Naina tiba di lantai bawah. Berjalan keluar menuju lobby dengan pikiran kemana-mana.
Tidak tahu apa yang akan terjadi dengan takdir dirinya selanjutnya yang mempunyai hutang karena memecahkan vas bunga yang sangat mahal.
Dengan wajah lesuhnya, ia berjalan ke arah Rudy yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Si Maemunah, akhirnya kamu datang juga." Melihat Naina dari kejauhan.
"Maaf yah,Rud. Kamu sudah menunggu lama," ucapnya yang sudah sampai di hadapan Rudy.
"Hei, kenapa dengan wajahmu? Maemunah tidak pernah terlihat seperti itu."
Melihat wajah Naina yang sangat lesuh, tidak seceria yang biasanya ia lihat.
"Nanti kita bicarakan di mobil," Balas Naina.
"Ya sudah, ayo!"
Rudy berjalan keluar yang diikuti Naina.
Mereka sampai ke halaman parkir dan langsung naik ke mobil box.
Mobil mereka sudah keluar dari gedung pencakar langit ini.
Rudy menatap Naina yang diam saja.
"Bagaimana dengan bungamu? apa kamu berhasil bertemu langsung tuan muda konglomerat itu?" tanyanya dari balik kemudi.
"Yah," jawab Naina singkat. Rudy terkejut mendengarnya.
"Serius? kamu bertemu langsung dengan Dennis Atmajaya?" tanya Rudy lagi yang tidak percaya.
"Yah."
"Lalu bagaimana dengan bunganya? apa dia menerimanya?"
"Yah."
Sejak tadi, Naina hanya menjawab seperti itu.
"Sungguh?" Rudy benar-benar terkejut mendengarnya.
"Kamu memang Maemunahku, sepertinya kamu kurir pertama yang berhasil bertemu dengan tuan muda konglomerat itu secara langsung." Naina tidak menggubris ucapan Rudy, dia hanya memikirkan hutang vas bunganya.
Rudy kembali menatap Naina yang murung sejak tadi.
"Hei Maemunah, bukan kah kamu akan mendapatkan tip? kenapa kamu terlihat menyedihkan seperti itu? sudah sejak tadi raut wajah jelek seperti itu yang kamu perlihatkan." Mendengar ucapan Rudy, sontak Naina histeris dengan suara tangis tetapi tidak mengeluarkan air mata. Sudah sejak tadi ia memendam ini, sudah sejak tadi ia ingin meraung-raung, mengingat kejadian sial yang menimpa dirinya hari ini.
"Ada apa? apa ada yang salah dengan ucapanku?"
Rudy sangat terkejut.
Naina menenangkan suara tangisnya sejenak.
"Kamu tahu, tadinya aku sudah berhasil dan seratus persen akan mendapatkan tip, tapi tiba-tiba aku melakukan kesalahan fatal." Menjelaskan dengan suara tangis yang beriringan dengan ucapannya.
"Maksudnya?" Rudy tidak mengerti dengan ucapan Naina.
"Kamu tahu, aku memecahkan vas bunga yang berada di meja tuan muda. Vas bunga yang terbuat dari kristal bohemia original dan sepertinya itu barang impor."
Benar-benar sangat menyedihkan jika harus mengingat kejadian itu lagi.
"Apa?"
Rudy sangat terkejut mendengarnya. Ia juga tahu berapa harga vas bunga kristal seperti itu.
"Ya ampun Maemunah, bagaimana mungkin kamu bisa seceroboh itu? katakan kepadaku, bagaimana kamu menjatuhkannya?"
__ADS_1
Rudy ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa Naina.
"Aku tidak tahu Rud, aku berbalik dan vas bunga itu terjatuh di belakangku. Sepertinya aku mengenainya tanpa aku sadari."
"Kamu benar-benar yakin kalau kamu yang menjatuhkannya?" tanya Rudy setelah mendengar penjelasan Naina.
"Bodoh, kalau bukan aku lalu siapa? di dalam ruangan itu hanya ada kami bertiga. Tuan muda dan sekretaris galaknya. Sekretaris itu jaraknya cukup jauh dari vas bunga, tidak mungkin jika dia yang menjatuhkannya. Lalu, aku akan menuduh tuan muda yang menjatuhkan vas bunganya sendiri? tidak masuk akal."
Naina benar-benar tidak tahu kalau pelakunya adalah sang pemilik vas bunga itu sendiri.
"Ok, kamu yang menjatuhkannya. Lalu bagaimana kamu menggantinya? apa yang tuan muda katakan?"
tanya Rudy lagi.
"Itulah yang membuatku lama, aku harus bernegosiasi dulu dengan mereka. Tadinya aku ingin menyicilnya sebagai pertanggung jawabanku, tapi sepertinya mereka tidak setuju bahkan sekretaris galak itu menertawaiku."
Mendengar ucapan Naina, Rudy juga ikut tertawa.
"Hei, kamu juga menertwaiku? apa yang salah dengan caraku yang ingin menyicil hutangku?"
Melipat kedua tangannya ke perut.
"Hei,Maemunah. Jelas saja sekretarisnya menertawaimu, kamu pikir mereka itu tempat kredit barang," ledek Rudy.
"Yah, itulah yang dikatakan sekretarisnya," sambung Naina sangat kesal jika mengingat sikap sekretaris Ben kepadanya.
"Dan kamu tahu? sekretaris menyebalkan itu, juga mengejek namaku. 'Apa tidak ada nama bagus lagi selain itu'," lanjutnya lagi mengulang ucapan sekretaris Ben yang membuat Rudy semakin tertawa.
"Lalu, bagaimana dengan tuan Dennis? dia orang yang begitu baik, apa dia tidak memberimu keringanan?" tanya Rudy lagi.
"Yah, sepertinya dia memang orang yang baik tapi dia belum memberiku jawaban atas negosiasiku tadi, mungkin dia akan memberikan jawabannya besok."
"Hah ... besok? jadi kamu akan menemuinya besok?"
"Hhmmm ... itu permintaannya. Dia bilang, dia akan mengirimkan orang untuk menjemputku dijam makan siang besok."
"Hei Maemunah, artinya tuan muda mengajakmu makan siang?"
Rudy mulai merasa ada yang aneh.
"Yah, bahkan dia menekan kembali ucapannya waktu aku ingin keluar dari ruangannya.' Maemunah ... Ingat, besok dijam makan siang' sungguh, dia juga memanggil diriku Maemunah karena mendengar suaramu dari balik telefon tadi."
Naina menirukan suara Dennis yang membuat Rudy semakin berfikir aneh.
"Tuan muda berkata seperti itu? bahkan memanggilmu Maemunah?"
Rudy benar-benar tidak percaya.
"Aku merasa ada yang ganjal," sambungnya lagi.
"Apa yang ganjal? menakutkan,iya. Aku tidak tahu bagaimana membayar hutang atas kecerobohanku itu, bodoh."
Memukul kepalanya sendiri. Naina hanya memikirkan hutangnya dari sebuah vas bunga yang sangat mahal.
"Kamu tahu, Maemunah. Aku merasa kalau tuan muda konglomerat itu menyukaimu." Mendengar ucapan Rudy, sontak Naina langsung memukul keras lengan Rudy.
"Auughh." Rudy meringis kesakitan
"Dasar tidak waras, apa kamu tahu dia itu siapa? dia itu konglomerat dari keluarga terhormat. Jika dibandingkan dengan diriku, dia itu bunga Adenium yang mahal, sedang aku?aku hanya rerumputan yang malang."
Melipat kedua tangannya ke perut sembari menatap jalan di depannya yang begitu macet.
"Jangan pernah mengulang ucapan konyolmu itu, memalukan," sambungnya kesal.
"Hei, Nona cantik. Apa kamu tahu kalau sekarang sudah ada rerumputan yang harganya sangat mahal karena keindahannya, dan kamu adalah rumput yang mahal itu. Kamu itu sangat cantik, kamu baik, lalu apa yang salah jika seorang Dennis Atmajaya menyukaimu."
Ucapan Rudy membuat Naina berfikir sejenak bahkan menatap wajahnya dari spion mobil box itu.
__ADS_1
Apa aku memang cantik? pikirnya.
Ah, bodoh. Kenapa aku berpikir seperti itu" merutuki dirinya sendiri.
Kembali dia mumukul lengan Rudy.
"Aku katakan jangan ulangi lagi ucapan bodohmu itu."
Naina benar-benar kesal dengan ucapan Rudy, jangankan untuk memikirkan kalau Dennis menyukainya bahkan membayangkannya saja tidak mungkin.
Lampu merah baru saja menyala. Rudy terdiam di balik kemudi seraya menunggu lampu merah yang lama ini.
Entah apa yang ia pikirkan.
"Maemunah, tadi kamu bilang kalau kamu juga tidak menyadari kalau kamu yang menjatuhkan vas bunga itu?"
Rudy sudah seperti detektif yang sedang menyelidiki sebuah kasus.
"Yah, tapi aku sudah katakan kalau di ruangan itu cuma ada kami bertiga. Sudah pasti bukan kedua lelaki itu dan juga jika bukan aku, lalu siapa? makhluk ghaib?"
Naina benar-benar stres jika terus mengingat itu.
"Aku merasa waktu aku berbalik, mungkin kertas nota yang ku pegang yang mengenai vas bunga itu."
Naina mencoba mengingat tapi sebenarnya ia juga tidak yakin, tapi jika bukan dirinya lalu siapa?.
"Kalau aku dengar dari pernyataanmu, kamu juga seperti tidak yakin kalau kamu yang menjatuhkannya," sambung Rudy seraya menginjak gas karena warna tanda berhenti itu sudah beralih ke hijau.
"Sudahlah. Aku sudah pasrah," timpal Naina.
"Entah kenapa feeling-ku mengatakan kalau memang bukan kamu pelakunya dan mendengar ceritamu tentang tuan muda tadi, aku semakin yakin kalau dia ...." Rudy belum selesai berbicara tapi lagi-lagi Naina memukul keras lengannya.
"Aughhh" Rudy kembali meringis kesakitan.
"Aku sudah katakan jangan pernah mengucap kata itu lagi."
Naina tahu kalau Rudy akan mengatakan kalau Dennis menyukainya.
"Tapi bagaimana jika memang benar kalau dia menyukaimu?" balas Rudy dengan segala keyakinan hatinya.
"Dan sudah ku pastikan kalau aku tidak akan menyukainya," tegas Naina.
"Jadi kamu menolaknya?" tanya Rudy lagi
"Yah, aku menolaknya."
Suara Naina lebih tegas dari sebelumnya.
"Kenapa kamu menolaknya?"
"Karena dia bukan tipeku."
"Oh Tuhan, aku tidak percaya kalau ada wanita yang menolak lelaki tampan dan kaya raya seperti itu," lanjut Rudy yang membuat Naina terkejut, ia tersadar kalau baru saja ia masuk dalam jebakan pertanyaan Rudy.
"Ahhh ... bodoh, bodoh, bodoh." terus memukuli Rudy.
"Kamu tahu dengan apa yang sedang kita bicarakan tadi? aku tidak bisa membayangkan jika tuan muda mendengar ini. Sungguh memalukan."
Merutuki dirinya sendiri yang sudah terpancing dengan ucapan Rudy tadi. Rudy hanya tertawa dari balik kemudinya.
Bagaimana mungkin aku ikut berpikir kalau dia menyukaiku dan aku bahkan menolaknya karena dia bukan tipeku, memangnya aku ini siapa? oh, Cinderella tong sampah.
TETAP TINGGALKAN JEJAK YAH❤️
like,koment,vote dll😍
Terima kasih🙏
__ADS_1