MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X

MENCINTAI WANITA Dari ZONA_X
Kemarahan Ibu Angkat


__ADS_3

Dennis menatap jam tangan berwana hitam di tangan kirinya,sepertinya hari sudah semakin pagi.Walau ia pemilik perusahaan sekalipun tetapi sikap disiplin sudah tertanam di dalam dirinya.


"Sekretaris Ben ...."Dennis mengulurkan tangan seperti meminta sesuatu.


Sekretaris ini dengan cepat mengambil sesuatu dari dalam tas yang ia jinjit.Sebuah kartu pipih yang biasanya digunakan sebagai alat transaksi pembelian.Dennis meraih kartu yang diberikan oleh sekretaris Ben.


"Sayang,ambillah!ini bisa kamu gunakan untuk keperluanmu.Kamu bisa membeli apapun yang kamu inginkan."Memberikan kepada Naina kartu berisi uang yang pasti jumlahnya tidak main-main.


"Tapi ...."Gadis ini merasa berat menerima kartu tersebut,terlebih di hadapan sekretaris Ben dan kedua manusia yang sudah menjadi dayang-dayangnya.


Tidak ingin menunggu,Dennis langsung meraih tangan istrinya kemudian memberikan kartu itu.


"Akan ku kirimkan sandinya nanti,"ujar Dennis.


"Tapi,Mas ...."


"Tidak ada tapi-tapian,itu adalah hakmu,"ucap Dennis tegas namun dibalut nada kelembutan.


"Baiklah,saya ke kantor dulu."


"Oiya,kalian berdua."Dennis menatap Mimi dan Lilis."Ingat,tugas kalian!bekerjalah dengan baik,"pesan Dennis terdengar seperti menitipkan amanah besar.


"Siap,Tuan muda."Kedua wanita berseragam hitam dengan sedikit corak putih ini kompak menjawab seraya mengangkat tangan pertanda hormat.


"Kami pastikan Nyonya muda akan selalu dalam perlindungan yang baik,akan selalu membuatnya bahagia dan juga ...."Belum selesai Mimi menjabarkan tugasnya,Dennis langsung memotongnya.


"Sudah cukup!tidak perlu mengulangnya lagi."Tuan muda ini merasa hanya akan membuang waktu jika meladeni pembicaraan kedua wanita mulut kereta api ini.Terlihat senyum Naina mengembang,sepertinya ia sudah mulai menerima dayang-dayang barunya dengan segala kelucuan mereka.


"Sayang,aku berangkat dulu!"Dennis mendekat dan langsung mendaratkan kecupan pada kening wanita cantik di hadapannya tanpa peduli dengan keberadaan sekretaris Ben dan juga para dayang-dayang istrinya.


Sekretaris Ben sejurus membuang pandangannya,ia berpura-pura menatap ke arah lain.Sementara Mimi dan Lilis,juga sama seperti sekretaris Ben.Mereka berdua juga mengalihkan pandangan tetapi memegang kedua pipinya,begitu romantis majikannya ini.


"Mas ...,"lirih Naina sangat malu.


***


Dennis dan sekretaris Ben telah meninggalkan apartemen.Tinggalah Naina bersama dua wanita yang mulai sekarang akan selalu bersamanya.


"Nyonya muda,kami ke kamar meletakkan koper dulu!"pinta Mimi.


"Oiya,silahkan!di sana ada dua kamar.Kalian boleh pilih kamar yang kalian sukai!"seru Naina begitu ramah.


"Mari aku antar,"sambungnya lagi.


"Tidak perlu,Nyonya muda.Tidak perlu merepotkan diri,kami sudah tahu di mana kamar kami,"ujar Lilis.

__ADS_1


Naina menepuk keningnya seraya tersenyum.


"Oiya,saya lupa kalau kalian yang selama ini mengurusi apartemen mas Dennis."


Setelah mengucap itu,Naina tiba-tiba memikirkan sesuatu.


"Tunggu!"Menahan kedua wanita yang sudah mulai grasak-grusuk hendak berjalan.


Naina menaikkan satu tangan berkacak pinggang,sedang satu tangannya menunjuk-nunjuk seperti ingin mengintrogasi.


"Kalian yang selama ini mengurus apartemen ini bukan?artinya kalian juga yang menyiapkan segala sesuatunya sebelum saya tinggal di sini?"Naina kembali mengingat bantal guling yang hilang,pakaian tidur yang sexi,dan tidak adanya jubah mandi.


Kedua wanita di hadapannya hanya tersenyum kikuk.


"Iya,Nyonya muda,"jawab Mimi.


"Oh ... kalau begitu,dimana kalian menyembunyikan guling di kamar mas Dennis?"Kali ini tatapan Naina sedikit menakuti kedua dayang-dayangnya.


"I-itu,Nyonya muda ... saya ...."Mimi gelagapan.


"Dimana?"tanya Naina lagi tapi sedikit garang.


"Saya menelannya,eh kok menelannya sih."Mimi menjadi lata karena takut.


Mimi dan Lilis terlihat menarik nafas lega setelah melihat majikannya ini tertawa.


"Maafkan kami,Nyonya muda.Kami hanya menjalankan perintah."Kali ini Lilis yang menjawab.


"Dari tuan Ben kalian?"tanya Naina.


Kedua wanita ini hanya mengangguk.


"Sudah ku duga."


"Dan kalian juga yang menyiapkan semua barang-barang branded itu?"tanya Naina lagi.


"Kalau mengenai barang-barang mewah itu,kami tidak tahu apa-apa,Nyonya muda.Kami hanya membantu asisten Nyonya muda Azea menyusunnya,"jawab Mimi.


"Asisten Mbak Azea?maksud kalian mbak Azea yang membelikan itu semua?"Naina terus mengintrogasi.


"Iya,Nyonya muda.Barang-barang itu diantar langsung oleh para pegawai toko bersama asisten Nyonya muda Azea dan juga tuan Ben,"lanjut Mimi.


"Menurut asisten Nyonya muda Azea,barang-barang itu adalah hadiah dari Nyonya muda Azea untuk Nyonya muda,"sambung Lilis.


"Kalian tahu,hampir saja saya memarahi sekretaris Ben.Ternyata semua pemberian mbak Azea,mana mungkin saya akan protes mengenai baju tidur kepadanya."Naina memegang keningnya.

__ADS_1


Sementara,dua wanita ini saling menatap.Mereka tahu yang sebenarnya.


"Nyonya muda,sebenarnya mengenai baju tidur itu ... emmm ... itu memang diatur oleh tuan Ben dan kekasihnya,juga mas Bobby.Tapi,Nyonya muda jangan marah yah!"ujar Mimi.


Naina menarik nafas panjang.Sebenarnya ia bukan ingin marah,hanya saja sedikit kesal karena ia masih sangat canggung kepada suaminya apalagi harus berpakaian sexi di hadapan suaminya.Akan tetapi,dibalik kesalnya ia juga menyimpan rasa terima kasih yang amat dalam.Ada begitu banyak orang yang menyayanginya terutama adik iparnya,andai saja ia sudah mendapatkan restu pastilah lengkap sudah kebahagiaannya.


"Ya sudah,lupakan saja."


Baru saja kedua ART-nya melangkah hendak menuju kamar mereka,tiba-tiba bel berbunyi.


Kedua wanita yang sedang menarik koper itu langsung menghentikan langkah mereka.Naina juga menoleh ke arah pintu.Terlihat wajah security dari layar.


"Biar kami yang membuka pintunya,Nyonya muda."Kedua wanita itu meninggalkan kopernya begitu saja dan langsung menuju pintu.


Pintu sudah terbuka,tampak security dan dua orang di belakangnya yang Mimi dan Lilis tidak kenali.


"Pak Ilham,siapa?"tanya Mimi kepada security.


"Mereka pemilik toko bunga Beauty Flowers,mereka orang tua dari Nyonya muda."Begitu security menyampaikannya.Ternyata kedua orang tua itu adalah bu Annisa dan pak Anton,kedua orang paruh baya itu sepertinya mengaku sebagai orang tua Naina,sejak dulu mereka memang menganggap Naina sebagai anak mereka.


Naina terkejut mendengarnya.Ia segera melangkah ke arah pintu.Tampaklah dua orang bos di tempat ia bekerja dulu.


Tidak menunggu lama,langsung saja Bu Annisa berhambur memeluk Naina.


"Sayang ...."dekapan yang begitu hangat untuk Naina.


"Bu Annisa ...."Naina membalas pelukan itu juga demikian hangat.


"Maafkan kami yang telat datang."Bu Annisa melepas pelukannya kemudian pandangannya menoleh seperti mencari seseorang.


"Dimana Tuan muda itu?apa yang telah ia lakukan kepada putriku?"Tiba-tiba suara Bu Annisa meninggi seperti akan marah besar.Bu Annisa menerobos masuk mencari Dennis.Ia yang mendengar kabar tentang Naina dari Selfy begitu sangat geram.Ia tidak terima cara Dennis menikahi Naina dengan seperti itu.


"Bu Annisa ...."Naina mencoba menenangkan wanita yang sudah seperti ibu baginya.


"Nyonya ....Tuan muda tidak ada di rumah,tuan muda sudah berangkat ke kantor."Mimi maju menahan Bu Annisa yang sudah seperti kehilangan akal.


"Baiklah,kalau begitu aku akan ke kantornya."


"Ayo,Pah!"Bu Annisa seketika keluar dari apartemen itu.


Naina begitu sangat terkejut,bahkan ia belum sempat menjelaskan apapun tapi bu Annisa dan pak Anton pergi begitu saja.Langkah keduanya begitu cepat hingga security saja jauh tertinggal,mereka terlihat sudah memasuki lift.


"Nyonya muda,bagaimana ini?"Mimi dan Lilis nampak panik.


"Ayo cepat!kita susul mereka,"seru Naina.

__ADS_1


__ADS_2