
Pukul 20.00 waktu setempat,kediaman Atmajaya.
Mobil mewah sang tuan muda memasuki gerbang rumah.Setelah mobil terparkir di halaman rumah,tuan sekretaris turun membukakan pintu untuk tuan mudanya.
Setelah acara suap-suapan romantis di Rumah Sakit tadi,Dennis dan sekretaris Ben langsung berpamitan untuk pulang.Tinggallah Neta menemani Naina,Dennis tidak merasa khawatir untuk meninggalkan Naina,melihat kondisi Naina juga sudah jauh lebih baik.
"Terima kasih,Sekretaris Ben," ucap Dennis setelah turun dari mobil.
"Sama-sama,Tuan muda.Selamat malam!"
Sekretaris Ben pamit.Dennis masuk ke dalam rumah dengan wajah yang begitu bahagia,sesekali senyum mengembang di bibir tuan muda ini.
"Ehhmm ...." Suara Rita menghentikan langkahnya yang hendak naik ke tangga menuju lantai dua kamarnya.
"Mama ...," sapa Dennis.
Rita semakin mendekat dengan kedua tangan yang ia lipat ke perut.
"Pulang telat,tidak mengangkat telepon Mama,masuk rumah dengan senyum-senyum,dan tidak memberi salam."
Rita menjabarkan sikap putranya yang tidak biasa ini.
Tampak wajah Dennis terlihat gugup,ia baru menyadari akan sikapnya.Sejak meninggalkan rumah sakit,di benaknya hanya dipenuhi wajah Naina,ia begitu bahagia.
"Tidak ingin membagi kebahagiaan itu kepada Mama?" Rita tahu kalau putranya sedang sangat bahagia,ia bisa melihat itu pada wajah Dennis.
Dennis tersenyum dan mendekat kepada mamanya.
"Mana mungkin saya tidak membagi kebahagiaanku kepada orang yang begitu berharga di dalam hidupku."
Dennis semakin mendekat kemudian memegang pipi mamanya,sedang tangan satunya menjadi gantungan jasnya.
"Asal Mama tahu,saya tidak akan bahagia tanpa campur tangan Mama.Saya bukan siapa-siapa tanpa doa-doa Mama dan apapun yang saya lakukan,tidak akan mencapai titik bahagia seutuhnya tanpa restu Mama.Saya berharap,Mama selalu mendukung setiap langkah yang ku pilih,"sambung Dennis sangat lirih,lelaki yang takut menyakiti hati orang tuanya.Di sisi lain,ia berharap Mama dan keluarganya mendukung apapun yang menjadi pilihannya termasuk Naina,wanita dari Zona X.
Ia sudah mendapatkan hati Naina.Pelan tapi pasti,saat ini ia berusaha membuka jalan untuk Naina agar diterima di keluarga besarnya.
Sementara Rita,ia sangat terharu mendengar ucapan putranya.
"Sayang,jangan berkata seperti itu.Tanpa kamu meminta,Mama selalu mendoakan untuk kebahagiaan kamu.Mama tidak pernah lepas untuk mendoakan anak-anak Mama.Kamu,Azea,kalian itu pusat kebahagiaan Mama,nyawa Mama."
Tanpa terasa mata Rita sudah berkaca-kaca,begitupun dengan Dennis.Segera ia memeluk Mamanya.Perasaan tuan muda ini sedang bercampur aduk.
Rita melepas pelukannya.
"Katakan pada Mama,apa senyuman yang mama lihat tadi karena putri pak kyai itu?"
Rita tersenyum,mulai menggoda Dennis.Tidak ada wanita lain yang Rita tahu selama ini kecuali Zara,putri Kyai Abdullah yang ia sudah jodohkan dengan Dennis.Rita sudah lama menunggu moment dimana putranya memberi kabar bahagia tentang hubungannya dengan Zara,Rita salah paham dengan senyuman bahagia Dennis tadi waktu memasuki rumah.
Mendengar pertanyaan mamanya,sedikit lemah dari raut wajah tuan muda ini.
"Nanti kita bahas itu,Mah.Aku mau istirahat,capek."
Mengecup kening mamanya kemudian berlalu naik ke tangga menuju lantai dua kamarnya.
"Tapi ...."Rita masih ingin berbicara tetapi Dennis sudah melangkah cepat meninggalkannya.
***
__ADS_1
Setelah membersihkan tubuhnya,hanya menggunakan celana santai yang panjang dan baju kaos putih polos,Dennis duduk bersandar di atas ranjang king size-nya.
Menatap layar ponselnya dengan wallpaper foto dirinya dan Naina di sana,sebenarnya ia sudah tahu dengan apa yang akan dia lakukan dengan ponsel itu.Kedua jempolnya mengetuk-ngetuk layar ponselnya.
Jam di ponselnya menunjukkan pukul 22.30 malam yang artinya di kota Kairo sana sekitar pukul 5 sore atau mungkin sudah hampir Maghrib.
Dennis masih berpikir sejenak,sedikit menarik napas kemudian menggerakkan jempolnya mencari nomor Zara,dia sudah memikirkannya dengan baik.
Meletakkan ponsel ke telinga,panggilan sudah tersambung,menunggu sejenak sampai pemilik ponsel di negeri piramida sana mengangkat panggilan ponselnya,dan tidak lama kemudian,terdengar suara wanita dari balik telepon,suara yang begitu lembut.
"Assalamu'alaikum."
Sungguh suara yang begitu lembut dan tenang,tapi tidak membuat tuan muda ini bisa berpaling hati.
"Halo,Assalamu'alaikum."
Suara Zara kembali terdengar karena salam pertamanya tidak mendapatkan jawaban.
"Wa-waalaikumsalam," jawab Dennis sedikit gelagapan.
"Sebelumnya maaf,apa benar dengan Zara?" sambung Dennis.
"Na'am," jawab Zara.
"Afwan,dengan siapa saya bicara?" lanjut Zara bertanya.
"Saya Dennis ... Dennis Atmajaya," jawab Dennis.
Mendengar nama Dennis,terdengar suara seperti gelagapan juga dari balik telepon.Sepertinya Zara sedikit terkejut.
"Halo ... Zara ...."
Dennis memanggil Zara karena tidak mendengar suara lagi.
"I-iya,Mas Dennis."
Sepertinya Zara tidak percaya kalau ia akan mendapatkan telepon dari Dennis,lelaki yang sudah dijodohkan dengannya.
"Maaf sebelumnya jika sudah mengganggu Zara,"ucap Dennis.
"Tidak,Mas.Saya juga sedang santai di balkon," balas Zara.
"Zara ...."
Dennis seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi terdengar berat,itu yang Zara bisa tangkap.
"Ada apa,Mas?" tanya Zara.
"Zara,sebelumnya saya meminta maaf jika ucapan saya nanti tidak berkenang di hati Zara."
Dennis terdengar seperti menarik nafas panjang.
"Mas Dennis,katakan saja!Zara tidak apa-apa.Lebih baik mengungkapkan fakta daripada bertahan di atas sebuah ketidaknyamanan,jika mengatakannya membuat Mas Dennis lega,maka tidak perlu ragu."
Zara seperti sudah tahu maksud Dennis menelponnya.Sejak awal pertemuan,Zara sudah merasakan sebuah keganjalan dari Dennis.
"Zara ...."
__ADS_1
Lagi-lagi ucapan Dennis hanya sampai di sana,seperti tidak mampu melanjutkan ucapannya.
"Zara ... kita berdua sudah tahu tentang rencana orang tua kita ...."
Dennis terus saja menggantung ucapannya.
"Iya,Mas."
"Zara ... bagaimana jika kita tidak berjodoh?ma-maksud saya ...."
Dennis belum selesai tapi Zara sudah memotongnya.
"Semua sudah menjadi ketetapan-Nya,Mas.Kita manusia hanya bisa berencana dan berikhtiar,selebihnya kita serahkan pada sang penentu takdir."
"Jika takdir kita memang tidak bersama?ma-maksud saya ...."
Lagi-lagi Dennis menggantung ucapannya.Untuk pertama kalinya di dalam hidup tuan muda ini merasa berat menghadapi lawan bicaranya,ia lelaki hebat nan cerdas yang sering berbicara di hadapan orang-orang hebat,tetapi kali ini ia merasa sangat gugup dan gelagapan.Entah ia takut mengecewakan Zara atau bagaimana?tetapi jika tidak mengatakannya sekarang,lalu kapan?ia tidak ingin semakin berlarut-larut yang hanya akan memperkeruh suasana.
"Mas Dennis ... sebelumnya saya meminta maaf jika saya salah menerka tetapi sejak awal kita bertemu,saya sudah bisa merasakannya.Saya tahu kalau Mas Dennis berat menerima perjodohan ini."
Walau sedikit sakit,Zara mencoba membantu Dennis untuk lebih mudah mengatakan maksud Dennis menelponnya.Zara sudah tahu arah pembicaraan Dennis.Entah ada apa dengan hati Zara yang tiba-tiba terasa sakit,apa dia memang memiliki rasa pada Dennis?
"Zara ... maafkan saya,kalian datang di waktu yang bersamaan hingga tidak ada waktu bagiku menjelaskannya pada Papa dan Mama.Saya meminta maaf jika ini melukai Zara ataupun keluarga Zara," lirih Dennis di kalimat terakhirnya.
Tidak ada jawaban dari Zara.Entah kenapa hatinya semakin sakit.
"Zara ...."
Dennis kembali memanggilnya karena tidak ada suara dari balik telepon yang jauh di sana.
"I-iya,Mas."
Walau terdengar lirih,tetapi Zara mencoba memperdengarkan tawa kecilnya sedikit.
"Syukurlah karena Mas Dennis mengatakannya sekarang.Mas Dennis tidak perlu khawatir,Zara tidak apa-apa,Mas," ucapnya terdengar baik-baik saja tetapi ada sakit yang berperang dengan dirinya sekarang di lubuk hati terdalamnya.
"Terima kasih,Zara.Zara wanita yang sangat baik,Insya Allah Zara akan mendapatkan jodoh yang paling pantas buat Zara,bukan lelaki seperti diriku."
Terdengar lagi tawa kecil Zara di sana.
"Mas Dennis jangan berkata seperti itu.Mas Dennis juga lelaki yang sangat baik,sangat beruntung wanita yang mendapatkan lelaki seperti Mas Dennis," balas Zara.
Tiba-tiba terdengar suara shalawat dari Mesjid sekitar di negara Mesir sana.
"Mas Dennis,sebelumnya maaf.Di sini sudah hampir maghrib.Zara akan siap-siap shalat berjamaah di asrama."
Sedikit bersyukur bagi Zara karena punya alasan mengakhiri pembicaraan ini,ia tidak ingin rasa sakit di hatinya semakin tertanam di sana.
"Oh iya,tidak apa-apa.Sekali lagi saya meminta maaf jika ucapanku ada yang tidak berkenang di hati Zara," ucap Dennis lagi.
"Tidak,Mas.Mas Dennis tidak perlu merasa bersalah seperti itu.Saya berterima kasih karena Mas Dennis sudah mengatakannya."
"Oh iya,kita bisa tetap menjadi teman,bukan?" tanya Dennis tersenyum.
Zara tertawa mendengarnya.
"Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturahmi.Dengan berteman,maka kita akan tetap menjaga silaturahmi kita,Mas," balas Zara.
__ADS_1