
Setelah beberapa menit Azea bersiap di lantai dua kamarnya,ia keluar dari lift bersama kedua asistennya.Kedua asisten yang bertugas menyiapkan pakaian Azea setiap kali Azea akan bepergian.
Menuju ruang keluarga.
"Kemana Kak Dennis?" tanya Azea pada para team yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Sedang shalat bersama Mas Ben," jawab Arman.
Azea duduk di sofa seraya menggendong putranya sambil menunggu Dennis.
"Sayang,Mama keluar sebentar yah.Ray jangan nakal."
"Nyonya Bos ... Nyonya Bos yakin,kami tidak perlu ikut?" tanya Boby lagi.Tadi Azea sudah memberi tahu tetapi asistennya ini masih saja khawatir.Azea tidak pernah pergi tanpa kedua asistennya ini,Bobby dan Diana.
"Tidak perlu,Bob.Ini masalah Kak Dennis,kalian tidak perlu ikut.Bantu suster saja menjaga Ray," ujar Azea.
Azea juga sudah menelfon Rangga suaminya kalau dia akan pergi ke Zona X bersama Dennis,Azea menceritakan semuanya kepada Rangga hingga ia mendapatkan izin dari suaminya.
tidak berapa lama,Dennis dan Sekretaris Ben muncul dari arah belakang.Mereka telah selesai melakukan shalat Dzuhur di mushollah rumah Azea.
"Sudah siap?" tanya Dennis kepada Azea.
"Hhhmmm"
***
Sekretaris Ben membuka pintu mobil untuk Azea.Azea diam sejenak,ia memperhatikan mobil yang digunakan kakaknya.Mobil yang tidak mewah,jauh dari kelas mereka.
Azea menunjuk mobil itu seraya menatap Dennis dalam diam.
"Agar tidak ada yang mengenali kita," jawab Dennis yang mengerti maksud tatapan adiknya.
Akhirnya Azea paham mengapa dulu kakaknya pernah menggunakan mobil seperti ini,ternyata ini untuk membawa kakaknya ke Zona X agar tidak ada yang mengenalinya.
Dua bodyguard sudah bersiap di atas motor mereka.Dennis sengaja membawa dua bodyguard untuk menjaga Azea jika saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
***
Dalam waktu satu jam,mereka akhirnya sampai di wilayah yang ketika siang hari akan terlihat sangat sunyi ini.Azea memperhatikan ke sekitar,untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat seperti ini.Ia sering mendengar wilayah Zona X,tetapi tidak pernah terlintas di benaknya kalau akan berkunjung ke tempat ini.
Dengan berbekal masker dan kacamata sebagai penutup sebagian wajah mereka.Dennis,Azea,dan Sekretaris Ben turun dari mobil.Dua bodyguard berjaga dari jarak tertentu.
Dari arah lain tampak dua orang lelaki yang juga seperti mengawasi mereka layaknya bodyguard.
Sekretaris Ben berjalan di depan,tuan muda berjalan di belakangnya bersama adiknya.Azea menggenggam erat tangan Dennis,ia merasa gelisah menginjakkan kaki di sini.
Mereka sampai di depan sebuah rumah di mana Naina pernah menjemur sepatunya di atas atap teras rumah itu.
Sekretaris Ben masuk duluan.
Mengetuk pintu.
"Assalamualaikum ...."
Menunggu sejenak,hendak mengetuk pintu lagi karena belum ada jawaban.
"Waalaikumsalam ...."
Tiba-tiba terdengar jawaban salam dari dalam rumah,suara lelaki paruh baya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian,pintu terbuka.Tampak Harun bersama kursi rodanya.
"Maaf,apa betul ini rumah pak Harun?" tanya sekretaris Ben.
"Iya,betul.Saya sendiri.Maaf,dengan siapa?" tanya Harun yang tidak mengenal tiga orang berkacamata dan bermasker di hadapannya.
Baru saja Dennis maju melangkahkan kaki untuk memperkenalkan diri,tiba-tiba seorang gadis dengan ransel di pundaknya muncul di belakang mereka.
"Assalamualaikum ...,"ucap Neta yang baru pulang dari kampusnya,gadis ini langsung terdiam,ia terkejut melihat tamu berpakaian sangat elegan di teras rumahnya.
" Waalaikumsalam,"jawab semua orang.
Semua orang menoleh kepada Neta.
Neta berjalan mendekat kepada bapaknya.
"Mereka siapa,Pak?" bisik Neta pada Harun.
"Eemm ... sebelumnya maaf jika kami mengganggu.Kenalkan,saya Dennis Atmajaya," ucap Dennis kemudian membuka masker dan kacamatanya.
Neta menutup mulut dengan tangannya,ia tahu siapa lelaki di hadapannya ini.Ia sering melihat wajah Dennis di majalah,Direktur muda yang tampan dan cerdas,putra Atmajaya,kakak dari sang artis Azea Ruanna Atmajaya.
"Tu-Tuan muda Dennis Atmajaya?Anda Direktur perusahaan Atmajaya Group,kan? Kakak dari Azea Ruanna Atmajaya?" Neta bertanya untuk meyakinkan dirinya yang masih terperangah.
"Iya,betul.Kebetulan,saya ke sini bersama Azea Ruanna Atmajaya." Dennis menunjuk Azea.
Azea membuka masker dan kacamatanya.
"Hai,Azea." Mengulurkan tangan kepada Neta dengan senyum ramahnya.
Rasanya Neta ingin pingsan,mimpi apa dia semalam sehingga rumahnya yang sederhana ini di datangi seorang artis dan Direktur yang banyak di gandrungi wanita.
"Hai ...." Azea menggerakkan tangannya di depan wajah Neta yang masih diam terperangah.
"Maaf,Tuan muda.Tapi,ada keperluan apa Tuan muda mendatangi rumah kecil kami ini?" Harun mulai berbicara.
"Jika tidak keberatan,apa kami bisa masuk ke dalam?" tanya Dennis sangat sopan.
Harun tersenyum sebentar.
"Tapi,keadaan rumah kami jauh dari kata bagus,Tuan muda.Rasanya kami malu mengajak Tuan muda masuk ke dalam," ucap Harun.
Azea mendekat kepada pak Harun.
"Pak Harun,tolong jangan berkata seperti itu.Pak Harun sudah ingin menerima kami,itu sudah menjadi suatu kehormatan bagi kami," ucap Azea yang membuat pak Harun terharu.Artis yang selalu ia lihat di TV ini dengan segala kebaikannya memang sama seperti dengan aslinya.
"Kalau begitu,mari silahkan masuk!" Harun mempersilahkan ke-tiga tamunya ini masuk ke dalam.Neta juga menyusul masuk.
"Silahkan duduk!" ucap Neta mempersilahkan tamunya.
"Tunggu sebentar,saya buatkan minum dulu," sambung Neta.
"Eh,Neta ... tidak usah.Tidak perlu merepotkan diri.Duduklah di sini bersama kami."
Spontan Azea menahan Neta.
"Tapi ...."
Neta merasa tidak enak tapi Azea memegang tangan Neta dan menyuruhnya duduk hingga akhirnya Neta terpaksa duduk.
__ADS_1
"Oiya,apa Pak Harun hanya berdua saja dengan Neta?" tanya Dennis.
"Tidak.Mama Neta ada di dalam kamar,tapi kalau siang begini dia hanya tidur," jawab Harun.Dennis sudah mengerti,ia mengingat cerita Arka kalau tantenya itu akan bekerja di malam hari.Sudah pasti siang begini dia hanya akan tidur,pikir Dennis.
"Sebenarnya saya juga punya kakak sepupu,tapi kalau pagi dia sudah berangkat kerja dan akan pulang sore nanti," lanjut Neta.
"Naina?" tanya Dennis.
Neta dan Harun saling menatap.
"Tu-Tuan muda mengenal kak Naina?"tanya Naina balik kepada Dennis.
Dennis tersenyum.
"Sebenarnya kedatangan saya ke sini karena Naina.Saya ingin memberitahu kalau sekarang Naina sedang di rumah sakit."
"Rumah sakit?" Neta dan Harun sangat terkejut.
"Kalian tidak usah khawatir.Kata dokter,dia hanya lelah dan sedang banyak pikiran.Sekarang,dia sudah jauh lebih baik,mendapatkan perawatan terbaik,ditangani dokter terbaik.Tadi dia pingsan di kantorku,jadi saya langsung membawanya ke rumah sakit."
Dennis menjelaskan sebaik mungkin agar keluarga Naina tidak khawatir.
"Kalian tahu mengapa dia datang ke kantorku?" lanjut Dennis.
"Dia datang untuk mengembalikan semua barang-barang yang pernah ku berikan kepadanya,dia mengembalikan itu agar Pak Harun mempercayainya kalau dia bukan wanita yang seperti Pak Harun pikirkan."
"Jadi,lelaki yang memberikan itu adalah Tuan muda?" Pak Harun mulai merasa sudah salah menuduh Naina.Dia tahu kalau lelaki yang ada di hadapannya adalah lelaki terhormat,lelaki yang tidak mungkin merusak ponakannya.
"Iya,Pak.Saya yang memberikan itu karena saya ingin membantunya.Dan Pak Harun tahu,demi mengembalikan barang-barang itu,dia rela menungguku di lobby kantor sejak pagi hingga menjelang siang dan akhirnya ia jatuh pingsan," ucapan Dennis semakin membuat Harun merasa bersalah.
"Dan saya datang kemari bukan hanya untuk menjelaskan kesalahpahaman ini." Dennis mulai terlihat gugup.Entah bagaimana ia akan mengatakannya.
"Saya datang menemui Pak Harun untuk mengatakan kalau saya mencintai putri bapak,Naina Anandita.Saya Dennis Atmajaya mencintai putri bapak,Naina." Dengan penuh keyakinan di hatinya,Dennis mengungkapkan perasaannya.
Azea menggenggam tangan kakaknya,ia merasa terharu.
Sementara Neta dan Harun hanya bisa diam dalam keterkejutannya.
"Maaf ... jika saya lancang,Pak," lanjut Dennis.
"Jadi,Tuan muda memiliki hubungan dengan ponakan saya?" tanya Harun.
Dennis tersenyum.
"Mungkin Pak Harun tidak percaya jika saya mengatakan ini.Bahkan Naina tidak tahu kalau saya mencintainya.Sebenarnya saya sudah mengatakan tentang perasaan saya tapi dia tidak menggubrisnya,dia tidak seperti wanita lain yang dengan mudah untuk didekati.Dan mengenai barang-barang itu,dia menerima semua pemberian saya karena dia merasa punya sangkutan kepada saya."
"Sangkutan?" Harun tidak mengerti.
Dennis bingung bagaimana menjelaskannya karena sebenarnya insiden vas bunga itu hanya akal-akalan dirinya saja.
Sekretaris Ben paham kalau Tuan mudanya tidak bisa menjawab.
"Maaf,Pak Harun.Putri Bapak pernah mengantarkan bunga ke ruangan Tuan muda,dan dia memecahkan vas bunga yang sangat mahal di ruangan Tuan muda,dia juga pernah menabrak mobil Tuan muda." Sekretaris Ben angkat bicara untuk membantu Dennis.
"Dan karena insiden itu,hingga saya mengenalnya,hingga saya mencintainya dan mencari tahu tentang kehidupannya," lanjut Dennis.
"Dan asal Pak Harun tahu,putri bapak adalah gadis yang sangat sulit untuk didekati.Pak Harun sudah berhasil mendidiknya menjadi wanita yang baik,wanita yang menjunjung tinggi harga dirinya walau ia hidup di wilayah seperti ini,maaf."
Semua ucapan Dennis membuat Harun tidak mampu membendung kesedihannya.
__ADS_1
"Naina ... maafkan paman,Nak" ucap Harun lirih.
*Flashback off*