
"Nah,begini kan enak.Bukan begitu,Tuan muda?" Naina mencoba mencairkan suasana.
"Mungkin" jawab Dennis singkat.Bagi Dennis ini kurang nyaman karena ia ingin berdua saja dengan gadis pujaannya,mengenal lebih dekat dengan orang yang sudah membuatnya jatuh cinta dalam waktu sekejap.
Naina hanya tetap tersenyum,senyum terpaksa pastinya agar tidak nampak terlalu kaku.
Kenapa rasanya aku sedang berada di dalam penjara,sangat tidak nyaman.
Naina berpikir sedikit,sepertinya dia harus memulai sebuah pembahasan agar suasananya lebih baik.
"Oiya,Tuan Sekretaris.Maaf,kalau boleh tahu...siapa nama anda?maksud saya agar kita bisa lebih akrab"
Ben dan Dennis saling menatap.
Astaga apa yang ku ucap barusan.Apa ucapanku salah?bodoh,Apa susahnya untuk diam saja.
"Maaf,jika saya lancang.Maksud saya,kita sudah sering bertemu tapi saya belum tahu nama anda" lanjut Naina kikuk.
"Namanya Ben"ujar Dennis yang menjawab.
"Ohhh,Tuan Ben" Naina tersenyum.
"Sangat singkat" sambungnya pelan tapi didengar oleh Dennis dan Ben.
"Aben"Lanjut Dennis memperjelas nama panjang Ben yang membuat Ben tersentak kaget,hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nama sebenarnya itu,tetapi Tuan mudanya dengan mudah memberi tahukan namanya itu kepada orang lain,gadis di hadapannya yang baru mereka kenali.
Naina menutup mulut,ada tawa kecil yang tersembunyi dari balik tangannya.Andai dia tidak menjaga sikap,mungkin dia sudah tertawa terbahak-bahak.
"Apa anda sedang menertawai namaku?" Tanya Ben kepadanya.
Dennis hanya tersenyum,ia bahagia melihat Naina menyembunyikan tawa seperti itu.
"Maaf,Tuan Aben".
Ben terbelalak mendengarnya.
"Maksudku,Tuan Sekretaris" sambung Naina.
Dennis tidak bisa lagi menahan senyum lebarnya.
"Tapi sebenarnya,jika ingin ku katakan.Anda jangan pernah menghina nama orang tanpa bercermin terlebih dahulu" ujar Naina tersenyum,sebenarnya ia masih kesal jika mengingat waktu pertama kali pertemuannya dengan Ben dan menghina namanya.
Ben merasa makin kesal.
"Maksud anda,nama saya buruk?begitu?" ketus Ben.
"Maaf,Tuan Sekretaris.Saya tidak pernah mengatakan seperti itu.Bukan begitu,Tuan muda?" Tanya Naina meminta pembelaan dari Dennis.Kamu salah atau tidak,Tuan muda ini akan tetap berpihak kepadamu,Maemunah.
"Yah,saya tidak mendengar ada yang menghina nama anda,Tuan Aben" sambung Dennis.
Andai Ben bisa melawan,rasanya ingin mengirim dua manusia ini ke Mars saja.
"Iya,Tuan muda" jawab Ben memendam kesal.
Sepertinya kalian memang berjodoh.
Batin Ben.
"Astaga,Tuan Aben.Anda manis sekali,semoga kita bisa menjadi teman yang baik" goda Naina kepadanya,ia tahu kalau Tuan Sekretaris ini sangat kesal tapi entah kenapa itu membuat Naina bahagia.
"Pastinya dia tidak keberatan berteman dengan anda,bahkan ingin memanggilnya Mas Aben juga tidak masalah.Yah,agar lebih akrab,bukan begitu Tuan Ben?" Dennis terus saja manambahkan bumbu pemancing kekesalan kepada Sekretarisnya itu.
Ben hanya tersenyum tetapi wajahnya tidak bisa berbohong jika dia sedang manahan murka.
Kenapa makanannya belum datang juga,saya sudah tidak tahan dengan drama ini.
Gumam Ben.
"Benarkah,Tuan muda?" Tanya Naina bersemangat.
"Hhhmmm..tanyakan saja"
"Mas Aben?" tanya Naina kepada Sekretaris Ben.
Ben menarik nafas panjang.Mengontrol sedikit perasaan kesalnya yang tidak bisa ia lampiaskan.
Ben tersenyum kepada Naina dengan anggukan kepala.Sungguh sebuah keterpaksaan.
"Ya ampun..anda benar-benar manis,Mas Aben"Naina memegang kedua pipinya.
__ADS_1
"Mas Aben,jika anda membutuhkan Asisten atau Sekretaris,saya siap mendaftarkan diri" lagi-lagi menggoda Ben.
"Ehhmm"kali ini Dennis yang tidak nyaman mendengarnya.
"Tidak,dia sudah punya Asisten di kantor.Kalau kamu mau,jadi Asistenku saja,bagaimana?" Dennis mulai kehilangan kendali.
Naina terkejut mendengarnya.Begitupun dengan Ben.
Astaga Tuan muda,kontrol sikapmu.Dia hanya mengerjaiku saja,kenapa kamu menganggapnya serius.
"Ma-maaf,Tuan muda.Maksud saya..." belum selesai dengan ucapannya,terlihat dua orang pelayan wanita masuk ke ruangan VIP tersebut membawa pesanan makanan yang telah dipesan Dennis tadi sebelum Naina dan Ben sampai ke restoran ini.
"Permisi"
Kedua pelayan tersebut meletakkan satu persatu makanan ke atas meja.Mata Naina terbelalak,makanan yang sangat lezat.Seumur hidupnya,ia tidak pernah menikmati makanan seenak ini,jangankan untuk menikmatinya bahkan melihat secara langsung pun tidak pernah.
"Silahkan,Tuan..Nona" ujar salah satu pelayan tersebut setelah semua pesanan Dennis tertata dengan rapi di atas meja beserta minumannya.
"I-iya,terima kasih" balas Naina.
Kedua pelayan keluar dari ruangan VIP tersebut.
"Silahkan" ujar Dennis mempersilahkan kepada Ben dan Naina.
"I-iya,Tuan muda"balas Naina.
Dennis dan Ben mulai memegang sendok dan garpu mereka.Naina masih memperhatikan setiap makanan yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba ia ingat adiknya,Arka.Ingat orang di rumahnya,terutama Pamannya.
Rasanya aku ingin membawanya pulang saja.
Gumamnya.
"Ehhmm" Dennis mengagetkannya.
"Kenapa belum dimakan?tanyanya menghentikan kunyahannya.
"Apa makanannya tidak enak?" sambungnya.
"Bu-bukan begitu,Tuan muda"
Naina berpikir sejenak.
Ia benar-benar berpikir untuk membungkus saja makanan ini dan membawanya pulang.
"Tuan muda,sebenarnya saya masih kenyang" jawabnya asal.
Dennis mengernyitkan alis.
Ben tersenyum sinis.
"Mana mungkin anda masih kenyang,Nona.Bukankah waktu menjemputmu tadi,anda bahkan belum waktunya untuk istirahat?Lalu dimana anda makan?" tanya Ben yang tahu kalau Naina sedang berbohong.
"Saya masih kenyang karena mungkin sarapan pagi tadi terlalu banyak" ujar Naina asal.
Ben tersenyum lagi,senyum tidak baik.
"Sarapan roti tawar tadi?" Ben tidak habis pikir jika mengingat roti tawar itu,benar-benar roti tawar tanpa isian apapun.
Naina baru ingat kalau tadi pagi ia membagi sarapan jelatanya itu kepada kedua Tuan-Tuan ini.Alasan yang salah.
"Sudah,kamu harus makan.Kalau kamu tidak makan,artinya kamu tidak menghargaiku dan aku akan sakit hati,jika aku sakit hati maka hutangmu tidak akan pernah ku anggap lunas" ancam Dennis kepadanya yang membuatnya terpaksa segera memegang sendok dan garpunya.
"Baik,Tuan muda.Saya makan"
Ah,gagal membungkusnya pulang.
Naina mulai makan.
Astaga,sungguh sangat enak.Gumamnya
Ia kembali mengingat Pamannya.
"Tuan muda,jika saya tidak mampu menghabiskannya,apa saya bisa membawanya pulang saja?" Tanyanya ragu dan dalam keadaan terpaksa.
Dennis dan Ben saling menatap.
Sepertinya Dennis sudah mulai paham.
__ADS_1
"Makanlah,kamu harus menghabiskan makanan ini" perintah Dennis.
Naina tidak mampu lagi untuk melawan.
Dennis menekan tombol di atas mejanya.
Tidak lama kemudian,seorang pelayan masuk ke ruangan VIP itu.
"Ada yang bisa saya bantu,Tuan?" tanya pelayan tersebut yang datang setelah mendapat panggilan dari tombol yang ditekan Dennis.
"Tolong bungkuskan menu lengkap seperti ini lagi" ujar Dennis.
Naina terkejut mendengarnya.
"Baik,Tuan" Pelayan itu membungkukkan tubuhnya kemudian keluar dari ruangan VIP itu.
"Habiskan makananmu,saya sudah memesankan untuk kamu bawa pulang" ujar Dennis begitu tulus.
"Saya merasa tidak enak,Tuan muda.Sebelumnya terima kasih banyak" balasnya walau malu tapi ia sangat bahagia.
Naina melanjutkan makannya,begitupun dengan Dennis dan Ben.
Disela-sela makan mereka,sesekali Dennis memperhatikan Naina.Ia tersenyum melihat Naina menikmati makanannya.
"Apa kamu sangat menyayangi Pamanmu?" Tanya Dennis membuat Naina terkejut.
"Darimana anda tahu kalau saya tinggal bersama Paman saya?" tanya Naina balik.
"Hei,bukankah anda sendiri yang mengatakan kalau anda itu yatim piatu dan tinggal bersama Paman anda yang sakit-sakitan" Ben mengingatkan ucapan Naina waktu pertama kali mereka bertemu,memohon-mohon agar kiriman buket bunga itu diterima Dennis dengan semua drama kesedihannya.
Naina tertawa kikuk,ia baru mengingatnya.
"Iya Tuan.Maaf,saya baru ingat"ujarnya.
"Kelihatannya kamu sangat menyayangi Pamanmu dan keluarganya" ujar Dennis.
"Iya,Tuan muda.Melebihi dari hidupku" ucap Naina begitu tulus.
"Selain mereka,tidak ada lagi yang kamu sayangi?" Dennis mulai menjurus pada tujuannya.
Naina berpikir sejenak.
"Ma-maksud,Tuan muda?"
"Seorang kekasih?" akhirnya Dennis mengatakannya.
Ben hanya diam,menyimak tetapi rasanya ingin berbicara.
Anda terlalu cepat Tuan muda.Gumam Ben
Naina tertawa mendengar pertanyaan Dennis.
Dennis heran.
"Ada yang lucu dengan pertanyaanku?" tanyanya.
"Tuan muda,saya rasa dia tertawa karena mungkin tidak ada yang menyukainya.Bukan begitu,Nona?" Ben mencoba membantu Dennis dengan caranya.
"Hei,Mas Aben" Naina spontan protes.
Rasanya Ben ingin menelan Naina hidup-hidup tiap kali mendengar nama panggilan barunya itu dari Naina.
"Asal anda tahu,banyak lelaki yang antri ingin menjadi kekasihku" mendengar ucapan Naina,rasanya hati Dennis seperti sakit.
Dennis meminum jusnya,Ben bisa melihat kecemburuan itu.
"Tapi tidak seorang pun yang saya ladeni" sambung Naina membuat Dennis sedikit lega.
"Kenapa?" tanya Dennis.
"Tuan muda,bagaimana saya akan menghabiskan waktuku dengan hal-hal seperti itu sementara saya harus fokus untuk mencari nafkah,saya punya banyak tanggung jawab,Tuan muda"ujar Naina dengan wajah tiba-tiba sendu ketika mengingat hidupnya yang malang.
Melihat raut wajah Naina yang tiba-tiba berubah,Dennis percaya jika gadis ini memang tidak punya kekasih,ia semakin bersemangat untuk memantapkan hatinya.
________
Ingat selalu tinggalkan jejak yah para readers😍
like,koment dan vote yang begitu berarti🙏
__ADS_1
terima kasih🙏🙏