
Dengan penuh tanda tanya,dengan segala perasaan yang sedang berkecamuk di dalam dirinya,Naina mencoba bangun dari ranjang pasien itu.Dengan sigap Kiran membantunya dan menyandarkannya.
Naina memejamkan mata dengan mengernyit,mengkondisikan dengan baik rasa berat di kepalanya.
"Anakku,jangan memaksakan diri.Istirahatlah dulu!" ucap Harun dengan begitu lembut,nada penuh sayang yang sering Naina dengar.
Walau kepala Naina masih terasa pusing,tapi kedatangan pamannya membuatnya jauh lebih baik.
"Paman datang ke sini,itu sudah membuatku tidak sakit lagi" lirih Naina.
"Maafkan aku,Paman.Mungkin aku punya banyak salah kepada paman,tapi ... percayalah,aku tidak pernah sedikitpun melakukan hal yang akan membuat paman malu."
Naina masih terus memberikan penjelasan kepada pamannya.
"Paman yang meminta maaf,Paman tidak memberikan kamu kesempatan untuk menjelaskannya.Andai Tuan muda dan Mbak Azea tidak datang ke rumah,mungkin Paman masih bertahan dengan sifat bodoh Paman yang sudah memberimu tuduhan negatif," ujar Harun merasa sangat bersalah.
Naina terdiam sejenak,menatap Dennis dan Azea.
Apa paman sudah tahu semuanya?Apa paman tahu kalau aku mempunyai hutang?astaga ....
Tiba-tiba rasa sakit di kepalanya berubah menjadi sebuah kepanikan.
"Ja-jadi ... Paman sudah tahu kalau aku punya hutang pada Tuan muda?" Naina bertanya dengan rasa gugupnya.
Dennis mendekat,berdiri tepat di samping kursi roda Harun.
"Iya,Nona Maemunah.Pak Harun sudah mengetahuinya.Saya dan Pak Harun juga sudah melakukan kesepakatan agar hutang Anda bisa saya nyatakan lunas."
Dennis mengedipkan mata kepada Harun,membuat Harun tersenyum tipis.Mereka sudah merencanakan semua ini sebelum mereka sampai ke Rumah Sakit.
"Kesepakatan?" Naina merasa bingung.
Azea yang berdiri di kaki Naina merasa iba melihat kecemasan Naina.Menurutnya,paman Naina dan kakaknya sudah sangat keterlaluan mengerjai Naina.
Azea mendekat ke samping Naina.
"Kakak ini sangat keterlaluan,lihat wajah mbak Naina," Azea yang tidak bisa lepas dari rasa penyayangnya merasa kasihan melihat Naina.
"Mbak Naina tidak perlu khawatir.Soal hutang Mbak Naina,biar saya yang membayarnya," ujar Azea.
"Tidak bisa seperti itu,Azea.Dia yang berhutang,mengapa kamu yang akan membayarnya.Saya tidak akan nyatakan lunas jika bukan dia sendiri yang melunasinya," ucap Dennis kepada Azea.Dennis benar-benar membuat Naina semakin tersudutkan.
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Mbak Azea,tapi Mbak Azea tidak perlu merepotkan diri untuk masuk ke dalam masalah ini," sambung Naina pada Azea.
Cukup saya saja yang menderita karena kakak Anda ini.
Naina menatap Dennis dengan penuh kekesalan.
"Nona Maemunah,Anda hanya perlu menyetujui kesepakatan ini maka semua akan beres."
Dennis kembali membahas kesepakatan yang membuat Naina bingung.
Naina masih diam dan menatap pamannya kemudian menatap Neta sepupunya.Kesepakatan apa yang sudah mereka setujui tanpa memberitahu dirinya.
__ADS_1
"Yah ... setuju tidak setuju,Anda tetap harus menyetujuinya karena pak Harun sudah memberikan lampu hijau kepadaku.Bukan begitu,Paman?" ujar Dennis kepada Harun.Bahkan dengan santai memanggil Harun dengan sebutan paman.
Sementara wajah lelaki paruh baya ini hanya menampakkan senyum saja.
"Kesepakatan apa yang Anda bicarakan,Tuan muda?" tanya Naina.
Dennis menarik nafasnya sebentar.
"Nona,Naina Anandita.Sekarang Anda sudah menjadi kekasihku!" tegas Dennis yang didengar oleh semua orang.
Kiran dan Rudy seperti sedang berada di negeri penuh khayal.Seorang Dennis Atmajaya benar-benar menyukai Maemunah mereka.Betapa mereka sangat terkejut,mendengar pernyataan Dennis.Walau sudah pernah Kiran dengar,tapi kali ini rasanya berbeda.Ia benar-benar merasakan sebuah keseriusan dan ketulusan.
Sementara Naina,ia diam seribu bahasa dengan mata terbelalak.Tuan muda ini benar-benar keterlaluan.Apa yang sedang ia katakan barusan?lancang sekali,pikirnya.
Rasanya ia ingin marah,memaki tuan konglomerat ini yang seenaknya saja memperlakukannya.
"Anakku,kenapa tidak pernah menceritakan ini kepada kami.Kenapa kamu menyimpannya sendiri.Kamu pikir,Paman akan marah jika ada orang yang menyukaimu?" ucap Harun.
"Paman ... apa yang paman katakan?" ucap Naina hampir seperti berbisik kepada pamannya.
"Dia sangat berbeda dengan kita," sambung Naina yang masih terdengar lirih.
"Cinta tidak akan pernah memandang sebuah perbedaan,Nona," ujar Dennis.Ternyata Dennis mendengar setiap ucapan kecil Naina tadi.
Harun kembali tersenyum mendengarnya.
"Kamu tahu,kamu itu gadis yang sangat beruntung bisa mendapatkan cinta lelaki,sebaik tuan muda.Bahkan dia datang langsung menemui paman untuk menyatakan ini,dia tidak memandang status keluarga kita yang jauh berbeda dengan dirinya.Dan kamu itu gadis yang sangat baik,Nak.Kamu layak bahagia."
Kalimat terakhir Harun terdengar bergetar,seperti menahan kesedihan.Ia sangat terharu mengetahui ponakannya disukai oleh lelaki seperti Dennis Atmajaya.Jelas saja ia memberikan restunya,ia merasa dengan begini maka putrinya yang pekerja keras dan tidak pernah mengeluh ini akan segera keluar dari penderitaan dan hidup layak merasakan kebahagiaan.
Mata Naina berkaca-kaca,antara ia ingin percaya atau tidak,antara bahagia atau tidak,perasaannya bercampur aduk.
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel.Ponsel Azea dari dalam tasnya.
"Maaf,aku angkat dulu," ucap Azea yang merasa merusak suasana.
Ia mengambil ponselnya,ternyata panggilan dari suaminya.
"Halo,Mas," suara Azea mengangkat telepon.
"Mas Rangga ada di sini?" terdengar suara Azea terkejut.
Dari mana suaminya tahu kalau dia ada di Rumah Sakit,ia hanya berpamitan ke Zona X dan lupa mengatakan kalau dia sedang ada di sini,pikirnya.
Azea menatap jamnya.Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore,kemudian ia menutup telepon.
"Semuanya,maaf.Sepertinya saya harus kembali soalnya mas Rangga sudah menungguku di bawah," ujar Azea kepada semua orang.
"Mbak Azea ...."Kiran sontak beranjak mendekati Azea.
"Aku Kiran teman Naina.Aku ingin minta foto Mbak Azea,boleh?" pinta Kiran malu-malu.Semua orang tersenyum.
Azea tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Rudy,tolong foto kami!" Kiran memberikan ponselnya kepada Rudy.
Setelah Kiran,ternyata Neta dan Rudy juga tidak mau kalah.Mereka juga mengambil foto bersama Azea.Kapan lagi bertemu artis seperti ini.
Setelah sesi foto selesai,Azea berpamitan kemudian meninggalkan ruangan itu.
Azea keluar dari ruangan dengan wajah memakai masker dan diikuti oleh dua bodyguard yang menunggu di luar ruangan.Bodyguard yang diutus Dennis untuk menjaga adiknya.
Sesampainya di bawah,tampak mobil Rangga sudah menunggunya.Azea keluar dari pintu kaca dan langsung menuju ke arah suaminya yang sudah turun membukakan mobil untuknya.
Mobil mereka pergi meninggalkan Rumah Sakit.
"Darimana Mas Rangga tahu kalau aku ada di sini?" tanya Azea dalam perjalanan.
"Oh ... atau Mas Rangga mengirim orang untuk menjagaku?"sambung Azea.
"Hhhmmm."
"Saya sudah mengingatnya,pasti dua lelaki gondrong tadi.Apa mereka polisi?"lanjut Azea lagi.
"Hhhmmm,"Rangga hanya terus memberikan jawaban singkat.
"Tidak Papa,Kak Dennis,suamiku,kalian semua itu sama saja.Selalu mengirimkan penjagaan untukku," ujar Azea.
"Bagaimana mungkin aku membiarkanmu ke tempat seperti itu tanpa penjagaan,bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," timpal Rangga yang membuat Azea tersenyum merona.
"Sungguh aku sangat mencintaimu,Bapak Komandan," godanya mencubit pipi Rangga yang sedang memegang kemudi.
***
Sementara di dalam ruangan Rumah Sakit.
"Paman ... sebaiknya Paman juga kembali.Ini sudah sore,saya khawatir dengan kesehatan Paman," ujar Naina.
"Kalian berdua juga,pulanglah.Besok kalian akan bekerja.Biar Neta yang menemaniku di sini.Aku juga sudah merasa lebih baik,semoga besok aku sudah bisa kembali," sambung Naina kepada Kiran dan Rudy.
Semua orang akhirnya akan pulang atas permintaan Naina.
"Sekretaris Ben,saya menunggu Anda di sini.Setelah mengantar pak Harun,Anda bisa kembali ke sini," ujar Dennis memberi perintah.
Naina terkejut mendengarnya.Ia berpikir kalau tuan muda ini akan pulang juga sekarang.
"Maaf,Tuan muda.Tidak perlu merepotkan diri.Biar Neta saja yang menemaniku," ujar Naina sangat sopan,sebenarnya di dalam hatinya sangat memaki.
"Saya akan tetap di sini sampai saya mendapatkan jawaban." Dennis menarik kursi dan duduk di dekat ranjang Naina.
Sementara Neta berjalan ke pintu mendekati semua orang yang hendak pulang.
"Neta,kamu mau kemana?" tanya Naina.
"Mengantar bapak sampai parkiran,saya tidak ingin merepotkan tuan sekretaris," ucap Neta beralasan seraya mengambil alih mendorong kursi roda Harun yang sudah di pegang sekretaris Ben.Semua orang sudah keluar meninggalkan ruangan.
Tinggallah Dennis dan Naina berdua saja untuk sementara.
__ADS_1
Dennis mengangkat kedua alis menggoda gadisnya,membuat Naina tampak semakin pucat.Bukan lagi pucat karena sakit,lebih tepatnya sangat grogi.Ia hanya bisa mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap Dennis.