
Naina berjalan memasuki kamar pamannya,menatap tubuh yang masih tidak bergerak itu.Seketika kesedihan kembali menusuk kalbunya,entah sampai kapan pamannya akan terbaring seperti ini.Bulir bening kembali terjatuh dari ujung manik matanya,ada banyak hal yang membuatnya merasakan sesak di dada.Tidak mampu melihat keadaan pamannya seperti ini,teringat akan kedua orang tuanya,meratapi nasib malang yang ia jalani selama ini,mengapa hidupanya menderita begini?
Di lubuk hati terdalamnya,Ia sangat ingin merasakan kebahagiaan seperti gadis-gadis lainnya.Gadis-gadis beruntung di luar sana yang memiliki orang tua lengkap,keluarga yang harmonis,kehidupan yang baik.Sayang sekali,itu hanyalah mimpi semata bagi seorang Naina.
Bulir bening itu sudah menganak sungai membasahi pipinya,ia mengusapnya dengan kasar dan mulai beristighfar.Ia baru menyadari dengan apa yang ia pikirkan tadi,rasanya sangat berdosa telah berandai seperti itu,seperti tidak menerima ketetapan takdir yang diberikan sang pencipta.
Ia duduk di dekat pamannya,memegang tangan yang sudah merawatnya sejak kecil itu.Terus berharap agar pamannya segera sadar dan pulih kembali.
***
Mobil mewah sudah parkir di istana Atmajaya.Masih duduk di kursi belakang,Dennis menatap ke arah teras rumahnya.Pemandangan yang tidak biasanya,kedua orang tuanya tampak berdiri di depan pintu rumah seperti menunggu seseorang.Atmajaya dengan kedua tangan berkacak pinggang,sedang Rita melipat kedua tangannya ke perut.Kedua orang tua ini menatap tajam mobil yang baru saja parkir.
Sekretaris Ben turun dan membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya.
"Terima kasih,Sekretaris Ben.Selamat malam," ucap Dennis.
"Tuan muda,saya akan mengantarmu sampai ke dalam." Seketika ucapan sekretaris Ben membuat Dennis bingung.Membuatnya terkekeh sejenak,tidak biasanya sekretarisnya ini mengantar dirinya sampai ke dalam rumah.
"Apa-apaan kamu,Sekretaris Ben.Pulanglah!bukankah besok pagi kita ada meeting penting," balas Dennis.
"Kamu pasti juga sangat lelah,pulanglah dan istirahatlah!" Memegang bahu kanan sekretarisnya.
"Tidak apa-apa,Tuan muda.Saya hanya ingin mengantarmu sampai ke teras saja dan berpamitan pada Tuan dan Nyonya besar." Sepertinya sekretaris Ben menyimpan perasaan yang ganjal setelah melihat kedua orang tua tuan mudanya di teras yang berdiri menunggu,tidak seperti biasanya.
Dennis tidak berucap lagi,terserah apa yang ingin dilakukan sekretarisnya ini.Ia berjalan menuju teras rumahnya dan pastinya diikuti oleh sekretaris Ben dari arah belakang.
"Assalamualaikum," sapa Dennis yang baru tiba di teras rumah.
Sayang sekali,tidak ada jawaban dari kedua orang tuanya ini.Mata Rita sudah seperti mendidih menatap putranya,entah ada apa dengan kedua orang tuanya ini.
"Mah ...." Dennis merasa ada yang aneh.
Plak ....
__ADS_1
Tamparan keras mendarat ke pipi tuan muda ini.Seumur hidupnya,untuk pertama kalinya Rita melakukan hal seperti ini pada putra kesayangannya.
Dennis memegang pipi kanannya,terasa perih.Pipi putih mulus itu seketika merah setelah mendapatkan tamparan dari mamanya.
"Keterlaluan kamu,Dennis ...." Suara seorang ibu yang bergetar dengan bulir bening yang sudah membendung pada kelopak mata.
Sekretaris Ben terkejut dalam diam,firasatnya tidak meleset.
"Kamu tahu bagaimana kami membesarkanmu dan mendidikmu dengan semua kebaikan-kebaikan untuk hidupmu,tapi kenapa kamu membalasnya seperti ini.Kamu satu-satunya lelaki kebanggaan kami,bagaimana mungkin kamu membuat kami malu,Dennis." Suara Rita semakin bergetar dan air matanya sudah bercucuran.
"Mah,Pah ... tolong beri saya penjelasan.Saya tidak mengerti dengan maksud Mama."
"Tidak mengerti?" Kali ini Atmajaya yang angkat bicara.
"Kamu tidak mengerti atau pura-pura bodoh?" tegas Atmajaya.
Dennis hanya terdiam.Suara tegas Atmajaya membuatnya sudah sedikit paham.Sepertinya papanya sudah tahu semua yang terjadi hari ini.
"Jika saya salah,saya meminta maaf.Tetapi,Mama dan Papa harus tahu,saya tidak akan pernah membuat kalian malu,membuat keluarga kita malu.
"Lalu,yang baru saja kamu lakukan itu tidak membuat malu?menolong wanita yang memang sedang melakukan pekerjaannya,bahkan membawa-bawa polisi.Dasar bodoh!" umpat Rita dengan segala amarahnya.
"Maksud Mama?" tebakan Dennis akan kemarahan orang tuanya sepertinya sudah benar adanya.Lagi-lagi menuduh Naina yang tidak-tidak.
"Kamu itu sudah masuk dalam jebakan wanita murahan itu.Dengan bodohnya kamu menolongnya padahal itu hanya akal-akalan dia saja dan dia memang sedang melakukan pekerjaan kotornya." Suara Rita semakin lantang.
Rasanya sangat perih di hati Dennis mendengar tuduhan itu untuk Naina.
"Saya tidak tahu bagaimana membuat Mama dan Papa bisa paham.Saya tahu,memang tidak mudah menerima dia untuk masuk dalam keluarga kita tapi percayalah,saya tidak akan memilih wanita yang salah untuk menjadi menantu keluarga ini." Dennis terus saja mempertahankan Naina dengan segala pembelaannya.
"Diam!" hardik Rita.
"Jangan sebut dia sebagai menantu,Mama jijik mendengarnya.Mama tidak mau tahu,kamu dan Zara akan tetap menikah.Kami sudah mengatur semuanya," sambung Rita membuat Dennis sangat terkejut.
__ADS_1
"Mah ...."
Rita tidak peduli dengan ucapan putranya dan langsung berbalik,melangkah dengan cepat masuk ke dalam rumah.
"Mama ...." Dennis hendak mengejar mamanya untuk menegaskan tentang ucapan mamanya tadi,sebaik-baiknya Zara tetap saja tidak akan membuat Dennis berpaling dari Naina.
"Dennis!" Suara Atmajaya menahannya.
Dennis menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah sumber suara.
"Pah ... tolong Papa berikan aku kesempatan untuk membuktikan kalau dia wanita baik-baik.Dia bukan wanita yang seperti kalian pikirkan." Kali ini Dennis membujuk Atmajaya.Mungkin saja dia tidak berhasil meyakinkan mamanya tapi bisa mengandalkan papanya.
"Papa pikir kamu lelaki yang cerdas,mengapa kamu tidak bisa melihat pendamping yang baik untuk kamu.Ingat,kamu bukan lelaki sembarangan.Kamu putra Papa,putra Atmajaya.Kamu seorang direktur dari perusahaan tambang terbesar negeri ini.Apa wanita yang berasal dari tempat nista seperti itu yang akan kamu jadikan istri?pikirkan lagi tentang keputusanmu itu," tegas Atmajaya.Terdengar tenang namun menakutkan.
Dennis hanya terlihat menarik nafas panjang,tidak tahu bagaimana harus menjelaskan ini semua.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan yang sangat kencang dari dalam ruang keluarga.Dennis segera melanjutkan langkahnya ke dalam,sepertinya Rita sangat terpukul dengan apa yang menjadi pilihan putranya.
Atmajaya masih tetap berdiri di tempatnya kemudian menoleh pada sekretaris yang sejak tadi diam pada pijakannya menyimak pembicaraan keluarga ini.Dia memang seorang sekretaris,tapi dia sudah seperti bagian keluarga ini.
"Dan kamu,Ben.Saya sudah mempercayakan segalanya kepadamu,tapi sepertinya kali ini kamu sudah sangat membuat kecewa," ujar Atmajaya pada sekretaris putranya ini.
"Maafkan saya,Tuan besar.Awalnya saya juga berpikir sama dengan Anda tetapi setelah kami mengenal dan mencari tahu tentang dia lebih dalam,dia memang gadis baik-baik.Maaf jika saya lancang," balas sekretaris Ben sangat sopan.
"Dia gadis baik-baik atau bukan,tetap saja di mata publik dia berasal dari tempat kotor dan pastinya nama keluarga ini akan ikut tercemar.Itu yang harus kamu pahami!saya berharap,kamu bisa bekerja lebih baik lagi!" Atmajaya tetap bersikeras tidak menyetujui hubungan putranya dengan Naina.
"Sekali lagi saya meminta maaf,Tuan besar.Ini persoalan hati Tuan muda dan saya tidak ada daya untuk menentangnya." Sekretaris Ben juga tetap pada pendiriannya yang berpihak pada Dennis.
Atmajaya terlihat menarik bibir yang menampakkan senyum kecutnya.
"Semoga kalian tidak bertindak jauh dan membuat malu keluarga ini," ucap Atmajaya dan segera berlalu meninggalkan sekretaris Ben sendirian.
"Selamat malam,Tuan," ucap sekretaris Ben yang entah didengar atau tidak oleh Atmajaya yang sudah tidak terlihat lagi dari balik pintu.
__ADS_1
________ _______________
Maaf setelah hampir satu Minggu tidak up,ada banyak pekerjaan yang author harus selesaikan😅🙏terima kasih untuk selalu setia pada Maemunah,yuk untuk selalu meninggalkan jejak.like,komen dan votenya yah,terima kasih reader kesayangan😍🥰